Aku ingin membaktikan buku ini sebagai kenangan kepada ayahku, Ngor Kea, ibuku, Lim Ngor, istriku, Chang Huoy (Chang My Huoy), yang tewas secara teramat sengsara, biadab, dan tanpa perikemanusiaan di bawah rezim komunis Khmer. Buku ini kutulis agar dunia bisa lebih memahami komunisme serta rezim-rezim lainnya di Kamboja.

Rabu, 05 Desember 2012

Neraka Kamboja - Bab 1 : Masa Kecilku


1
MASA KECILKU 
PENGALAMANKU yang paling dini semasa kecil yang masih kuingat adalah berdiri di·ambang pintu belakang rumah orangtuaku sambil melayangkan pandangan, menatap sawah yang terbentang. Hamparan sawah itu sangat menarik perhatianku. Pematang-pematang membagi-baginya membentuk suatu pola seperti papan catur yang tidak rata aturan letaknya, dengan petak-petak sawah dan di sana-sini pepohonan yang tumbuh di persilangan pematang.
Pemandangan itu silih berganti mengikuti musim Pada bulan Januari, di tengah musim kemarau, tunggul-tunggul padi yang kering kecoklatan menutupinya. Sekitar bulan April atau Mei ketika hujan turun rintik-rintik, beberapa petak dijadikan tempat menyemaikan benih, yang menyebabkannya nampak berwarna, hijau lembut. Apabila musim hujan tiba dengan curahan airnya yang lebat, pria dan wanita berombongan memindahkan semaian itu ke petak-petak sawah yang selebihnya. Selama bulan-bulan yang basah, tanaman padi tumbuh subur menghijau, dan pematang-pematang lenyap dari penglihatan sampai sekitar bulan Agustus, saat hujan berhenti turun dan tanaman padi mulai menguning. Lantas para petani turun ke sawah untuk memanennya, dengan meninggalkan hanya tunggul-tunggul kering saja sebagai sisa. Malai padi yang sudah dipanen ditebah guna. merontokkan gabahnya; gabah digiling, dan berasnya dijual kepada orang lain, seperti keluargaku misalnya.
Beras itu dimasak menjadi nasi yang kami makan dengan senang hati, dan selalu ada sekadarnya yang kami sisihkan untuk para biksu yang datang ke ruman kami setiap pagi dengan mangkuk derma mereka. Biksu-biksu itu memakai jubah yang warnanya kuning atau jingga, atau bahkan coklat, yang bahan pewarnanya mereka buat sendiri dati kulit kayu. Kepala dan alis mereka dicukur habis. Sikap mereka tenang dan membisu. Tak sepatah kata pun mereka ucapkan pada waktu beriringan satu-satu, berjalan dari rumah ke rumah.
ltulah kenanganku yang paling dini: petak-petak sawah yang beruban-ubah mengikuti musim, dan para biksu yang mendatangi rumah kami setiap pagi. Dan itulah wajah Kamboja yang ingin tetap kuingat. Kamboja yang sunyi, indah, dan tenteram.
Tapi pada hakikatnya kejadian lengkap pertama yang masih kuingat tidaklah sedamai itu. Waktu itu umurku sekitar tiga tanun. Tahunnya, mungkin 1950. Aku dan abangku disuruh lbu pergi ke sawah, mengambil air dari sebuah kolam di situ. Saat itu sedang musim kemarau. Di kolam ada serdadu-serdadu dari pasukan yang ditempatkan di desa kami. Mereka sedang memancing ikan, duduk bertelanjang dada dan kaki. Kami mengisi ember dengan air. Gagangnya kami cantolkan pada sebatang tongkat, lalu kami panggul tongkat itu. Kami sudah dalam perjalanan pulang, dua bocah lelaki tanpa sepatu memikul air seember, ket ika terdengar bunyi letusan di belakang kami. Datangnya dari dekat kolam. Kemudian kami mendengar letusan lagi. dan suara serdadu-serdadu tadi berteriak-teriak. Ibuku muncul di ambang pintu rumah. Belum pernah kulihat air mukanya seperrti pada saat itu.
"Kemari, Anak-anak! Letakkan ember itu! Jatuhkan saja! Cepat!" katanya. Ember kami letakkan, lalu kami berlari-lari mendatangi Ibu yang bergegas menyongsong, menyambar pergltangan kami dan menyeret kami ke dalam rumah. Di belakang kami terdengar lagi bunyi tembakan-tembakan, dan para tetangga kami berteriak-teriak.
Aku tidak ingat lagi apa yang terjadi pada detik- detik berikutnya. Tahu-tahu aku dan abangku sudah berada dalam lubang di bawah balai-balai kayu berukuran besar yang merupakan tempat tidur orangtuaku. Lubang itu gelap dan sejuk, dengan karung-karung berisi pasir melapisi sisi- sisinya, Orangtuaku sudah tahu bahwa akan terjadi kerusuhan. Beberapa saudaraku sudah lebih dulu ada di situ, disusul oleh yang lain-lainnya; masuk bergegas-gegas, setengah lusin anak yang lasak. lbuku masuk kemudian dan akhirnya ayahku, yang datang berlari-lari dari pasar. Napasnya memburu. Mukanya basah karena keringat.
Kami mendengar tembakan. Bunyinya dekat. Lalu beberapa kali lagi, dekat sekali di luar rumah kami. Ada bunyi barang pecah, dan kepingan kaca berhamburan di atas balai-balai yang menaungi kami. Ibu berdoa sambil merangkul kami lebih erat lagi, sementara Ayah melontarkan kata makian. Kami, anak-anak, semakin meringkuk dalam lubang persembunyian kami di lantai, di bawah balai-balai.
Beberapa saat kemudian tidak ada lagi tembakan. Kami mendengar suara ramai di luar. Seseorang memanggil-manggil nama ayahku. Ayah keluar dari lubang persembunyian. Kami semua menyusul beberapa menit kemudian. Pecahan kaca berserakan di lantai. Dinding sebelah atas pintu depan berlubang-Iubang. Banyak orang berkerumun di luar, ditambah lagi dengan orangorang yang berdatangan sambil berlari-lari. Suasana ribut, karena semua berbicara.
"Tidak, sisanya berhasil meloloskan diri. Tidak ada lainnya yang terbunuh .... "
"Serdadu-serdadu mundur ke tangsi, lalu menembaki dari atas menara penjagaan . . .. "
"la berlindung di balik pohon ini. Bukan Main banyak sekali lubang bekas pelor di batangnya! Bahkan di ambang pintu rumah Ngor. ... "
Aku menerobos lewat sela-sela kaki orang banyak yang berkerumun. Aku ingin melihat sendiri. Dekat pohon yang ada di depan rumah kami, ditengah kerumunan orang, nampak seorang laki-laki tertelungkup di tengah genangan darah. Di sisinya ada sepucuk senapan karabin. Anak-anak lain ikut menelusup masuk bersama aku, ada yang dengan menggendong adiknya di pinggang.
Kami menatap dengan mata terbelalak.
Gerilyawan yang mati itu bertubuh kekar, dengan punggung dan tungkai berotot kokoh. Kakinya yang telanjang nampak lebar dan kapalan, seperti kaki petani. Warna kulitnya gelap. Lengan dan bahunya penuh dengan rajahan. Ia memakai celana pendek yang sudah compang-camping. Di pinggangnya terlilit krama -semacam selendang khas Kamboja yang serbaguna - serta beberapa utas tali yang digantungi sejumlah jimat Budha dan tasbih. Ia tidak memakai baju. Kelihatannya bukan berasal dari kota. Ia orang dusun, dari jantung pedalaman Kamboja yang tenteram. Dan ia memberontak.
Kini, sekian tahun kemudian, sesudah dewasa dan hidup di negeri asing yang jauh sekali, aku berpikir: Ya, bahkan pada waktu itu pun sudah ada kerusuhan. Bukan revolusi barangkali, tapi ketidakpuasan mendalam yang disembunyikan.
Bagi orang luar, dan sering kali bahkan di mata kami sendiri, Kamboja kelihatannya cukup tenteram Para petani selalu sibuk dengan siklus kegiatan bercocok tanam. Kaum nelayan hidup dalam perahu-perahu mereka, dan anak-anak mereka yang telanjang asyik bermain-main, jumpalitan keluar-masuk air. Para biksu yang terbalut jubah dan bertelanjang kaki, berjalan dengan langkah tenang dalam perjalanan keliling mereka setiap pagi. Kuil Budha di setiap desa, dengan atapnya yang anggun bertingkat-tingkat menjulang di atas pucuk-pucuk pepohonan. Jalan raya yang lebar-lebar dan pohon-pohon berbunga di Phnom Penh, ibukota negara. Segala keindahan dan ketenteraman itu nampak di depan mata. Tapi di dalam, selalu dalam keadaan tersembunyi, ada kum. lni sebuah kata dalam bahasa Khmer yang berarti dendam kesumat, suatu mentalitas yang ada dalam sanubari manusia Kamboja. Jika kita pernah dipukul seseorang dan kita menunggu lima tahun untuk pada suatu malam yang gelap menembak orang itu dari belakang, itulah kum. Atau jika seorang petugas pemerintah mencuri ternak ayam milik seorang petani, lalu perbuatan itu oleh si petani dijadikan alasan untuk melakukan serangan terhadap sebuah tangsi tentara pemerintah, seperti yang terjadi di desa tempat tinggalku semasa kecil, itulah yang dinamakan kum. Orang Kamboja tahu segala-galanya tentang kum. Itu merupakan radang yang merasuki jiwa bangsa kami.
Tapi waktu itu pertikaian bersenjatanya masih secara kecil-kecilan, sebelum negara-negara lain ikut terlibat, dan kerusakan sebagai akibatnya masih belum seberapa. Ketika segelintir gerilyawan compang-camping menyerang tangsi tentara di desaku waktu itu, kejadiannya hanya menjadi buah bibir kami saja, penduduk sana. Orang lain, tidak ada yang peduli. Mungkin saja aksi penyerangan itu diberitakan dalam harian-harian Phnom Penh, tapi tidak di luar negeri. Itu hanya insiden kecil saja dalam perang saudara yang berlarut larut-larut tanpa pernah memuncak. Peperangan seperti itu selalu saja ada di mana-mana, diberbagai tempat di bumi ini. Dan dunia luar hanya sedikit saja tahu mengenainya.
Kamboja, kebanyakan orang hanya mengenal namanya saja. Suatu negeri yang jauh di mana pernah terjadi malapetaka, tapi hanya sedikit yang masih ingat apa sebenarnya yang terjadi di sana. Namun begitu disebutkan Pol Pot atau Khmer Merah, orang lantas mulai ingat kembali. Atau bom-bom yang berjatuhan, atau pembantaian rakyat, atau bahkan sebuah film berjudul The Killing Fields. Tapi itu semua baru kemudian terjadinya.
Kamboja merupakan bagian dari Indocina, dan kawasan ini merupakan sebagian dari daratan Asia Tenggara. Sebutan "Indocina" terbentuk karena di sebelah barat dengan diselangi beberapa negara terletak India, dari mana berasal agama dan aksara yang berlaku di Kamboja; dan juga dengan diselangi beberapa negara, di sebelah utara terletak Cina, negeri asal kelas pedagang di Kamboja, termasuk pula keluargaku dari pihak Ayah. Lama sekali kawasan itu dikenal dengan nama Indocina Perancis, karena Perancis sejak pertengahan abad kesembilan belas menguasai Kamboja dan Laos serta Vietnam sebagai daerah jajahan. Para gerilyawan yang mendatangi desaku sewaktu aku masih kecil itu berjuang untuk menyingkirkan penjajahan Perancis. Dan pada waktu terjadinya tembak-menembak itu, Ho Chi Minh dengan orang-orang komunisnya di Vietnam juga sedang melakukan pemberontakan berskala jauh lebih besar untuk mengusir Perancis dari sana.
Vietnam biasanya menyebabkan Kamboja agak tersisih dalam warta berita dunia karena perang di sana lebih besar ukurannya, dan karena negara-negara Barat sementara itu sudah terlibat secara langsung di dalamnya. Jadi. orang tahu lebih banyak tentang Vietnam ketimbang mengenai Kamboja. Tapi aku paling jengkel jika harus menjelaskan bahwa Kamboja itu letaknya bersebelahan dengan Vietnam, atau bahkan di dekat India dan Cina. Bagiku, Kamboja merupakan sesuatu yang sangat dekat ke hatiku, sesuatu yang amat istimewa. Itu nama negeri sekitar desaku. Dan seperti halnya anak-anak mana pun juga, semasa kecil aku beranggapan bahwa desaku itu merupakan pusat dunia.
Nama desa itu Samrong Yong. Letaknya di suatu persimpangan yang sunyi dari jalan besar yang membentang di selatan Phnom Penh, terdiri dari hanya sederetan rumah dengan sawah dan hutan di belakangnya. Sesudah insiden tembak-menembak itu, orangtuaku mengungsikan kami, anak-anaknya, ke rumah seorang teman di pedalaman, mereka beranggapan bahwa kami akan aman di situ. Setiap petang orangtuaku datang ke rumah itu untuk bermalam di sana bersama kami, dan begitu hari sudah pagi mereka kembali lagi ke desa untuk membuka toko mereka yang memperdagangkan tekstil. Sampai pada suatu sore, ketika ayahku tidak kembali dari sana.
Ia diculik gerilyawan pemberontak. Ibuku mengumpulkan duit untuk menebusnya. Setelah uang tebusan diserahkan, ayahku mereka bebaskan; tapi sebagai gantinya ibuku mereka tawan, sehingga ayahku harus mengusahakan uang penebus untuk membebaskannya. Ketika mereka berdua sudah bebas, orang-orang militer yang korup dari pihak lainnya-perwira-perwira berkebangsaan Kamboja dari tentara pemerintah yang didukung Perancis-menangkap ayahku dan menjebloskannya ke dalam penjara dengan tuduhan membantu gerilyawan. Pokoknya, ia dikatakan ketahuan pergi ke Samrong Yong setiap sore untuk mendatangi mereka. Tentu saja itu hanya alasan saja dari orang-orang militer itu untuk bisa memperoleh uang tebusan.
Aku diungsikan ke Phnom Penh. Selama aku di sana, kaum pemberontak dan pihak militer berganti menculik Ayah lagi. Ayahku sebenarnya tidak mau membayar uang tebusan, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak punya siapa-siapa yang bisa melindunginya. Seperti hampir semua pedagang, ia bertampang Cina, dengan warna kulit yang pucat dan mata sipit. ltu membuat dirinya menjadi sasaran empuk. Kebanyakan orang Kamboja yang lainnya berbangsa Khmer, dengan mata bulat dan kulit berwarna sawo matang, atau kalau tidak merupakan keturunan campuran.
Ketika aku akhirnya pulang lagi ke desa, sawah masih sama saja kelihatannya. Biksu-biksu masih tetap berkeliling setiap pagi. Tapi setiap sore, sebuah pasukan pertahanan desa yang baru dibentuk dan terdiri dari pemuda dan pemudi berbaris berkeliling desa dengan membawa parang dan bedil kayu. Langkah mereka tidak pernah bisa seirama, dan penampilan mereka tidak mirip tentara yang sejati, namun rakyat sangat mendukung mereka. Penduduk desa sudah muak menghadapi kekorupan serdadu-serdadu pemerintah dukungan Perancis, begitu pula menghadapi kaum gerilyawan yang tidak kalah korupnya. Orang yang membantu pengorganisasian barisan-barisan pertahanan rakyat, yakni Norodom Sihanouk, raja kami yang waktu itu masih muda, begitu juga perasaannya. Sihanouk berupaya mendesak Perancis agar pergi dari Kamboja. Komunis juga diinginkannya pergi, karena di antara mereka ada yang bersekutu dengan Ho Chi Minh. Sihanouk tidak menghendaki sebuah negara Barat seperti Perancis berkuasa di Kamboja. Tapi juga tidak kaum komunis. Ia mendambakan Kamboja yang merdeka dan netral. Sesuai dengan tradisi Budhis, ia menginginkan jalan tengah.
Ayahku jadi miskin karena setiap kali harus membayar uang tebusan. Aku dimasukkan ke sebuah sekolah Cina bersama abangku, Pheng Huor; tapi tidak lama kemudian aku dikeluarkan lagi karena Ayah tidak mampu membayar uang sekolah bagi kami berdua. Aku tidak keberatan. Pheng Huor lebih pintar ketimbang aku. Ia bisa menghitung jawaban yang benar dari sebuah soal dalam sekian detik saja dengan menggunakan swipoa-setelah dengan ujung jarinya ia mengutak-utik bulatan yang berderet-deret itu sebentar - sementara aku masih sibuk berusaha mengingat-ingat berapa besar nilai masing-masing bu latan itu. Pheng Huor selalu membantu-bantu Ayah sehabis sekolah. Aku lebih suka membantu Ibu. Ibuku lebih coklat warna kulitnya, seperti aku, antara kulit kuning orang Cina dan penduduk dusun Kamboja yang berkulit sawo matang.
Sementara Ayah membangun kembali usahanya dan abangku belajar di sekolah, setiap hari aku ikut Ibu pergi melakukan perdagangan barter ke pedalaman untuk memperoleh bahan pangan bagi keluarga kami. Aku memanggul tongkat bambu panjang yang berkait pada kedua ujungnya. Pada kaitan yang satu digantungkan sebuah keranjang berisi jajanan yang setiap hari dibuat ayahku yang begitu keras kerjanya, sementara ketanjang yang digantungkan pada kaitan yang satu lagi diisi dengan kacang tanah, ikan asin, garam, kecap, dan macam-macam lagi yang kami rasa nanti bisa ditukarkan sesuatu. Kami berangkat saat matahari terbit, berjalan kaki. Kedua keranjang terayun-ayun pada kedua ujung tongkat pikulanku, dan aku menyesuaikan langkah dengan iramanya. Ibu melilitkan krama, atau selendangnya, ke kepalanya lalu menjunjungkan sebuah keranjang di atasnya. Sambil berjalan dipegangnya keranjang itu dengan satu tangan supaya jangan jatuh.
Kami berjalan meninggalkan jalan raya beraspal, Jalan Nasional 2, yang melewati desa kami, memasuki jalan lebih kecil yang merupakan lintasan gerobak sapi dan jalan-jalan setapak. Dengan segera bunyi lalu-lintas kendaraan bermotor sudah tak terdengar lagi. Kami sudah memasuki suatu dunia yang sama sekali lain, suatu alam pemandangan yang terdiri dari sawah dan hutan. Kami menyusur sawah-sawah terbuka mendatangi desa-desa teduh, dengan rumah-rumah beratap kajang yang dibangun di atas tonggak-tonggak tinggi di antara pohon-pohon asam, mangga, pisang, dan kelapa. Penghuni desa-desa itu orang Khmer, manusia-manusia ramah berkulit sawo matang yang sangat menguasai cara hidup bertani tanpa terlalu memeras tenaga. Setiap rumah memiliki pekarangan yang dikelilingi pagar buIuh. Pekarangan itu ditanami sayur-mayur dan tembakau. Ternak ayam mengais-ngais tanah sambil berkotek-kotek, dan pada saat kapan pun selalu ada. saja terdengar bunyi ayam jantan berkokok. Kami biasanya menukarkan barangbarang dagangan kami dengan beras, karena itu bisa diperoleh dengan lebih murah dari orang orang desa itu ketimbang di Samrong Yong.
Kami berjalan terus sepanjang hari, dan tubuhku menjadi kuat dan sehat karenanya. Dalam perjalanan pulang aku mencari-cari tanaman teratai, yang akar dan bijinya enak kalau dibuat sup, atau kangkung, atau daun pohon sdao, yang rasanya agak getir. Setiap kali kami melewati hutan, Ibu selalu membungkus beras beberapa butir dalam selembar daun dan meletakkannya dl tanah sebagai sesajian untuk roh-roh penjaga hutan itu.
Ketika sudah berumur sekitar delapan tahun, aku diizinkan pergi berdagang seorang din, tanpa ibuku. Aku paling suka mendatangi sebuah desa yang terletak di tengah-tengah hutan pohon aren yang berbatang tinggi langsing. Setiap pagi kaum lelaki desa itu memanjati pohon-pohon itu untuk menyadap niranya. Nira itu dimasak selama berjam-jam dalam bejana-bejana besar, dijadikan gula nira yang kemudian dijual ke pasar, atau ditukarkan dengan barang-barang daganganku. Mereka juga membuat tuak daripadanya. Tuak itu dibuat langsung di pohonnya. Suatu pagi ketika aku masuk ke desa itu, kudengar suara para lelakinya memanggil-manggil namaku. Mereka mencangkung di atas pohon-pohon aren sambil melambai-lambai.
"He, Nak! He! Ngor Haing!" ltu memang namaku. Ngor adalah nama keluargaku, dan Haing nama kecilku. Karena aku sekarang hidup di Barat, namaku itu kubalik untuk menyesuaikan dengan kebiasaan menaruh nama keluarga di belakang.
"Naiklah kemari! Kami punya sesuatu untukmu!" Kupanjat tangga bambu yang tersandar pada sebatang pohon aren. Para lelaki itu duduk di puncaknya, di semacam lantai yang menghubungkan beberapa batang pohon aren yang berdekatan tumbuhnya. Mereka duduk di situ dengan tampang teler. Mereka menenggak tuak yang masih sangat segar. Aku mencicip sedikit. Rasanya sedap, lalu kuminum lebih banyak. Sementara itu waktu berjalan terus. Berjam-jam kami duduk di atas pohon sambil bercanda dan tertawa-tawa. Kemudian aku ingat bahwa aku harus turun ke tanah lagi. Tapi gerak lengan dan kaki tidak bisa kukuasai lagi. Tanah kelihatannya begitu jauh di bawah, seperti kalau dilihat dari pesawat terbang. Orang-orang desa terpaksa menggendongku turun. Aku sudah tidak mampu lagi melakukan tukar-menukar barang hari itu. Bisaku cuma berjalan oleng dan setiap kali jatuh terjerembap ke tanah. Begitu sampai di rumah aku diomeli Ibu, dan Ayah memandangku dengan galak dan marah. Katanya, aku takkan bisa jadi apa-apa jika terus saja bergaul dengan orang-orang yang tidak benar.
Aku tidak sependapat dengan dia. Menurutku, orang-orang dusun itu selalu baik padaku. Tapi waktu itu aku memang sangat keras kepala; jika ayahku mengatakan aku salah temang sesuatu hal, aku langsung saja merasa bahwa aku yang benar, tanpa menyimak dulu ucapannya. Begitulah watakku; jika kepalaku secara tak sengaja membentur tembok, maka akan kubenturkan kepalaku sekali lagi umuk melihat apakah aku bisa membuat tembok itu kesakitan.
Dengan menggunakan lstilah kerennya, aku waktu itu anak yang hiperaktif. Aku hanya mampu sebentar saja memusatkan perhatian terhadap sesuatu, dan energiku terlalu meluap-luap. Aku gemar berolahraga. Aku suka sekali berkelahi. Gengku, anak-anak dari bagian barat desa, Selalu saja terlibat dalam perkelahian melawan Anak-anak dari geng sebelah timur desa. Jika tepergok geng mereka pad a saat aku hanya sendiri, aku langsung saja menurunkan keranjang, keranjang dari tongkat pikulanku. Dengan tenang kutunggu serbuan musuh, siap umuk menghajar tulang kering mereka dengan tongkatku. Aku tidak merasa takut. Kegemaranku berkelahi dan bermain itu menimbulkan kejengkelan ayahku. Ia, yang bekerja keras setiap hari tanpa mengenal kata istirahat, menginginkan aku tinggal di rumah dan membantunya di toko. Tapi semakin sering ia memarahi, semakin sering pula aku keluyuran di luar.
Aku semakin tidak berani menatap mata Ayah. Abangku yang paling tua, yang berotak lamban, bekerja sepanjang hari pada ayahku sebagai buruh biasa. Patuhnya bukan main, seperti kerbau. Abangku yang nomor dua, Pheng Huor yang pintar itu, sudah dijadikan kasir toko oleh Ayah. Aku anak lelaki nomor tiga. Selain tiga saudara perempuan, aku masih punya dua adik laki-Iaki. Aku ingin membantu keluarga, tapi aku tidak pernah disuruh bekerja sepanjang hari. Bermain-main, itu lebih asyik.
Keadaannya menjadi gawat ketika aku berumur sekitar sepuluh tahun. Pemerintah Thailand, di sebelah barat Kamboja, menghadiahkan patung Budha yang besar kepada seorang biksu di Tonle Bati, sebuah kota kecil dekat desaku. Biksu itu sudah sangat tua dan berkedudukan tinggi, setingkat dengan uskup dalam agama Katolik. Patung itu menurut rencana akan ditempatkan dalam sebuah bangunan batu buatan sekitar tahun 1200 Masehi, semasa peradaban Kamboja kuno yang dikenal dengan nama Angkor. Tapi patung itu harus diambil dulu di Thailand sebelum bisa dipasang. Biksu itu yang mengambilnya ke sana, bersama ayahku.
Keduanya berangkat dengan kendaraan milik Ayah, sebuah truk merek Ford yang sudah tua, yang dicat hitam dan coklat. Mereka mengambil jalan ke arah utara lewat Jalan Nasional 2 ke Phnom Penh dulu, lalu dari sana ke arah barat laut mengitari danau besar yang bernama Tonle Sap dan menuju kota Aranyaprathet di perbatasan Thailand. Jalan-jalan yang dilewati sangat payah kondisinya. Sebentar-sebentar truk mogok. Ayahku jengkel karenanya, tapi ia berlagak tenang karena ada biksu itu, Patung yang dijemput ternyata sangat besar dan bagus. Begitu mereka sudah masuk lagi di wilayah Kamboja dengan patung itu di bak belakang, mereka harus mampir di setiap kota kecil untuk memamerkanI nya. Penduduk kota-kota yang disinggahi memI, berikan uang agar memperoleh pahala, untuk memperbesar kemungkinan kehidupan mereka akan lebih baik jika nanti dilahirkan kembali. Uang sumbangan itu dipakai untuk membetulkan truk dan membeli bensin. Ayah, yang tidak sabaran wataknya, tidak bisa mempercepat tempo perjalanan itu.
Selama ia pergi, Ibu yang mengurus toko. Dan aku bertambah sering berkelahi.
Pada pagi hari sebelum Ayah pulang, ada kartu permainan buatan luar negeri, berjumlah dua belas bungkus, hilang dari lemari penyimpanan yang terkunci. Letak lemari kecil itu di sebelah atas tempat tidur orangtuaku. Padahal kalau kartu, kartu itu dijual, bisa memberikan keuntungan yang lumayan bagi keluarga kami. Ibu mendatangi aku. Ia menanyakan, akukah yang mengambilnya. Bukan, jawabku. Aku tidak bohong, Tapi ibuku curiga. Di antara semua anaknya, cuma aku saja yang saban kali membikin keributan.
Ibu berbicara secara blak-blakan.
"Kalau kau yang mencuri dan menjualnya, mengaku sajalah," katanya. "Jika aku tahu kau tidak bohong, takkan kuceritakan urusan ini pada ayahmu, jadi kau tidak, dipukul olehnya."
Tidak ada sesuatu yang bisa kukatakan kepada Ibu. Ayah memang sekali-sekali memukul kami, seperti kebiasaan semua ayah dalam keluarga Cina. Tapi kami tidak sampai terlalu kesakitan kena pukulannya.
Hari itu kuperhatikan terus abangku yang nomor dua, Pheng Huor. Ia mendongak ketika melihat aku memandang ke arahnya, dan dibalasnya tatapan mataku dengan sikap yang biasa-biasa saja. Orang yang mencuri kartu-kartu itu pasti salah seorang anggota keluarga kami sendiri. Tapi andaikan memang abangku itu yang mencurinya, dan kemungkinan itu besar sekali, aku tidak bisa membuktikannya.
Keesokan harinya Ayah pulang dengan truknya. Ia capek dan kesal, karen a harus bersopan santun terus selama itu.
Ibu bercerita padanya ten tang kartu-kartu yang hilang dicuri itu. Ayah langsung marah dan mendatangi aku, Mungkin ia mengira bahwa begitulah keadaannya selama ia tidak ada, dan ia perlu menegaskan kembali kewibawaannya.
Aku digiringnya ke belakang rumah, lalu diikatnya tangan dan kakiku ke sepotong kayu yang besar. Setelah itu bahuku digebukinya dengan sebilah papan. Sejam lamanya ia memukuli. Ketika sudah merasa capek ia masuk ke rumah. Tapi beberapa saat kemudian muncul lagi sambil menggenggam papan pemukul yang tadi. Ibuku berdiri di ambang pintu. Dari air mukanya nampak bahwa ia merasa kasihan, tapi la tidak menyuruh Ayah berhenti memukul.
Aku tidak tahu kapan Ayah berhenti, karena sebelumnya aku sudah jatuh. pingsan. Ketika kemudian siuman kembali, ternyata tangan dan kakiku masih tetap terikat ke kayu, tapi posisiku sudah berguling ke samping. Matahari sudah rendah letaknya, di atas hamparan sawah. Hari sudah sore. Ibuku keluar dari rumah, bersama Chhay Thao, saudara perempuanku yang paling kusayangi. Mereka melepaskan diriku dari ikatan, sambil bertanya apa yang bisa mereka lakukan.
Aku tetap menggeletak di tanah, 'tanpa berge," rak. Mereka berdiri sambil membungkuk di dekatku. Pelan-pelan kekusutan pikiranku lenyap.
"Ibu tidak mau percaya padaku," ujarku lambat-lambat. "Aku Ibu perlakukan seakan-akan aku ini musuh keluarga. Jadi, tidak usah aku ditolong."
Ibu berlutut di sampingku.
"Kau masih masih tetap keras kepala rupanya, ya?" katanya lembut.
Mereka berdua membantuku naik ke atas rumah dan membimbingku masuk ke pembaringan. Aku tertidur. Tapi malam itu aku terbangun dengan perasaan bingung bercampur marah. Apa sebenarnya yang kuperbuat, sehingga dipukuli seperti itu? Aku suka olahraga. Aku suka pergi keluar rumah dan bermain-main begitu ada kesempatan. Aku juga sering berkelahi dengan anak-anak lain. Jika alas an itu membuat aku jadi jahat, jika karena itu mereka lantas hendak memukuli aku, silakan. ltu hak mereka. Tapi aku tidak mencuri apa-apa. Aku tidak perlu uang Tidak ada sesuatu pun yang begitu kuingini, sehingga untuk memperolehnya aku sampai tega memalingi keluargaku sendiri. Jika mereka tidak mempercayai aku, mana bisa aku hidup seatap dengan mereka? Bagaimana mungkin aku bisa mengakui kewibawaan mereka.
Pagi-pagi sekali keesokan harinya aku minggat dari rumah. Pasar terbuka di Samrong Y ong merupakan persinggahanku yang pertama.
Pasar itu menempati salah satu sudut dari satu-satunya persimpangan jalan yang ada di desa itu, di seberang tangsi pasukan tentara pemerintah dukungan Perancis dengan menara penjagaan yang tinggi dan terbuat dari batu.
Pasar itu pusat perdagangan di desa dan juga tempat beredarnya pergunjingan. Kaum wanita bersesak-sesak melangkah sepanjang gang-gangnya, sibuk menawar, memegang-megang sayuran dan buah-buahan yang ditumpuk rapi, melongok ke dalam pasu-pasu berisi ikan hidup yang berenang-renang di dalam air. Pedagang makanan menjajakan ayam panggang dan jajanan yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan daun pisang. Orang-orang masuk ke warung-warung makan dan memesan hidangan sup yang diracik menurut permintaan. Tapi aku tidak bisa membeli apa-apa. Tidak punya uang. Aku berbicara dengan rang yang kukenal, sambil berjaga-jaga kalau ada keluargaku yang muncul.
Siangnya, sebuah bus umum yang sudah reyot masuk ke tempat lapang di sebelah pasar. Penge"",, mudinya masih termasuk keluargaku juga. Nama- nya Kruy.
"Paman! Paman!" seruku memanggilnya.
"Eh, ini Ngor Haing, kan? Kenapa kau?" kata Paman Kruy dari jendela busnya.
Kuhampiri pintu kendaraan itu.
"Aku dipukuli Ayah kemarin malam karen a dituduh mencuri kartu permainan dari toko. Padahal bukan aku yang mencurinya."
"Kalau begitu ikut saja dengan aku. Nariti kuberi baju untuk menutupi bilur-bilur itu." Aku masuk ke dalam bus, dan kendaraan itu langsung berangkat dengan suara mesin dieselnya yang berisik.
Paman Kruy tinggal bersama istrinya di selatan desaku, di jantung Propinsi Takeo. Ia pemilik tunggal dan sekaligus sopir bus umum yang sudah bobrok itu. Setiap hari ia menjalani trayek dari desanya ke Phnom Penh dan kembali lagi lewat Jalan Nasional 2, dengan menyinggahi pasar di setiap desa dan kota yang dilalui.
Begitu sampai di rumah Paman Kruy, aku diberinya baju dan topi jerami. Mulai keesokan harinya aku sudah bekerja padanya, sebagai tukang pungut ongkos. Di dalam bus berisik sekali, badannya yang terguncang keras - karena pernya sudah payah-setiap kali kendaraan itu melewati lubang besar di jalan, mengakibatkan semua baut dan mur menjadi longgar. Para penumpang duduk bersesak-sesak di atas bangku bangku kayu yang keras. Ketika bus rasanya tidak mungkin lagi bisa ditambah penumpangnya, Paman Kruy memperlambat jalan kendaraan itu lalu menghentikannya di dekat seorang biksu tua yang sudah keriput, yang berdiri di pinggir jalan dengan payungnya. Biksu itu masuk ke dalam bus lalu menuju ke bangku sebelah belakang. Para penumpang yang duduk di situ menggeser tubuh mereka sedikit untuk memberi tempat baginya. Dan aneh sekali, ternyata kemudian ada cukup banyak tempat di situ. Semua tahu, biksu perlu diperlakukan dengan takzim. Kaum wanita harus berjaga-jaga jangan sampai menyentuh mereka, biarpun secara tidak sengaja, karena biksu harus tetap suci. Dan tidak bisa dibayangkan menagih ongkos naik bus kepada biksu. Mereka bisa naik kendaraan umum tanpa membayar. Bahkan aku saja pun mengetahuinya, pada hari pertamaku itu.
Ketika Paman Kruy melihat bahwa aku tahu bagaimana caranya menarik pembayaran dan menghitung uang yang masuk, aku lantas disuruhnya duduk di tempat barang di atap bus dengan tugas menjaga barang-barang yang diangkut di situ. Tempat barang itu penuh dengan bungkusan, koper, sepeda, perabot rumah tangga, yang ditumpuk-tumpuk sampai lebih tinggi dari kepalaku. Selain itu ada pula keranjang-keranjang berisi babi yang menguik-nguik, keranjang-keranjang dengan ayam dan bebek yang bersuara ribut, belum lagi yang berisi ular dan bermacam-macam hasil bumi yang harus diangkut ke pasar di kota Phnom Penh. Pada setiap perhentian, kuulurkan barang-barang. kepada para pemiliknya masing-masing yang menunggu di bawah dengan tengah terjulur ke atas, lalu kuraihkan tangan ke bawah untuk menaikkan barang-barang angkutan yang baru.
Aku juga berperan dalam pembayaran uang semir. Setiap kali menghampiri pos pemeriksaan pemerintah, Paman Kruy memperlambat jalan busnya. Kendaraan itu ditepikannya ke pinggir jalan lalu dihentikannya sebentar, sementara aku bergegas menuruni tangga di bagian belakang bus, membetulkan letak topiku lalu berjalan ke pos penjagaan.
Penjaga yang ada di dalam berlagak meneliti bus untuk melihat apakah muatannya terlalu banyak, atau kalau-kalau ada gerilyawan komunis di dalamnya, atau apa saja yang pada saat itu dianggapnya mungkin tidak beres. Aku membuka topiku dengan sikap hormat dan meletakkannya di atas meja di samping papan alas kertas catatan pemeriksaannya. Topi itu kugerakkan sehingga uang kertas riel yang tadi sudah kuselipkan ke pita topi itu jatuh, lalu kusorong uang itu ke bawah papan alas dengan tangan.
"Busmu lumayan kelihatannya hari ini," kata penjaga itu dengan suara bernada bosan. "Sudahlah- sana, kalian boleh terus." Sementara itu bus sudah meraung-raung, karena dipijak pedal gasnya oleh Paman Kruy. Palang kayu yang melintang di jalan terangkat karena talinya ditarik, aku berlari-lari kembali ke bus dan meloncat naik ke tangga di belakangnya sementara Paman Kruy melanjutkan perjalanan lagi.
Aku menyukai kehidupanku yang baru itu. Aku tidak punya sepatu, tidak punya pakaian selain yang melekat di tubuhku, dan aku juga tidak peduli. Selama aku bekerja di bus itu aku tidak perlu berpikir tentang hajaran Ayah terhadap diriku. Tapi susahnya, bus itu singgah dua kali sehari di pasar desa Samrong Yong.
Tapi aku tidak bisa mengelakkan nasib. Dan saat yang menentukan itu akhirnya tiba juga. Aku berbaring telentang di temp at barang di atas atap bus, memperhatikan debu jalan yang mengepul di belakang. Bunyi mesin berubah dengan tiba-tiba ketika Paman Kruy memindahkan persneling ke gigi yang lebih rendah. Sementara kecepatan bus berkurang, kupalingkan kepala untuk memandang ke depan. Jalan di situ begitu sempit sehingga kalau ada dua kendaraan hendak berpapasan maka masing-masing harus menepi sampai ke pinggir sekali dan lewat dengan kecepatan seperti merangkak. Kulihat ada kendaraan lain datang dari arah berlawanan.
Sebuah truk merek Ford yang dicat hitam dan coklat. Paman Kruy menghentikan busnya sedemikian rupa sehingga jendelanya tepat berhadap-hadapan dengan jendela truk yang hendak lewat. Ayahku menjulurkan badannya mendekat lalu mengatakan sesuatu.
"Anakmu ada di atas, di tempat barang," kudengar Paman Kruy berkata.
"Ya, kudengar ia bekerja padamu. Bilang padanya, ibunya menyuruh dia pulang," kata ayahku.
"Beres," kata Paman Kruy. "Itu soal kecil. O ya, Bang, kaudengar tidak-Raja sekarang ada di Eropa, berembuk lagi? Bagaimana menurutmu, bisakah ia menyuruh Perancis keluar sekali ini?"
"Kudoakan semoga ia berhasil," kata ayahku.
"Jika sudah benar-benar damai mungkin keadaan menjadi baik dan pelangganku bisa bertambah banyak."
"Yah, kalau ada yang bisa mengusir keparat- keparat asing itu, maka itu pasti Paduka Raja . . . " Kubenamkan diriku di tengah-tengah timbunan barang-barang angkutan, di samping keranjang berisi bebek. Aku tidak ingin bicara dengan ayahku. Ia tidak ingin bicara dengan aku. Satu- satunya yang benar-benar penting baginya cuma bisnisnya, sama saja dengan orang-orang dewasa yang lain. Semuariya serba tidak langsung, dengan mengatakan bahwa ibuku menyuruh aku pulang. Paling-paling mereka memerlukan tenagaku di rumah.
Keesokan paginya aku meloncat turun dari bus sewaktu kami singgah di desaku. Aku melangkah menuju rumah orangtuaku, dengan perasaan waswas. Untungnya, truk Ayah tidak ada di situ. Begitu melihat aku datang, ibuku langsung menangis. Dipegangnya pergelangan tanganku kuat-kuat. Ia tidak mau melepaskan, ketika aku purapura hendak mernbebaskan diri.
Dengannya tidak berarti bahwa masalah-masalahku dengan keluargaku lantas sudah selesai. Sama sekali tidak. Tapi itu merupakan akhir periode pembangkanganku, begitu pula kegiatan berdagang keliling ke pedalaman, atau bekerja pada Paman Kruy. Sesuatu yang sangat menyenangkan terjadi. Hanya dengan jalan berembuk, tanpa melepaskan satu tembakan pun, Raja Sihanouk berhasil memerdekakan Kamboja dari penjajahan Perancis. Orang-orang dengan spontan ramai merayakannya di jalan-jalan desaku. Kini kami, orang Kamboja, bisa menemukan nasib kami sendiri, seperti yang sudah selalu kami dambakan. Kini kami bisa hidup damai, dan mungkin bisa menjadi makmur.
Salah satu langkah pertama yang dilakukan Sihanouk selaku pemimpin yang berdaulat adalah menambah jumlah sekolah negeri yang tidak memungut bayaran. Aku masuk sekolah dasar, duduk bersama anak-anak berumur dua belas sampai empat belas tahun yang baru mulai belajar membaca, sama seperti aku. Dalam tahun pertama aku bersekolah, aku naik empat kelas. Tahun berikutnya aku naik lagi dua kelas. Dari situ aku menyambung ke sekolah menengah pertama di ibukota propinsi, di Takeo. Sebagian besar mata pelajaran yang diberikan di situ berbahasa pengantar Perancis, karena Perancis di segi kebudayaan masih tetap mendominasi kalangan terpelajar atau kaya yang merupakan lapisan tipis dalam masyarakat Kamboja.
Prestasiku baik di sekolah. Dengan cepat aku menanjak, memasuki kategon mund berbakat. Salah satu penyebabnya adalah seorang guru bernama Chea Huon, seorang cendekiawan Cina bertubuh ceking, bungkuk, dan berparas pucat. Chea Huon menganut prinsip kesamaan derajat dalam kehidupan sosial. Tanpa pilih kasih, semua murid yang ingin mendapat bimbingan tambahan diundangnya ke rumahnya pada saat-saat akhir pekan untuk memperoleh pelajaran tambahan secara cuma-cuma. Ia sangat baik hati terhadapku. Waktu itu aku masih tidak tahu apa-apa tentang politik, dan sedikit pun tak kuduga bahwa kami berdua di kemudian hari akan berjumpa kembali dalam keadaan yang aneh dan luar biasa konsekuensinya.
Dalam tahun terakhir di sekolah itu kami harus menempuh ujian. Murid-murid yang lulus diperbolehkan memasuki tahap pendidikan berikut: lycee, yang bisa disamakan dengan sekolah menengah atas. Aku belajar dengan tekun. Aku berdoa kepada Budha, semoga aku bisa memperoleh nilai-nilai yang tinggi. Ketika aku kemudian lulus dengan nilai-nilai yang tinggi, hanya ada satu hal yang masih harus kulakukan selanjutnya
Aku mencukur kepalaku sampai botak. Alis kucukur licin. Selama beberapa minggu seperti yang diharuskan tradisi, aku menjadi biksu. Dalam upacara pelantikan yang dilangsungkan di sebuah wat, atau kuil, yang terletak di luar Samrong Yong, orangtuaku menghaturkan sembah, yang dalam bahasa kami disebut sompeah. Nyaris mati aku rasanya karena gugup. Bayangkan, orangtuaku menghaturkan sompeah kepadaku! Padahal yang mereka sembah itu Budha, kesucian yang bersemayam dalam sanubariku selama aku mengenakan jubah biksu.
Setiap pagi aku berjalan dengan kaki telanjang bersama sederetan biksu lainnya, dengan mata tertunduk menatap tanah dan mengucapkan doa doa dalam hati. Para wanita ibu rumah-tangga menuangkan beras ke dalam mangkuk yang kubawa dalam selendang. Sehari-hari kami sibuk melakukan berbagai tugas di sekitar kuil serta berdoa. Kami, para biksu yang- baru, duduk di lantai kuil dengan sikap menyembah dan kaki terlipat dengan takzim ke samping, karena menampakkan kaki merupakan hal yang tidak sopan dalam kebudayaan kami. Kami berdoa menghadap altar yang membentang sepanjang satu dinding. Di kaki altar itu ada bunga-bunga dan area-area perahu dari kuningan dengan lilin sembahyang dan batang-batang dupa di dalamnya. Di sebelah atas terdapat patung-patung Budha yang diatur berjajar bertingkat-tingkat, nampak kemilau lembut diterangi cahaya lilin. Patung Budha yang paling besar ditempatkan pada posisi paling tinggi dan paling belakang. Patung dengan posisi duduk itu memandang ke bawah dengan air muka misterius yang memancarkan ketenteraman.
Budha bukan Tuhan, melainkan manusia yang Bijaksana. la mewariskan serangkaian langkah yang harus kami taati agar kami menjalani kehidupan yang benar dan berakhlak. la mengajarkan bahwa kehidupan disusul dengan kematian, dan sesudah kematian datang kelahiran kem bali serta kehidupan; begitu terus, dalam suatu siklus. Jika bimbingan Budha dipatuhi, maka kehidupan yang mendatang selalu akan lebih baik dari yang sebelumnya. Hanya dengan mematuhi ajarannya saja kita akhirnya akan bisa terbebas dari siklus kehidupan, penderitaan, dan kelahiran kembali, yakni yang oleh kami, orang Kamboja, discbut kama-dan di negeri-negeri lain dikenal dengan istilah karma.
Seorang biksu tua yang sudah keriput dengan tekun menjelaskan, untuk memastikan bahwa aku benar-benar memahami pokok-pokok yang terpenting. "Hal yang suci dan keramat," ujar biksu itu dengan senyumnya yang ramah, "adalah kehidupan itu sendiri, yang berlangsung dalam keluargamu. lni harus betul-betul kaupahami. Diperlukan seorang ayah dan seorang ibu untuk melahirkan seorang. anak di dunia ini. Mereka melindunginya semasa ia kecil. Adalah kewajiban anak untuk menghormati orangtuanya serta melindungi apabila mereka sudah tua. Kau juga harus menghormati semua anak dalam keluargamu yang hadir ke dunia ini sebelum dirimu. Kau harus selalu berbakti kepada mereka serta melindungi mereka. Patuhi orangtuamu, Nak. Jika keluargamu berbahagia, maka kau akan menempuh kehidupan yang baik. Jika semua keluarga berbahagia, maka desa akan bahagia. Jika semua desa berbahagia, maka negeri akan menjadi kuat dan tenteram."
Aku meyakini kebenaran hal yang diajarkan biksu tua itu padaku. Dan semua yang dikatakannya menjadi kenyataan, namun dalam wujud kebalikannya. Keluargaku tidak berbahagia, desaku tidak berbahagia, begitu pula halnya dengan negeriku. Dan kini aku berpaling memandang masa silam, melihat kembali segala hal yang telah terjadi dan merenungkan pertaliannya; timbul pertanyaan dalam hatiku, apakah sebagian dari kesalahan itu bisa ditimpakan pada diriku. 

1 komentar:

  1. Makasih banyak mas bro....saya sudah berusaha mencari buku ini kemana-mana, tapi ga dapat!

    BalasHapus