14
BAJAK
KAMI,
orang Kamboja, percaya kepada kama, atau
karma-suatu konsep religius yang kira-kira berarti nasib atau peruntungan. Kama seseorang bergantung pada apa yang
dilakukannya dalam kehidupan yang sekarang dan dalam kehidupan-kehldupan sebelumnya.
Jika ia suka berbuat buruk maka pada suatu ketika ia pasti akan menderita,
dalam kehidupan sekarang atau yang berikut. Begitu pula, jika ia biasa berbuat
baik maka peruntungannya pada suatu ketika akan menjadi lebih baik, dalam
kehidupan sekarang atau yang berikut. Siklus kelahiran dan kelahiran kembali
berlanjut terus, dan kama
masing-masing akan melekat terus pada jiwa yang bersangkutan .
Kama Emak sangat bagus.
Ia senantiasa baik hati. Ketaatannya beribadat menyebabkan pahalanya banyak.
Kehidupannya yang berikut pasti akan lebih baik. Kami merasa rindu kepadanya dan
ingin ia ada lagi bersama kami. Tapi kami tidak mengkhawatirkan kesentosaan
jiwanya.
Kehidupan
kami sendirilah yang lebih kami khawatirkan, kehidupanku dan Huoy. Adakah sesuatu
dalam kehidupan kami yang lalu, perbuatan perbuatan buruk yang kami lakukan,
yang mengakibatkan kami kini mengalami penghukuman lewat rezim ini? Banyak
orang Kamboja yang berpendapat begitu. Tapi mereka pada umumnya penganut
aliran-aliran Budhisme yang agak mistis dan berselubung takhyul. Mereka percaya
bahwa ramalan-ramalan kuno kini menjadi kenyataan dan bahwa Kamboja sedang
dihu- kum atas dosa-dosa yang dilakukan jauh di masa silam. Mereka tunduk
kepada Khmer Merah, dengan sedih tapi tanpa berkeberatan, seakan memasrahkan
diri kepada nasib. Aku tidak sependapat. Bagiku, terlepas dari baik-buruknya kama kita, Khmer Merah perlu dilawan.
Jika tidak mampu melawan mereka dengan terbuka dan secara fisik, bisa saja dilakukan
perlawanan di dalam, di medan tempur batiniah. Pagi keesokan harinya, ketika
aku dan Huoy sedang berjalan menyusur rel, dua orang dokter kenalanku
menggabungkan diri. Kami pun bercakap-cakap.
"Ya,
kami religius," kata salah seorang dari mereka, seorang spesialis mata,
"tapi kami juga didikan universitas. Pikiran kami memiliki kemampuan mengamati
dan menarik kesimpulan. Gampang saja menimpakan segala-galanya kepada kama, tapi dalam kenyataannya
kejadian-kejadian dunia yang nyatalah yang menciptakan rezim baru ini. Ketika
Sihanouk masih berkuasa, kita dibimbingnya pada haluan yang netral, tapi sesudah
dia kita bergerak dari keekstreman yang satu ke ke-ekstreman lainnya. Mula-mula
kita pergi ke pihak kanan yang korup seperti Lon Nol, dan kini kita beralih ke
golongan kiri yang gila. Jlka kita kini dihukum karena sesuatu, maka itu adalah
karena kita meninggalkan haluan tengah."
"Aku
sependapat dengan Anda," ujar Huoy. Kita terpelajar, dan klta harus
senantiasa memakai otak kita. Tapi dalam segala tulisan tentang sejarah yang
pernah kubaca, tentang Eropa dan tentang Asia, belum pernah ada rezim semacam yang
sekarang ini. Di tempat pemukiman kami yang terakhir, mereka mengatakan bahwa
proyek kami sudah selesai, padahal saluran air yang sedang kami kerjakan masih
berada pada tahap awal pembuatannya. Kemudian mereka mengatakan bahwa kami
boleh pergi untuk kembali ke desa-desa asal kami, tapi kenyataannya mereka mengirim
kami kemari. Mereka selalu saja bohong Kapan sebelum ini pernah ada rezim yang seperti
ini?"
Kami
terus melangkah di jalan kecil yang menelusur rel.
"Istri
anda benar, Ngor," kata kenalanku yang satu lagi, seorang dokter anak. Ia
mengatakannya sambil merenung? "Rezim-rezim komunis yang lain saja pun tidak
begitu banyak bohongnya dibandingkan dengan Khmer Merah. Lihat saja Cina .
Komunis disana merampas harta milik pribadi dan menyuruh orang-orang kota pergi
ke pedesaan. Tapi mereka selalu berbicara tentang adanya dukungan rakyat. Tidak
timbul perasaan bahwa pemerintah Cina bersikap memusuhi rakyat, seperti halnya
rezim di sini."
“Tanpa
Cina, Khmer Merah takkan mungkin bisa bertahan," kata dokter yang
spesialis mata dengan murung. Ia sendiri berdarah Cina dan berkulit kuning.
"Segala persenjataan dan pakaian seragam Khmer Merah merupakan pemberian Peking,
jadi mestinya mereka bisa menuntut sesuatu sebagai imbalannya.
Setidak-tidaknya, Peking bisa saja menaruh Sihanouk sebagai pimpinan rezim di
sini. "
"Nanti
dulu, Sobat," kata dokter yang spesialis anak, "Anda keliru jika
beranggapan bahwa Cina memiliki pengaruh terhadap Khmer Merah. Khmer Merah
selalu bicara tentang kemerdekaan. Mereka ingin mengendalikan revolusi mereka sendiri
.
"Tapi Anda keliru jika beranggapan bahwa orang-orang
komunis itu mengendalikan revolusi mereka," kataku. "Lihat saja
kekacauan yang terjadi sewaktu semua orang harus meninggalkan Phnom Penh.
Segala penderitaan yang tidak perlu terjadi, seperti misalnya para pasien yang
dipaksa meninggalkan rumah sakit. Itu mengakibatkan berkurangnya dukungan
rakyat terhadap Khmer Merah. Begitu pula halnya dengan ucapan-ucapan bohong .
Sungguh, orang-orang seperti Khieu Samphan yang berada di pucuk pimpinan Khmer Merah,
mereka itu berpendidikan tinggi; tapi orang-orang yang ada di bawah mereka,
membaca dan menulis saja tidak bisa. Mereka tidak tahu ke mana arah tujuan
revolusi mereka. Mereka bahkan tidak tahu bahwa mereka komunis."
"Tentu
saja mereka tahu."
"Tidak,
mereka tidak tahu," kataku dengan tandas. "Pernahkah Anda mendengar
mereka menyebutkan kata 'komunis'?"
"Ya,
betul juga," kata kenalanku yang dokter anak, setelah merenung sesaat.
"Tapi kalau begitu, apakah mereka itu?"
"Kum-monuss," kataku. Semuanya
tertawa.
Ucapanku
itu merupakan permainan kata-kata: kum
berarti dendam kesumat yang akhirnya meledak dalam wujud amukan, sementara monuss berarti orang, manusia.
"Itulah mereka yang di lapisan bawah," kataku, “'manusia-manusia
dendam'. Mereka tahunya hanya bahwa orang-orang kota seperti kita ini dulunya
suka memerintah-merintah mereka, dan ini kesempatan bagi mereka untuk melakukan
pembalasan. Itulah mereka: komunis di pucuk pimpinan, dan kum-monuss di lapisan bawah."
Kami
terus berjalan lambat-lambat menyusur rel dibawah sinar matahari pagi, sambil
bercakap-cakap tentang komunis dan kum-monuss
serta tentang nasib negara. Pertanyaan pokok dalam kehldupan kami waktu itu
adalah apa yang kini akan dilakukan oleh Khmer Merah setelah mereka berkuasa;
hal itu merupakan teka-teki yang tidak bisa kami temukan jawabannya. Kami
melintasi bantalan rel dengan genangan-genangan air coklat berlumpur di
bawahnya. Beberapa kali kami berhenti sebentar untuk menolong orang-orang sakit
yang melepaskan lelah di tepi rel. Mereka pada umumnya sakit perut karena minum
air kotor. Tapi meski kami dokter, hanya sedikit yang bisa kami lakukan untuk
mereka, karena tidak berbekal obat.
Mcnjelang
tengah hari kami sampai di tempat tujuan, Phum Chhleav. Sudah ribuan orang yang
tiba lebih dulu dari kami di situ, dan masih banyak lagi yang berdatangan.
Menurut penghitungan yang kemudian dilakukan, jumlah keseluruhannya tujuh ribu
delapan ratus orang. Di Phum Chhleav tidak ada stasiun kereta api, yang ada
hanya jalur rel untuk tempat langsir. Sekitar seratus meter dari tempat langsir
itu, di mana ada jembatan yang melintas di atas saluran irigasi yang tidak
berair, ada tiga buah rumah panggung. Ketiga rumah itu ditempati
serdadu-serdadu dan para administrator Khmer Merah. Tempat yang ditunjuk bagi
kami orang-orang "baru", yang letaknya di seberang rel, ditumbuhi
pohon-pohon mangga yang berjajar dua. Tapi sarna sekali tidak ada bangunan di
situ.
Kami
disuruh memilih lahan dan membangun rumah untuk kami sendiri. Aku meminjam
pisau lalu pergi memotong sejumlah bambu yang kurus-kurus, serta gelagah dan
akar tumbuh-tumbuhan menjalar. Dengan dibantu Huoy, kutegakkan bambu dan
gelagah lalu kuikat untuk dijadikan dinding rumah. Kami tukarkan sehelai sampot peninggalan Emak yang terbuat
darisutera dengan beberapa lembar atap kajang, yang kemudian kami jadikan
penaung ditambah dengan lembaran plastik putih kami.
Ketika
kami akhirnya selesai dan memandang pondok buatan kami itu, tidak banyak yang
bisa dikagumi. Pondok baru kami itu bahkan lebih payah daripada pondok kami
yang pertama, di Tonle Bati. Tempat kediaman kami yang ini berupa gubuk kecil
beratap rendah dan hanya terdiri dari satu ruangan saja. Begitu ada angin kencang
bertiup, nampaknya gubuk kami itu pasti roboh. Lewat celah-celah dinding yang
terbut dari gelagah orang bisa melihat ke dalam, jadi air hujan pun pasti bisa
masuk. "Dapur" di dalamnya hanya berwujud tiga bongkah batu yang
diletakkan membentuk segitiga, untuk tempat menaruh kuali. Kami membuat
hamparan untuk tempat tidur dari gelagah yang ditumpuk-tumpukkan lalu dilapisi
rumput agar lebih empuk rasanya jika dibaringi. Tidak jauh dari tempat kami,
Ayah dan saudara-saudara lelakiku membangun pondokpondok mereka yang keadaannya
sedikit lebih baik ketimbang gubuk kami.
Sesudah
beberapa hari, ketika di seluruh penjuru Phum Chhleav sudah berdiri
bangunan-bangunan ringkih yang membuat daerah pertanian itu menjelma menjadi
kawasan pemukiman kumuh yang penuh sesak, Khmer Merah mengadakan rapat yang
harus dihadiri oleh semua kepala keluarga. Sekitar seribu orang dari kami
datang mengha- dirinya. Kami duduk di tanah dekat rel, menunggu kedatangan
orang yang akan berpidato. Saat itu masih pagi, tapi hawa sudah panas. Tanah
nampak kering dan berwarna coklat, sementara ,langit berawan tipis. Pegunungan
Cardamom menjulang jauh di sebelah selatan, terpencil dan tanpa keraamahan. Di
sebelah barat, di belakang tempat dimana terdapat stasiun kereta Phnom
Tippeday, nampak menjulang sebuah gunung dengan punggung yang memanjang
berlekuk-lekuk, mendominasi pemandangan ufuk di sana. Pada sebuah dataran di
bawah garis punggung gunung itu nampak dua bintik putih. Bintik yang kecil
adalah sebuah stupa atau monumen makam,
sementara yang lebih besar adalah sebuah kuil Budha. Di tengah daerah
persawahan yang datar dan tidak ditanami di kaki gunung itu nampak sosok seseorang
menunggang kuda, menuju ke tempat kami. Ia menunggang kudanya tanpa pelana dan sanggurdi
, Kudanya yang kurus dan berpunggung melengkung lari tanpa bergegas, meniti
pematang yang rendah.
Kuda
dan penunggangnya semakin mendekat: langkah kuda berlari terdengar menderap di tanah
yang keras. Akhlrnya orang itu menghentikan kudanya, meluncur turun dan
punggung yang tak berpelana dan berdiri di depan kami: seorang lelaki tua
bertubuh kurus dan berkulit coklat tua, tanpa kemeja dan alas kaki.
Ia
memandang berkeliling, lalu tersenyum pada kami. Tidak ada satu gigi pun yang
nampak pada gusinya yang sebelah atas, ompong sama seperti bayi; di gusinya
yang sebelah bawah masih melekat beberapa buah gigi.
"Selamat
datang di Phum Chhleav," katanya. Angka menugaskan kalin datang kemari
untuk membangun masyarakat baru. Kalian harus bekerja keras, tapi kalian harus
sabar. Pada waktu ini Angka miskin keadaannya. Angka akan menyediakan makanan,
tapi kadang-kadang tidak bisa mencukupi. Dan ada kalanya makanan akan terlambat
datang ."
Kami
mendengarkan dengan perasaan yang semakin kecut. Khmer Merah boleh dibilang
tidak pernah mengakui kekurangannya . Jika mereka mengatakan makanan akan tidak
mencukupi, maka itu mungkin nanti bahkan bisa berarti kami akan mengalami
bencana kelaparan.
"Kalian
harus mengerti," kata orang itu, "kita baru saja bebas dari kaum
kapitalis penindas kita. Sihanouk" -tiba-tiba terdengar reaksi pelan di tengah
kerumunan orang ketika nama itu disebut -"membantu membebaskan kita dari
Lon Nol serta antek-anteknya. Kita sudah bebas sekarang, tapi keadaan ekonomi
negeri kita masih belum menjadi lebih baik. Jadi kita harus berkorban . Kita
akan mengikuti prinsip-prinsip 'Tiga Gunung’. Kita akan meraih kemerdekaan
berdaulat mengandalkan kekuatan sendiri, dan mengendalikan nasib kita sendiri:
Bagi kalian masing-masing ini berarti jika kalian bekerja keras, kalian akan
mendapat makan. Jika kalian tidak bisa bekerja, kalian akan lapar."
Aku
menunggu untuk melihat apakah masih ada lagi yang akan dikatakannya tentang
Sihanouk. Seperti semua yang ada di situ, aku berharap Sihanouk akan tampil
kembali dan mengambil-alih pengendalian pemerintahan dari tangan Khmer Merah.
Tapi lelaki tua itu hanya sekali itu saja menyebut nama Sihanouk, secara sambil
lalu pula. Baginya, Sihanouk tidak lebih dari satu figur kecil saja dalam
sejarah. bicara tentang pentingnya bagi kami, orang kota, untuk belajar dari
kaum petani, bahwa kami membangun rumah kami sendiri dan menanam padi. Kami
akan mulai dengan tangan kosong dan membangun negara. Aku duduk diam-diam sambil
pura-pura mendengarkan dengan penuh perhatian. Padahal semuanya itu sudah
pernah kudengar sebelumnya.
Dari
sikap lelaki tua itu, yang bernama Kawan Ik,
nampak bahwa ia biasa dipatuhi. Kemungkinan ia dulu kepala kampung di daerah
pedesaan sebelum menjadi administrator sipil untuk rezim Khmer Merah. Ia
memakai krama yang sudah lusuh yang dililitkan di pinggang, celana pendek
berwarna hitam, serta sarung yang dilipat dua - sedikit di atas lutut. Cara
berpakaiannya itu gaya petani, kecuali sarungnya yang terbuat dari bahan
sutera. Sebelum revolusi hanya sedikit saja yang mampu memiliki kain sutera,
kecuali yang memiliki usaha budidaya ulat sutera. Tapi sekarang,
mereka
yang menggabungkan diri dengan Khmer Merah bisa memperoleh krama dan sarung sutera
dari orang-orang "baru" yang ketakutan menghadapi mereka. Bagi Khmer
Merah, sutera merupakan lambang kedudukan, dan banyak di antara mereka di
Propinsi Battambang yang memakainya.
Lelaki
tua itu berlogat Battambang. Di dalam negeri Kamboja, Battambang terkenal
karena hasil sawahnya. Dengan kawasannya yang datar berlahan subur, beras yang
dihasilkan propinsi itu cukup untuk kebutuhan konsumsi seluruh negeri. Setidak-tidaknya
begitulah keadaannya, sebelum perang.
Mestinya
itulah sebabnya kenapa kami diangkut ke Phum Chhleav, kataku dalam hati.
Menanam padi untuk keperluan rezim. Memulihkan Battambang ke kedudukannya
semula, sebagai lumbung padi Kamboja. Tempat kami terletak dekat jalan kereta
api, yang memudahkan pengangkutan beras, namun jauh dari segala godaan yang ada
di kota-kota. Ya, mereka hendak mengasingkan kami di sini. Sudah cukup bagiku untuk
memandang lelaki tua itu, dengan dada dan kakinya yang telanjang, untuk
mengetahui dengan pasti bahwa mulai saat itu kami akan menjalani kehidupan yang
semakin bercorak pedusunan.
******
Keesokan
harinya kami mulai bekerja. Kami berangkat ke sawah yang sudah lama
terbengkalai Dengan membawa cangkul, lalu mulai memacul permukaan tanah yang
sudah mengeras di situ. Hari terasa panjang, dan di ujungnya tidak ada makanan.
Jika kami tidak diberi makan yang mencukupi oleh Khmer Merah, demikian
pertimbanganku - jatah yang mereka berikan rata-rata sekitar satu kaleng beras
dua hari untuk setiap orang - maka tidak ada gunanya bekerja. Itu merupakan hal
yang gampang, di tengah suasana kacau tempat pemukiman besar yang masih baru seperti
Phum Chhleav.
Keesokan
harinya, beberapa saat sesudah matahari terbit, aku dan Huoy serta sepasang orang
"baru" lainnya, pergi meninggalkan Phum Chhleav. Kami menuju sawah
yang tidak sedang kita kerjakan, sambil berjaga-jaga jangan sampai terpergok
serdadu. Begitu sampai di tempat tujuan, kami boleh dibilang sudah tidak nampak
lagi dari pandangan orang lain. Di sana-sini di tengah daerah persawahan itu
terdapat bukit-bukit kecil, seperti pulau-pulau di tengah laut. Bukit-bukit kecil
itu ditumbuhi belukar, atau pepohonan, atau rumpun bambu. Bukit-bukit itu
sebenarnya sarang rayap. Itu merupakan pemandangan yang lazim di daerah tropik.
Tingginya sepinggang, bahkan ada yang sampai sebatas kepala, sementara panjangnya
bisa sampai belasan meter. Tidak mungkin bisa melihat lewat tumbuhan yang memenuhi
bukit-bukit kecil itu, yang begitu banyak jumlahnya tersebar di seputar tempat kami,
sehingga penglihatan terbatas antara lima puluh sampai beberapa ratus meter
saja. Tapi punggung gunung yang ada kuilnya nampak jelas menjulang di atas
bukit-bukit kecil itu, sehingga ada pegangan bagiku untuk menentukan arah langkah.
Tujuan
kepergian kami dengan sembunyi sembunyi itu ialah untuk mengumpulkan apa saja yang
bisa dimakan. Di Kamboja ada peribahasa jenaka tentang makanan: "Makanlah
apa saja yang berkaki dua kecuali tangga, yang berkaki empat kecuali meja, dan
apa saja yang terbang kecuali pesawat udara." Maksudnya ialah, kita tidak
bisa bersifat pemilih jika mencari nafkah dari hasil tanah. Kaum petani
Kamboja, yang mahir dalam cara hidup dari hasil tanah saja, kadang-kadang memakan
rayap untuk mendapatkan protein, meski banyak bahan makanan lain yang lebih mereka
sukai. Lagi pula, sampai musim hujan tiba-yang di Battambang datangnya lebih
lambat daripada di bagian timur Kamboja - takkan bisa ditemukan rayap di atas
tanah.
Kami
mulai dengan mencari tikus sawah. Kami meringkuk dekat liang mereka di pematang
sawah dan kami coba menangkap mereka dengan jala untuk menangkap ikan. Sesudah
beberapa jam mencoba dengan sia-sia, akhirnya barulah kuingat bahwa tikus sawah
selalu punya jalan masuk lain ke liang. Aku sedikit-banyak memiliki kemahiran berburu
dan mencari bahan pangan yang kuperoleh semasa kecilku, tapi berburu tikus
tidak termasuk di dalamnya.
Setelah
itu kami berburu semut merah. Mereka ini hidupnya dihutan-hutan bertanah pasir,
dan membuat sarang di ranting-ranting pohon. Peni duduk daerah pedusunan di
Kamboja memasuk- kan semut merah ke dalam sop mereka sebagai tambahan protein
dan supaya hidangan itu mengandung. kerenyahan. Mereka juga memasak telur
semut. Telur itu berwarna putih, lunak dan asam rasanya. Yang menjadi masalah
adalah bagaimana caranya mengumpulkan semut tanpa digiigit. Begitu didekati,
semut-semut itu langsung menegakkan tubuh dengan kaki depan dan jepitan di
mulut bergerak-gerak, siap untuk menggigit. Jika kita bergerak ke kiri, mereka
juga bergerak ke arah yang sama. Kita ke kanan, mereka ikut bergerak ke kanan.
Meski tubuh semut kecil, tapi mereka merupakan makhluk tergalak yang pernah kujumpai.
Cerita-cerita orang di bonn tidak benar
: semut tidak bisa menewaskan gajah, atau bahkan manusia, karena gigitan mereka
tidak mengandung racun; tapi menimbulkan bekas seperti tusukan jarum. Untungnya
aku tahu bagaimana caranya menangkap semut merah, setelah percobaanku menangkap
tikus yang hasilnya memalukan itu. Aku memegang ember plastik berisi air lalu
dengan sepotong ranting mencongkel sarang semut ke dalamnya, Beberapa ekor semut
berjalan meniti ranting itu lalu pindah ke lenganku untuk menyerang dengan
gigitan, tapi sebelumnya tangan dan lenganku sudah kulumuri dengan abu.
Semut-semut itu langsung jatuh tanpa sempat berbuat apa-apa, begitu kaki mereka
menyentuh kulitku.
Sementara
kami sedang mengumpulkan semut di dalam hutan, kami mendengar suatu suara yang datangnya
dari suatu tempat yang dekat dengan kami. Tokek,
tokek.
Daging
tokek, jika dimasak rasanya mirip daging ayam. Kami datangi tempat dari mana bunyi
tadi berasal, yakni sebatang pohon yang tidak jauh dari kami. Ketika kami sudah
dekat, nampak sekilas ekor tokek itu, yang lari masuk ke dalam sebuah lubang di
batang pohon. Aku memanjat untuk mengejarnya dan menutupi lubang yang
dimasukinya tadi dengan potongan jala penangkap ikan. Kemudian kami berempat
mengguncang- guncang pohon itu, sampai akhirnya tokek itu jatuh dari dalam
lubang.
Ketika
hari sudah sore kami berjalan kembali menuju Phum Chhleav dengan membawa
sejumlah sarang semut merah, beberapa ekor tokek, begitu pula beberapa berkas
rebung, sejenis kangkung, serta tumbuh-tumbuhan lain yang bisa dimakan. Kami
bersikap seperti petani dalam mencari bahan pangan yang ada di alam. Penampilan
kami waktu itu pun serupa dengan petani. Aku bertelanjang kaki, tanpa kacamata
dan arloji tangan, membawa bahan pangan yang kubungkus dalam kramaku. Huoy
melilitkan kramanya seperti serban di kepala. Pasangan lainnya yang bersama
kami saat itu sama saja penampilannva. Ketika kami sudah hampir sampai di jalan
kereta api tiba-tiba Huoy berbisik kepadaku, "Cepat bersembunyi, Sayang!
Ada serdadu di depan kita!" Aku cepat-cepat merebahkan diri ke tanah di
depan Huoy, lalu merangkak ke sebuah bukit kecil dan mengintip ke depan lewat
semak belukar yang tumbuh di atasnya.
"Jangan
berdiri!" kata Huoy dengan cemas di belakangku.
"Jangan
khawatir," balasku berbisik. Aku melihat dua orang sipil berjalan di jalan
kecil, menelusur rel bersama dua orang serdadu. Mereka beriringan satu-satu.
Kedua serdadu itu berpakaian seragam hitam dengan topi serdadu Cina berwarna
hijau dan sandal karet hitam yang terkenal dengan nama "sandal Ho Chi
Minh". Keduanya menyandang senapan. Siku kedua orang sipil tadi diikat
erat di belakang punggung mereka. Seutas tali menjulur dari orang sipil yang paling
depan ke orang sipil satunya, dan dari dia ke tangan salah seorang prajurit
yang menggiring di belakang. Kedua tawanan sipil itu melangkah lambat-lambat,
dengan kepala terkulai ke depan.
Aku
terkejut ketika mengenali siapa kedua orang sipil itu.
"Kedua
dokter kenalanku," kataku berbisik pada Huoy yang ada di belakangku.
Huoy
merangkak maju ke atas bukit kecil tempat aku berada, menuju ke sampingku.
Bersama- sama kami mengamati. Pemandangan yang nampak di depan kami mengandung
kesan adanya sesuatu yang sudah pasti dan tidak bisa dibatalkan lagi, sehingga
kami berdua merasa bahwa tamatnya riwayat kami pun sudah menjelang. "Kedua
temanku itu bukan tukang ribut," bisikku kepada Huoy. "Mereka
digiring pergi oleh serdadu-serdadu itu karena mereka dokter. Besok pasti
datang giliranku. Semua orang tahu bahwa aku ini dokter."
Kedua
dokter itu berjalan dengan langkah gontai, dibebani perasaan tahu bahwa ajal
mereka sudah dekat. Kami terus memperhatikan sementara mereka berjalan semakin
jauh menyusur rel, sampai akhirnya kami tidak bisa melihat mereka lagi. Kami
masih terus menunggu, menunggu-nunggu bunyi tembakan senapan. Tapi bunyi itu tidak
datang-datang juga.
"Mungkin
kau salah duga," kata Huoy pada akhirnya. "Mungkin mereka digiring
pergi karena ketahuan tidak bekerja di sawah."
Aku
berpikir sebentar. Ada benarnya juga kata Huoy itu. Barangkali kedua dokter itu
menghindari dari keharusan bekerja supaya bisa mengumpulkan bahan pangan,
seperti yang kami lakukan. Mungkin mereka kemudian ketahuan.
Kami
tidak pernah bisa tahu dengan pasti, karena sejak itu kami tidak pernah lagi
melihat kedua dokter itu, atau mendengar apa-apa tentang penangkapan mereka.
Tapi sejak itu Huoy selalu berkeras menghendaki agar aku ikut bekerja, dan itu
memang kulakukan. Seperti dikatakan oleh Huoy, jika kami bekerja kami mendapat
makanan meski tidak mencukupi; tapi lebih baik menderita lapar, daripada mati.
Aku
disuruh bekerja memperbaiki jalan. Sekitar tiga puluh orang dari kelompok
pemukiman kami di Phum Chhleav berangkat berombongan, berjalan sambil memanggul
cangkul menyusur jalan kecil berkelok-kelok, melewati sawah-sawah dan hutan.
Banjir yang terjadi selama tahun-tahun yang silam menyebabkan rusaknya sebuah
jalan tanah yang sudah tua. Arus air mengikis permukaannya dan menimbulkan
alur-alur yang dalam. Kami mulai bekerja dengan cangkul yang kami bawa,
memasukkan tanah ke dalam keranjang-keranjang yang kemudian kami pikul. Selain
kami tidak ada orang lain di sekitar situ. Desa pun tidak ada. Kami bekerja
selama delapan hari, dengan makanan yang tidak mencukupi. Akhirnya kami kembali
dengan badan lunglai ke Phum Chhleav. Sesampai di sana kulihat Huoy duduk di
tanah di luar gubuk kami, menunggu aku pulang.
"Kau
kurusan," katanya.
"Berat
badanku turun sekali, Sayang. "
Ia
berdiri lalu merangkulku dengan penuh kasih sayang. Ia merangkulku terus,
seakan tidak mau lepas lagi. Ia seorang diri selama aku pergi. Sendirian dan
cemas memikirkan diriku, ditambah kesedihan ditinggal ibunya. Setelah aku kembali
pun baru beberapa hari kemudian keadannya baru bisa pulih lagi seperti biasa.
"Kau
dipukul Angka, atau dihukum?"
"Tidak,"
jawabku. "Kami cuma disuruh bekerja keras. "
"Aku
punya makanan untukmu," katanya.
"Apa?"
"Coba
terka," katanya. Jadi mestinya sesuatu yang istimewa.
"Aku
tidak tahu."
"Aku
memasak tikus untukmu. Tikus sawah. Aku tahu, kau akan pulang hari ini."
Seakan-akan
aku saat itu baru pulang dari bepergian untuk urusan bisnis dan ia memasakkan steak
atau ikan yang enak sekali untukku, selaku istri yang baik. Tikus itu
diperolehnya dengan jalan menukarnya dengan beberapa potong pakaian peninggalan
ibunya. Ia merawat diriku sebisa-bisanya, dan itu tidak dikurangi oleh
kenyataan bahwa sewaktu kami masih tinggal di Phnom Penh kami takkan mau makan
tikus. Di pedusunan sini, tikus merupakan hidangan sedap.
Kami
memakan hidangan itu, dan daging tikus yang hanya sedikit itu enak rasanya. Aku
merasa terharu oleh apa yang telah dilakukan oleh Huoy, dan cemas melihat bahwa
ia masih saja dirundung kesedihan .
Keesokan
harinya aku pergi bekerja di sawah dekat jalan kereta api. Aku dan Huoy dalam kelompok
sama yang terdiri dari sekitar seratus orang "baru". Huoy dan para
wanita selebihnya dalam kelompok itu diberi cangkul dan diperintahkan untuk
memecah tanah lapisan atas di tempat yang belum dikerjakan. Kami, kaum pria, digiring
oleh dua orang serdadu yang umurnya baru belasan tahun ke petak-petak sawah
yang sudah dicangkuli tanahnya. Dekat sebuah bukit kecil ada sekitar delapan
bajak dari kayu serta tiga atau empat ekor sapi. "Saat ini kita kekurangan
sapi," kata salah seorang serdadu itu kepada kami. "tapi sawah ini
harus dibajak. Jika kita tidak melakukannya dan kita tidak menanam padi, nanti
kita tidak punya apa-apa untuk dimakan."
"Aduh,
ampun," kataku dalam hati. "Masa manusia dikerahkan untuk membajak?
Inikah yang harus kita lakukan untuk membangun masyarakat maju yang mereka
sebut-sebut itu - kembali ke zaman purba?"
Tatapan
tolol orang yang kecerdasannya terbatas berbaur di wajah serdadu itu dengan
kemuakan yang nampak nyata terhadap kami, orang-orang kota. Ia menggenggam
cemeti panjang yang terbuat dari kulit yang dijalin.
"Kau,"
katanya sambil menuding seorang lelaki. "Ambil bajak. Kau juga, dan
kau." Mudah-mudahan saja ia tidak menuding ke arahku, kataku dalam hati.
Orang-orang dari golongan etnis Cina dalam kelompok itu mengumpat-umpat dalam
dialek Teochiew. Mereka mengatakan bahwa biar bagaimana mereka tak kan mau melakukannya.
Serdadu
itu menuding ke arahku.
Aku
melangkah, menghampiri bajak-bajak itu.
"Kau,"
kata serdadu itu. "Ambil bajak ini dan pergi ke sisi kanan."
Aku
mengambil tempat di sisi kanan bajak, di belakang palang penghela. Saat itu
hanya kummonuss saja yang ada dalam
pikiranku. Di sisi kiriku berdiri seekor sapi betina. Mulut sapi itu bergerak-gerak
menyamping, sibuk mengunyahngunyah, sambil mengibas-ngibaskan ekor mengusir lalat.
"Sekarang jalan," kata serdadu itu sambi! melecutkan cemetinya di
atas kepala. Aku mulai bergerak, mendorong palang penghela. Sapi di sisiku
melangkah maju, menarik palang itu. Serdadu itu berjalan di belakang bajak sambil
mengendalikannya. Kakiku yang tidak beralas melangkah di atas gumpalan-gumpalan
tanah yang ditumbuhi rumput liar. Hujan rintikrintik yang sudah beberapa kali
turun telah melunakkan tanah tapi hanya lapisan atasnya saja. Tanah masih tetap
pecah-pecah sebagai akibat kemarau yang panjang dan panas. Ketika kami sampai
di pinggir petak, serdadu tadi menekan ujung mata bajak ke dalam tanah, masuk
sampai melewati batas tanah yang sudah dicangkul. Bajak nyaris terhenti. Aku
masih mampu menggerakkan maju terus dengan cara lebih kuat lagi mendorong. Tapi
sapi di sisiku lebih kuat, dan bajak itu bergeuk membelok ke kanan. Aku harus
mendorong sekuat tenaga agar alur bajak bisa tetap lurus. Kami membajak sepanjang
satu sisi petak sawah, sementara sinar matahari pagi menyilaukan mataku. Lama
sekali kami baru sampai di ujung petak itu. Akhirnya kami membelok, lalu mulai
membajak sisi yang lain. Aku mendengar bunyi ketukan berirama. Datangnya dari
satu sisi di belakangku, kemudian beralih ke sisi lainnya. Aku menoleh ke
belakang. Kulihat sebuah gerobak datar berukuran kecil meluncur di atas rel.
Empat orang lelaki berdiri di atasnya, masing-masing dua di sisi kiri dan
kanan. Semua memegang galah bambu yang panjang, yang dipakai untuk mendorong
seperti sedang naik rakit di sungai, Gerobak itu meluncur dengan laju dan tidak
lama kemudian suara tadi sudah tidak terdengar lagi.
Aku
mencondongkan tubuhku kembali ke depan dan terus mendorong. T api palang
penghela terlalu tinggi kedudukannya, kira-kira sebatas tengkukku. Aku ingin
letaknya lebih rendah, karena sikap lenganku yang meraih ke atas menyebabkan
otot-otot bahu dan punggungku tertarik. Telapak tanganku melepuh sebagai akibat
bekerja membetulkan jalan. Aku bisa merasakan bagian-bagian yang melepuh itu
pecah dan cairan di dalamnya mengalir ke luar.
Aku
memandang ke arah petak-petak sawah yang lain. Kulihat orang-orang lain yang
lelaki membajak berpasangan dengan sapi, dan di tempat yang lebih jauh lagi rombongan-rombongan
wanita dengan cangkul-cangkul mereka yang diayunkan naik-turun. Penglihatanku
tidak bisa jauh karena terhalang bukit-bukit kecil, tapi di segala arah yang
kupandang nampak kaum lelaki dan wanita yang sedang bekerja. Di atas
pucuk-pucuk pepohonan di sebelah barat, nampak menjulang gunung yang ada dua
bintik putihnya. Sang Budha tolonglah aku, doaku dalam hati. Tolonglah kami
semua. Berilah kami kekuatan agar bisa bertahan terus.
Bajak
yang kudorong membelok ke kanan, menuju ke pematang di pinggir.
"Cepat
sedikit!" seru serdadu yang ada di belakangku. "Kalau tidak bisa,
kupecut kau nanti. Ia melecutkan cemetmya di udara, di atas kepalaku dan sapi
itu.
Aku
mencondongkan tubuhku ke depan lagi, mendorong palang penghela . Tengkuk dan
kepala sapi merintangi pandanganku ke sebelah kiri. Sapi itu masih terus
mengunyah-ngunyah, dan liurnya menetes dari dagunya yang berambut. Telinganya dlgerak-gerakkan
untuk mencegah serangga hinggap di dekat siti, tapi ketika ada serangga menggigit
kaki depannya sapi itu menundukkan kepalanya lalu menjilat tempat yang digigit
tadi dengan lidahnya yang panjang, tebal, dan kasar seperti amplas. Kudengar
bunyi napasnya yang lambat dan teratur serta desir ekornya yang dikibas-kibaskan.
Kenapa makhluk segoblok sapi bisa sekuat itu? tanyaku dengan heran dalam hati.
Keringatku
mengucur, membasahi ketiak dan dada. Kulepaskan palang penghela sebentar untuk menyeka
keringat dengan kramaku agar jangan sampal masuk ke mata. Tapi dengan segera
aku sudah mulai mendorong lagi.
Kenapa
dewa-dewa bisa begitu buta? kataku dalam hati. Adakah suatu perbuatan buruk
yang kulakukan dalam kehidupan yang lalu sehingga mi harus kulakukan sekarang?
adakah sesuatu yang buruk dalam kamaku?
Kehidupan
begitu baiknya dulu, sewaktu masih di Phnom Penh. Begitu santai dan makmur. Pasien-pasienku
bersompeah padaku dan bersikap sopan
jika berbicara padaku. Aku dan Huoy berbahagia waktu itu. Sama sekali tidak ada
yang menjadi pikiran. Hampir setiap malam kami makan-makan di restoran, dan
selalu makan sampai kenyang. Tapi sekarang tidak lagi. Kini tidak ada bakmi
goreng. Tidak ada ikan yang dimasak dengan jeruk sitrun dan ketumbar. Huoy setiap
malam berbicara tentang resep-resep kegemarannya. Ia teringat pada
hidangan-hidangan manis penutup santapan yang dulu biasa dibuatkannya untuk
orangtuaku. Ia ingin kami punya lebih banyak makanan. Pipinya sudah tidak montok
lagi seperti dulu. Berat badannya menyusut.
Aku
berusaha keras mengikuti langkah sapi itu. Tapi napasku sudah berat. Kudengar
bunyi napas dan langkahku, langkah kaki-kaki sapi dan kicauan burung-burung.
Mendengarkan
burung-burung berkicau seperti itu! Kapan saja mereka mau, mereka terbang dari pohon
yang satu ke pohon lainnya. Mereka pergi kemana saja mereka mau. Apabila mereka
menemukan makanan, mereka bisa memakannya. Keadaan kami tidak semudah itu. Kami
hewan penghela, seperti sapi-sapi itu. Jadi mungkin kama kami yang buruk, sangat buruk. Emak rupanya sudah tahu bahwa
kehidupan akan menjadi seperti begini. Ia selalu punya firasat tajam. Karenanya
ia memilih lebih baik mati menenggelamkan diri di dalam telaga. Kuharapkan
semoga dalam kehidupan yang berikut ia –
TARR!
Kenyerian menyambar punggungku.
"He!"
teriakku marah. "Bagaimana aku bisa mendorong jika aku kaupecut? Biarkan
aku istirahat dulu sebentar. Nanti aku bisa meneruskan bekerja lagi."
"Selesaikan
dulu petak ini dan setelah itu kau boleh istirahat," jawab serdadu itu.
Tapi setelah beberapa kali membajak sepanjang petak ia berhenti sebentar untuk
menggulung rokok dan menghisapnya. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk
beristirahat. Aku memandang berkeliling. Seorang wanita di petak sebelah
memandang ke arahku sementara tangannya yang satu memegang cangkul. Ia berdiri
tanpa bergerak. Tangannya yang satu lagi mendekap mulut, seperti menahan agar
jangan sampai berteriak. Wanita itu Huoy. Tapi karena aku tidak memakai
kacamata, aku tidak bisa melihat gerak wajahnya.
Ketika
rokok yang diisap oleh serdadu itu sudah habis, kami meneruskan pekerjaan
membajak. Matahari pagi masih rendah letaknya di langit, sementara hawa lembab
dan panas. Aku tidak mengerti kenapa matahari memerlukan waktu begitu lama
untuk bergerak melintasi cakrawala. Aku masih beberapa kali lagi dipecut serdadu
itu. Setelah sekian waktu yang rasanya seperti berhari-hari, terdengar bunyi
gong dipukul di kejauhan. Saat makan siang sudah tiba. Serdadu-serdadu kembali
ke dapur mereka di deretan tiga rumah yang di dekat saluran irigasi tua, dan
beberapa mit neary berpakaian hitam datang
mengantarkan makanan kami, berupa air tajin asin yang keruh dengan beberapa
butir nasi di dasarnya.
Telapak
tanganku melepuh, begitu pula kulit sebelah dalam persendian pertama dan kedua
jari- jari serta antara jempol dan telunjuk. Bahu, punggung, dan betisku terasa
pegal. Urat tumitku nyeri. Tapi yang paling nyeri rasanya adalah tempat-tempat
yang disambar cemeti tadi.
"Makanlah
bagianku, Sayang," kata Huoy.
"Tidak,
aku tidak apa-apa. Aku tidak begitu berselera makan."
"Ayo,
kau sajalah yang memakannya. Kau perlu tenaga. Aku tidak bisa memakannya."
Sesudah
makan, aku dan serdadu yang tadi melepaskan mata bajak dari gagangnya dan
menggantinya dengan garu yang panjang, untuk memecah gumpalan-gumpalan tanah
yang dibalikkan oleh mata bajak dan untuk meratakan galur-galur. Serdadu itu
tidak begitu suka berbicara.
"Satu
petak saja pun belum selesai dibajak." Hanya itu saja yang dikatakannya
padaku.
Sepanjang
siang ia berdiri di atas garu untuk membenamkan ujung-ujungnya ke dalam tanah. Karena
ditambah bobot badannya, terasa lebih berat menghela garu daripada mata bajak.
Kami bergerak berkeliling petak. Pada satu sisi nampak pemandangan gunung yang
ada bintik-bintik putihnya, tapi aku tidak memperhatikannya lagi. Saban kali
aku kembali memandang matahari yang tidak bergeming di langit.
Menjelang
sore, regu perawatan jalan kereta api lewat lagi di atas rel. Mereka menggalah
dengan giat, dan gerobak datar mereka meluncur lebih cepat daripada angin
menuju ke stasiun kereta Phnom Tippeday.
Menjelang
saat matahari terbenam gong berbunyi lagi dan kami berhenti bekerja. Tidak satu
petak sawah pun kami selesaikan pembajakan atau penggaruannya.
Ketika
sudah berada kembali dalam gubuk reyot kami, Huoy menjerang air dan membuat kompres
panas dengan menggunakan carikan-carikan kain. Kompres itu diletakkannya di
atas bilur-bilur bekas lecutan cemeti yang melengkung lewat bahu dan tengkukku
sampai ke sebelah atas dada. Huoy menangis. Ia lebih merasakan kenyerianku ketimbang
aku sendiri. Aku saat itu capek sekali, sehingga tidak begitu merasakan apa-apa
lagi.
"Tadi
aku berdoa, memohon pada arwah Emak agar kita dijemput ke tempatnya," kata
Huoy. "Aku tidak mengerti untuk apa kita terus hidup, diperlakukan seperti
begini. Sebaiknya kita dibunuh saja sekarang oleh Khmer Merah, sehingga urusan
selesai."
Aku
tidak tahu apa yang harus kukatakan. dalam hati aku berpendapat: Emak pintar,
la bunuh diri. Malam itu hujan turun. Hujan lebat dan lama, dengan kilat
menyambar-nyambar dan bunyi guruh bergulung-gulung, dan air mengucur ke dalam
gubuk dari tempat-tempat yang bocor. Keesokan paginya aku kembali membajak,
tapi tanahnya kini sudah lebih lunak. Dan bahkan para serdadu pun mengakui
kekeliruan mereka. Kini setiap sapi dipasangkan dengan tenaga dua orang, Dan
pada bajak yang tidak ada sapinya, dikerah- kan tenaga empat orang untuk
mendorong.
Musim
hujan akhirnya tiba juga di Battambang. Hujan yang dingin dan nyaris tidak
kenal berhenti. Sesudah beberapa jam kehujanan kulit jemariku menjadi putih dan
keriput, seperti apabila terlalu lama berendam dalam air. Kami membajak di
tengah hujan. Keong-keong bermunculan di tanah, dan ketika aku memungut seekor,
punggungku langsung disambar cemeti. "Jika kau membuang-buang waktu untuk
mengambil keong seperti itu, kapan kita bisa selesai?" teriak serdadu yang
ada di belakangku. "Kau tidak suka makanan yang diberikan Angka padamu? Apakah
itu tidak mencukupi?"
Tidak
ada yang bisa dikatakan tanpa menghina Angka, Karenanya aku diam saja. Tapi aku
tidak bisa mengerti, apa alasannya tidak boleh memungut keong.
Malam
hari aku mencari bahan pangan dengan bantuan nyala lampu minyak dalam kaleng
yang sisi dalamnya memantulkan cahaya. Tapi hanya kodok-kodok kecil dan
keong-keong saja yang bisa ditemukan di dekat-dekat tempat kami. Dari arah
dekat rumah-rumah yang ditempati para serdadu terdengar bunyi berondongan
tembakan senapan. Aku tidak berani pergi ke sawah atau ke saluran-saluran air
dan kolam-kolam, di mana pasti banyak ikan dan kodok yang besar-besar.
Berat
badanku yang biasanya sekitar 67½ sampai 70 kg turun menjadi 57½ kg. Kemudian aku
mulai terpaksa terbirit-birit lari ke semak-semak ketika sedang membajak.
Mulanya kusangka itu hanya mencret yang biasa saja. Tapi kemudian kulihat ada
lendir berwarna putih di tanah, lalu lendir kekuningan dan darah berwarna gelap
keunguan. Saat itu kusadari bahwa aku sakit. Sakit parah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar