Aku ingin membaktikan buku ini sebagai kenangan kepada ayahku, Ngor Kea, ibuku, Lim Ngor, istriku, Chang Huoy (Chang My Huoy), yang tewas secara teramat sengsara, biadab, dan tanpa perikemanusiaan di bawah rezim komunis Khmer. Buku ini kutulis agar dunia bisa lebih memahami komunisme serta rezim-rezim lainnya di Kamboja.

Jumat, 14 Desember 2012

Neraka Kamboja - Bab 2 : Pendidikan


2
PENDIDlKAN

Ketika keadaan di dalam negeri sudah damai, penghasilan ayahku dari usahanya di bidang pengangkutan dan dari toko tekstilnya mulai meningkat. Pada tahun 1964 ia membeli sebuah bengkel penggergajian kayu yang letaknya tidak seberapa jauh dari Jalan Nasional 2, antara Samrong Yong dan Phnom Penh. Untuk ukuran Kamboja, bengkel itu tergolong maju perlengkap an tekniknya; gergajinya digerakkan dengan mesin, jadi bukan lagi gergaji yang digerakkan dengan tangan. Tapi mesin penggerak gergaji itu, yang aslinya mesin kendaraan jip, kalau hendak dihidupkan harus diputar dulu engkolnya.

Pertama kalinya aku mencoba menghidupkan mesin itu, kuputar engkol beberapa kali sehingga tekanan di dalamnya meningkat. Tahu-tahu engkol itu menendang ke arab berlawanan. Nyaris saja pergelangan tanganku patah terkena pukulannya. Aku langsung mengamuk. Engkol itu kucabut dan kubantingkan ke mesin dengan sekuat tenaga. Air menyembur dari radiator. Anjing peliharaan ibuku, seekor pudel jenis mini, menggonggong dan mendengking-dengking di belakangku. Aku berbalik dengan cepat lalu kutendang anjing itu sehingga terpental. Ayahku melihat kejadian itu. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mendesah dan memutar tubuh membelakangi aku, lalu pergi dengan sikap sedih sambil menggeleng-geleng.

Aku memang sudah menjalani kewajiban menjadi biksu, namun belum bisa mengendalikan perasaan seperti seharusnya seorang biksu.

Usaha bengkel penggergajian itu berjalan dengan baik sejak diambil-alih ayahku. Dengan segera ia sudah menambah jumlah truknya untuk mengangkut kayu gelondongan ke bengkelnya. Ia mengontrak tenaga pekerja untuk menebang pohon-pohon di dalam hutan rimba yang jauh. Ia membeli tempat tinggal yang dekat dengan bengkel, agar waktu kerjanya tidak banyak yang terbuang untuk perjalanan. Ayah tahu persis apa yang diinginkannya, yakni menjadi pedagang yang kaya, dengan anak-anaknya yang lelaki ikut membantu bekerja, serta memangku para cucu lelakinya kalau ia sudah berusia lanjut nanti. la kerap memberikan sumbangan kepada berbagai kegiatan sosial, seperti kepada kuil-kuil dan organisasi paguyuban Cina, karena ia merasakan bahwa itu sudah semestinya; tapi pandangannya tentang dunia sempit dan kaku.

Salah satu hal yang tidak dikuasai ayahku adalah membaca dan menulis dalam bahasa Khmer, bahasa nasi anal Kamboja, meski bicaranya lancar. Abangku, Pheng Huor, bisa menulis dan membaca dalam bahasa itu, tapi hanya sekedarnya saja. Mereka berdua sama-sama tidak bisa berbahasa Perancis. Padahal dokumen-dokumen pemerintah kebanyakan ditulis dalam bahasa Khmer dan Perancis. Pada waktu-waktu akhir pekan aku bersepeda ke bengkel yang jauhnya lima mil dari Phnom Penh untuk membantu di situ, mengenai surat-menyurat.

Memang tugasku membantu keluarga, tapi aku tidak pernah merasa enak melakukannya. Sejak awal sudah ketahuan olehku bahwa Pheng Huor melakukan manipulasi dalam pembukuan di bengkel dan menggelapkan uang mastik. Ia juga memindahkan pemilikan sejumlah barang modal bengkel menjadi atas namanya, tanpa memberitahu Ayah. Bagiku tidak ada jalan yang mudah untuk membereskan masalah itu, karena aku sudah dicap sebagai biang kerusu han dalam keluarga. Di satu pihak, ayahku kepala keluarga, yang memegang tampuk kekuasaan. Tidak selayaknya abangku berbuat curang terhadapnya. Tapi di pihak lain, aku juga harus bersikap hormat terhadap abangku itu, karena ia lebih tua. Ia bekerja keras di bengkel dan hampir sama besar peranannya seperti Ayah dalam menyukseskan usaha itu.

Dua kata dalam bahasa Perancis, yakni honneur dan bonheur, mengungkapkan hal yang penting. maknanya bagi kalangan seperti keluargaku. MesI ki abangku melanggar honneur, yang kurang lebih bisa diartikan sebagai kehormatan, setidak-tidaknya ia berbuat begitu dengan diam-diam. Jika aku menelanjangi perbuatan itu, akibatnya keluargaku akan kehilangan bonheur, kebahagiaan at au kecerahan suasana hidupnya. Manusia Kamboja bersedia untuk berbuat boleh dibilang apa saja untuk memelihara penampilan bonheur. Kami memaksa diri untuk tetap bersikap sopan meski itu bertentangan dengan yang sebenamya ada dalam hati, karena itu akan mempermudah persoalan. Sikap konflik memaksa kita untuk saling memperlakukan sebagai lawan, dan itu menyebabkan kita tidak bisa lagi mengendalikan diri.

Pada tahun 1968, usaha penggergajian berkembang subur, tapi kedudukanku dalam keluarga sangat payah. Aku tidak lulus sebuah ujian yang memberi kemungkinan bagiku untuk meneruskan pendidikan ke universitas. Ayahku menghendaki agar aku berhenti saja bersekolah dan menjadi tenaga tetap dalam perusahaannya, sebagai juru tulis. Tapi Ibu berhasil membujuknya agar aku diizinkan melanjutkan pendidikan. Jadi waktu itu aku mengulangi pelajaran setahun untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian itu sekali lagi. Pada suatu pagi hari Sabtu, ketika aku masuk ke bengkel setelah menarub sepeda di luar, Ayah memutar tubuh membelakangi aku. Ia mengikuti aku dengan lirikan mata sementara aku masuk ke ruang kerja abangku.

"Bagaimana bisnisnya, Bang?" kataku sambil inencampakkan tas berisi buku-buku sekolah ke sudut ruangan.

"Ada juga sedikit uang yang masuk," kata Pheng Huor bersuara suram. "Tapi orang-orang pemerintah keparat itu semakin serakah saja jadinya. Nih, coba kaubaca surat-surat ini dan ceritakan apa isinya." Kuambil tumpukan kenas yang terletak di mejanya. Surat-surat resmi itu bertulisan Latin yang dipakai untuk bahasa Perancis, serta aksara Kamboja yang melingkar-lingkar tanpa sela di antara kata-kata. Kutelaah isi kertas-kertas resmi itu sekilas.

"Kulihat di sini, kau sudah berhasil menyelesaikan masalah dengan pihak kehutanan. " Pada formulir catatan jumlah kayu gelondongan yang diangkut truk-truk ·Ayah tenera angka yang jauh lebih rendah dari angka seharusnya.

Bonjour, mon ami," kata abangku mengucap kan satu di antara sedikit ungkapan dalam bahasa Perancis yang dikenalnya, dengan nada mengejek. Bonjour ada dua artinya. Arti sebenarnya adalah sapaan seperti "halo, apa kabar," tapi berjabat tangan mengikuti kebiasaan orang Perancis juga membuka peluang untuk menyodorkan uang yangsudah disiapkan dalam genggaman. Dalam pergaulan sehari-hari di Kamboja, bonjour merupakan istilah slang untuk suap. Abangku berkata, “Pejabat kehutanan itu masih belum punya Mercedes, tapi saban kali aku berjumpa lagi dengan dia, semakin banyak saja emas yang melekat di tubuhnya."

Kuteliti lembaran-lembaran kuitansi dan formulir pajak itu. Membosankan. Membuang-buang waktu saja. Formulir-formulir itu nanti kalau sudah kuisi takkan ada yang memeriksanya; paling-paling nanti dikumpulkan menjadi berkas-berkas yang diikat dengan tali, digeletakkan begitu saja dalam kantor-kantor yang para pegawainya bergerak dengan lamban di bawah kipas angin yang berputar pelan di langit-langit. Peraturan- peraturan pemerintah sedikit sekali pengaruhnya terhadap kehidupan bisnis seperti perusahaan kami. Pegawai negeri hidup bukan dari gaji mereka, melainkan dari uang suap. Sistem itu sudah tua sekali: pihak yang berkuasa mengambil dari mereka yang tidak memiliki kekuasaan. Selama para pejabat tidak keterlaluan pungutannya, takkan ada yang memprotes. Tapi aku tetap saja marah karenanya. Selama sebagian besar waktu dalam seminggu aku hidup dalam dunia mahasiswa yang idealistis. Kami berllsia muda, dan menaruh kepercayaan pada kemajuan, kejujuran, dan perubahan. Kami juga budhis, dan kebiasaan bonjour bertentangan dengan tradisi yang lebih tua dan lebih merasuk dalam sanubari, yakni tradisi perilaku berakhlak.

"Jika pemerintah menurunkan tingkat pajak yang dikenakan, maka melunasinya akan 1ebih mudah," kataku. "Jadi tidak ada yang perlu berbuat curang."

"Begitu pendapatmu?" tukas abangku. "Pemerintah suka memajaki secara bertubi-tubi. !tu dia masalahnya. Nih, lihat," sambungnya sambil menuding ke sebuah peta Kamboja. "Di sini ada satu pos pemeriksaan militer yang baru, dan di sini ada satu l.agi. Bonjour, dan bonjour. Yang lebih gawat lagi, serdadu-serdadu itu baru saja membeli sepeda motor. Minggu ini mer.eka mulai menguber truk pengangkut kayu dengan sepeda motor mereka, padahal truk itti sebelumnya sudah terhenti di pos pemeriksaan. Mereka minta pembayaran lagi." Dengan sikap tidak s;lbaran ia kembali ke mejanya lalu mengutik-utik swipoa dengan jarinya. Cepat sekali gerakannya.

"Mungkin sebaiknya jangan kita beri saja," kataku, sambil terus meneliti formulir-formulir.

“Apa maksudmu?"

"Begini, truk pengangkut kayu itu kan baru dan kuat mesinnya.. Katakan pada sopirnya agar membayar di pos-pos pemeriksaan, tapi: halang- halangi serdadu-serdadu itu jika ·mereka 'mengejarnya dengan sepeda.motor. Jika mereka hendak menyalip dari kiri, banting setir ke kiri. Jika hendak menyalip lewat kanan, banting setir ke kanan. Mereka takkan mungkin bisa menghentikannya."

“Aku tidak setuju," kata abangku dengan suram. "Sudahlah, isi saja formulir-formulir itu supaya kita bisa menyelesaikan pekerjaan di sini lalu pulang ke Samrong Yong." Setiap Sabtu, apabila sudah selesai bekerja kami selalu pulang ke desa itu, yang masih tetap merupakan tempat tinggal keluarga kami.

Sambil mendesah kutekuni kembali pekerjaanku.

Seminggu sudah berlalu. Pagi-pagi kumasuki lagi pekarangan bengkel penggergajian dengan sepedaku. Truk pengangkut kayu gelondongan ada di situ, dengan muatan batang-batang kayu di bak belakang. Selain itu ada pula beberapa mobil dinas kejaksaan yang ridak memakai tanda pengenal. Dari mobil-mobil itu turun beberapa orang petugas bersenjata pistol di pinggang dan mengetuk pintu kantor. Ketika aku datang, ayahku baru saja membuka pintu.

Salah seorang petugas kejaksaan itu mengatakan dengan suara keras bahwa truk pengangkut kayu itu tadi di jalan tidak mau menurut ketika serdadu-serdadu berusaha menyuruhnya berbenti. Petugas itu membiarkan Ayah mencamkan dulu kata-katanya sebelum ia mengatakan alasan perbuatan itu. "Sopir Anda tidak berani berhenti karena ia mengangkut bacaan komunis. Anda melakukan kegiatan untuk Vietnam Utara, menyebarkan pamflet-pamflet mereka!"

Pada tahun 1954, setelah peperangan yang berlangsung dengan sengit, Perancis menarik diri dari wilayah bekas jajahannya yang bemama Vietnam, yang selanjutnya pecah menjadi dua negara: Vietnam Utara yang komunis dengan Hanoi sebagai ibukota, dan Vietnam Selatan yang nonkomunis dan beribukota Saigon. Pada awal tahun enam puluhan, Vietnam Utara mulai melancarkan aksi militer untuk mengambil-alih kekuasaan di Selatan. Amerika mengirimkan pasukanpasukan untuk melindungi Vietnam Selatan. Kemudian jumlah pasukan yang dikirim semakin bertambah, dan mencapai puncaknya pada tahun 1968. Resminya sikap Kamboja netral. Tapi sangat sulit mempertahankan kenetralan itu karena perang berlangsung di kawasan yang bertelangga dan para pejabat pemerintah Kamboja banyak yang tidak bersih.

Para petugas kejaksaan itu sangat cerdik. Mereka bukannya bersikap membela diri karena menarik pungutan liar, tapi malah balik menuduh bahwa keluargaku telah melakukan kejahatan melawan negara. Tuduhan itu jelas tidak benar, lapi sulit membantahnya. Lokasi penebangan hutan yang dilakukan perusahaan ayahku terletak dekat perbatasan Kamboja dan Vietnam Selatan. Jalur perbekalan pihak komunis Vietnam Utara melewati kawasan itu. Dan kalangan yang bersimpati dengan pihak komunis memang kadangkadang membagi-bagikan bahan bacaan mereka kepada rakyat setempat. Aku sendiri pun mengenal seorang komunis. Pihak kejaksaan menangkap Chea Huon yang bekas guruku itu dengan dakwaan melakukan kegiatan subversif. Aku sempat menjenguknya di penjara. Tapi sampai saat itu aku sama sekali tidak menduga bahwa ia komunis. Aku tidak menaruh simpati pada komunisme, begitu pula Ayah dan abangku. Mereka itu pengusaha yang -hanya berminat mencari uang.

Orang-orang kejaksaan itu menginterogasi ayahku, dan kemudian Pheng Hour. Ayahku melihat aku ada di situ, memandang sambil menguping. Ia menyuruh aku pergi. Aku -menjawab bahwa aku ingin tetap di situ untuk berjaga-jaga, siapa tahu ada orang kejaksaan yang dengan diam-diam menyelipkan selebaran komunis di salah satu tempat dan kemudian berlagak menemukannya.

Salah seorang petugas mendengar ucapanku itu.

"Jadi kauanggap kami ini hendak mencoba mencurangi kalian, ya?" tukasnya. Dibawanya aku ke luar lalu didorongnya masuk ke salah satu mobil mereka. Abangku dimasukkan ke mobil lain dan sopir truk kami ke mobil berikutnya, supaya kami tidak bisa berembuk untuk mengatur jawaban pada saat diperiksa nanti. Sementara itu pihak kejaksaan sudah menggeledah bengkel dan rumah tinggal ayahku, mengobrak-abrik peralatan dan menjungkirbalikkan perabotan.

Kami bertiga dibawa ke kantor pusat kejaksaan di Phnom Penh, lalu dimasukkan ke dalam sel yang terpisah-pisah. Setelah itu aku mulai dipukuli supaya mau "mengaku".

Perlu kutambahkan di sini bahwa dalam masyarakat Kamboja dikenal semacam tradisi penyiksaan. Pada awal tahun lima puluhan ketika ayahku diculik, serdadu-serdadu pemerintah mengikatnya pada sebuah tangga dengan posisi kepala ke bawah, lalu menuangkan kecap ikan ke dalam lubang hidungnya. Perbuatan itu sangat tidak enak bagi ayahku, tapi ia tidak menjadi cacat karenanya. Di Phnom Penh menjelang akhir tahun enam puluhan, polisi memasukkan tanganku ke sebuah alat penjepit yang diputar semakin erat sementara mereka menanyai aku, lapi tanganku tidak sampai remuk karenanya. Ketika siksaan dengan alat penjepit tidak berhasil, sebab aku tetap tidak bisa dipaksa mengakui apa pun juga, aku lantas dimasukkan ke dalam karung beras dan dipukuli dengan tongkat, tapi tidak terlalu keras. Seperti biasa, alasan sebenarnya dari penyiksaan itu adalah untuk menaikkan jumlah uang yang diminta sebagai imbalan pembebasan diriku.

Pada malam ketiga, orangtuaku datang membayar untuk membebaskan aku. Sementara itu sopir truk sudah "mengaku" menyebarkan pamflet-pamflet komunis. Untuk membebaskan abangku, orangtuaku menghubungi seorang pengacara terkemuka, kenalan Raja Sihanouk. setiap hari ayahku bolak-balik mendatangi pengacara itu untuk mendesak agar mengusahakan pcmbebasan abangku. Akhirnya pengacara itu, yang bernama Penn Nouth, berhasil menghadap Sihanouk; dan Sihanouk, yang sama sekali tidak ada urusannya dengan kejadian itu, mengeluarkan pernyataan bahwa keluargaku tidak bersalah. dengan cara begitu abangku memperoleh kebebasannya lagi.

Ayahku merasa kecewa. Ia sudah menyerahkan pembayaran kepada Penn Nouth sebanyak 1,2 juta riel, yang nilainya waktu itu sekitar 85.700 dollar Amerika. Kemungkinannya sebagian dari uang itu diambil Penn Nouth untuk dirinya sendiri dan sisanya dibagi-bagikan kepada berbagai pejabat, termasuk polisi rahasia dan kalangan yang dekat dengan Sihanouk. Sihanouk sendiri tidak bisa dibilang korup, tapi ia tidak berbuat banyak untuk mencegah tindak-tindak korupsi dan jarang sekali menghukum orang-orang yang tertangkap tangan. Jadi tidak dapat kami harapkan keadilan dari pihak pemerintah.

Tapi setidak-tidaknya keluarga kami sudah lengkap lagi. Sesudah aku dan abangku dibebaskan, Ayah semakin kuat keinginannya agar kami semua hidup berkumpul dan bekerja dalam lingkup kekeluargaan. Dengan ketus dikatakannya padaku bahwa sebaiknya aku menikah saja lalu pulang kandang. Lebih baik jika aku mencurahkan tenaga sepenuhnya untuk perusahaan keluarga, katanya.

Aku menjawab dengan hati-hati. "Ayah," kataku, "pengetahuanku tidak banyak tentang urusan bisnis. Mungkin lebih baik aku melanjutkan sekolahku dulu."

Tidak kukatakan padanya pikiranku yang sebenamya. Aku tidak menyukai dunia usaha. Aku tidak suka menerima perintah dari atasan atau memberi perintah kepada pegawai-pegawai. Dan yang paling utama, aku tidak ingin sepanjang hidup memberi uang semir kepada pejabat-pejabat pemerintah. Jika kita anggap pembayaran yang diberikan sudah memadai, mereka malah minta tambah. Jika yang diberikan tidak cukup, kita dijebloskan ke penjara dan dipukuli.

Alis Ayah terangkat. Wajahnya yang gemuk menampakkan perasaan heran. "Kau ingin sekolah terus?" tanyanya dengan nada tidak percaya. la juga tidak mengucapkan apa yang ada dalam hatinya, tapi begitu pun aku sudah tahu. Menurut anggapan Ayah, semakin lama orang bersekolah semakin tolol saja orang itu jadinya nami. Dan ia tidak bisa dibilang sepenuhnya keliru. Aku kan yang menyarankan agar sopir truk kami lewat saja ketika dicegat serdadu-serdadu agar tidak usah membayar beberapa riel-dan lihat saja apa akibatnya bagi keluarga kami.

Kukatakan pada Ayah, aku ingin kuliah umuk menjadi dokter.

"Apa? Masih tujuh tahun lagi sebelum kau. mulai punya penghasilan?" la memutar tubuh, tidak mau memandang ke arahku. "Kau mengharapkan aku menanggung biaya kuliahmu sementara yang lain-Iainnya sudah bekerja semua?"

Disuruhnya aku pergi, dan sesudah itu kami tidak lagi membicarakan urusan kuliah itu. Aku merasa sangat tertekan. Entah kenapa, kejadian-kejadian selalu saja berjalan tidak seperti semestinya dan. selalu aku yang dipersalahkan sebagai penyebabnya: Padahal di antara kedelapan anak orangtuaku, mungkin dengan kekecualian Chhay Thao yang sangat religius, akulah yang paling beriktikad baik. Dari kelima anak lelaki mereka, aku yang paling mementingkan hidup jujur, tidak berbuat curang terhadap siapa pun juga, dan juga tidak mau dicurangi. Sampai saat itu aku belum pernah mencuri apa-apa, tidak seperti Pheng Huor.

Kemudian Ibu berbicara dengan Ayah dan berhasil agak melunakkan pandangannya, mengambiI sikap yang berlawanan dengan nalurinya. Selama beberapa tahun selanjutnya ayahku menyerahkan uang kepada Pheng Huor untuk diberikan kepadaku sebagai penutup biaya menuntut ilmu. Jumlahnya tidak pernah mencukupi kebutuhanku. Meski begitu, Pheng Huor, sainganku, memberikannya dengan sikap enggan, seperti orang kaya yang memberikan hadiah kepada seorang jembel yang dianggap tidak pantas menerimanya.

Jadi aku tetap tinggal di Phnom Penh, di mana aku bersekolah di lycee. Kota dengan jalan rayanya yang lebar-lebar itu terletak pada persilangan Sungai Mekong dan Sungai Tonle Sap, yang alirannya bertemu dan memisah lagi dalam bentuk "X" dalam perjalanan yang tenang dan lamban menuju Vietnam Selatan dan Laut Cina. Selatan. Selama musim kemarau air kedua sungai itu surut sehingga tinggal berupa saluran sempit saja ,di dasarnya. Tapi pada musim hujan airnya. terus naik, sampai pada puncak waktu pasang tinggi arus Sungai Mekong berbalik dan mengalir masuk ke arah hulu Sungai Tonle Sap, mengisi Danau Tonle Sap yang luas. Aku tinggal dalam pekarangan sebuah kuil, di bawah tempat tinggal biksu yang dibangun di atas tiang. Cara bertempat tinggal seperti itu memberikan kesan agak liar; tapi biayanya bagiku tidak seberapa, lagi pula aku menyukainya. Semua yang bersangkutan dengannya kurasakan' wajar dan sudah sepantasnya, seperti keharusan menyapu halaman, selanjumya pemandangan jubah para hiksu dengan berbagai nuansa warna kuning dan jingga yang bergelantungan pada tali jemuran, sampai dengan bangunan kuilnya sendiri dengan atap gentingnya yang berwarna-warni dan hiasanhiasan melengkung berwarna keemasan yang mencuat bagaikan leher bangau dari puncak-puncaknya. Tapi yang paling kusukai di tempat itu adalah kebebasanku, karena para biksu tidak mengusik-usik diriku. Secara tidak langsung, dalam wujud kata-kata nasihat yang hanya sekali-sekali saja disampaikan, mereka menolong, aku melatih diri agar bisa tenang. Ketika gejolak perasaanku sudah lebih bisa kukuasai, belajar pun menjadi lebih mudah bagiku.

Aku ikut ujian sekali lagi dan lulus, lalu masuk universitas nasional jurusan kedokteran. Tahun pertama pendidikan bersifat persiapan, dengan kuliah-kuliah biologi, fisika, kimia dan ilmu pengetahuan dasar ,lainnya. Jurusan kedokteran yang sebenarnya baru dimasuki mulai tahun beriikutnya: enam tahun yang penuh dengari kesibukan kuliah, praktikum klinik dan di laboratorium. Semua mata kuliah diberikan dalam bahasa Perancis. Kurikulum kami mengikuti model Perancis, dengan satu perbedaan penting: karena adanya kelangkaan dokter di Kamboja, kami para mahasiswa kedokteran diizinkan untuk sudah berpraktek sebelum meraih gelar. Karenanya setelah beberapa tahun menuntut ilmu aku akan bisa mendapat pekerjaan sambilan di bidang kedokteran untuk mengongkosi diriku sendiri. Satu-satunya masalah adalah memperoleh uang yang mencukupi untuk menutup ongkos sampai saat Itu.

Aku memutuskan, sebaiknya aku mengajar saja. Sementara itu aku sudah benar-benar menguasai berbagai mata pelajaran yang diujikan. Aku menjadi guru bantu untuk ilmu pasti dan alam di berbagai lycee; waktu-waktu mengajar kusisipkan di sela-sela jadwal kesibukanku yang sudah cukup penuh, dan kukebut sepedaku dari tugas yang satu ke tugas berikutnya melalui jalanjalan yang sepi.

Aku juga memberikan les privat. Seorang temanku semasa bersekolah di lycee, seorang gadis bernama Kam Sunary, punya dua adik perempuan yang mengalami kesulitan dengan pelajaran mereka. Temanku itu memintaku agar membantu mereka belajar.

Aku tiba di rumah keluarga Kam yang terletak di seberang sebuah kuil besar bernama Wat Langka dengan dipisahkan sebuah gang, lalu kutaruh sepedaku. Ketika aku datang itu hari sudah senja. Rumah itu letaknya agak jauh dari jalan, dalam pekarangan berpagar di mana ada beberapa ekor anjing kecil. Bangunannya sudah beberapa puluh tahun umurnya dan nampak sudah miring di sana-sini. Atapnya yang dari genting sudah pudar warna merahnya karena pengaruh cuaca. Tidak nampak kesan bonjour di situ.

Tuan Kam, seorang dokter hewan pegawai negeri yang bergaji sedikit, datang menyongsong ke pintu. Aku mengucapkan salam dengan hormat, lalu ia mengajak aku ke sebuah ruangan kecil lewat lorong samping. Di ruangan itu ada papan tulis yang dipasang pada salah satu dindingnya. Kedua adik Kam Sunary duduk menghadap sebuah meja. Selain itu ada pula seorang anak perempuan lagi yang duduk menghadap meja lain. Anak itu sepupu mereka yang datang ke Phnom Penh dari tempat asalnya di Propinsi Kampot.

Kuhampiri papan tulis dan tanpa berbasa-basi lagi langsung kutanyakan pada ketiga anak perempuan itu apa yang menyebabkan mereka alami kesulitan dengan ujian mereka di sekolah. Aku berjalan mondar-mandir sambil mengajukan pertanyaan demi pertanyaan, untuk mengorek beberapa banyak-atau seberapa sedikit yang mereka ketahui. Aku harus bersikap fair dan korek terhadap mereka, karena pintu ke gang terbuka dan semua yang kami katakan bisa didengar di dalam rumah. Tapi di pihak lain aku tidak mau bersikap terlalu sopan seperti biasanya orang Kamboja menyembunyikan alasan-alasan di balik topeng basa-basi, bersikap toleran terhadap kegagalan agar jangan ada yang kehilangan muka.

Ketiga anak perempuan itu temyata tidak banyak tahunya tentang ilmu pasti dan alam. Terutama kedua gadis anak keluarga Kam, mereka sedikit pun tidak memahami konsep valensi dalam ilmu kimia. Aku lantas mendatangi papan tulis dan membuat gambar tabel unsur-unsur kimia di situ, lalu mulal menjelaskan persenyawaan kimia. Seminggu tiga kali aku melakukannya: membahas ulang konsep-konsep dasar, dan maju secara bertahap. Aku mulai lebih menunggu-nunggu saat pemberian les privat di rumah itu ketimbang di tempat-tempat yang lain. Di situ selalu sudah tersedia teh secangkir pada saat aku datang, disuguhkan oleh sepupu yang dari Kampot. Namanya Chang My Huoy: Chang adalah nama keluarganya; "My", berarti indah; dan "Huoy" berarti bunga dalam dialek Teochiew, yakni dialek Cina yang paling tersebar penggunaannya di Kamboja, termasuk di kalangan keluargaku.

Begitu aku sudah mulai mengajar gadis-gadis itu, aku tidak bisa lagi mengubah tingkah-Iaku. Aku bersikap tegas terhadap mereka. Mereka berlaku sopan kepadaku. Mereka menyapaku dengan sebutan Luk, yang berarti monsieur dalam bahasa Perancis, jadi sama dengan "tuan". Meski begitu, pada saat sedang mengajar itu aku kadang'kadang merasa kikuk, seperti seseorang yang sccara tidak sengaja melihat bayangan dirinya di cermin pada saat sedang berjalan di tempat umum. jauh dari tampan, piklrku mengenai penampilanku. Wajah berparut-parut bekas jerawat. Berkaca mata. Sepatu kanvas. Potongan rambut tidak modern. Penampilanku tepat mencerminkan keadaanku waktu itu, seorang bujangan canggung yang tinggal di sebuah kuil.

"Jadi jika karbon, hidrogen, dan oksigen di campur menjadi gula, bagaimanakah rumus senyawanya?" Aku mendengar pertanyaan itu keluar dari mulutku. Kuminta gadis-gadis itu memberi jawaban. Salah seorang anak perempuan keluarga Kam memberi jawaban yang keliru, sementara saudaranya hanya menatap buku catatannya dengan bingung.

Chang My Huoy menatap mataku dan berkata dengan suaranya yang lirih, "Rumusnya, untuk gula seperti glukose dan sukrose, mestinya C12H22O11, Luk Guru."

"Betul," kataku, "meski ketiga unsur tadi juga bersenyawa dengan unsur-unsur lain untuk membentuk satu kelompok persenyawaan organik, yang disebut persenyawaan karbohidrat. Sebagian besar tumbuhan yang bisa dimakan, seperti kubis dan gadung, terdiri dari karbohidrat dan juga protein serta berbagai mineral. Jika sayuran itu dibakar, akan terjadi hal serupa seperti kalau gula dibakar. Oksigen dan hidrogen lepas dari persenyawaan, dan yang tersisa adalah karbon." Kudengar mulutku mengocehkan kalimat-kalimat seperti itu tanpa tahu apa gunanya. Siapa yang suka suka pada ilmu kimia? Aku tidak. Mereka juga tidak. Aku ingin ada salah satu cara untuk lebih memanfaatkan kehadiranku dalam satu ruangan bersama tiga gadis menarik. Selama tinggal di Phnom Penh aku sudah mulai tahu tentang wanita, meski barangkali pengetahuanku belum cukup banyak.

Dari ketiga gadis di dalam kelas itu, My Huoy yang paling bersungguh-sungguh belajar. Dia juga yang paling pemalu. Ia selalu bicara seperlunya, tapi kata-katanya diucapkan dengan cermat, sementara kedua sepupunya suka berbisik-bisik sambil cekikikan. My Huoy memakai busana model Cina, yang mirip piama. Pakaian biasa untuk di rumah. Piamanya terbuat dari bin putih berkembang-kembang kecil berwarna merah jambu. Meski kedua sepupunya cantik-cantik, Huoy, dengan kulitnya yang kuning langsat dan matanya yang bulat besar, memiliki sesuatu yang istimewa, anggun dan gemulai, serta sesuatu lagi yang tidak bisa dikatakan apa itu, meski aku berusaha merumuskannya, pada saat-saat larut malam di kamarku yang terletak di bawah tempat tinggal para biksu, apabila rasa mengantuk tidak mau datang-datang juga. Pada saat istirahat di tengah waktu belajar, Huoy menanyakan apakah aku mau teh lagi, dan sesudah selesai belajar diambilkannya jeruk dari dapur untuk kami semua, sementara kedua sepupunya' asyik mengoceh. Mereka tidak bisa menandinginya.

Les privat itu berakhir ketika saat ujian sudah menjelang. Chang My Huoy akan pulang lagi ke Kampot. Setelah pelajaran terakhir selesai aku masih berdiri saja selama beberapa menit di ambang pintu, sambil memegang amplop berisi honorariumku. Aku tidak ingin buru-buru pergi, karena selama itu aku diperlakukan dengan baik di situ. Kecuali mereka, tidak ada yang bisa kudatangi di Phnom Penh.

Akhirnya aku pergi juga. Aku bersepeda menyusuri jalan-jalan yang panas dan sunyi. Seserang mengendarai sepeda motor Honda 90 lewat, menarik gerobak gandengan dengan muatan kayu bakar. Kebisingan bunyi mesinnya semakin menjauh dan akhirnya lenyap. Hanya sedikit mobil yang lalu-lalang. Aku mampir di tukang jualan di pinggir jalan dan membeli sepotong tebu yang sudah dikupas, lalu duduk sambil mengunyah-ngunyah.

Dari sebuah warung makan di dekat situ terdengar suara seseorang yang berteriak-teriak dengan nada tinggi. Aku kepal sekali suara itu. Sihanouk, Paduka Raja, sedang berpidato lewat radio. Rakyat sudah hafal penampilannya. Bebe rapa kali dalam seminggu ia berpidato di depan mikrofon dari pemancar radio pemerintah dan bicara tentang apa saja yang sedang ada dalam pikirannya. Kalau sudah mulai berpidato, ia bisa bicara dengan bersemangat selama berjam-jam tentang kehormatan dan peranan negeri.

Malam itu Paduka Raja berbicara tentang bahaya peperangan di Vietnam. Dikatakannya, Kamboja tidak boleh sampai terjepit di antara Amerika yang imperialis dan Vietnam yang komunis. Kamboja harus tetap menjalankan politik tidak memihak, katanya, sebuah pulau yang damai dan sejahtera. "Pulau yang damai" begitulah istilah yang selalu dipakainya untuk menyebut Kamboja.

Negara-negara tetangga iri melihat Kamboja, sambungniya, sebuah negara yang sangat maju. Termasyhur di seluruh dunia. Kita, orang Kamboja, sangat cerdas dan karenanya tidak mau terlibat dalam peperangan di Vietnam. Kita bangsa yang unggul, lebih unggul daripada orang Vietnam dan Thailand. Kita kan keturunan bangsa yang membangun Angkor Wat yang perkasa itu, pekiknya, monumen yang paling indah di dunia lama! Kita bernasib mujur karena hidup di negeri yang begini hebat, salah satu negeri yang paling beradab dan maju di seluruh Asia!

Ketika ia sedang berpidato, tahu-tahu lampu-lampu jalan padam. Lampu di rumah-rumah dan rentengan bola lampu berwarna-warni yang menghiasi rumah-rumah makan juga ikut padam. Listrik mati lagi. Hal itu selalu saja terjadi, dan kami sudah terbiasa dengannya. Karena aliran listrik tidak bisa diandalkan, kebanyakan pesawat radio pekerja dengan aki, dan stasiun radio menghasilkan listriknya sendiri dengan menggunakan generator. Jadi suara Paduka Raja berkumandang terus, tanpa terputus.

Ia terus saja berteriak-teriak dalam kegelapan malam, tapi aku sudah tidak memperhatikan lagi. Tidak lama kemudian mulai bermunculan sinar temaram lampu-Iampu teplok dan lilin di rumah rumah. Bunyi mesin baruk-batuk menyambung jadi dengungan ketika restoran-restoran yang besar menghidupkan generator masing-masing, dan sinar lampu-lampu mereka yang berwarna-warni memancar kembali.

Jika Paduka Raja mengatakan Kamboja merupakan negara maju, kurasa ia benar. Jika ia mengatakan kami mujur menjadi warga Kamboja, sudah pasti ia juga benar. Tapi malam ini soal kebanggaan nasional sedikit sekali menyentuh perasaanku. Aku tadi tidak mengatakan apa pun juga secara khusus kepada Chang My Huoy. Ia juga tidak mengatakan apa-apa lagi padaku. Rambutnya, jika digelung, menempel ke tengkuknya. Jika dibiarkan terlepas, terurai tebal dan lembut sampai ke pinggang.

Selama itu kami berdua adalah guru dan murid. Sedikit pun tidak menyalahi keharusan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar