3
PACARAN DAN KUDETA
Baru setahun kemudian aku
berjumpa lagi dengan dia, dan itu pun hanya secara kebetulan saja. Ketika itu
ia sedang berjalan di tepi sungai dekat tempat Sungai Mekong bertemu dengan
Sungai TonIe Sap. Ia membawa beberapa buah buku dalam pelukannya.
" Halo, Luk Guru," katanya malu-malu,
dengan senyum yang menyebabkan wajahnya nampak berseri. Aku turun dari sepeda
Ialu berjalan di sampingnya.
Huoy sudah menempuh ujian di
propinsi asalnya, untuk mana aku memberikan bimbingan kepadanya, dan ia lulus.
Sesudah itu ia kembali lagi ke Phnom Penh, untuk memulai pendidikan sebagai
calon guru. Ketika aku berjumpa dengannya, ia baru saja kembali dari suatu
rapat di Balai Sidang Chadomukh, dekat istana Raja. Ia mengatakan, mungkin aku
bisa membantunya menyelesaikan sebuah tugas, karena aku kan mahasiswa
kedokteran. Ia ditugaskan membuat beberapa gambar bagian tubuh manusia untuk
dipakai sebagai alat bantu mengajar: Kujawab bahwa aku mau membantunya. Apakah
ia punya kertas gambar? Katanya ada, di apartemen tempat dia tinggal
bersama ibunya.
Ketika kami sudah sampai di
luar gedung tempat tinggalnya, aku bertanya apakah ibunya nanti tidak
berkeberatan jika aku ikut naik. Huoy nampak bimbang. Soalnya, tidak begitu
saja seorang pria bisa mengunjungi wanita di rumahnya, meski hanya
karena ada urusan yang biasa-biasa saja. Sekitar setengah menit lamanya Huoy
membuang muka, memandang ke seberang jalan. Aku terus saja mengamati dirinya.
Akhirnya ia mengatakan, aku akan diperkenalkannya kepada ibunya.
Kami menaiki tangga sampai ke
lantai tiga lalu masuk ke apartemen kecil tempat tinggal Huoy. Penampilan
ibunya ternyata serupa dengan dia, sama-sama berwarna kulit seperti orang Cina
dan bermata bulat seperti orang Khmer. Nama keluarga mereka Chang. Itu nama
Cina. Aku bingung sesaat, apakah harus memberi hormat kepada dirinya dengan
menundukkan kepala menurut adat Cina, atau melakukan sompeah. Coba-coba sajalah, kataku dalam hati, lalu merapatkan
kedua tangan dalam bentuk sompeah.
Wanita itu membalas dengan cara serupa. Aku langsung tahu, mereka ternyata
serupa dengan diriku, manusia- manusia campuran kedua bangsa dengan
kebudayaannya masing.-masing.
Dengan sekilas saja
memperhatikan apartemen itu sudah nampak jelas bahwa mereka miskin. Kulihat ada
dua buah kursi di situ, lalu sebuah meja makan, sebuah ranjang
untuk mereka berdua, dan sebuah meja kecil dengan patung Budha di atasnya.
Hanya itulah perabotan mereka. Di dinding terpasang sebuah foto Angkor Wat,
kuil kebanggaan bangsa kami, yang dibangun pada abad kedua belas, dengan
mercunya yang besar-besar berbentuk kerucut menjulang ke atas. Sangat bercorak
Kamboja. Apartemen itu bersih sekali. Bukan cuma bersih saja, tapi terawat dan nyaman
suasananya. Kami pun lantas mengobrol dengan santai.
Tahu-tahu sudah satu jam aku di
situ. lbu Huoy mengajak aku makan bersama mereka. Aku terpaksa menolak karena
masih harus mengajar malam itu, tapi ia menyuruh aku datang lagi kapan-kapan
apabila ada waktu, dan aku mengatakan bisa-beberapa malam sesudah itu. Ketika
aku sudah hendak pergi, Huoy mengingatkan tentang gambar-gambar anatomi yang
masih harus dibuat. Aku sama sekali lupa mengenainya.
Sewaktu aku datang lagi, sekali
lagi mencolok mataku kesederhanaan apartemen itu, yang meski demikian terasa
menyenangkan suasananya. Di atas meja makan terpajang karangan bunga yang nampak
baru dipetik, dan di samping patung Budha ada tempat bunga berisi anggrek. lbu Huoy,
yang sesuai dengan adat kesopanan kusapa dengan sebutan "Maktua",
sikapnya lebih pemalu lagi ketimbang anaknya. la menarik diri agar kami, kedua
orang muda, bisa makan bersama-sama. Sehabis makan aku dan Huoy berlatih me'nyalin gam bar-gam bar dari sebuah buku
pelajaran anatomi. Kami tidak bercanda selama itu. Artinya, kami tidak
mengatakan atau berbuat sesuatu pun yang bisa dikatakan agak menyerempet- nyerempet.
Tanpa bicara pun, kami berdua sudah saling mengerti.
Aku datang lagi keesokan malamnya, lalu malam
berikutnya, dan berikutnya lagi. Tidak lama kemudian aku sudah terbiasa ada di
apartemen mereka. Wajar-wajar saja, tapi walau begitu akul sendiri merasa heran
karenanya. Belum pernah kualami keadaan seperti itu. Pergaulanku dengan
gadis-gadis sebelum itu coraknya lebih baik tidak kubicarakan saja di sini.
Persahabatanku dengan kalangan pria didasarkan pada olah raga, kelakar, dan
pertengkaran. Aku waktu itu pemuda yang tergolong kasar. Dan kini ada dua orang
wanita yang sangat pemalu dan lemah-lembut, yang menyebabkan aku bertingkah
laku sesopan mungkin.
Sukar sekali bagiku memahaminya. Aku berwatak
panas dan keras kepala, orang yang tidak pernah mau mengalah dalam
pertengkaran, meski jelas-jelas ia yang salah.
Penjelasannya mungkin terletak dalam suatu permainan
yang biasa dimainkan anak-anak di Kamboja, dan juga di seluruh dunia. Dua anak yang
bertanding, masing-masing menyembunyikan satu tangan di balik punggung,
membentuk gunting, kertas, atau batu. Kedua tangan yang membentuk salah satu
dari ketiga benda itu ditunjukkan serempak ke depan, untuk melihat siapa yang
menang. Gunting mengalahkan kertas, batu mengalahkan gunting, dan kertas
mengalahkan batu. Aku waktu itu berwatak keras: aku batu. Ayahku juga batu. Dua
batu beradu, takkan ada yang menang atau kalah. Aku selalu saja bertengkar
dengan ayahku, dan tidak seorang pun dari kami yang bisa menang. Tapi kedua
wanita ini lembut. Mereka menyelubungi dan membungkus diriku sedemikian rupa
sehingga benturan tidak ada pengaruhnya lagi. Batu itu tidak bisa lagi
menyakiti siapa pun juga. Hidup ini kadang-kadang seperti permainan anak-anak
itu. Kadang-kadang orang yang lemah-lembutlah yang menang.
Aku memerlukan waktu beberapa bulan sebelum
akhirnya berani menapak ke tahap berikut, yaitu mengajak mereka berdua nonton
film. Ketika akhirnya ajakan itu kuucapkan, Maktua mengatakan bahwa ia tidak
bisa dan menyuruh aku pergi, berdua saja dengan Huoy. Maktua sudah janda.
Suaminya meninggal dunia tidak lama sesudah Huoy dilahirkan, tewas dibunuh
perampok. Maktua cepat sekali merasa cemas dan bersikap,menarik diri dari
kehidupan masyarakat. Ia sangat melindungi Huoy, anaknya yang semata wayang;
tetapi kini, ketika Huoy sudah menjadi wanita muda, ibunya ingin agar ia lebih
banyak mengenal dunia.
Aku mengajak Huoy minum teh di cafe yang
terdapat di lantai dasar gedung tempat tinggalnya. Kami berjalan-jalan menghirup udara petang
yang nyaman, menyusur jalan raya menuju ke Angkor theater. Kami menonton film
Cina bertema percintaan yang sentimental, dengan dubbing bahasa Khmer. Aku sedikit pun tidak menyentuh tubuh Huoy.
Begitulah awal pacaran kami, yang berkembang
dengan lambat, penuh tatakrama yang halus tapi menyiksa barin. Kami berdua
sama-sama pemalu. Kami tidak mengutarakan isi hati kami. Kami hanya
melakukannya lewat tatapan mata yang berlama-Iama, dan dengan kata-kata
petunjuk yang diselipkan secara sambil lalu dalam percakapan dan makna
sebenarnya harus ditafsirkan sendiri oleh pihak yang dituju.
Di Kamboja, berpacaran selalu begitu
coraknya. Dalam tarian tradisional kami yang bernama romvong, pria dan wanita bergerak saling mengitari tanpa bersentuhan,
dengan tangan bergerak- gerak lemah gemulai mengikuti irama musik. Pria dan
wanita tidak memamerkan rasa kasih sayang di depan umum. Meski aku dan Huoy
berkencan setiap hari, kami tidak bisa berpegangan tangan di jalan tempat
tinggalnya tanpa menimbulkan kehebohan dan pergunjingan di kalangan para tetangga.
Masyarakat Asia pada umumnya sangat
mengutamakan kesopansantunan dalam pergaulan. Kaum wanitanya tidak seberani
teman sejenisnya di Barat dalam pergaulan dengan pria. Di Phnom Penh, kaum
wanita mengenakan baju dengan tambahan lipit-lipit berkerut di bagian depan, untuk
menyamarkan bentuk payudara. Tapi dengan busana bersahaja pun mereka masih
tetap nampak ·menarik. Sarung atau sampot-sejenis
sarung, tapi lebih bergaya sedikit-yang dililitkan di pinggang dan membungkus
tungkai sampai sebatas betis, menampakkan bentuk tubuh pemakainya. Huoy boleh
dibilang selalu mengenakan sampot.
Aku pemuda yang normal dan sehat. Berulang kali kupergoki diriku melirik ke arahnya,
membayangkan bagaimana sosok tubuhnya jika telanjang.
Pria lain-Iainnya tentu saja juga
memperhatikan Huoy, dan itu dia masalahnya. Apabila ia berjalan seorang diri di
trotoar, dengan langkah tenang dan lambat di tengah panasnya udara siang, ada sesuatu
pada dirinya yang menyebabkan setiap pria waras pasti ingin menghampiri dan
menyapanya. Aku pun lantas mulai mengamat-amatinya, dari kejauhan, untuk
berjaga-jaga.
Kulihat bahwa bukan merupakan kebiasaan Huoy
untuk menanggapi sapaan sembarang pria; ia hanya menundukkan mata, dan dengan
cara sopan tapi tegas. menampakkan bahwa ia tidak ingin diganggu. Tapi waktu
itu aku masih muda dan tidak-sabaran. Aku perlu mengetahui apa sebetulnya yang
ada di dalam lubuk hatinya. Aku juga sudah bosan terus-terusan menjaga sikap. Jadi
sekitar enam bulan setelah untuk pertama kali bertamu ke apartemennya, terjadilah
pertengkaran pertama antara kami berdua. Aku menuduhnya diantar pulang oleh
seorang pria lain, meski itu Iidak benar. Kuperinci penampilan orang itu, warna
kemeja dan celananya, kacamatanya. Huoy menyangkal; tapi kukatakan aku tahu
pasti bahwa itu benar. "Dia itu pacarmu, atau apa?" tukasku. “Jika
ya, selamat. Orangnya sangat tampan. Jika kau nanti menikah dengan dia,
syukurlah. Selamat. "
Huoy menangis. Ia anak tunggal, jadi tidak pernah
mengalami digoda saudara-saudara dan bertengkar dengan mereka; ia sama sekali
tidak bisa membela diri terhadap rongrongan yang kulakukan. Wataknya sangat
lembut. Belum pernah kujumpai orang yang begitu cepat mengeluarkan air mata
seperti dia.
Kataku, '''Oke, malam ini aku harus mengajar,
jadi takkan datang lagi." Malam itu aku tidak ke rumahnya, begitu pula dua
malam berikutnya. Pada hari ketiga Huoy mendatangi aku di rumah sakit. Ia tiba
pukul sembilan pagi. Aku bersikap sopan, tapi kuperlihatkan lewat tarikan air
muka bahwa aku marah, dan juga cemburu. Kubiarkan Huoy menunggu. Pukul sepuluh
kupanggil dia masuk ke ruang kerjaku yang sempit. Ia sudah menangis lagi.
"Ibuku mengundangmu ke rumah malam
nanti” kata Huoy. "Ia heran, apa sebabnya beberapa malam belakangan ini
kamu tidak muncul." Gaya tidak langsung seperti itu memang khas Kamboja, memakai
orang lain untuk menyatakan kepentingan diri sendiri.
Aku menjawab, "Kenapa tidak kuliah hari
ini?" Huoy masih mengikuti kuliah di universitas dalam rangka pendidikan
keguruannya.
"Hari ini aku membolos karena lngin
bicara denganmu. Kenapa kau tidak datang-datang ke rumah ?"
"Aku sebenarnya mau, tapi sibuk.
Begitulah, dengan pasien dan kesibukan kerja di rumah sakit serta
kuliah-kuliah. Maaf, pekerjaanku masih banyak."
Huoy mengangkat tangannya, seperti bersumpah.
"Percayalah padaku. Aku tidak punya pacar."
"Aku percaya," kataku.·
"Kalau percaya, kenapa kau tidak mau
datang ke rumahku? Datanglah malam ini. Jangan bikin ibuku sedih."
Ketika aku masuk ke apartemennya malam itu,
kulihat makanan sudah tersaji di meja. Huoy tersenyum padaku, senyuman pedih.
Aku berla- gak tidak ada apa-apa. Ketika ditanya oleh ibunya kenapa aku tidak
datang-datang, kukatakan bahwa aku sibuk. Wanita itu bersikap seolah-olah
percaya, tapi ia sempat melirik ke arahku dengan tatapan bijak.
Setelah itu ia masuk ke dapur, seperti
biasanya, memberi kesempatan pada kami untuk makan berdua saja. Aku duduk
dengan mata menatap piring di hadapanku. Aku tidak mau membalas pandangan Huoy
.
Saat sedang makan, Huoy bertanya, "Kau
masih marah padaku, Sayang?"
Aku mengambil sepotong ikan lagi .dan.
meletakkkannya di atas nasi di piringku.
"Tidak," jawabku.
"Kalau begitu, pandanglah aku."
"Aku tahu bagaimana tampangmu." Aku
masih terus menatap piring.
"Janganlah sakiti hatiku," katanya.
Masih saja kutatap piringku.
Aku kaget, ketika tahu-tahu merasa pipiku
tersentuh jari-jarinya: Aku memandang lengannya yang diraihkan dari seberang
meja, lalu hcralih ke matanya yang bulat.- "Tidak, aku tidak berniat
menyakiti hatimu," kataku gugup. "Aku cuma bertanya -"
"Ssst," katanya memotong. Begitu
merasuk kcsedihan dan kebijakan yang terbayang dalam pandangannya saat itu.
Belum pernah kujumpai nrang yang menatapku dengan cara demikian. "Jangan
bangkitkan lagi ingatan yang tidak menyenangkan."
Kusentuh rambutnya dan kuelus-elus.
Huoy sudah menunjukkan bahwa ia sayang
padaku. Batu yang keras sudah mencoba membebaskan diri, tapi kertas
membungkusnya dengan Iebih rapat lagi.
Setelah itu kami berjumpa lagi setiap malam.
Kehidupan kami bergerak menelusuri alur yang lambat-laun pasti menuju ke ambang
pernikahan, dalam keadaan normal. Kami begitu tenggelam dalam kehidupan
sehari-hari, sampai sama sekali tak terbayang bahwa akan terjadi suatu
peristiwa yang merupakan awal dari suatu reaksi berantai, yang menjerumuskan
Kamboja ke dalam jurang malapetaka dan melibatkan kami sampai ke akarakar diri
kami sebagai manusia.
Awal bulan Maret 1970, Kamboja masih
merupakan "pulau yang damai", yang menganut politik tidak memihak.
Tapi di sekelilingnya terdapat peperangan, atau perlengkapan perang. Di timur
dan tenggara terletak Vietnam Selatan, di mana pihak Vietnam Utara dan Amerika
terbenam dalam pergulatan yang kelihatannya tidak bisa dimenangkan oleh pihak
mana pun juga. Di utara terletak Laos, kawasan bergunung-gunung yang terkurung
daratan, di mana kaum komunis dan pedukung sistem kerajaan terlibat dalam
perang berskala lebih kecil dengan didukung kekuatan-kekuatan luar yang sama
seperti di Vietnam Selatan. Di barat sampai barat laut ada Thailand, di mana
terdapat pangkalan-pangkalan pesawat B-52 dan pesawat-pesawat tempur Amerika
Serikat yang lainnya. Kamboja terletak di tengah-tengah, sebuah negara kecil
yang ukurannya hanya sepertiga Perancis.
Diukur
dengan patokan Barat, Kamboja itu negeri miskin dan primitif. Kebanyakan dari
rakyatnya petani yang hidup dari penghasilan tanahnya semata-mata;
menunggu-nunggu turunnya hujan yang akan menggenangi petak-petak sawah.
Menangkap ikan yang kecil-kecil, mencari bahan pangan yang hidup liar. Bahkan
golongan yang paling kaya pun, yakni para pedagang dan pejabat pemerintah yang
korup di Phnom Penh, tidak bisa dibilang benar-benar kaya. Dengan segala
pesonanya, dengan petak-petak bunga serta jalan-jalan rayanya yang lebar dan
diapit pepohonan, Phnom Penh merupakan kota yang sunyi dimana tidak banyak yang
terjadi selain kesibukan pagi hari di pasar-pasar dan saat-saat istirahat yang
panjang pada waktu makan siang. Meski begitu kami mujur, dibandingkan dengan
tetangga-tetangga kami! Kamboja berada dalam keadaan damai. Tidak ada yang
harus tinggal di "desa-desa strategis" dikelilingi kawat berduri.
Kami bisa hidup di mana saja kami mau dan melakukan kegiatan sekehendak hati.
Tidak banyak yang tertindas melebihi takaran penindasan dan korupi yang normal
untuk ukuran masyarakat Asia. Kehidupan berjalan mengikuti pola yang selalu sama
sejak berabad-abad. Menjelang siang, para biksu berkeliling sambil membisu,
mengumpulkan derma. Saat tengah hari para petani kembali dari sawah untuk
beristirahat di kolong rumah mereka yang teduh, dan para wanita yang sudah tua
menenun bahan pakaian mereka sendiri sambil mengunyah sirih. Pada malam hari di
desa-desa bergaung bunyi musik yang dimainkan alat-alat buatan sendiri.
Bagiku
serta kalangan kenalanku, perang rasanya jauh sekali dari kami. Masa bodoh
kenyataan bahwa perbatasan dengan Vietnam Selatan hanya beberapa jam perjalanan
saja dari Phnom Penh. Kami sudah terbiasa dengannya. Kami tidak merasa terusik
oleh kenyataan bahwa kaum komunis Vietnam membuat jaringan jalan tersembunyi, yang
dikenal dengan nama Lintasan Ho Chi Minh, sepanjang garis perbatasan Kamboja dan
Vietnam Selatan. Secara samar kami menyadari kehadirannya, tapi media massa
kami tidak sering mengingatkan kami mengenainya. Kami sedikit pun tidak
tahu-menahu tentang perbekalan untuk komunis yang tiba di pelabuhan samudera di
Sihanoukville, bahwa Amerika mengerahkan satuan-satuan Pasukan Khusus
menyeberangi perbatasan Vietnam Selatan, begitu pula tentang pesawat-pesawat
B-52 Amerika yang sejak hampir setahun menjatuhkan bom-bom di wilayah Kamboja.
Tentang semua itu, tidak ada yang memberitahu kami. Rakyat Kamboja,
kebanyakannya serupa seperti aku. Kami orang desa. Jangkauan pandangan kami
tidak luas, terbatas oleh hamparan sawah dan pepohonan.
Kami
hidup damai selama itu berkat satu orang, yakni Norodom Sihanouk. Perancis
mengangkatnya menjadi raja sewaktu ia masih bersekolah, dengan perkiraan bahwa
ia akan bisa dikendalikan dengan mudah; tapi Sihanouk ternyata lebih unggul
dalam bersiasat, baik terhadap Perancis maupun siapa saja setelah itu. Setelah
berhasil memerdekakan negeri Kamboja pada tahun 1953, melalui jalan perembukan
sambil menyinggung-nyinggung kemungkinan terjadinya revolusi apabila Perancis
berkeras menolak, Sihanouk turun tahta dan kemudian mencalonkan diri ketika diadakan
pemilihan umum. Ia menang dengan mayoritas mutlak dan kembali menjadi pemimpin negara,
Di dalam negeri ia berhasil tetap memperoleh dukungan golongan etnik Khmer yang
merupakan mayoritas penduduk dengan cara menghimbau rasa kebanggaan rasial
mereka dan mengaIIwngatakan berulang-ulang kepada setiap orang betapa mujurnya
kami sebagai orang Kamboja, keturunan bangsa pembangun kerajaan kuno di Angkor.
Tapi Sihanouk juga melindungi kepentingan goiongan-goiongan ininoritas yang ber
warna kulit tidak secoklat orang Khmer, yakni golongan etnik Vietnam dan Cina.
Dalam menjalankan kebijakan luar negeri ia mengadu domba negara-negara komunis
dan negara-negara Barat, menerima bantu an dari semuanya sampai tahun 1965,
saat ia memutuskan hubungan dengan Amerika setelah terjadi hal yang di
rasakannya sebagai penghinaan terhadap harga dirinya. Sejak itu sikapnya
condong ke kiri, tapi secara resmi kamboja tetap mempertahankan sikap netral
dan tidak memihak. Pemerintah Amerika Serikat tidak menyukai Sihanouk, karena
ia tidak mau mengI izinkan pasukan-pasukan Amerika secara terbuka memasuki
wilayah Kamboja untuk memerangi Vietnam Utara.
Di
Kamboja, Sihanouk sangat populer waktu itu. Kami tidak begitu mempedulikan.
segi-segi negatif yang ada pada dirinya, seperti membiarkan saja korupsi tumbuh
subur, dan mempertahankan orang-orang yang tidak cakap duduk dalam
pemerintahan. Hanya sedikit di antara kami yang cukup terpelajar untuk merasa
prihatin. Apabila Sihanouk berpidato pada kami dengan suaranya yang nyaring melengking,
berteriak-teriak sambil mengacungacungkan tangan dan· dengan mata dibelalakkan,
kami mendengarkan dengan penuh hormat.
Sihanouk
menggemari drama, dalam bentuk apa pun juga. Ia membuat film, dengan dirinya sendiri
sebagai pemetan utama. Balet Kerajaan didukung olehnya; para penari utamanya
adalah gundik-gundiknya. Ia mengadakan rapat-rapat akbar dekat istananya. Pada
kesempatan itu diberikannya kesempatan kepada kalangan rakyat untuk menyampaikan
keluhan mereka, lalu pejabat pemerintah yang bersalah dipanggil dan langsung
didamprat di temp at itu juga. Dan setiap tahun ia menyelenggarakan upacara di
temp at Sungai Mekong bersatu dengan Sungai TonIe Sap dan berpisah lagi. Tepat
pada saar arus sungai berbalik dan mengalir ke hulu - menuju Danau TonIe Sap,
ia melakukan pemberkahan sehingga berbaliknya arus itu seolah-olah terjadi
karena kekuatan gaibnya (padahal penyebabnya adalah pengaruh gaya tarik bulan
terhadap air sungai yang sedang pasang tinggi di musim hujan). Kalangan luar
negeri menyebutnya "Pangeran" Sihanouk, karen a resminya ia sudah
menyatakan turun tahta; tapi kami masih tetap menyebutnya "Raja". Di
kalangan petani banyak yang berkeyakinan bahwa dia ltu dewa.
Keributan
berawal pada tanggal 11 Maret 1970, ketika Sihanouk sedang bepergian ke luar
negeri dan pers mengungkit-ungkit masalah kantong-kantong kekuatan Vietnam
Utara di sepanjang perbatasan timur. Aku sedang kuliah ketika aksi protes
dimulai. Sewaktu aku menggabungkan diri kemudian, aksi itu sudah berlarut
menjadi huru- hara. Pemuda-pemuda murid sekolah lycee mencampakkan kertas-kertas, lemari-lemari arsip, meja-meja
dan kursi-kursi dari lantai dua gedung kedutaan besar Vietnam Utara.
Berberkas-berkas uang kertas mereka timpukkan ke jalan. Mereka menurunkan
bendera Vietnam Utara dari tiang lalu membakarnya. Perbuatan serupa mereka lakukan
di kedutaan besar Pemerintah Revolusioner. Sementara dari Vietnam Selatan, atau
Viet Kong, yang dekat lokasinya. "Vietnam enyah dari Kamboja!" seru
pemuda-pemuda itu. "Jangan masuki lagi wilayah Kamboja!"
Huru-hara
itu lebih banyak dilandasi dendam lama terhadap orang Vietnam, ketimbang urusan
politik yang aktual. Dalam perjalanan sekian abad, Kamboja sudah sering
berperang melawan Vietnam. Kami, orang Kamboja, tetap mengingat semua kekalahan
kami dan menunggu-nunggu saat pembalasan -bahkan juga kami yang bukan “asli"
Khmer melainkan campuran Cina dan Khmer. Kami semua mengenal legenda tentang kepala
manusia yang dijadikan batu tungku. menurut legenda itu, pada zaman dulu ada
tiga orang Kamboja tertawan oleh serdadu-serdadu Vietnam. Ketiga orang itu
dikuburkan hidup-hidup, tinggal kepala mereka saja yang tersembul dari tanah.
Kemudian orang-orang Vietnam menyalakan api di antara ketiga kepala itu dan meletakkan
sebuah cerek di atasnya, menggunakan kepala-kepala itu sebagai pengganti batu tungku.
Betul-tidaknya legenda itu tidak menjadi persoalan, karena kebanyakan orang
Kamboja percaya bahwa itu benar-benar terjadi. Dan dalam huru-hara yang terjadi
waktu itu, segala kebencian terhadap orang Vietnam yang mana saja, baik yang
komunis maupun yang bukan, dari Utara atau Selatan, dan bahkan terhadap
orang-orang Kamboja sendiri yang keturunan Vietnam, semuanya berbaur menjadi
satu.
Huru-hara
itu mengguncangkan kota Phnom Penh. Orang-orang ibukota sebuah negara yang mengaku
netral menyerbu gedung-gedung kedutaan besar negara-negara tetangganya.
Sihanouk mengirim kawat dari Paris, berupaya menghentikan aksi-aksi itu. Ia
mengerahui sesuatu yang tidak diketahui orang-orang seperti aku, yakni bahwa
para pelaku kerusuhan itu-Yang di satu pihak memang menyimpan dendam kesumat-sebenarnya
didalangi oleh kelompok-kelompok rersembunyi. Tapi selama ketidakhadiran Sihanouk
di dalam negeri, kalangan pejabar pemerintahannya terus melakukan desakan terhadap
Vietnam Utara. Kedua pejabat yang paling tinggi kedudukannya adalah Pangeran
Sisowath Sirik Marak, seorang bangsawan saingan Sihanouk, dan Jenderal Lon Nol,
yang waktu itu menjabat kedudukan perdana menteri merangkap menteri pertahanan dan
menteri penerangan. Lon Nol berkulit sawo matang. la menyukai julukan
"Bapak Hitam" yang diberikan pasukan-pasukannya, Ia bangga bahwa ia
orang Khmer, dan bencinya terhadap orang Vietnam setanding dengan kebencian
yang membakar perasaan para perusuh waktu itu. Kaum komunis Vietnam diberinya
batas waktu liga hari untuk meninggalkan kantong-kantong mereka di sepanjang
perbatasan.
Tapi
pihak Vietnam Utara tentu saja tidak lantas pergi. Jika mereka mampu berperang terus
melawan negara raksasa seperti Amerika Serikat, kenapa mereka hams patuh"
pada pemerintah seperti Kamboja yang sangat kecil kekuatan militernya? Di Phnom
Penh, ketegangan dan ketidakpastian semakin meningkat. Bandar udara ditutup.
Panser-panser dan tank-tank mengambil posisi siaga di jalan-jalan. Tanggal 17
Maret diadadakan rapat akbar yang disusul dengan arak-arakan. Aku ikut di
dalamnya, membawa spanduk dengan seruan mengenyahkan orang-orang Vietnam.
Semuanya yang turun ke jalan bersikap anti Vietnam dan pro-Sihanouk. Kami semua
berperasaan sama: para mahasiswa, wartawan, polisi, militer. Yang kami lupakan
adalah kenyataan bahwa Sihanouk sendiri menjalankan siasat dengan cermat,
memperimbangkan posisi kekuatan komunis Vietnam dan negara-negara Barat, sehingga
Kamboja bisa tetap netral. la juga melindungi warga Kambpja golongan etnis Vietnam
dari penganiayaan.
Saat
makan siang keesokan harinya, seperti biasa aku mengisi perut dengan bakmi kuah
yang asam-asam pedas. Aku sedang asyik mengobrol dengan temanku Sam Kwil yang
bekerja sebagai wartawan pada salah satu harian, ketika terdengar pengumuman
lewat radio: Majelis Nasional telah menerima mosi tidak percaya terhadap
Sihanouk.
Tiba-tiba
saja selera makanku lenyap.
Aku
memandang berkeliling. Semua yang ada dalam warung makan itu menatap nanar ke
arah pesawat radio. Sihanouk digulingkan? Mustahil! Kuturunkan pesawat radio
dari tempamya dan kuletakkan di mejaku. Bunyinya kukeraskan. Kami menunggu.
Pengumuman itu diulangi, dan buyarlah harapan bahwa kami tadi salah dengar.
Kudeta
itu didalangi Sirik Matak dan Lon Nol. Mereka didukung banya oleh suatu
kelompok minoritas kecil, golongan elite Phnom Penh yang tidak bisa menjadi
sekaya yang mereka inginkan, sebab semua kedudukan puncak ada di tangan Sihanouk
beserta sanak-saudaranya. Temanku Sam Kwil yang wartawan dan banyak memiliki informasi
mengatakan padaku bahwa kemungkinannya Sirik Matak dan Lon Nol didukung oleh CIA.
Katanya, Lon Nol tidak cukup cerdik untuk memanfaatkan perasaan rasial
anti-Vietnam sebagai jalan untuk menimbulkan keguncangan di dalam negeri, lalu
menggunakan ketidakstabilan keadaan itu sebagai alasan untuk melancarkan kudeta.
Aku sependapat dengan dia. Tapi tidak pernah bisa dibuktikan bahwa. CIA
terlibat di dalamnya.
Dalam
waktu singkat sudah muncul pemerinI; talhan baru, dengan Lon Nol sebagai kepala
negara. Dengan segera stasiun televisi dan radio milik pemerintah dan berbagai
sur at kabar yang dekat dengannya sudah melancarkan tuduhan-tuduhan korupsi dan
kejahatan-kejahatan lain ke alamat Sihanouk. Tapi upaya-upaya mendiskreditkan Sihanouk
tidak berhenti sampai di situ saja. suatu ketika pada waktu aku pulang sebentar
ke Samrong Yong, suami saudara perempuanku Chhay Thao, seorang guru, mengajakku
ke sebuah kandang babi. Di situ ada patung Sihanouk yang untuk sebagian
terbenam dalam kotoran kandang. Kepala patung itu terpisah dari tubuhnya.
lparku
mengatakan, nasib serupa terjadi dengan patung Sihanouk yang ada di Chambak,
sebuah kota dekat desaku. Ia juga ikut membantu menumbangkan patung itu.
"Kami
mendapat perintah memusnahkannya," katanya menjelaskan. "Aku
sebenarnya tidak mau; tapi perintah itu datangnya dari atas. Dari atas
sekali. Kami terpaksa menurut."
Setelah
itu rezim yang baru mengeluarkan perintah yang ditujukan kepada semua guru. Huoy
yang mendengarnya di tempat pendidikannya menjadi sangat bingung. Para guru
diharuskan mengatakan kepada murid-murid mereka bahwa Sihanouk itu pengkhianat
yang korup. Dan murid-murid harus meneruskannya kepada orangtua mereka. Dan di
sinilah mulai terjadinya reaksi yang membalik.
Di
seluruh kawasan Kamboja, para orangtua pekan itu mendamprat dan memukul
anak-anak mereka. Hal itu terjadi bukan hanya karena para orangtua itu loyal
pada Sihanouk, yang merupakan suatu kenyataan, melainkan juga karena masyarakat
Kamboja bisa dipersamakan seperti suatu keluarga besar. Seperti halnya ayah
adalah kepala keluarga, Sihanouk itu kepala Kamboja, Bapak Raja. Tidak
sepatutnya anak-anak mengatakan bahwa dia orang jahat, karena ucapan itu secara
tidak langsung juga. merupakan kritik terhadap para ayah mereka sendiri.
Maka
timbullah aksi-aksi unjuk rasa menentang Lon Nol. Kali ini para demonstran
bukan kalangan mahasiswa tapi kaum petani dan penduduk desa berkulit gelap dan
bertato, dengan tubuh dibalut celana pendek dan digantungi krama dan jimat-jimat
Budha lainnya. Sihanouk adalah raja yang mereka dewakan. Meski ia tidak bisa dijadikan
berkuasa kembali, mereka menginginkan agar statusnya dipulihkan. Para
demonstran itu mengacungkan slogan-slogan, dan ada yang membawa senjata tajam
berupa pisau, kapak, dan parang; tapi mereka tidak memiliki senjata api. Mereka
bergerak dari Samrong Yong ke Chambak, dan di kota itu tentara Lon Nol
melepaskan tembakan ke arah mereka dengan senapan mesin. Para demonstran yang
tewas diusung pergi dengan tandu-tandu darurat. Peristiwa seperti itu terjadi
di seluruh negeri. Dekat Phnom Penh, serdadu-serdadu melepaskan tembakan ke
arah barisan demonstran yang sedang menunggu dekat sebuah jembatan. Di hulu
Sungai Mekong, di kota Kompong Cham, suatu gerombolan yang marah mengeroyok
salah seorang saudara lelaki Lon Nol. Mereka membunuhnya, lalu hatinya diambil dan
diberikan kepada seorang pemilik warung makan yang dipaksa meriggorengnya. Hati
yang sudah digoreng itu kemudian dibagi-bagikan kepada gerombolan itu.
Seluruh
Kamboja mengamuk. Kamboja yang biasanya adem-ayem
dilanda hawa nafsu kum. Tapi dalam
beberapa minggu saja keadaan sedikitbanyak sudah tenang kembali. Orang Kamboja kebanyakan
tidak begitu membenci rezim yang baru sampai mau melawannya. Dan pada hakikatnya
memang tidak banyak yang bisa dilakukan. Lon Nol, mantan panglima angkatan
bersenjata, menggunakan kekuatan militernya untuk memantapkan kekuasaan.
Berlainan
dengan Sihanouk, Lon Nol bersikap rumah terhadap pemerintah Amerika Serikat
yang dibiarkannya berbuat sekehendak hati. Pada akhir April 1970, tanpa
terlebih dulu memberitahu Lon Nol, pasukan-pasukan Amerika dan Vietnam Selatan
memasuki suatu wilayah sepanjang tapa! batas Kamboja- Vietnam Selatan dengan
tujuan menumpas kantong-kantong kekuatan komunis di situ.
Pada
mulanya penyerbuan itu disambut dengan sangat senang di Phnom Penh; kami
menyangka pasukan-pasukan Amerika itu pasti mampu mengusir keluar
pasukan-pasukan Vietnam Utara. Tapi sangkaan kami ternyata keliru. Orang-orang Vietnam
Utara masih tetap ada di situ ketika pasukan-pasukan Amerika dan Vietnam
Selatan kemudian mundur lagi ke Vietnam Selatan. Beberapa orang Amerika yang
jangkung, berhidung mancung, dan berwajah merah, dengan kedudukan selaku
penasihat, sejak itu merupakan pemandangan sehari-hari di sekitar gedung-gedung
pemerintah pusat dan di hotel-hotel besar, dan bantuan perlengkapan Amerika
untuk tentara Kamboja mulai mengalir masuk, makin lama makin banyak.
Bagiku,
yang tidak tabu apa yang akan terjadi, yang paling menjadi pikiran bukan
negeriku, tapi keluargaku sendiri. Aku ingin ayah dan ibuku mau menerima Huoy
sebagai calon menantu. Selama beberapa tabun yang lewat bisnis ayahku sudah
sangat berkembang, sehingga ia membeli sebuab pabrik penggergajian lagi: Ia
mengekspor kayu ke Jepang, sampai berkapal-kapal. Dengan mengalir masuknya uang
dari Amerika ke Kamboja terjadi pula perkembangan pesat dalam usaha di bidang
pembuatan bangunan, dan itu berarti order juga meningkat. Ayah membuka usaha
jasa pengangkutan bensin dan membeli sejumlah truk yang dijadikan armada
pengangkutannya. Ayahku kaya. Ia memilihkan seorang gadis dari suatu keluarga
yang juga kaya di Phnom Penh sebagai calon istriku.
Kukatakan
kepada ayahku bahwa aku sudah menemukan gadis lain yang kusukai. Karena takut bagaimana
pikirannya nanti, kuberikan foto-foto Huoy kepada Chhay Thao dan kuminta
saudara perempuanku itu agar memperlihatkannya kepada orangtuaku, untuk melihat
bagaimana reaksi mereka.
Ayah
dan ibuku melihat foto-foto itu sekilas, tapi mereka sebenarnya tidak peduli bagaimana
tampang Huoy atau macam apa orangnya. Chhay Thao mereka tanyai terus sampai
akhirnya mengaku bahwa keluarga Huoy miskin. Setelah itu mereka menutup pintu
hati mereka terhadap gadisku itu. Mereka merasa akan kehilangan gengsi dalam
masyarakat jika aku tidak menikah dengan seseorang yang juga berasal dari
keluarga kaya.
Ayah
dan ibuku tidak melarang aku menikah dengan Huoy. Tapi mereka juga tidak
memberikan restu, yang perlu ada menurut tradisi kami. Dan meski aku tidak bisa
dibilang berbahagia karenanya, aku tidak ingin ribut dengan mereka; seperti
mereka juga, yang tidak ingin ribut dengan aku. Kami sama-sama tidak ingin
dihanyutkan kemarahan, karena urusannya terlalu penting. Pemerintah telah
meninggalkan jalan tengah dan memilih keekstreman dalam wujud perang, tapi kami
akan tetap memelihara perdamaian dalam keluarga. Aku bertekad akan berembuk
dengan sabar, seperti yang biasa dilakukan Sihanouk sebelum ia digulingkan dari
kekuasaan.
Pada
waktu kudeta terjadi aku sudah cukup yakin akan keinginanku menikah dengan
Huoy. Kenyataan bahwa orangtuaku tidak menyetujui menyebabkan aku malah semakin
menginginkannya sebagai istri. Cuma aku tidak tahu mana yang lebih parah:
kenyataan bahwa aku belum menikah dengan dia - yang mestinya akan bisa
melenyapkan sebagian dari frustrasiku -atau kesangsian yang sedikit itu, yang
terus saja merongrong pikiran. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Karenanya
kuatur lagi siasat uptuk menguji.
Saat
itu aku sedang sendiri bersama Huoy di apartemennya. Sudah berbulari-bulan kami
tidak bertengkar lagi. Semuanya serba beres. Kusuruh dia duduk. Ia menurut. Aku
.mondar-mandir dengan langkah cepat, seperti kebiasaanku sewaktu masih menjadi
guru privatnya dulu.
"Ini
hari terakhir hubungan kita berdua," kataku padanya. "Mulai hari ini hubungan
kita putuskan. " Huoy kaget mendengarnya. Ia nampak ketakutan. Aku
menyambung, "Tapi jawab saja pertanyaanku dengan baik. Sekali ini kau harus
mengatakan yang sebenarnya. Duduk saja di situ dengan tenang, dan jawab
pertanyaanku.
"
Kata-kataku itu menyakiti hatinya; itu kuketahui. Aku sangat mencintainya, tapi
tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Entah kenapa, bagiku lebih mudah
berpura-pura marah padanya karena sesuatu yang sama sekali tidak dilakukan olehnya,
ketimbang memaparkan perasaanku yang sebenarnya.
"Tadi
kau naik becak, duduk di pangkuan seorang lelaki," kataku. "Tangan
lelaki itu memegang bahumu, dan kau berbicara padanya dengan manis dan sambil
tertawa. Aku sendiri yang melihat. Orang itu yang pernah kulihat menemanimu waktu
itu."
Bahu
Huoy sudah bergerak-gerak, dan tangannya terangkat untuk mengusap air mata.
Aku
terus saja. "Jadi sekarang harus kaukatakan dengan terus-terang, Kau punya
pacar atau tidak? Bagaimanapun jawabmu, aku tidak peduli. Aku cuma ingin tahu
yang sebenarnya, Aku kan belum pernah bilang aku cinta padamu. Dan kau juga
tidak pernah mengatakan cinta padaku. Jika kamu mencintai orang lain, masa
bodoh. Kamu bebas mencintai siapa pun juga. "
Huoy
berdiri tanpa mengatakan apa-apa. Ia pergi ke kamar mandi. Ketika kemudian
kembali lagi, kepalanya tertunduk. Tangannya sibuk mengusap mata dengan kertas
tisu. Ia berkata, "Aku tidak tahu bagaimana harus meyakinkanmu bahwa aku
tidak punya pacar! Kenapa kau selalu saja berbuat begini terhadapku?"
Aku
tetap memasang tampang keras dan bersuara marah. "Kau bermain-main. Sudah
punya orang lain, dan aku hendak kaujadikan nomor dua!"
"Aku
tidak mau mendengar. lagi! Pedih sekali hatiku."
Aku
mondar-mandir di kamar itu. Kemudian kutarik napas dalam-dalam, lalu kuembuskan
lagi. Waktunya sudah tiba.
Kuhampiri
Huoy sampai mukaku dekat ke mukanya.
"Aku
menyesal, Manis," kataku dengan lembut. "Sungguh, aku menyesal. Aku
janji. Aku cuma ingin menanyakan, sesuatu padamu. Kaubilang saja 'ya, atau
tidak." Aku semakin mendekatkan diri dan berbisik di telinganya,
"Akan kukatakan kepada orangtuaku bahwa kita ingin menikah. Bagaimana-ya,
atau tidak? Hanya satu kata saja: ya, atau tidak."
Selama
beberapa detik nampak bahwa ia tidak percaya. Ketika aku kemudian mengatakan
bahwa aku cinta padanya, dipegangnya telingaku lalu dijewernya keras-keras. Dan
aku dipeluknya. Ia ,tidak mengatakan "ya" dengan kata-kata, tapi itulah
yang dimaksudkannya, dan ia tertawa dengan air mata membasahi pipi.
Kami
berpelukan. Sekarang aku sudah tahu sepasti-pastinya bahwa inilah wanita dengan
siapa aku ingin menikah. Jika ia bisa tahan terhadap tindak-tandukku yang
aneh-aneh, ia pasti akan terus mendampingiku dalam menghadapi'segala kesulitan
yang mungkin akan timbul nanti.
Kami
mendengar langkah ibunya di gang. Kupeluk Huoy sekali lagi lalu menyuruhnya. mandi
agar ibunya tidak merasa curiga. Ketika ibu Huoy masuk, ia kuajak bercakap-cakap
dengan sopan tentang hal-hal yang sepele. Ia kuminta menemani aku dan Huoy
makan-makan di luar, tapi seperti biasa ia memilih tinggal di rumah saja.
Di
restoran kutanyakan kepada Huoy, apa yang harus dilakukan sehubungan dengan
ibunya. Huoy meletakkan gelasnya sambil menahan senyum.
"Sudah
kukatakan padanya bahwa kau cinta padaku," katanya.
"Tapi...
aku kan baru sekarang mengatakannya."
"Pokoknya,
aku tahu," jawab Huoy dengan enteng. "Dan ibuku sudah tahu, bahkan
sebelum .tku mengatakan apa-apa kepadanya."
Wah,
memalukan! Benar-benar memalukan. Mereka sudah lebih dulu tahu ketimbang aku sendiri
tentang perasaanku.
Aku
benar-benar konyol selama itu!
Kutepuk
keningku.
Kuajak
Huoy berjalan-jalan di tepi sungai. Saat itu sedang musim kemarau, dan air
sungai surut sekali sampai jauh di bawah tebing betonnya yang landai. Kami bisa
melihat kapal-kapal barang yang besar-besar, kapal-kapal feri, bentangan
jembatan raksasa yang dibangun dengan bantuan modal Jepang, serta berpuluh-puluh
sampan yang meIuncur di atas permukaan air. Semuanya itu nampak di depan mata,
tapi kami tidak benar- benar melihatnya. Pemandangan itu hanya merupakan latar
belakang percakapan kami berdua.
"Kau
dan aku," kataku sambil melangkah bersama Huoy, "kita berdua harus
membangun honneur dan bonheur bersama-sama. Kita memikul tanggung
jawab besar, saling memperhatikan dan menciptakan kebahagiaan dalam
keluargakeluarga kita. Kita mengemban tanggung jawab untuk hari esok."
Huoy tidak mengiakan dengan kata-kata, tapi ia tersenyum. Serupa dengan bahasa
Indonesia, "hari esok" dalam bahasa Khmer juga berarti "masa
depan". Kami berdua terus melangkah, sambil membayangkan hari esok kami
berdua.
"Harap
kau mau mengerti tentang keluargaku," kataku lagi. "Aku selalu
mengalami kesulitan dengan mereka. Seperti perang yang tidak habishabisnya. Mereka
sekarang sudah kaya. Mereka merasa tidak enak karena kau tidak kaya. Esok, pada
suatu hari kita akan menikah, tapi setidak-tidaknya kita kini sudah tahu apa
yang ada dalam hati kita. "
Huoy
mengangguk. Ia tersenyum lagi.
"Aku
tahu persis bagaimana orangtuaku," kataku. "Kita harus bertindak
pelan-pelan, berusaha memperoleh kepercayaan mereka. Jadi jika aku minta padamu
untuk melakukan sesuatu bagi orangtuaku, kuharap kau mau melakukannya. Lakukanlah,
demi kita. "
"Ya,"
kata Huoy. "Ya, aku akan melakukan nya." Ia mengerti. Kami berdua
hanya bisa bahagia jika kami membuat keluarga kami berbahagia. Dalam kebudayaan
kami, keluarga sebagai keseluruhan lebih penting daripada masing-masing
anggotanya.
Kami
berjalan menyusur sungai, tanpa memperhatikan orang-orang lain. Aku merangkul pundak
Huoy, kemudian pindah ke pinggangnya, lalu pindah lagi ke pundak. Rambutnya
yang ranjang ditiup angin membelai dadaku. Bayangan bulan nampak di permukaan
sungai, dan perahuperahu meluncur kian-kemari, bentuk-bentuk gelap di atas
permukaan air.
Kami
berjalan menuju ke arah Istana Raja lalu duduk di sebuah bangku, memandang
sungai. Kami bercakap-cakap dengan suara pelan dan tenang, tentang masa depan
kami berdua yang penuh dengan kebahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar