Aku ingin membaktikan buku ini sebagai kenangan kepada ayahku, Ngor Kea, ibuku, Lim Ngor, istriku, Chang Huoy (Chang My Huoy), yang tewas secara teramat sengsara, biadab, dan tanpa perikemanusiaan di bawah rezim komunis Khmer. Buku ini kutulis agar dunia bisa lebih memahami komunisme serta rezim-rezim lainnya di Kamboja.

Rabu, 02 Januari 2013

Neraka Kamboja - Bab 14 : Bajak


14
BAJAK

KAMI, orang Kamboja, percaya kepada kama, atau karma-suatu konsep religius yang kira-kira berarti nasib atau peruntungan. Kama seseorang bergantung pada apa yang dilakukannya dalam kehidupan yang sekarang dan dalam kehidupan-kehldupan sebelumnya. Jika ia suka berbuat buruk maka pada suatu ketika ia pasti akan menderita, dalam kehidupan sekarang atau yang berikut. Begitu pula, jika ia biasa berbuat baik maka peruntungannya pada suatu ketika akan menjadi lebih baik, dalam kehidupan sekarang atau yang berikut. Siklus kelahiran dan kelahiran kembali berlanjut terus, dan kama masing-masing akan melekat terus pada jiwa yang bersangkutan .

Kama Emak sangat bagus. Ia senantiasa baik hati. Ketaatannya beribadat menyebabkan pahalanya banyak. Kehidupannya yang berikut pasti akan lebih baik. Kami merasa rindu kepadanya dan ingin ia ada lagi bersama kami. Tapi kami tidak mengkhawatirkan kesentosaan jiwanya.

Kehidupan kami sendirilah yang lebih kami khawatirkan, kehidupanku dan Huoy. Adakah sesuatu dalam kehidupan kami yang lalu, perbuatan perbuatan buruk yang kami lakukan, yang mengakibatkan kami kini mengalami penghukuman lewat rezim ini? Banyak orang Kamboja yang berpendapat begitu. Tapi mereka pada umumnya penganut aliran-aliran Budhisme yang agak mistis dan berselubung takhyul. Mereka percaya bahwa ramalan-ramalan kuno kini menjadi kenyataan dan bahwa Kamboja sedang dihu- kum atas dosa-dosa yang dilakukan jauh di masa silam. Mereka tunduk kepada Khmer Merah, dengan sedih tapi tanpa berkeberatan, seakan memasrahkan diri kepada nasib. Aku tidak sependapat. Bagiku, terlepas dari baik-buruknya kama kita, Khmer Merah perlu dilawan. Jika tidak mampu melawan mereka dengan terbuka dan secara fisik, bisa saja dilakukan perlawanan di dalam, di medan tempur batiniah. Pagi keesokan harinya, ketika aku dan Huoy sedang berjalan menyusur rel, dua orang dokter kenalanku menggabungkan diri. Kami pun bercakap-cakap.

"Ya, kami religius," kata salah seorang dari mereka, seorang spesialis mata, "tapi kami juga didikan universitas. Pikiran kami memiliki kemampuan mengamati dan menarik kesimpulan. Gampang saja menimpakan segala-galanya kepada kama, tapi dalam kenyataannya kejadian-kejadian dunia yang nyatalah yang menciptakan rezim baru ini. Ketika Sihanouk masih berkuasa, kita dibimbingnya pada haluan yang netral, tapi sesudah dia kita bergerak dari keekstreman yang satu ke ke-ekstreman lainnya. Mula-mula kita pergi ke pihak kanan yang korup seperti Lon Nol, dan kini kita beralih ke golongan kiri yang gila. Jlka kita kini dihukum karena sesuatu, maka itu adalah karena kita meninggalkan haluan tengah."

"Aku sependapat dengan Anda," ujar Huoy. Kita terpelajar, dan klta harus senantiasa memakai otak kita. Tapi dalam segala tulisan tentang sejarah yang pernah kubaca, tentang Eropa dan tentang Asia, belum pernah ada rezim semacam yang sekarang ini. Di tempat pemukiman kami yang terakhir, mereka mengatakan bahwa proyek kami sudah selesai, padahal saluran air yang sedang kami kerjakan masih berada pada tahap awal pembuatannya. Kemudian mereka mengatakan bahwa kami boleh pergi untuk kembali ke desa-desa asal kami, tapi kenyataannya mereka mengirim kami kemari. Mereka selalu saja bohong Kapan sebelum ini pernah ada rezim yang seperti ini?"

Kami terus melangkah di jalan kecil yang menelusur rel.

"Istri anda benar, Ngor," kata kenalanku yang satu lagi, seorang dokter anak. Ia mengatakannya sambil merenung? "Rezim-rezim komunis yang lain saja pun tidak begitu banyak bohongnya dibandingkan dengan Khmer Merah. Lihat saja Cina . Komunis disana merampas harta milik pribadi dan menyuruh orang-orang kota pergi ke pedesaan. Tapi mereka selalu berbicara tentang adanya dukungan rakyat. Tidak timbul perasaan bahwa pemerintah Cina bersikap memusuhi rakyat, seperti halnya rezim di sini."

“Tanpa Cina, Khmer Merah takkan mungkin bisa bertahan," kata dokter yang spesialis mata dengan murung. Ia sendiri berdarah Cina dan berkulit kuning. "Segala persenjataan dan pakaian seragam Khmer Merah merupakan pemberian Peking, jadi mestinya mereka bisa menuntut sesuatu sebagai imbalannya. Setidak-tidaknya, Peking bisa saja menaruh Sihanouk sebagai pimpinan rezim di sini. "

"Nanti dulu, Sobat," kata dokter yang spesialis anak, "Anda keliru jika beranggapan bahwa Cina memiliki pengaruh terhadap Khmer Merah. Khmer Merah selalu bicara tentang kemerdekaan. Mereka ingin mengendalikan revolusi mereka sendiri .

 "Tapi Anda keliru jika beranggapan bahwa orang-orang komunis itu mengendalikan revolusi mereka," kataku. "Lihat saja kekacauan yang terjadi sewaktu semua orang harus meninggalkan Phnom Penh. Segala penderitaan yang tidak perlu terjadi, seperti misalnya para pasien yang dipaksa meninggalkan rumah sakit. Itu mengakibatkan berkurangnya dukungan rakyat terhadap Khmer Merah. Begitu pula halnya dengan ucapan-ucapan bohong . Sungguh, orang-orang seperti Khieu Samphan yang berada di pucuk pimpinan Khmer Merah, mereka itu berpendidikan tinggi; tapi orang-orang yang ada di bawah mereka, membaca dan menulis saja tidak bisa. Mereka tidak tahu ke mana arah tujuan revolusi mereka. Mereka bahkan tidak tahu bahwa mereka komunis."

"Tentu saja mereka tahu."

"Tidak, mereka tidak tahu," kataku dengan tandas. "Pernahkah Anda mendengar mereka menyebutkan kata 'komunis'?"

"Ya, betul juga," kata kenalanku yang dokter anak, setelah merenung sesaat. "Tapi kalau begitu, apakah mereka itu?"

"Kum-monuss," kataku. Semuanya tertawa.

Ucapanku itu merupakan permainan kata-kata: kum berarti dendam kesumat yang akhirnya meledak dalam wujud amukan, sementara monuss berarti orang, manusia. "Itulah mereka yang di lapisan bawah," kataku, “'manusia-manusia dendam'. Mereka tahunya hanya bahwa orang-orang kota seperti kita ini dulunya suka memerintah-merintah mereka, dan ini kesempatan bagi mereka untuk melakukan pembalasan. Itulah mereka: komunis di pucuk pimpinan, dan kum-monuss di lapisan bawah."

Kami terus berjalan lambat-lambat menyusur rel dibawah sinar matahari pagi, sambil bercakap-cakap tentang komunis dan kum-monuss serta tentang nasib negara. Pertanyaan pokok dalam kehldupan kami waktu itu adalah apa yang kini akan dilakukan oleh Khmer Merah setelah mereka berkuasa; hal itu merupakan teka-teki yang tidak bisa kami temukan jawabannya. Kami melintasi bantalan rel dengan genangan-genangan air coklat berlumpur di bawahnya. Beberapa kali kami berhenti sebentar untuk menolong orang-orang sakit yang melepaskan lelah di tepi rel. Mereka pada umumnya sakit perut karena minum air kotor. Tapi meski kami dokter, hanya sedikit yang bisa kami lakukan untuk mereka, karena tidak berbekal obat.

Mcnjelang tengah hari kami sampai di tempat tujuan, Phum Chhleav. Sudah ribuan orang yang tiba lebih dulu dari kami di situ, dan masih banyak lagi yang berdatangan. Menurut penghitungan yang kemudian dilakukan, jumlah keseluruhannya tujuh ribu delapan ratus orang. Di Phum Chhleav tidak ada stasiun kereta api, yang ada hanya jalur rel untuk tempat langsir. Sekitar seratus meter dari tempat langsir itu, di mana ada jembatan yang melintas di atas saluran irigasi yang tidak berair, ada tiga buah rumah panggung. Ketiga rumah itu ditempati serdadu-serdadu dan para administrator Khmer Merah. Tempat yang ditunjuk bagi kami orang-orang "baru", yang letaknya di seberang rel, ditumbuhi pohon-pohon mangga yang berjajar dua. Tapi sarna sekali tidak ada bangunan di situ.

Kami disuruh memilih lahan dan membangun rumah untuk kami sendiri. Aku meminjam pisau lalu pergi memotong sejumlah bambu yang kurus-kurus, serta gelagah dan akar tumbuh-tumbuhan menjalar. Dengan dibantu Huoy, kutegakkan bambu dan gelagah lalu kuikat untuk dijadikan dinding rumah. Kami tukarkan sehelai sampot peninggalan Emak yang terbuat darisutera dengan beberapa lembar atap kajang, yang kemudian kami jadikan penaung ditambah dengan lembaran plastik putih kami.

Ketika kami akhirnya selesai dan memandang pondok buatan kami itu, tidak banyak yang bisa dikagumi. Pondok baru kami itu bahkan lebih payah daripada pondok kami yang pertama, di Tonle Bati. Tempat kediaman kami yang ini berupa gubuk kecil beratap rendah dan hanya terdiri dari satu ruangan saja. Begitu ada angin kencang bertiup, nampaknya gubuk kami itu pasti roboh. Lewat celah-celah dinding yang terbut dari gelagah orang bisa melihat ke dalam, jadi air hujan pun pasti bisa masuk. "Dapur" di dalamnya hanya berwujud tiga bongkah batu yang diletakkan membentuk segitiga, untuk tempat menaruh kuali. Kami membuat hamparan untuk tempat tidur dari gelagah yang ditumpuk-tumpukkan lalu dilapisi rumput agar lebih empuk rasanya jika dibaringi. Tidak jauh dari tempat kami, Ayah dan saudara-saudara lelakiku membangun pondokpondok mereka yang keadaannya sedikit lebih baik ketimbang gubuk kami.

Sesudah beberapa hari, ketika di seluruh penjuru Phum Chhleav sudah berdiri bangunan-bangunan ringkih yang membuat daerah pertanian itu menjelma menjadi kawasan pemukiman kumuh yang penuh sesak, Khmer Merah mengadakan rapat yang harus dihadiri oleh semua kepala keluarga. Sekitar seribu orang dari kami datang mengha- dirinya. Kami duduk di tanah dekat rel, menunggu kedatangan orang yang akan berpidato. Saat itu masih pagi, tapi hawa sudah panas. Tanah nampak kering dan berwarna coklat, sementara ,langit berawan tipis. Pegunungan Cardamom menjulang jauh di sebelah selatan, terpencil dan tanpa keraamahan. Di sebelah barat, di belakang tempat dimana terdapat stasiun kereta Phnom Tippeday, nampak menjulang sebuah gunung dengan punggung yang memanjang berlekuk-lekuk, mendominasi pemandangan ufuk di sana. Pada sebuah dataran di bawah garis punggung gunung itu nampak dua bintik putih. Bintik yang kecil adalah sebuah stupa atau monumen makam, sementara yang lebih besar adalah sebuah kuil Budha. Di tengah daerah persawahan yang datar dan tidak ditanami di kaki gunung itu nampak sosok seseorang menunggang kuda, menuju ke tempat kami. Ia menunggang kudanya tanpa pelana dan sanggurdi , Kudanya yang kurus dan berpunggung melengkung lari tanpa bergegas, meniti pematang yang rendah.

Kuda dan penunggangnya semakin mendekat: langkah kuda berlari terdengar menderap di tanah yang keras. Akhlrnya orang itu menghentikan kudanya, meluncur turun dan punggung yang tak berpelana dan berdiri di depan kami: seorang lelaki tua bertubuh kurus dan berkulit coklat tua, tanpa kemeja dan alas kaki.

Ia memandang berkeliling, lalu tersenyum pada kami. Tidak ada satu gigi pun yang nampak pada gusinya yang sebelah atas, ompong sama seperti bayi; di gusinya yang sebelah bawah masih melekat beberapa buah gigi.

"Selamat datang di Phum Chhleav," katanya. Angka menugaskan kalin datang kemari untuk membangun masyarakat baru. Kalian harus bekerja keras, tapi kalian harus sabar. Pada waktu ini Angka miskin keadaannya. Angka akan menyediakan makanan, tapi kadang-kadang tidak bisa mencukupi. Dan ada kalanya makanan akan terlambat datang ."

Kami mendengarkan dengan perasaan yang semakin kecut. Khmer Merah boleh dibilang tidak pernah mengakui kekurangannya . Jika mereka mengatakan makanan akan tidak mencukupi, maka itu mungkin nanti bahkan bisa berarti kami akan mengalami bencana kelaparan.

"Kalian harus mengerti," kata orang itu, "kita baru saja bebas dari kaum kapitalis penindas kita. Sihanouk" -tiba-tiba terdengar reaksi pelan di tengah kerumunan orang ketika nama itu disebut -"membantu membebaskan kita dari Lon Nol serta antek-anteknya. Kita sudah bebas sekarang, tapi keadaan ekonomi negeri kita masih belum menjadi lebih baik. Jadi kita harus berkorban . Kita akan mengikuti prinsip-prinsip 'Tiga Gunung’. Kita akan meraih kemerdekaan berdaulat mengandalkan kekuatan sendiri, dan mengendalikan nasib kita sendiri: Bagi kalian masing-masing ini berarti jika kalian bekerja keras, kalian akan mendapat makan. Jika kalian tidak bisa bekerja, kalian akan lapar."

Aku menunggu untuk melihat apakah masih ada lagi yang akan dikatakannya tentang Sihanouk. Seperti semua yang ada di situ, aku berharap Sihanouk akan tampil kembali dan mengambil-alih pengendalian pemerintahan dari tangan Khmer Merah. Tapi lelaki tua itu hanya sekali itu saja menyebut nama Sihanouk, secara sambil lalu pula. Baginya, Sihanouk tidak lebih dari satu figur kecil saja dalam sejarah. bicara tentang pentingnya bagi kami, orang kota, untuk belajar dari kaum petani, bahwa kami membangun rumah kami sendiri dan menanam padi. Kami akan mulai dengan tangan kosong dan membangun negara. Aku duduk diam-diam sambil pura-pura mendengarkan dengan penuh perhatian. Padahal semuanya itu sudah pernah kudengar sebelumnya.

Dari sikap lelaki tua itu, yang bernama Kawan Ik, nampak bahwa ia biasa dipatuhi. Kemungkinan ia dulu kepala kampung di daerah pedesaan sebelum menjadi administrator sipil untuk rezim Khmer Merah. Ia memakai krama yang sudah lusuh yang dililitkan di pinggang, celana pendek berwarna hitam, serta sarung yang dilipat dua - sedikit di atas lutut. Cara berpakaiannya itu gaya petani, kecuali sarungnya yang terbuat dari bahan sutera. Sebelum revolusi hanya sedikit saja yang mampu memiliki kain sutera, kecuali yang memiliki usaha budidaya ulat sutera. Tapi sekarang,

mereka yang menggabungkan diri dengan Khmer Merah bisa memperoleh krama dan sarung sutera dari orang-orang "baru" yang ketakutan menghadapi mereka. Bagi Khmer Merah, sutera merupakan lambang kedudukan, dan banyak di antara mereka di Propinsi Battambang yang memakainya.

Lelaki tua itu berlogat Battambang. Di dalam negeri Kamboja, Battambang terkenal karena hasil sawahnya. Dengan kawasannya yang datar berlahan subur, beras yang dihasilkan propinsi itu cukup untuk kebutuhan konsumsi seluruh negeri. Setidak-tidaknya begitulah keadaannya, sebelum perang.

Mestinya itulah sebabnya kenapa kami diangkut ke Phum Chhleav, kataku dalam hati. Menanam padi untuk keperluan rezim. Memulihkan Battambang ke kedudukannya semula, sebagai lumbung padi Kamboja. Tempat kami terletak dekat jalan kereta api, yang memudahkan pengangkutan beras, namun jauh dari segala godaan yang ada di kota-kota. Ya, mereka hendak mengasingkan kami di sini. Sudah cukup bagiku untuk memandang lelaki tua itu, dengan dada dan kakinya yang telanjang, untuk mengetahui dengan pasti bahwa mulai saat itu kami akan menjalani kehidupan yang semakin bercorak pedusunan.

******

Keesokan harinya kami mulai bekerja. Kami berangkat ke sawah yang sudah lama terbengkalai Dengan membawa cangkul, lalu mulai memacul permukaan tanah yang sudah mengeras di situ. Hari terasa panjang, dan di ujungnya tidak ada makanan. Jika kami tidak diberi makan yang mencukupi oleh Khmer Merah, demikian pertimbanganku - jatah yang mereka berikan rata-rata sekitar satu kaleng beras dua hari untuk setiap orang - maka tidak ada gunanya bekerja. Itu merupakan hal yang gampang, di tengah suasana kacau tempat pemukiman besar yang masih baru seperti Phum Chhleav.

Keesokan harinya, beberapa saat sesudah matahari terbit, aku dan Huoy serta sepasang orang "baru" lainnya, pergi meninggalkan Phum Chhleav. Kami menuju sawah yang tidak sedang kita kerjakan, sambil berjaga-jaga jangan sampai terpergok serdadu. Begitu sampai di tempat tujuan, kami boleh dibilang sudah tidak nampak lagi dari pandangan orang lain. Di sana-sini di tengah daerah persawahan itu terdapat bukit-bukit kecil, seperti pulau-pulau di tengah laut. Bukit-bukit kecil itu ditumbuhi belukar, atau pepohonan, atau rumpun bambu. Bukit-bukit itu sebenarnya sarang rayap. Itu merupakan pemandangan yang lazim di daerah tropik. Tingginya sepinggang, bahkan ada yang sampai sebatas kepala, sementara panjangnya bisa sampai belasan meter. Tidak mungkin bisa melihat lewat tumbuhan yang memenuhi bukit-bukit kecil itu, yang begitu banyak jumlahnya tersebar di seputar tempat kami, sehingga penglihatan terbatas antara lima puluh sampai beberapa ratus meter saja. Tapi punggung gunung yang ada kuilnya nampak jelas menjulang di atas bukit-bukit kecil itu, sehingga ada pegangan bagiku untuk menentukan arah langkah.

Tujuan kepergian kami dengan sembunyi sembunyi itu ialah untuk mengumpulkan apa saja yang bisa dimakan. Di Kamboja ada peribahasa jenaka tentang makanan: "Makanlah apa saja yang berkaki dua kecuali tangga, yang berkaki empat kecuali meja, dan apa saja yang terbang kecuali pesawat udara." Maksudnya ialah, kita tidak bisa bersifat pemilih jika mencari nafkah dari hasil tanah. Kaum petani Kamboja, yang mahir dalam cara hidup dari hasil tanah saja, kadang-kadang memakan rayap untuk mendapatkan protein, meski banyak bahan makanan lain yang lebih mereka sukai. Lagi pula, sampai musim hujan tiba-yang di Battambang datangnya lebih lambat daripada di bagian timur Kamboja - takkan bisa ditemukan rayap di atas tanah.

Kami mulai dengan mencari tikus sawah. Kami meringkuk dekat liang mereka di pematang sawah dan kami coba menangkap mereka dengan jala untuk menangkap ikan. Sesudah beberapa jam mencoba dengan sia-sia, akhirnya barulah kuingat bahwa tikus sawah selalu punya jalan masuk lain ke liang. Aku sedikit-banyak memiliki kemahiran berburu dan mencari bahan pangan yang kuperoleh semasa kecilku, tapi berburu tikus tidak termasuk di dalamnya.

Setelah itu kami berburu semut merah. Mereka ini hidupnya dihutan-hutan bertanah pasir, dan membuat sarang di ranting-ranting pohon. Peni duduk daerah pedusunan di Kamboja memasuk- kan semut merah ke dalam sop mereka sebagai tambahan protein dan supaya hidangan itu mengandung. kerenyahan. Mereka juga memasak telur semut. Telur itu berwarna putih, lunak dan asam rasanya. Yang menjadi masalah adalah bagaimana caranya mengumpulkan semut tanpa digiigit. Begitu didekati, semut-semut itu langsung menegakkan tubuh dengan kaki depan dan jepitan di mulut bergerak-gerak, siap untuk menggigit. Jika kita bergerak ke kiri, mereka juga bergerak ke arah yang sama. Kita ke kanan, mereka ikut bergerak ke kanan. Meski tubuh semut kecil, tapi mereka merupakan makhluk tergalak yang pernah kujumpai. Cerita-cerita orang di bonn tidak benar : semut tidak bisa menewaskan gajah, atau bahkan manusia, karena gigitan mereka tidak mengandung racun; tapi menimbulkan bekas seperti tusukan jarum. Untungnya aku tahu bagaimana caranya menangkap semut merah, setelah percobaanku menangkap tikus yang hasilnya memalukan itu. Aku memegang ember plastik berisi air lalu dengan sepotong ranting mencongkel sarang semut ke dalamnya, Beberapa ekor semut berjalan meniti ranting itu lalu pindah ke lenganku untuk menyerang dengan gigitan, tapi sebelumnya tangan dan lenganku sudah kulumuri dengan abu. Semut-semut itu langsung jatuh tanpa sempat berbuat apa-apa, begitu kaki mereka menyentuh kulitku.

Sementara kami sedang mengumpulkan semut di dalam hutan, kami mendengar suatu suara yang datangnya dari suatu tempat yang dekat dengan kami. Tokek, tokek.

Daging tokek, jika dimasak rasanya mirip daging ayam. Kami datangi tempat dari mana bunyi tadi berasal, yakni sebatang pohon yang tidak jauh dari kami. Ketika kami sudah dekat, nampak sekilas ekor tokek itu, yang lari masuk ke dalam sebuah lubang di batang pohon. Aku memanjat untuk mengejarnya dan menutupi lubang yang dimasukinya tadi dengan potongan jala penangkap ikan. Kemudian kami berempat mengguncang- guncang pohon itu, sampai akhirnya tokek itu jatuh dari dalam lubang.

Ketika hari sudah sore kami berjalan kembali menuju Phum Chhleav dengan membawa sejumlah sarang semut merah, beberapa ekor tokek, begitu pula beberapa berkas rebung, sejenis kangkung, serta tumbuh-tumbuhan lain yang bisa dimakan. Kami bersikap seperti petani dalam mencari bahan pangan yang ada di alam. Penampilan kami waktu itu pun serupa dengan petani. Aku bertelanjang kaki, tanpa kacamata dan arloji tangan, membawa bahan pangan yang kubungkus dalam kramaku. Huoy melilitkan kramanya seperti serban di kepala. Pasangan lainnya yang bersama kami saat itu sama saja penampilannva. Ketika kami sudah hampir sampai di jalan kereta api tiba-tiba Huoy berbisik kepadaku, "Cepat bersembunyi, Sayang! Ada serdadu di depan kita!" Aku cepat-cepat merebahkan diri ke tanah di depan Huoy, lalu merangkak ke sebuah bukit kecil dan mengintip ke depan lewat semak belukar yang tumbuh di atasnya.

"Jangan berdiri!" kata Huoy dengan cemas di belakangku.

"Jangan khawatir," balasku berbisik. Aku melihat dua orang sipil berjalan di jalan kecil, menelusur rel bersama dua orang serdadu. Mereka beriringan satu-satu. Kedua serdadu itu berpakaian seragam hitam dengan topi serdadu Cina berwarna hijau dan sandal karet hitam yang terkenal dengan nama "sandal Ho Chi Minh". Keduanya menyandang senapan. Siku kedua orang sipil tadi diikat erat di belakang punggung mereka. Seutas tali menjulur dari orang sipil yang paling depan ke orang sipil satunya, dan dari dia ke tangan salah seorang prajurit yang menggiring di belakang. Kedua tawanan sipil itu melangkah lambat-lambat, dengan kepala terkulai ke depan.

Aku terkejut ketika mengenali siapa kedua orang sipil itu.

"Kedua dokter kenalanku," kataku berbisik pada Huoy yang ada di belakangku.

Huoy merangkak maju ke atas bukit kecil tempat aku berada, menuju ke sampingku. Bersama- sama kami mengamati. Pemandangan yang nampak di depan kami mengandung kesan adanya sesuatu yang sudah pasti dan tidak bisa dibatalkan lagi, sehingga kami berdua merasa bahwa tamatnya riwayat kami pun sudah menjelang. "Kedua temanku itu bukan tukang ribut," bisikku kepada Huoy. "Mereka digiring pergi oleh serdadu-serdadu itu karena mereka dokter. Besok pasti datang giliranku. Semua orang tahu bahwa aku ini dokter."

Kedua dokter itu berjalan dengan langkah gontai, dibebani perasaan tahu bahwa ajal mereka sudah dekat. Kami terus memperhatikan sementara mereka berjalan semakin jauh menyusur rel, sampai akhirnya kami tidak bisa melihat mereka lagi. Kami masih terus menunggu, menunggu-nunggu bunyi tembakan senapan. Tapi bunyi itu tidak datang-datang juga.

"Mungkin kau salah duga," kata Huoy pada akhirnya. "Mungkin mereka digiring pergi karena ketahuan tidak bekerja di sawah."

Aku berpikir sebentar. Ada benarnya juga kata Huoy itu. Barangkali kedua dokter itu menghindari dari keharusan bekerja supaya bisa mengumpulkan bahan pangan, seperti yang kami lakukan. Mungkin mereka kemudian ketahuan.

Kami tidak pernah bisa tahu dengan pasti, karena sejak itu kami tidak pernah lagi melihat kedua dokter itu, atau mendengar apa-apa tentang penangkapan mereka. Tapi sejak itu Huoy selalu berkeras menghendaki agar aku ikut bekerja, dan itu memang kulakukan. Seperti dikatakan oleh Huoy, jika kami bekerja kami mendapat makanan meski tidak mencukupi; tapi lebih baik menderita lapar, daripada mati.

Aku disuruh bekerja memperbaiki jalan. Sekitar tiga puluh orang dari kelompok pemukiman kami di Phum Chhleav berangkat berombongan, berjalan sambil memanggul cangkul menyusur jalan kecil berkelok-kelok, melewati sawah-sawah dan hutan. Banjir yang terjadi selama tahun-tahun yang silam menyebabkan rusaknya sebuah jalan tanah yang sudah tua. Arus air mengikis permukaannya dan menimbulkan alur-alur yang dalam. Kami mulai bekerja dengan cangkul yang kami bawa, memasukkan tanah ke dalam keranjang-keranjang yang kemudian kami pikul. Selain kami tidak ada orang lain di sekitar situ. Desa pun tidak ada. Kami bekerja selama delapan hari, dengan makanan yang tidak mencukupi. Akhirnya kami kembali dengan badan lunglai ke Phum Chhleav. Sesampai di sana kulihat Huoy duduk di tanah di luar gubuk kami, menunggu aku pulang.

"Kau kurusan," katanya.

"Berat badanku turun sekali, Sayang. "

Ia berdiri lalu merangkulku dengan penuh kasih sayang. Ia merangkulku terus, seakan tidak mau lepas lagi. Ia seorang diri selama aku pergi. Sendirian dan cemas memikirkan diriku, ditambah kesedihan ditinggal ibunya. Setelah aku kembali pun baru beberapa hari kemudian keadannya baru bisa pulih lagi seperti biasa.

"Kau dipukul Angka, atau dihukum?"

"Tidak," jawabku. "Kami cuma disuruh bekerja keras. "

"Aku punya makanan untukmu," katanya.

"Apa?"

"Coba terka," katanya. Jadi mestinya sesuatu yang istimewa.

"Aku tidak tahu."

"Aku memasak tikus untukmu. Tikus sawah. Aku tahu, kau akan pulang hari ini."

Seakan-akan aku saat itu baru pulang dari bepergian untuk urusan bisnis dan ia memasakkan steak atau ikan yang enak sekali untukku, selaku istri yang baik. Tikus itu diperolehnya dengan jalan menukarnya dengan beberapa potong pakaian peninggalan ibunya. Ia merawat diriku sebisa-bisanya, dan itu tidak dikurangi oleh kenyataan bahwa sewaktu kami masih tinggal di Phnom Penh kami takkan mau makan tikus. Di pedusunan sini, tikus merupakan hidangan sedap.

Kami memakan hidangan itu, dan daging tikus yang hanya sedikit itu enak rasanya. Aku merasa terharu oleh apa yang telah dilakukan oleh Huoy, dan cemas melihat bahwa ia masih saja dirundung kesedihan .

Keesokan harinya aku pergi bekerja di sawah dekat jalan kereta api. Aku dan Huoy dalam kelompok sama yang terdiri dari sekitar seratus orang "baru". Huoy dan para wanita selebihnya dalam kelompok itu diberi cangkul dan diperintahkan untuk memecah tanah lapisan atas di tempat yang belum dikerjakan. Kami, kaum pria, digiring oleh dua orang serdadu yang umurnya baru belasan tahun ke petak-petak sawah yang sudah dicangkuli tanahnya. Dekat sebuah bukit kecil ada sekitar delapan bajak dari kayu serta tiga atau empat ekor sapi. "Saat ini kita kekurangan sapi," kata salah seorang serdadu itu kepada kami. "tapi sawah ini harus dibajak. Jika kita tidak melakukannya dan kita tidak menanam padi, nanti kita tidak punya apa-apa untuk dimakan."

"Aduh, ampun," kataku dalam hati. "Masa manusia dikerahkan untuk membajak? Inikah yang harus kita lakukan untuk membangun masyarakat maju yang mereka sebut-sebut itu - kembali ke zaman purba?"

Tatapan tolol orang yang kecerdasannya terbatas berbaur di wajah serdadu itu dengan kemuakan yang nampak nyata terhadap kami, orang-orang kota. Ia menggenggam cemeti panjang yang terbuat dari kulit yang dijalin.

"Kau," katanya sambil menuding seorang lelaki. "Ambil bajak. Kau juga, dan kau." Mudah-mudahan saja ia tidak menuding ke arahku, kataku dalam hati. Orang-orang dari golongan etnis Cina dalam kelompok itu mengumpat-umpat dalam dialek Teochiew. Mereka mengatakan bahwa biar bagaimana mereka tak kan mau melakukannya.

Serdadu itu menuding ke arahku.

Aku melangkah, menghampiri bajak-bajak itu.

"Kau," kata serdadu itu. "Ambil bajak ini dan pergi ke sisi kanan."

Aku mengambil tempat di sisi kanan bajak, di belakang palang penghela. Saat itu hanya kummonuss saja yang ada dalam pikiranku. Di sisi kiriku berdiri seekor sapi betina. Mulut sapi itu bergerak-gerak menyamping, sibuk mengunyahngunyah, sambil mengibas-ngibaskan ekor mengusir lalat. "Sekarang jalan," kata serdadu itu sambi! melecutkan cemetinya di atas kepala. Aku mulai bergerak, mendorong palang penghela. Sapi di sisiku melangkah maju, menarik palang itu. Serdadu itu berjalan di belakang bajak sambil mengendalikannya. Kakiku yang tidak beralas melangkah di atas gumpalan-gumpalan tanah yang ditumbuhi rumput liar. Hujan rintikrintik yang sudah beberapa kali turun telah melunakkan tanah tapi hanya lapisan atasnya saja. Tanah masih tetap pecah-pecah sebagai akibat kemarau yang panjang dan panas. Ketika kami sampai di pinggir petak, serdadu tadi menekan ujung mata bajak ke dalam tanah, masuk sampai melewati batas tanah yang sudah dicangkul. Bajak nyaris terhenti. Aku masih mampu menggerakkan maju terus dengan cara lebih kuat lagi mendorong. Tapi sapi di sisiku lebih kuat, dan bajak itu bergeuk membelok ke kanan. Aku harus mendorong sekuat tenaga agar alur bajak bisa tetap lurus. Kami membajak sepanjang satu sisi petak sawah, sementara sinar matahari pagi menyilaukan mataku. Lama sekali kami baru sampai di ujung petak itu. Akhirnya kami membelok, lalu mulai membajak sisi yang lain. Aku mendengar bunyi ketukan berirama. Datangnya dari satu sisi di belakangku, kemudian beralih ke sisi lainnya. Aku menoleh ke belakang. Kulihat sebuah gerobak datar berukuran kecil meluncur di atas rel. Empat orang lelaki berdiri di atasnya, masing-masing dua di sisi kiri dan kanan. Semua memegang galah bambu yang panjang, yang dipakai untuk mendorong seperti sedang naik rakit di sungai, Gerobak itu meluncur dengan laju dan tidak lama kemudian suara tadi sudah tidak terdengar lagi.

Aku mencondongkan tubuhku kembali ke depan dan terus mendorong. T api palang penghela terlalu tinggi kedudukannya, kira-kira sebatas tengkukku. Aku ingin letaknya lebih rendah, karena sikap lenganku yang meraih ke atas menyebabkan otot-otot bahu dan punggungku tertarik. Telapak tanganku melepuh sebagai akibat bekerja membetulkan jalan. Aku bisa merasakan bagian-bagian yang melepuh itu pecah dan cairan di dalamnya mengalir ke luar.

Aku memandang ke arah petak-petak sawah yang lain. Kulihat orang-orang lain yang lelaki membajak berpasangan dengan sapi, dan di tempat yang lebih jauh lagi rombongan-rombongan wanita dengan cangkul-cangkul mereka yang diayunkan naik-turun. Penglihatanku tidak bisa jauh karena terhalang bukit-bukit kecil, tapi di segala arah yang kupandang nampak kaum lelaki dan wanita yang sedang bekerja. Di atas pucuk-pucuk pepohonan di sebelah barat, nampak menjulang gunung yang ada dua bintik putihnya. Sang Budha tolonglah aku, doaku dalam hati. Tolonglah kami semua. Berilah kami kekuatan agar bisa bertahan terus.

Bajak yang kudorong membelok ke kanan, menuju ke pematang di pinggir.

"Cepat sedikit!" seru serdadu yang ada di belakangku. "Kalau tidak bisa, kupecut kau nanti. Ia melecutkan cemetmya di udara, di atas kepalaku dan sapi itu.

Aku mencondongkan tubuhku ke depan lagi, mendorong palang penghela . Tengkuk dan kepala sapi merintangi pandanganku ke sebelah kiri. Sapi itu masih terus mengunyah-ngunyah, dan liurnya menetes dari dagunya yang berambut. Telinganya dlgerak-gerakkan untuk mencegah serangga hinggap di dekat siti, tapi ketika ada serangga menggigit kaki depannya sapi itu menundukkan kepalanya lalu menjilat tempat yang digigit tadi dengan lidahnya yang panjang, tebal, dan kasar seperti amplas. Kudengar bunyi napasnya yang lambat dan teratur serta desir ekornya yang dikibas-kibaskan. Kenapa makhluk segoblok sapi bisa sekuat itu? tanyaku dengan heran dalam hati.

Keringatku mengucur, membasahi ketiak dan dada. Kulepaskan palang penghela sebentar untuk menyeka keringat dengan kramaku agar jangan sampal masuk ke mata. Tapi dengan segera aku sudah mulai mendorong lagi.

Kenapa dewa-dewa bisa begitu buta? kataku dalam hati. Adakah suatu perbuatan buruk yang kulakukan dalam kehidupan yang lalu sehingga mi harus kulakukan sekarang? adakah sesuatu yang buruk dalam kamaku?

Kehidupan begitu baiknya dulu, sewaktu masih di Phnom Penh. Begitu santai dan makmur. Pasien-pasienku bersompeah padaku dan bersikap sopan jika berbicara padaku. Aku dan Huoy berbahagia waktu itu. Sama sekali tidak ada yang menjadi pikiran. Hampir setiap malam kami makan-makan di restoran, dan selalu makan sampai kenyang. Tapi sekarang tidak lagi. Kini tidak ada bakmi goreng. Tidak ada ikan yang dimasak dengan jeruk sitrun dan ketumbar. Huoy setiap malam berbicara tentang resep-resep kegemarannya. Ia teringat pada hidangan-hidangan manis penutup santapan yang dulu biasa dibuatkannya untuk orangtuaku. Ia ingin kami punya lebih banyak makanan. Pipinya sudah tidak montok lagi seperti dulu. Berat badannya menyusut.

Aku berusaha keras mengikuti langkah sapi itu. Tapi napasku sudah berat. Kudengar bunyi napas dan langkahku, langkah kaki-kaki sapi dan kicauan burung-burung.

Mendengarkan burung-burung berkicau seperti itu! Kapan saja mereka mau, mereka terbang dari pohon yang satu ke pohon lainnya. Mereka pergi kemana saja mereka mau. Apabila mereka menemukan makanan, mereka bisa memakannya. Keadaan kami tidak semudah itu. Kami hewan penghela, seperti sapi-sapi itu. Jadi mungkin kama kami yang buruk, sangat buruk. Emak rupanya sudah tahu bahwa kehidupan akan menjadi seperti begini. Ia selalu punya firasat tajam. Karenanya ia memilih lebih baik mati menenggelamkan diri di dalam telaga. Kuharapkan semoga dalam kehidupan yang berikut ia –

TARR! Kenyerian menyambar punggungku.

"He!" teriakku marah. "Bagaimana aku bisa mendorong jika aku kaupecut? Biarkan aku istirahat dulu sebentar. Nanti aku bisa meneruskan bekerja lagi."

"Selesaikan dulu petak ini dan setelah itu kau boleh istirahat," jawab serdadu itu. Tapi setelah beberapa kali membajak sepanjang petak ia berhenti sebentar untuk menggulung rokok dan menghisapnya. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk beristirahat. Aku memandang berkeliling. Seorang wanita di petak sebelah memandang ke arahku sementara tangannya yang satu memegang cangkul. Ia berdiri tanpa bergerak. Tangannya yang satu lagi mendekap mulut, seperti menahan agar jangan sampai berteriak. Wanita itu Huoy. Tapi karena aku tidak memakai kacamata, aku tidak bisa melihat gerak wajahnya.

Ketika rokok yang diisap oleh serdadu itu sudah habis, kami meneruskan pekerjaan membajak. Matahari pagi masih rendah letaknya di langit, sementara hawa lembab dan panas. Aku tidak mengerti kenapa matahari memerlukan waktu begitu lama untuk bergerak melintasi cakrawala. Aku masih beberapa kali lagi dipecut serdadu itu. Setelah sekian waktu yang rasanya seperti berhari-hari, terdengar bunyi gong dipukul di kejauhan. Saat makan siang sudah tiba. Serdadu-serdadu kembali ke dapur mereka di deretan tiga rumah yang di dekat saluran irigasi tua, dan beberapa mit neary berpakaian hitam datang mengantarkan makanan kami, berupa air tajin asin yang keruh dengan beberapa butir nasi di dasarnya.

Telapak tanganku melepuh, begitu pula kulit sebelah dalam persendian pertama dan kedua jari- jari serta antara jempol dan telunjuk. Bahu, punggung, dan betisku terasa pegal. Urat tumitku nyeri. Tapi yang paling nyeri rasanya adalah tempat-tempat yang disambar cemeti tadi.

"Makanlah bagianku, Sayang," kata Huoy.

"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku tidak begitu berselera makan."

"Ayo, kau sajalah yang memakannya. Kau perlu tenaga. Aku tidak bisa memakannya."

Sesudah makan, aku dan serdadu yang tadi melepaskan mata bajak dari gagangnya dan menggantinya dengan garu yang panjang, untuk memecah gumpalan-gumpalan tanah yang dibalikkan oleh mata bajak dan untuk meratakan galur-galur. Serdadu itu tidak begitu suka berbicara.

"Satu petak saja pun belum selesai dibajak." Hanya itu saja yang dikatakannya padaku.

Sepanjang siang ia berdiri di atas garu untuk membenamkan ujung-ujungnya ke dalam tanah. Karena ditambah bobot badannya, terasa lebih berat menghela garu daripada mata bajak. Kami bergerak berkeliling petak. Pada satu sisi nampak pemandangan gunung yang ada bintik-bintik putihnya, tapi aku tidak memperhatikannya lagi. Saban kali aku kembali memandang matahari yang tidak bergeming di langit.

Menjelang sore, regu perawatan jalan kereta api lewat lagi di atas rel. Mereka menggalah dengan giat, dan gerobak datar mereka meluncur lebih cepat daripada angin menuju ke stasiun kereta Phnom Tippeday.

Menjelang saat matahari terbenam gong berbunyi lagi dan kami berhenti bekerja. Tidak satu petak sawah pun kami selesaikan pembajakan atau penggaruannya.

Ketika sudah berada kembali dalam gubuk reyot kami, Huoy menjerang air dan membuat kompres panas dengan menggunakan carikan-carikan kain. Kompres itu diletakkannya di atas bilur-bilur bekas lecutan cemeti yang melengkung lewat bahu dan tengkukku sampai ke sebelah atas dada. Huoy menangis. Ia lebih merasakan kenyerianku ketimbang aku sendiri. Aku saat itu capek sekali, sehingga tidak begitu merasakan apa-apa lagi.

"Tadi aku berdoa, memohon pada arwah Emak agar kita dijemput ke tempatnya," kata Huoy. "Aku tidak mengerti untuk apa kita terus hidup, diperlakukan seperti begini. Sebaiknya kita dibunuh saja sekarang oleh Khmer Merah, sehingga urusan selesai."

Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. dalam hati aku berpendapat: Emak pintar, la bunuh diri. Malam itu hujan turun. Hujan lebat dan lama, dengan kilat menyambar-nyambar dan bunyi guruh bergulung-gulung, dan air mengucur ke dalam gubuk dari tempat-tempat yang bocor. Keesokan paginya aku kembali membajak, tapi tanahnya kini sudah lebih lunak. Dan bahkan para serdadu pun mengakui kekeliruan mereka. Kini setiap sapi dipasangkan dengan tenaga dua orang, Dan pada bajak yang tidak ada sapinya, dikerah- kan tenaga empat orang untuk mendorong.

Musim hujan akhirnya tiba juga di Battambang. Hujan yang dingin dan nyaris tidak kenal berhenti. Sesudah beberapa jam kehujanan kulit jemariku menjadi putih dan keriput, seperti apabila terlalu lama berendam dalam air. Kami membajak di tengah hujan. Keong-keong bermunculan di tanah, dan ketika aku memungut seekor, punggungku langsung disambar cemeti. "Jika kau membuang-buang waktu untuk mengambil keong seperti itu, kapan kita bisa selesai?" teriak serdadu yang ada di belakangku. "Kau tidak suka makanan yang diberikan Angka padamu? Apakah itu tidak mencukupi?"

Tidak ada yang bisa dikatakan tanpa menghina Angka, Karenanya aku diam saja. Tapi aku tidak bisa mengerti, apa alasannya tidak boleh memungut keong.

Malam hari aku mencari bahan pangan dengan bantuan nyala lampu minyak dalam kaleng yang sisi dalamnya memantulkan cahaya. Tapi hanya kodok-kodok kecil dan keong-keong saja yang bisa ditemukan di dekat-dekat tempat kami. Dari arah dekat rumah-rumah yang ditempati para serdadu terdengar bunyi berondongan tembakan senapan. Aku tidak berani pergi ke sawah atau ke saluran-saluran air dan kolam-kolam, di mana pasti banyak ikan dan kodok yang besar-besar.

Berat badanku yang biasanya sekitar 67½ sampai 70 kg turun menjadi 57½ kg. Kemudian aku mulai terpaksa terbirit-birit lari ke semak-semak ketika sedang membajak. Mulanya kusangka itu hanya mencret yang biasa saja. Tapi kemudian kulihat ada lendir berwarna putih di tanah, lalu lendir kekuningan dan darah berwarna gelap keunguan. Saat itu kusadari bahwa aku sakit. Sakit parah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar