Aku ingin membaktikan buku ini sebagai kenangan kepada ayahku, Ngor Kea, ibuku, Lim Ngor, istriku, Chang Huoy (Chang My Huoy), yang tewas secara teramat sengsara, biadab, dan tanpa perikemanusiaan di bawah rezim komunis Khmer. Buku ini kutulis agar dunia bisa lebih memahami komunisme serta rezim-rezim lainnya di Kamboja.

Minggu, 16 Desember 2012

Neraka Kamboja - 3 : Pacaran dan Kudeta


3
PACARAN DAN KUDETA

Baru setahun kemudian aku berjumpa lagi dengan dia, dan itu pun hanya secara kebetulan saja. Ketika itu ia sedang berjalan di tepi sungai dekat tempat Sungai Mekong bertemu dengan Sungai TonIe Sap. Ia membawa beberapa buah buku dalam pelukannya.

" Halo, Luk Guru," katanya malu-malu, dengan senyum yang menyebabkan wajahnya nampak berseri. Aku turun dari sepeda Ialu berjalan di sampingnya.

Huoy sudah menempuh ujian di propinsi asalnya, untuk mana aku memberikan bimbingan kepadanya, dan ia lulus. Sesudah itu ia kembali lagi ke Phnom Penh, untuk memulai pendidikan sebagai calon guru. Ketika aku berjumpa dengannya, ia baru saja kembali dari suatu rapat di Balai Sidang Chadomukh, dekat istana Raja. Ia mengatakan, mungkin aku bisa membantunya menyelesaikan sebuah tugas, karena aku kan mahasiswa kedokteran. Ia ditugaskan membuat beberapa gambar bagian tubuh manusia untuk dipakai sebagai alat bantu mengajar: Kujawab bahwa aku mau membantunya. Apakah ia punya kertas gambar? Katanya ada, di apartemen tempat dia tinggal bersama ibunya.

Ketika kami sudah sampai di luar gedung tempat tinggalnya, aku bertanya apakah ibunya nanti tidak berkeberatan jika aku ikut naik. Huoy nampak bimbang. Soalnya, tidak begitu saja seorang pria bisa mengunjungi wanita di rumahnya, meski hanya karena ada urusan yang biasa-biasa saja. Sekitar setengah menit lamanya Huoy membuang muka, memandang ke seberang jalan. Aku terus saja mengamati dirinya. Akhirnya ia mengatakan, aku akan diperkenalkannya kepada ibunya.

Kami menaiki tangga sampai ke lantai tiga lalu masuk ke apartemen kecil tempat tinggal Huoy. Penampilan ibunya ternyata serupa dengan dia, sama-sama berwarna kulit seperti orang Cina dan bermata bulat seperti orang Khmer. Nama keluarga mereka Chang. Itu nama Cina. Aku bingung sesaat, apakah harus memberi hormat kepada dirinya dengan menundukkan kepala menurut adat Cina, atau melakukan sompeah. Coba-coba sajalah, kataku dalam hati, lalu merapatkan kedua tangan dalam bentuk sompeah. Wanita itu membalas dengan cara serupa. Aku langsung tahu, mereka ternyata serupa dengan diriku, manusia- manusia campuran kedua bangsa dengan kebudayaannya masing.-masing.

Dengan sekilas saja memperhatikan apartemen itu sudah nampak jelas bahwa mereka miskin. Kulihat ada dua buah kursi di situ, lalu sebuah  meja makan, sebuah ranjang untuk mereka berdua, dan sebuah meja kecil dengan patung Budha di atasnya. Hanya itulah perabotan mereka. Di dinding terpasang sebuah foto Angkor Wat, kuil kebanggaan bangsa kami, yang dibangun pada abad kedua belas, dengan mercunya yang besar-besar berbentuk kerucut menjulang ke atas. Sangat bercorak Kamboja. Apartemen itu bersih sekali. Bukan cuma bersih saja, tapi terawat dan nyaman suasananya. Kami pun lantas mengobrol dengan santai.

Tahu-tahu sudah satu jam aku di situ. lbu Huoy mengajak aku makan bersama mereka. Aku terpaksa menolak karena masih harus mengajar malam itu, tapi ia menyuruh aku datang lagi kapan-kapan apabila ada waktu, dan aku mengatakan bisa-beberapa malam sesudah itu. Ketika aku sudah hendak pergi, Huoy mengingatkan tentang gambar-gambar anatomi yang masih harus dibuat. Aku sama sekali lupa mengenainya.

Sewaktu aku datang lagi, sekali lagi mencolok mataku kesederhanaan apartemen itu, yang meski demikian terasa menyenangkan suasananya. Di atas meja makan terpajang karangan bunga yang nampak baru dipetik, dan di samping patung Budha ada tempat bunga berisi anggrek. lbu Huoy, yang sesuai dengan adat kesopanan kusapa dengan sebutan "Maktua", sikapnya lebih pemalu lagi ketimbang anaknya. la menarik diri agar kami, kedua orang muda, bisa makan bersama-sama. Sehabis makan aku dan Huoy berlatih me'nyalin gam bar-gam bar dari sebuah buku pelajaran anatomi. Kami tidak bercanda selama itu. Artinya, kami tidak mengatakan atau berbuat sesuatu pun yang bisa dikatakan agak menyerempet- nyerempet. Tanpa bicara pun, kami berdua sudah saling mengerti.

Aku datang lagi keesokan malamnya, lalu malam berikutnya, dan berikutnya lagi. Tidak lama kemudian aku sudah terbiasa ada di apartemen mereka. Wajar-wajar saja, tapi walau begitu akul sendiri merasa heran karenanya. Belum pernah kualami keadaan seperti itu. Pergaulanku dengan gadis-gadis sebelum itu coraknya lebih baik tidak kubicarakan saja di sini. Persahabatanku dengan kalangan pria didasarkan pada olah raga, kelakar, dan pertengkaran. Aku waktu itu pemuda yang tergolong kasar. Dan kini ada dua orang wanita yang sangat pemalu dan lemah-lembut, yang menyebabkan aku bertingkah laku sesopan mungkin.

Sukar sekali bagiku memahaminya. Aku berwatak panas dan keras kepala, orang yang tidak pernah mau mengalah dalam pertengkaran, meski jelas-jelas ia yang salah.

Penjelasannya mungkin terletak dalam suatu permainan yang biasa dimainkan anak-anak di Kamboja, dan juga di seluruh dunia. Dua anak yang bertanding, masing-masing menyembunyikan satu tangan di balik punggung, membentuk gunting, kertas, atau batu. Kedua tangan yang membentuk salah satu dari ketiga benda itu ditunjukkan serempak ke depan, untuk melihat siapa yang menang. Gunting mengalahkan kertas, batu mengalahkan gunting, dan kertas mengalahkan batu. Aku waktu itu berwatak keras: aku batu. Ayahku juga batu. Dua batu beradu, takkan ada yang menang atau kalah. Aku selalu saja bertengkar dengan ayahku, dan tidak seorang pun dari kami yang bisa menang. Tapi kedua wanita ini lembut. Mereka menyelubungi dan membungkus diriku sedemikian rupa sehingga benturan tidak ada pengaruhnya lagi. Batu itu tidak bisa lagi menyakiti siapa pun juga. Hidup ini kadang-kadang seperti permainan anak-anak itu. Kadang-kadang orang yang lemah-lembutlah yang menang.

Aku memerlukan waktu beberapa bulan sebelum akhirnya berani menapak ke tahap berikut, yaitu mengajak mereka berdua nonton film. Ketika akhirnya ajakan itu kuucapkan, Maktua mengatakan bahwa ia tidak bisa dan menyuruh aku pergi, berdua saja dengan Huoy. Maktua sudah janda. Suaminya meninggal dunia tidak lama sesudah Huoy dilahirkan, tewas dibunuh perampok. Maktua cepat sekali merasa cemas dan bersikap,menarik diri dari kehidupan masyarakat. Ia sangat melindungi Huoy, anaknya yang semata wayang; tetapi kini, ketika Huoy sudah menjadi wanita muda, ibunya ingin agar ia lebih banyak mengenal dunia.

Aku mengajak Huoy minum teh di cafe yang terdapat di lantai dasar gedung tempat tinggalnya.  Kami berjalan-jalan menghirup udara petang yang nyaman, menyusur jalan raya menuju ke Angkor theater. Kami menonton film Cina bertema percintaan yang sentimental, dengan dubbing bahasa Khmer. Aku sedikit pun tidak menyentuh tubuh Huoy.

Begitulah awal pacaran kami, yang berkembang dengan lambat, penuh tatakrama yang halus tapi menyiksa barin. Kami berdua sama-sama pemalu. Kami tidak mengutarakan isi hati kami. Kami hanya melakukannya lewat tatapan mata yang berlama-Iama, dan dengan kata-kata petunjuk yang diselipkan secara sambil lalu dalam percakapan dan makna sebenarnya harus ditafsirkan sendiri oleh pihak yang dituju.

Di Kamboja, berpacaran selalu begitu coraknya. Dalam tarian tradisional kami yang bernama romvong, pria dan wanita bergerak saling mengitari tanpa bersentuhan, dengan tangan bergerak- gerak lemah gemulai mengikuti irama musik. Pria dan wanita tidak memamerkan rasa kasih sayang di depan umum. Meski aku dan Huoy berkencan setiap hari, kami tidak bisa berpegangan tangan di jalan tempat tinggalnya tanpa menimbulkan kehebohan dan pergunjingan di kalangan para tetangga.

Masyarakat Asia pada umumnya sangat mengutamakan kesopansantunan dalam pergaulan. Kaum wanitanya tidak seberani teman sejenisnya di Barat dalam pergaulan dengan pria. Di Phnom Penh, kaum wanita mengenakan baju dengan tambahan lipit-lipit berkerut di bagian depan, untuk menyamarkan bentuk payudara. Tapi dengan busana bersahaja pun mereka masih tetap nampak ·menarik. Sarung atau sampot-sejenis sarung, tapi lebih bergaya sedikit-yang dililitkan di pinggang dan membungkus tungkai sampai sebatas betis, menampakkan bentuk tubuh pemakainya. Huoy boleh dibilang selalu mengenakan sampot. Aku pemuda yang normal dan sehat. Berulang kali kupergoki diriku melirik ke arahnya, membayangkan bagaimana sosok tubuhnya jika telanjang.

Pria lain-Iainnya tentu saja juga memperhatikan Huoy, dan itu dia masalahnya. Apabila ia berjalan seorang diri di trotoar, dengan langkah tenang dan lambat di tengah panasnya udara siang, ada sesuatu pada dirinya yang menyebabkan setiap pria waras pasti ingin menghampiri dan menyapanya. Aku pun lantas mulai mengamat-amatinya, dari kejauhan, untuk berjaga-jaga.

Kulihat bahwa bukan merupakan kebiasaan Huoy untuk menanggapi sapaan sembarang pria; ia hanya menundukkan mata, dan dengan cara sopan tapi tegas. menampakkan bahwa ia tidak ingin diganggu. Tapi waktu itu aku masih muda dan tidak-sabaran. Aku perlu mengetahui apa sebetulnya yang ada di dalam lubuk hatinya. Aku juga sudah bosan terus-terusan menjaga sikap. Jadi sekitar enam bulan setelah untuk pertama kali bertamu ke apartemennya, terjadilah pertengkaran pertama antara kami berdua. Aku menuduhnya diantar pulang oleh seorang pria lain, meski itu Iidak benar. Kuperinci penampilan orang itu, warna kemeja dan celananya, kacamatanya. Huoy menyangkal; tapi kukatakan aku tahu pasti bahwa itu benar. "Dia itu pacarmu, atau apa?" tukasku. “Jika ya, selamat. Orangnya sangat tampan. Jika kau nanti menikah dengan dia, syukurlah. Selamat. "

Huoy menangis. Ia anak tunggal, jadi tidak pernah mengalami digoda saudara-saudara dan bertengkar dengan mereka; ia sama sekali tidak bisa membela diri terhadap rongrongan yang kulakukan. Wataknya sangat lembut. Belum pernah kujumpai orang yang begitu cepat mengeluarkan air mata seperti dia.

Kataku, '''Oke, malam ini aku harus mengajar, jadi takkan datang lagi." Malam itu aku tidak ke rumahnya, begitu pula dua malam berikutnya. Pada hari ketiga Huoy mendatangi aku di rumah sakit. Ia tiba pukul sembilan pagi. Aku bersikap sopan, tapi kuperlihatkan lewat tarikan air muka bahwa aku marah, dan juga cemburu. Kubiarkan Huoy menunggu. Pukul sepuluh kupanggil dia masuk ke ruang kerjaku yang sempit. Ia sudah menangis lagi.

"Ibuku mengundangmu ke rumah malam nanti” kata Huoy. "Ia heran, apa sebabnya beberapa malam belakangan ini kamu tidak muncul." Gaya tidak langsung seperti itu memang khas Kamboja, memakai orang lain untuk menyatakan kepentingan diri sendiri.

Aku menjawab, "Kenapa tidak kuliah hari ini?" Huoy masih mengikuti kuliah di universitas dalam rangka pendidikan keguruannya.

"Hari ini aku membolos karena lngin bicara denganmu. Kenapa kau tidak datang-datang ke rumah ?"

"Aku sebenarnya mau, tapi sibuk. Begitulah, dengan pasien dan kesibukan kerja di rumah sakit serta kuliah-kuliah. Maaf, pekerjaanku masih banyak."

Huoy mengangkat tangannya, seperti bersumpah. "Percayalah padaku. Aku tidak punya pacar."

"Aku percaya," kataku.·

"Kalau percaya, kenapa kau tidak mau datang ke rumahku? Datanglah malam ini. Jangan bikin ibuku sedih."

Ketika aku masuk ke apartemennya malam itu, kulihat makanan sudah tersaji di meja. Huoy tersenyum padaku, senyuman pedih. Aku berla- gak tidak ada apa-apa. Ketika ditanya oleh ibunya kenapa aku tidak datang-datang, kukatakan bahwa aku sibuk. Wanita itu bersikap seolah-olah percaya, tapi ia sempat melirik ke arahku dengan tatapan bijak.

Setelah itu ia masuk ke dapur, seperti biasanya, memberi kesempatan pada kami untuk makan berdua saja. Aku duduk dengan mata menatap piring di hadapanku. Aku tidak mau membalas pandangan Huoy .

Saat sedang makan, Huoy bertanya, "Kau masih marah padaku, Sayang?"

Aku mengambil sepotong ikan lagi .dan. meletakkkannya di atas nasi di piringku.

"Tidak," jawabku.

"Kalau begitu, pandanglah aku."

"Aku tahu bagaimana tampangmu." Aku masih terus menatap piring.

"Janganlah sakiti hatiku," katanya.

Masih saja kutatap piringku.

Aku kaget, ketika tahu-tahu merasa pipiku tersentuh jari-jarinya: Aku memandang lengannya yang diraihkan dari seberang meja, lalu hcralih ke matanya yang bulat.- "Tidak, aku tidak berniat menyakiti hatimu," kataku gugup. "Aku cuma bertanya -"

"Ssst," katanya memotong. Begitu merasuk kcsedihan dan kebijakan yang terbayang dalam pandangannya saat itu. Belum pernah kujumpai nrang yang menatapku dengan cara demikian. "Jangan bangkitkan lagi ingatan yang tidak menyenangkan."

Kusentuh rambutnya dan kuelus-elus.

Huoy sudah menunjukkan bahwa ia sayang padaku. Batu yang keras sudah mencoba membebaskan diri, tapi kertas membungkusnya dengan Iebih rapat lagi.

Setelah itu kami berjumpa lagi setiap malam. Kehidupan kami bergerak menelusuri alur yang lambat-laun pasti menuju ke ambang pernikahan, dalam keadaan normal. Kami begitu tenggelam dalam kehidupan sehari-hari, sampai sama sekali tak terbayang bahwa akan terjadi suatu peristiwa yang merupakan awal dari suatu reaksi berantai, yang menjerumuskan Kamboja ke dalam jurang malapetaka dan melibatkan kami sampai ke akarakar diri kami sebagai manusia.

Awal bulan Maret 1970, Kamboja masih merupakan "pulau yang damai", yang menganut politik tidak memihak. Tapi di sekelilingnya terdapat peperangan, atau perlengkapan perang. Di timur dan tenggara terletak Vietnam Selatan, di mana pihak Vietnam Utara dan Amerika terbenam dalam pergulatan yang kelihatannya tidak bisa dimenangkan oleh pihak mana pun juga. Di utara terletak Laos, kawasan bergunung-gunung yang terkurung daratan, di mana kaum komunis dan pedukung sistem kerajaan terlibat dalam perang berskala lebih kecil dengan didukung kekuatan-kekuatan luar yang sama seperti di Vietnam Selatan. Di barat sampai barat laut ada Thailand, di mana terdapat pangkalan-pangkalan pesawat B-52 dan pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat yang lainnya. Kamboja terletak di tengah-tengah, sebuah negara kecil yang ukurannya hanya sepertiga Perancis.

Diukur dengan patokan Barat, Kamboja itu negeri miskin dan primitif. Kebanyakan dari rakyatnya petani yang hidup dari penghasilan tanahnya semata-mata; menunggu-nunggu turunnya hujan yang akan menggenangi petak-petak sawah. Menangkap ikan yang kecil-kecil, mencari bahan pangan yang hidup liar. Bahkan golongan yang paling kaya pun, yakni para pedagang dan pejabat pemerintah yang korup di Phnom Penh, tidak bisa dibilang benar-benar kaya. Dengan segala pesonanya, dengan petak-petak bunga serta jalan-jalan rayanya yang lebar dan diapit pepohonan, Phnom Penh merupakan kota yang sunyi dimana tidak banyak yang terjadi selain kesibukan pagi hari di pasar-pasar dan saat-saat istirahat yang panjang pada waktu makan siang. Meski begitu kami mujur, dibandingkan dengan tetangga-tetangga kami! Kamboja berada dalam keadaan damai. Tidak ada yang harus tinggal di "desa-desa strategis" dikelilingi kawat berduri. Kami bisa hidup di mana saja kami mau dan melakukan kegiatan sekehendak hati. Tidak banyak yang tertindas melebihi takaran penindasan dan korupi yang normal untuk ukuran masyarakat Asia. Kehidupan berjalan mengikuti pola yang selalu sama sejak berabad-abad. Menjelang siang, para biksu berkeliling sambil membisu, mengumpulkan derma. Saat tengah hari para petani kembali dari sawah untuk beristirahat di kolong rumah mereka yang teduh, dan para wanita yang sudah tua menenun bahan pakaian mereka sendiri sambil mengunyah sirih. Pada malam hari di desa-desa bergaung bunyi musik yang dimainkan alat-alat buatan sendiri.

Bagiku serta kalangan kenalanku, perang rasanya jauh sekali dari kami. Masa bodoh kenyataan bahwa perbatasan dengan Vietnam Selatan hanya beberapa jam perjalanan saja dari Phnom Penh. Kami sudah terbiasa dengannya. Kami tidak merasa terusik oleh kenyataan bahwa kaum komunis Vietnam membuat jaringan jalan tersembunyi, yang dikenal dengan nama Lintasan Ho Chi Minh, sepanjang garis perbatasan Kamboja dan Vietnam Selatan. Secara samar kami menyadari kehadirannya, tapi media massa kami tidak sering mengingatkan kami mengenainya. Kami sedikit pun tidak tahu-menahu tentang perbekalan untuk komunis yang tiba di pelabuhan samudera di Sihanoukville, bahwa Amerika mengerahkan satuan-satuan Pasukan Khusus menyeberangi perbatasan Vietnam Selatan, begitu pula tentang pesawat-pesawat B-52 Amerika yang sejak hampir setahun menjatuhkan bom-bom di wilayah Kamboja. Tentang semua itu, tidak ada yang memberitahu kami. Rakyat Kamboja, kebanyakannya serupa seperti aku. Kami orang desa. Jangkauan pandangan kami tidak luas, terbatas oleh hamparan sawah dan pepohonan.

Kami hidup damai selama itu berkat satu orang, yakni Norodom Sihanouk. Perancis mengangkatnya menjadi raja sewaktu ia masih bersekolah, dengan perkiraan bahwa ia akan bisa dikendalikan dengan mudah; tapi Sihanouk ternyata lebih unggul dalam bersiasat, baik terhadap Perancis maupun siapa saja setelah itu. Setelah berhasil memerdekakan negeri Kamboja pada tahun 1953, melalui jalan perembukan sambil menyinggung-nyinggung kemungkinan terjadinya revolusi apabila Perancis berkeras menolak, Sihanouk turun tahta dan kemudian mencalonkan diri ketika diadakan pemilihan umum. Ia menang dengan mayoritas mutlak dan kembali menjadi pemimpin negara, Di dalam negeri ia berhasil tetap memperoleh dukungan golongan etnik Khmer yang merupakan mayoritas penduduk dengan cara menghimbau rasa kebanggaan rasial mereka dan mengaIIwngatakan berulang-ulang kepada setiap orang betapa mujurnya kami sebagai orang Kamboja, keturunan bangsa pembangun kerajaan kuno di Angkor. Tapi Sihanouk juga melindungi kepentingan goiongan-goiongan ininoritas yang ber warna kulit tidak secoklat orang Khmer, yakni golongan etnik Vietnam dan Cina. Dalam menjalankan kebijakan luar negeri ia mengadu domba negara-negara komunis dan negara-negara Barat, menerima bantu an dari semuanya sampai tahun 1965, saat ia memutuskan hubungan dengan Amerika setelah terjadi hal yang di rasakannya sebagai penghinaan terhadap harga dirinya. Sejak itu sikapnya condong ke kiri, tapi secara resmi kamboja tetap mempertahankan sikap netral dan tidak memihak. Pemerintah Amerika Serikat tidak menyukai Sihanouk, karena ia tidak mau mengI izinkan pasukan-pasukan Amerika secara terbuka memasuki wilayah Kamboja untuk memerangi Vietnam Utara.

Di Kamboja, Sihanouk sangat populer waktu itu. Kami tidak begitu mempedulikan. segi-segi negatif yang ada pada dirinya, seperti membiarkan saja korupsi tumbuh subur, dan mempertahankan orang-orang yang tidak cakap duduk dalam pemerintahan. Hanya sedikit di antara kami yang cukup terpelajar untuk merasa prihatin. Apabila Sihanouk berpidato pada kami dengan suaranya yang nyaring melengking, berteriak-teriak sambil mengacungacungkan tangan dan· dengan mata dibelalakkan, kami mendengarkan dengan penuh hormat.

Sihanouk menggemari drama, dalam bentuk apa pun juga. Ia membuat film, dengan dirinya sendiri sebagai pemetan utama. Balet Kerajaan didukung olehnya; para penari utamanya adalah gundik-gundiknya. Ia mengadakan rapat-rapat akbar dekat istananya. Pada kesempatan itu diberikannya kesempatan kepada kalangan rakyat untuk menyampaikan keluhan mereka, lalu pejabat pemerintah yang bersalah dipanggil dan langsung didamprat di temp at itu juga. Dan setiap tahun ia menyelenggarakan upacara di temp at Sungai Mekong bersatu dengan Sungai TonIe Sap dan berpisah lagi. Tepat pada saar arus sungai berbalik dan mengalir ke hulu - menuju Danau TonIe Sap, ia melakukan pemberkahan sehingga berbaliknya arus itu seolah-olah terjadi karena kekuatan gaibnya (padahal penyebabnya adalah pengaruh gaya tarik bulan terhadap air sungai yang sedang pasang tinggi di musim hujan). Kalangan luar negeri menyebutnya "Pangeran" Sihanouk, karen a resminya ia sudah menyatakan turun tahta; tapi kami masih tetap menyebutnya "Raja". Di kalangan petani banyak yang berkeyakinan bahwa dia ltu dewa.

Keributan berawal pada tanggal 11 Maret 1970, ketika Sihanouk sedang bepergian ke luar negeri dan pers mengungkit-ungkit masalah kantong-kantong kekuatan Vietnam Utara di sepanjang perbatasan timur. Aku sedang kuliah ketika aksi protes dimulai. Sewaktu aku menggabungkan diri kemudian, aksi itu sudah berlarut menjadi huru- hara. Pemuda-pemuda murid sekolah lycee mencampakkan kertas-kertas, lemari-lemari arsip, meja-meja dan kursi-kursi dari lantai dua gedung kedutaan besar Vietnam Utara. Berberkas-berkas uang kertas mereka timpukkan ke jalan. Mereka menurunkan bendera Vietnam Utara dari tiang lalu membakarnya. Perbuatan serupa mereka lakukan di kedutaan besar Pemerintah Revolusioner. Sementara dari Vietnam Selatan, atau Viet Kong, yang dekat lokasinya. "Vietnam enyah dari Kamboja!" seru pemuda-pemuda itu. "Jangan masuki lagi wilayah Kamboja!"

Huru-hara itu lebih banyak dilandasi dendam lama terhadap orang Vietnam, ketimbang urusan politik yang aktual. Dalam perjalanan sekian abad, Kamboja sudah sering berperang melawan Vietnam. Kami, orang Kamboja, tetap mengingat semua kekalahan kami dan menunggu-nunggu saat pembalasan -bahkan juga kami yang bukan “asli" Khmer melainkan campuran Cina dan Khmer. Kami semua mengenal legenda tentang kepala manusia yang dijadikan batu tungku. menurut legenda itu, pada zaman dulu ada tiga orang Kamboja tertawan oleh serdadu-serdadu Vietnam. Ketiga orang itu dikuburkan hidup-hidup, tinggal kepala mereka saja yang tersembul dari tanah. Kemudian orang-orang Vietnam menyalakan api di antara ketiga kepala itu dan meletakkan sebuah cerek di atasnya, menggunakan kepala-kepala itu sebagai pengganti batu tungku. Betul-tidaknya legenda itu tidak menjadi persoalan, karena kebanyakan orang Kamboja percaya bahwa itu benar-benar terjadi. Dan dalam huru-hara yang terjadi waktu itu, segala kebencian terhadap orang Vietnam yang mana saja, baik yang komunis maupun yang bukan, dari Utara atau Selatan, dan bahkan terhadap orang-orang Kamboja sendiri yang keturunan Vietnam, semuanya berbaur menjadi satu.

Huru-hara itu mengguncangkan kota Phnom Penh. Orang-orang ibukota sebuah negara yang mengaku netral menyerbu gedung-gedung kedutaan besar negara-negara tetangganya. Sihanouk mengirim kawat dari Paris, berupaya menghentikan aksi-aksi itu. Ia mengerahui sesuatu yang tidak diketahui orang-orang seperti aku, yakni bahwa para pelaku kerusuhan itu-Yang di satu pihak memang menyimpan dendam kesumat-sebenarnya didalangi oleh kelompok-kelompok rersembunyi. Tapi selama ketidakhadiran Sihanouk di dalam negeri, kalangan pejabar pemerintahannya terus melakukan desakan terhadap Vietnam Utara. Kedua pejabat yang paling tinggi kedudukannya adalah Pangeran Sisowath Sirik Marak, seorang bangsawan saingan Sihanouk, dan Jenderal Lon Nol, yang waktu itu menjabat kedudukan perdana menteri merangkap menteri pertahanan dan menteri penerangan. Lon Nol berkulit sawo matang. la menyukai julukan "Bapak Hitam" yang diberikan pasukan-pasukannya, Ia bangga bahwa ia orang Khmer, dan bencinya terhadap orang Vietnam setanding dengan kebencian yang membakar perasaan para perusuh waktu itu. Kaum komunis Vietnam diberinya batas waktu liga hari untuk meninggalkan kantong-kantong mereka di sepanjang perbatasan.

Tapi pihak Vietnam Utara tentu saja tidak lantas pergi. Jika mereka mampu berperang terus melawan negara raksasa seperti Amerika Serikat, kenapa mereka hams patuh" pada pemerintah seperti Kamboja yang sangat kecil kekuatan militernya? Di Phnom Penh, ketegangan dan ketidakpastian semakin meningkat. Bandar udara ditutup. Panser-panser dan tank-tank mengambil posisi siaga di jalan-jalan. Tanggal 17 Maret diadadakan rapat akbar yang disusul dengan arak-arakan. Aku ikut di dalamnya, membawa spanduk dengan seruan mengenyahkan orang-orang Vietnam. Semuanya yang turun ke jalan bersikap anti Vietnam dan pro-Sihanouk. Kami semua berperasaan sama: para mahasiswa, wartawan, polisi, militer. Yang kami lupakan adalah kenyataan bahwa Sihanouk sendiri menjalankan siasat dengan cermat, memperimbangkan posisi kekuatan komunis Vietnam dan negara-negara Barat, sehingga Kamboja bisa tetap netral. la juga melindungi warga Kambpja golongan etnis Vietnam dari penganiayaan.

Saat makan siang keesokan harinya, seperti biasa aku mengisi perut dengan bakmi kuah yang asam-asam pedas. Aku sedang asyik mengobrol dengan temanku Sam Kwil yang bekerja sebagai wartawan pada salah satu harian, ketika terdengar pengumuman lewat radio: Majelis Nasional telah menerima mosi tidak percaya terhadap Sihanouk.

Tiba-tiba saja selera makanku lenyap.

Aku memandang berkeliling. Semua yang ada dalam warung makan itu menatap nanar ke arah pesawat radio. Sihanouk digulingkan? Mustahil! Kuturunkan pesawat radio dari tempamya dan kuletakkan di mejaku. Bunyinya kukeraskan. Kami menunggu. Pengumuman itu diulangi, dan buyarlah harapan bahwa kami tadi salah dengar.

Kudeta itu didalangi Sirik Matak dan Lon Nol. Mereka didukung banya oleh suatu kelompok minoritas kecil, golongan elite Phnom Penh yang tidak bisa menjadi sekaya yang mereka inginkan, sebab semua kedudukan puncak ada di tangan Sihanouk beserta sanak-saudaranya. Temanku Sam Kwil yang wartawan dan banyak memiliki informasi mengatakan padaku bahwa kemungkinannya Sirik Matak dan Lon Nol didukung oleh CIA. Katanya, Lon Nol tidak cukup cerdik untuk memanfaatkan perasaan rasial anti-Vietnam sebagai jalan untuk menimbulkan keguncangan di dalam negeri, lalu menggunakan ketidakstabilan keadaan itu sebagai alasan untuk melancarkan kudeta. Aku sependapat dengan dia. Tapi tidak pernah bisa dibuktikan bahwa. CIA terlibat di dalamnya.

Dalam waktu singkat sudah muncul pemerinI; talhan baru, dengan Lon Nol sebagai kepala negara. Dengan segera stasiun televisi dan radio milik pemerintah dan berbagai sur at kabar yang dekat dengannya sudah melancarkan tuduhan-tuduhan korupsi dan kejahatan-kejahatan lain ke alamat Sihanouk. Tapi upaya-upaya mendiskreditkan Sihanouk tidak berhenti sampai di situ saja. suatu ketika pada waktu aku pulang sebentar ke Samrong Yong, suami saudara perempuanku Chhay Thao, seorang guru, mengajakku ke sebuah kandang babi. Di situ ada patung Sihanouk yang untuk sebagian terbenam dalam kotoran kandang. Kepala patung itu terpisah dari tubuhnya.

lparku mengatakan, nasib serupa terjadi dengan patung Sihanouk yang ada di Chambak, sebuah kota dekat desaku. Ia juga ikut membantu menumbangkan patung itu.

"Kami mendapat perintah memusnahkannya," katanya menjelaskan. "Aku sebenarnya tidak mau; tapi perintah itu datangnya dari atas. Dari atas sekali. Kami terpaksa menurut."

Setelah itu rezim yang baru mengeluarkan perintah yang ditujukan kepada semua guru. Huoy yang mendengarnya di tempat pendidikannya menjadi sangat bingung. Para guru diharuskan mengatakan kepada murid-murid mereka bahwa Sihanouk itu pengkhianat yang korup. Dan murid-murid harus meneruskannya kepada orangtua mereka. Dan di sinilah mulai terjadinya reaksi yang membalik.

Di seluruh kawasan Kamboja, para orangtua pekan itu mendamprat dan memukul anak-anak mereka. Hal itu terjadi bukan hanya karena para orangtua itu loyal pada Sihanouk, yang merupakan suatu kenyataan, melainkan juga karena masyarakat Kamboja bisa dipersamakan seperti suatu keluarga besar. Seperti halnya ayah adalah kepala keluarga, Sihanouk itu kepala Kamboja, Bapak Raja. Tidak sepatutnya anak-anak mengatakan bahwa dia orang jahat, karena ucapan itu secara tidak langsung juga. merupakan kritik terhadap para ayah mereka sendiri.

Maka timbullah aksi-aksi unjuk rasa menentang Lon Nol. Kali ini para demonstran bukan kalangan mahasiswa tapi kaum petani dan penduduk desa berkulit gelap dan bertato, dengan tubuh dibalut celana pendek dan digantungi krama dan jimat-jimat Budha lainnya. Sihanouk adalah raja yang mereka dewakan. Meski ia tidak bisa dijadikan berkuasa kembali, mereka menginginkan agar statusnya dipulihkan. Para demonstran itu mengacungkan slogan-slogan, dan ada yang membawa senjata tajam berupa pisau, kapak, dan parang; tapi mereka tidak memiliki senjata api. Mereka bergerak dari Samrong Yong ke Chambak, dan di kota itu tentara Lon Nol melepaskan tembakan ke arah mereka dengan senapan mesin. Para demonstran yang tewas diusung pergi dengan tandu-tandu darurat. Peristiwa seperti itu terjadi di seluruh negeri. Dekat Phnom Penh, serdadu-serdadu melepaskan tembakan ke arah barisan demonstran yang sedang menunggu dekat sebuah jembatan. Di hulu Sungai Mekong, di kota Kompong Cham, suatu gerombolan yang marah mengeroyok salah seorang saudara lelaki Lon Nol. Mereka membunuhnya, lalu hatinya diambil dan diberikan kepada seorang pemilik warung makan yang dipaksa meriggorengnya. Hati yang sudah digoreng itu kemudian dibagi-bagikan kepada gerombolan itu.

Seluruh Kamboja mengamuk. Kamboja yang biasanya adem-ayem dilanda hawa nafsu kum. Tapi dalam beberapa minggu saja keadaan sedikitbanyak sudah tenang kembali. Orang Kamboja kebanyakan tidak begitu membenci rezim yang baru sampai mau melawannya. Dan pada hakikatnya memang tidak banyak yang bisa dilakukan. Lon Nol, mantan panglima angkatan bersenjata, menggunakan kekuatan militernya untuk memantapkan kekuasaan.

Berlainan dengan Sihanouk, Lon Nol bersikap rumah terhadap pemerintah Amerika Serikat yang dibiarkannya berbuat sekehendak hati. Pada akhir April 1970, tanpa terlebih dulu memberitahu Lon Nol, pasukan-pasukan Amerika dan Vietnam Selatan memasuki suatu wilayah sepanjang tapa! batas Kamboja- Vietnam Selatan dengan tujuan menumpas kantong-kantong kekuatan komunis di situ.

Pada mulanya penyerbuan itu disambut dengan sangat senang di Phnom Penh; kami menyangka pasukan-pasukan Amerika itu pasti mampu mengusir keluar pasukan-pasukan Vietnam Utara. Tapi sangkaan kami ternyata keliru. Orang-orang Vietnam Utara masih tetap ada di situ ketika pasukan-pasukan Amerika dan Vietnam Selatan kemudian mundur lagi ke Vietnam Selatan. Beberapa orang Amerika yang jangkung, berhidung mancung, dan berwajah merah, dengan kedudukan selaku penasihat, sejak itu merupakan pemandangan sehari-hari di sekitar gedung-gedung pemerintah pusat dan di hotel-hotel besar, dan bantuan perlengkapan Amerika untuk tentara Kamboja mulai mengalir masuk, makin lama makin banyak.

Bagiku, yang tidak tabu apa yang akan terjadi, yang paling menjadi pikiran bukan negeriku, tapi keluargaku sendiri. Aku ingin ayah dan ibuku mau menerima Huoy sebagai calon menantu. Selama beberapa tabun yang lewat bisnis ayahku sudah sangat berkembang, sehingga ia membeli sebuab pabrik penggergajian lagi: Ia mengekspor kayu ke Jepang, sampai berkapal-kapal. Dengan mengalir masuknya uang dari Amerika ke Kamboja terjadi pula perkembangan pesat dalam usaha di bidang pembuatan bangunan, dan itu berarti order juga meningkat. Ayah membuka usaha jasa pengangkutan bensin dan membeli sejumlah truk yang dijadikan armada pengangkutannya. Ayahku kaya. Ia memilihkan seorang gadis dari suatu keluarga yang juga kaya di Phnom Penh sebagai calon istriku.

Kukatakan kepada ayahku bahwa aku sudah menemukan gadis lain yang kusukai. Karena takut bagaimana pikirannya nanti, kuberikan foto-foto Huoy kepada Chhay Thao dan kuminta saudara perempuanku itu agar memperlihatkannya kepada orangtuaku, untuk melihat bagaimana reaksi mereka.

Ayah dan ibuku melihat foto-foto itu sekilas, tapi mereka sebenarnya tidak peduli bagaimana tampang Huoy atau macam apa orangnya. Chhay Thao mereka tanyai terus sampai akhirnya mengaku bahwa keluarga Huoy miskin. Setelah itu mereka menutup pintu hati mereka terhadap gadisku itu. Mereka merasa akan kehilangan gengsi dalam masyarakat jika aku tidak menikah dengan seseorang yang juga berasal dari keluarga kaya.

Ayah dan ibuku tidak melarang aku menikah dengan Huoy. Tapi mereka juga tidak memberikan restu, yang perlu ada menurut tradisi kami. Dan meski aku tidak bisa dibilang berbahagia karenanya, aku tidak ingin ribut dengan mereka; seperti mereka juga, yang tidak ingin ribut dengan aku. Kami sama-sama tidak ingin dihanyutkan kemarahan, karena urusannya terlalu penting. Pemerintah telah meninggalkan jalan tengah dan memilih keekstreman dalam wujud perang, tapi kami akan tetap memelihara perdamaian dalam keluarga. Aku bertekad akan berembuk dengan sabar, seperti yang biasa dilakukan Sihanouk sebelum ia digulingkan dari kekuasaan.

Pada waktu kudeta terjadi aku sudah cukup yakin akan keinginanku menikah dengan Huoy. Kenyataan bahwa orangtuaku tidak menyetujui menyebabkan aku malah semakin menginginkannya sebagai istri. Cuma aku tidak tahu mana yang lebih parah: kenyataan bahwa aku belum menikah dengan dia - yang mestinya akan bisa melenyapkan sebagian dari frustrasiku -atau kesangsian yang sedikit itu, yang terus saja merongrong pikiran. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Karenanya kuatur lagi siasat uptuk menguji.

Saat itu aku sedang sendiri bersama Huoy di apartemennya. Sudah berbulari-bulan kami tidak bertengkar lagi. Semuanya serba beres. Kusuruh dia duduk. Ia menurut. Aku .mondar-mandir dengan langkah cepat, seperti kebiasaanku sewaktu masih menjadi guru privatnya dulu.

"Ini hari terakhir hubungan kita berdua," kataku padanya. "Mulai hari ini hubungan kita putuskan. " Huoy kaget mendengarnya. Ia nampak ketakutan. Aku menyambung, "Tapi jawab saja pertanyaanku dengan baik. Sekali ini kau harus mengatakan yang sebenarnya. Duduk saja di situ dengan tenang, dan jawab pertanyaanku.

" Kata-kataku itu menyakiti hatinya; itu kuketahui. Aku sangat mencintainya, tapi tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Entah kenapa, bagiku lebih mudah berpura-pura marah padanya karena sesuatu yang sama sekali tidak dilakukan olehnya, ketimbang memaparkan perasaanku yang sebenarnya.

"Tadi kau naik becak, duduk di pangkuan seorang lelaki," kataku. "Tangan lelaki itu memegang bahumu, dan kau berbicara padanya dengan manis dan sambil tertawa. Aku sendiri yang melihat. Orang itu yang pernah kulihat menemanimu waktu itu."

Bahu Huoy sudah bergerak-gerak, dan tangannya terangkat untuk mengusap air mata.

Aku terus saja. "Jadi sekarang harus kaukatakan dengan terus-terang, Kau punya pacar atau tidak? Bagaimanapun jawabmu, aku tidak peduli. Aku cuma ingin tahu yang sebenarnya, Aku kan belum pernah bilang aku cinta padamu. Dan kau juga tidak pernah mengatakan cinta padaku. Jika kamu mencintai orang lain, masa bodoh. Kamu bebas mencintai siapa pun juga. "

Huoy berdiri tanpa mengatakan apa-apa. Ia pergi ke kamar mandi. Ketika kemudian kembali lagi, kepalanya tertunduk. Tangannya sibuk mengusap mata dengan kertas tisu. Ia berkata, "Aku tidak tahu bagaimana harus meyakinkanmu bahwa aku tidak punya pacar! Kenapa kau selalu saja berbuat begini terhadapku?"

Aku tetap memasang tampang keras dan bersuara marah. "Kau bermain-main. Sudah punya orang lain, dan aku hendak kaujadikan nomor dua!"

"Aku tidak mau mendengar. lagi! Pedih sekali hatiku." 

Aku mondar-mandir di kamar itu. Kemudian kutarik napas dalam-dalam, lalu kuembuskan lagi. Waktunya sudah tiba.

Kuhampiri Huoy sampai mukaku dekat ke mukanya.

"Aku menyesal, Manis," kataku dengan lembut. "Sungguh, aku menyesal. Aku janji. Aku cuma ingin menanyakan, sesuatu padamu. Kaubilang saja 'ya, atau tidak." Aku semakin mendekatkan diri dan berbisik di telinganya, "Akan kukatakan kepada orangtuaku bahwa kita ingin menikah. Bagaimana-ya, atau tidak? Hanya satu kata saja: ya, atau tidak."

Selama beberapa detik nampak bahwa ia tidak percaya. Ketika aku kemudian mengatakan bahwa aku cinta padanya, dipegangnya telingaku lalu dijewernya keras-keras. Dan aku dipeluknya. Ia ,tidak mengatakan "ya" dengan kata-kata, tapi itulah yang dimaksudkannya, dan ia tertawa dengan air mata membasahi pipi.

Kami berpelukan. Sekarang aku sudah tahu sepasti-pastinya bahwa inilah wanita dengan siapa aku ingin menikah. Jika ia bisa tahan terhadap tindak-tandukku yang aneh-aneh, ia pasti akan terus mendampingiku dalam menghadapi'segala kesulitan yang mungkin akan timbul nanti.

Kami mendengar langkah ibunya di gang. Kupeluk Huoy sekali lagi lalu menyuruhnya. mandi agar ibunya tidak merasa curiga. Ketika ibu Huoy masuk, ia kuajak bercakap-cakap dengan sopan tentang hal-hal yang sepele. Ia kuminta menemani aku dan Huoy makan-makan di luar, tapi seperti biasa ia memilih tinggal di rumah saja.

Di restoran kutanyakan kepada Huoy, apa yang harus dilakukan sehubungan dengan ibunya. Huoy meletakkan gelasnya sambil menahan senyum.

"Sudah kukatakan padanya bahwa kau cinta padaku," katanya.

"Tapi... aku kan baru sekarang mengatakannya."

"Pokoknya, aku tahu," jawab Huoy dengan enteng. "Dan ibuku sudah tahu, bahkan sebelum .tku mengatakan apa-apa kepadanya."

Wah, memalukan! Benar-benar memalukan. Mereka sudah lebih dulu tahu ketimbang aku sendiri tentang perasaanku.

Aku benar-benar konyol selama itu!

Kutepuk keningku.

Kuajak Huoy berjalan-jalan di tepi sungai. Saat itu sedang musim kemarau, dan air sungai surut sekali sampai jauh di bawah tebing betonnya yang landai. Kami bisa melihat kapal-kapal barang yang besar-besar, kapal-kapal feri, bentangan jembatan raksasa yang dibangun dengan bantuan modal Jepang, serta berpuluh-puluh sampan yang meIuncur di atas permukaan air. Semuanya itu nampak di depan mata, tapi kami tidak benar- benar melihatnya. Pemandangan itu hanya merupakan latar belakang percakapan kami berdua.

"Kau dan aku," kataku sambil melangkah bersama Huoy, "kita berdua harus membangun honneur dan bonheur bersama-sama. Kita memikul tanggung jawab besar, saling memperhatikan dan menciptakan kebahagiaan dalam keluargakeluarga kita. Kita mengemban tanggung jawab untuk hari esok." Huoy tidak mengiakan dengan kata-kata, tapi ia tersenyum. Serupa dengan bahasa Indonesia, "hari esok" dalam bahasa Khmer juga berarti "masa depan". Kami berdua terus melangkah, sambil membayangkan hari esok kami berdua.

"Harap kau mau mengerti tentang keluargaku," kataku lagi. "Aku selalu mengalami kesulitan dengan mereka. Seperti perang yang tidak habishabisnya. Mereka sekarang sudah kaya. Mereka merasa tidak enak karena kau tidak kaya. Esok, pada suatu hari kita akan menikah, tapi setidak-tidaknya kita kini sudah tahu apa yang ada dalam hati kita. "

Huoy mengangguk. Ia tersenyum lagi.

"Aku tahu persis bagaimana orangtuaku," kataku. "Kita harus bertindak pelan-pelan, berusaha memperoleh kepercayaan mereka. Jadi jika aku minta padamu untuk melakukan sesuatu bagi orangtuaku, kuharap kau mau melakukannya. Lakukanlah, demi kita. "

"Ya," kata Huoy. "Ya, aku akan melakukan nya." Ia mengerti. Kami berdua hanya bisa bahagia jika kami membuat keluarga kami berbahagia. Dalam kebudayaan kami, keluarga sebagai keseluruhan lebih penting daripada masing-masing anggotanya.

Kami berjalan menyusur sungai, tanpa memperhatikan orang-orang lain. Aku merangkul pundak Huoy, kemudian pindah ke pinggangnya, lalu pindah lagi ke pundak. Rambutnya yang ranjang ditiup angin membelai dadaku. Bayangan bulan nampak di permukaan sungai, dan perahuperahu meluncur kian-kemari, bentuk-bentuk gelap di atas permukaan air.

Kami berjalan menuju ke arah Istana Raja lalu duduk di sebuah bangku, memandang sungai. Kami bercakap-cakap dengan suara pelan dan tenang, tentang masa depan kami berdua yang penuh dengan kebahagiaan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar