13
ARAHAN
BARU
SEMINGGU
sesudah peristiwa meninggalnya bayi kepala desa, pada suatu acara bonn, yang seperti biasanya diadakan
pada malam hari, kami diberitahu bahwa ada "pengarahan baru" dari
Angka. "Kita sudah hampir selesai dengan proyek kita di sini,"
demikian pernyataan salah seorang mit neary,
meski kenyataannya pembuatan saluran irigasi masih belum juga beranjak dari tahap
awal, "dan sebentar lagi kita harus mulai dengan proyek-proyek baru.
Kalian masih harus terus berjuang melawan alam dalam rangka ikut aktif membangun
negeri kita, tapi di tempat lain."
Berita
ini- bahwa kami akan meninggalkan Tonie Bati-pada mulanya tidak ditanggapi
dengan perasaan senang di kalangan orang-orang "baru". Kami sudah
bercocok tanam, tapi belum sampai sempat memetik hasilnya. Tapi kemudian diumumkan,
kami akan diizinkan kembali ke desa asal masing-masing. Kami akan berangkat
dengan berjalan kaki ke suatu tempat penampungan, dan dari situ diangkut dengan
truk ke tempat tujuan masing-masing.
Pengumuman
itu membuat kami tidak lagi merasa enggan meninggalkan Tonie Bati. Itu kesempatan
yang sangat baik! Pihak Khmer Merah tidak tahu dari mana saja kami semuanya berasal,
kecuali beberapa keluarga seperti misalnya Bibi Kim dan anak-anaknya yang sudah
sejak lama bertempat tinggal di Tonie Bati dan akan tetap tinggal di situ.
Timbul lagi niatku yang dulu: pergi ke pesisir, dan dari sana lari naik perahu
ke Thailand. Orangtuaku merencanakan hendak pergi ke Propinsi Battambang di
bagian barat Kamboja, dan dari sana ke Thailand lewat darat. Kerabat
terdekatku, anak-beranak, sudah siap semua untuk berangkat, kecuali keluarga
saudara lelakiku yang nomor empat, Hong Srun. Istri saudaraku itu baru saja
melahirkan-dengan bantuanku - dan karenanya mereka masih belum bisa mengadakan
perjalanan.
Aku,
begitu pula Emak dan Huoy, tidak bisa dibilang menyesal meninggalkan gubuk
kecil kami. Kami berangkat dengan barang bawaan yang lebih sedikit daripada
ketika datang. Barang-barang itu kami taruh dalam dua keranjang yang kemudian
kupikul, dan sisanya dimasukkan dalam dua bungkusan yang dijunjung di at as
kepala Emak dan Huoy. Ayahku tidak membawa jipnya, kendaraan terakhir yang
masih dimilikinya sampai saat itu. Barang bawaan kami semua menjadi lebih
enteng.
Perjalanan
kami itu katanya akan memakan waktu setengah hari. Kami berangkat berjalan kaki,
melintasi dataran pasir yang bersebelahan letaknya dengan Tonle Bati. Beban
pikulanku menyebabkan langkahku menjadi berat, karena kakiku terbenam dalam
pasir. Kucoba berjalan tanpa sepatu, tapi telapakku rasanya seperti terbakar
kena pasir yang panas. Huoy berjalan dengan sandal kulitnya. Penampilannya
bergaya, setidak-tidaknya sejauh yang dimungkinkan kondisi kami waktu itu.
Ibunya yang gemuk dan tidak suka macam-macam, memakai sandal jepit dari karet.
Dari kami bertiga, Emaklah yang paling bijak.
Tidak
lama kemudian dataran pasir sudah ditinggalkan dan kami masuk ke dalam hutan, naik-turun
dan berbelok-belok. Rombongan kami yang berjumlah ribuan berjalan beriringan satu-satu,
mengarah ke barat laut. Rombongan itu tidak semuanva dari Tonie Bati, tapi juga
dari sekian banyak desa di sekitarnya. Lewat tengah hari, lama setelah kami
seharusnya sudah tiba di tempat berkumpul, kami membelok masuk ke sebuah jalan
lain yang mengarah ke selatan. "Ini rupanya yang dimaksudkan orang-orang
komunis itu dengan 'arah baru'," kataku dalam hati. "'Mengambil jalan
memutar yang jauh tanpa alasan jelas."
Menjelang
malam kami sampai di sebuah lembah kecil yang ada stasiun kereta apinya. Di situ
sudah berkerumun orang-orang "baru" dengan barang-barang bawaan
mereka. Berulangkali muncul iring-iringan kereta yang ditarik lokomotif uap
dengan bahan bakar kayu. Tapi lokomotif-lokomotif yang bergerak dengan suara
mendengus-dengus itu hanya lewat saja, tidak satu pun berhenti di stasiun.
Lokomotif-Iokomotif itu menarik gerbong-gerbong kayu yang penuh sesak dengan
penumpang; mereka berdiri di pintu, mengintip lewat celah-celah dinding, atau
duduk di atas atap gerbong. Mereka tidak melambai ke arah kami. Mereka tidak
kelihatan gembira.
Sementara
itu kami semua sudah tahu bahwa kami takkan diizinkan kembali ke desa-desa asal
kami. Itu dikatakan oleh Khmer Merah hanya agar kami mau meninggalkan tempat di
mana kami semula berada.
Empat
hari lamanya kami menunggu di dekat stasiun kereta api itu sementara iringan
kereta demi iringan kereta lewat, masing-masing dengan muatan manusia berjumlah
ribuan yang diangkut seperti ternak saja, keluar dari kawasan timur Kamboja.
Kelihatannya Khmer Merah hendak mengosongkan seluruh kawasan itu.
Mengenai
pengangkutan rombonaan kami sendiri, rupanya ada kesimpang-siuran di pihak penyelenggaranya.
Kami tidak jadi dinaikkan ke kereta api di stasiun itu, melainkan disuruh berjalan
kaki lagi, sekali ini ke sebuah desa yang ada di dekat situ. Keesokan harinya
suatu irinairingan truk militer buatan Cina yang kosong datang di desa itu.
Orang-orang "baru" yang sudah sekian lama menunggu kini berseru-seru dengan
gugup, menyebutkan nama-nama tempat tujuan yang diinginkan. Para serdadu
menyuruh diam dan naik ke truk. Kaml pun naik, dengan perasaan takut-takut.
Kami juga. merasa. tolol. Mengherankan, bisa-bisanya kaml waktu itu semula percaya
bahwa Khmer Merah akan benarbenar mengizinkan kami pulang ke desa awal masing-masing.
Begitu polosnya kami, mengira bahwa mungkin saja mereka bersungguh-sungguh setelah
mengalami kebohongan yang mereka katakan sewaktu menyuruh kami meninggalkan Phnom
Penh.
Tubuh
kami terlambung-lambung dalam keadaan bersesak-sesak di bak belakang truk-truk itu,
yang bergerak beriringan menyusur jalan yang jelek sekali kondisinya, kemudian
masuk ke jalan Nasional 3, menuju ke utara. Pemandangan yang kami lewati serupa
dengan yang pernah kami lihat di mana-mana, rusak berantakan sebagal akibat
perang. Pohon-pohon kelapa yang sudah tidak ada lagi pucuknya karena dlsambar
peluru. Pohan-pohon mangga hangus terbakar. Pangkalan- pangkalan militer Lon Nol
dengan truk-truk dan jip-jip yang terguling, dan tank-tank yang rantai rodanya
sudah putus.
Truk
yang kami tumpangi posisinya di tengah-tengah konvoi. Ketika kami menghapiri Phnom
Penh lewat jalan pelabuhan udara timbul lagi harapan dalam hati kami, dan
terdengar seruan-seruan gembira datang dan arah truk-truk yang lain. Kami
memasuki Phnom Penh pada saat senja. Konvoi kami meluncur di jalan-jalan dalam kota
dengan kecepatan tinggi. Kami sama sekali tidak berpapasan dengan manusia dan
di mana-mana tidak nampak lampu penerangan: Phnom Penh masih tetap merupakan
kota mati, seperti pada bulan April setelah semua penduduknya disuruh pergi.
Harapan yang semula mulai timbul langsung lenyap lagi sementara iring-iringan
truk meluncur terus menuju pinggir utara kota dan kemudian dipacu kernbali
lewat Jalan Nasional 5 ke arah utara, kembali menuju daerah pedesaan. Jalan
yang kami lewati itu arahnya sejajar dengan Sungai Tonie Sap, yang
sebentar-sebentar nampak di sela-sela pepohonan. Kelihatannya seperti permukaan
datar yang keperak-perakan.
Setelah
menginap semalam di tengah jalan, keesokan paginya perjalanan diteruskan.
Sekitar tengah hari kami sampai di Pursat. Di kota itu, yang merupakan ibukota
propinsi, Jalan Nasional 5 dan lintasan rel kereta api saling bersilang lalu berjalan
sejajar ke arah barat laut sampai akhirnya berpisah lagi di sebuah kota lain
yang bernama Muong. Di Pursat penduduknya yang lama sudah tidak ada lagi: pasar
kelihatan lengang, pintu-pintu pengaman tako-tako tertutup semuanya, tapi
jalan-jalan yang berdekatan dengan stasiun kereta api penuh sesak dengan
kerumunan orang yang termasuk rombongan-rombongan yang dipindahkan, seperti
kami. Lewat pengeras suara terdengar pengumuman bahwa Angka membagikan makanan,
dan kerumunan orang banyak itu bergerak maju karena ingin mendapat bagian. Aku
ikut antri dan kemudian mendapat pembagianl beras dan garam serta sedikit ikan
asin.
Sementara
itu hari sudah sore. Beberapa blok dari stasiun kereta ada telaga yang
ditumbuhi teratai dan tumbuh-tumbuhan air lainnya. Aku bersama keluargaku
memilih sebuah tempat yang sunyi di seberang telaga itu, di tengah-tengah pohon
pisang yang tumbuh menyemak. Hanya keluarga kami saja yang ada di situ. Di
tempat itulah kami menyalakan api. Huoy memasak nasi. Ibunya capek, tapi ia
tidak mengeluh. Kami semua capek setelah menempuh perjalanan yang begitu lama
di bak belakang truk yang terbuka.
Ketika
sudah kenyang Emak berdiri, membetulkan letak sarungnya, lalu pergi ke telaga
untuk mengambil air. Aku dan Huoy masih terus makan, walau sebenarnya tidak
begitu berselera. Ayah dan ibuku makan di dekat kami. Mereka duduk bersama
Pheng Huor dan Hok, kedua saudara lelakiku yang masih ikut bersama keluarga mereka
masing-masing.
"Mana
Emak?" tanya Huoy beberapa menit kemudian.
"Mungkin
sedang mengobrol. Sebentar, akan kucarikan jika kau menghendakinya." Aku
berdiri, lalu berjalan lewat di bawah pepohonan menuju ke telaga. Tapi tidak
ada siapa-siapa di situ, kecuali beberapa orang di seberang. Kupicingkan mata
untuk melihat, barangkali saja ada wanita bertubuh gemuk dan bersarung di
antara mereka.
Di
manakah Emak?
Kualihkan
pandanganku agak ke bawah. Kulihat sekelumit warna terang di tepi telaga. Aku menghampirinya.
Jantungku berdebar-debar, bahkan sebelum memastikan bahwa yang kulihat Itu
sandal jepit Emak.
Kuarahkan
lagi pandanganku ke telaga. Tidak ada orang sedang berendam atau berenang di situ.
Aku
berseru pada Huoy bahwa ibunya terjatuh ke telaga. Lalu aku menceburkan diri ke
dalamnya dan mulai menggerapai, berusaha menemukan Emak. Telaga itu dingin
airnya dan penuh denoan tumbuhan licin berlendir. Lintah-lintah menempel pada
kedua lenganku, tapi aku tidak peduli. Ayahku rupanya mendengar teriakanku dan
ikut mencari dalam air. Ia sudah tua dan lamban. Tapi la berusaha sebisa-bisanya.
Aku menyelam agak lebih jauh dari tepi. Kemudian aku merasa ada sesuatu yang
empuk di bawah rumpun tumbuhan teratai. Kutarik. Emak keluar dari air dan
kuangkat ke tepi. Ia tldak bernapas lagi. Kupanggul dia dengan posisi
menelungkup, dengan perut terletak dl atas bahuku, lalu aku melonjak-lonjak.
Air mengucur dan mulutnya beserta nasi sedikit, tapi la tetap tIdak bernapas.
Lengan dan tungkainya maslh lemas, tapl denyut nadinya tidak ada. Kucobakan
teknik bantuan pernapasan dengan menghembuskan napasku ke dalam mulutnya yang
kubuka; kupukul dadanya kuat-kuat dengan kedua tanganku yang terkepal untuk
membantu jantungnya berdenyut lagi, lalu kucoba lagi memberikan bantuan
pernapasan.
Aku
terus berikhtiar.
Orang-orang
berkerumun di sekelilingku. Tapi ikhtiarku sia-sia belaka. "Perhatian,
Kawan-kawan!" terdengar suara menggema lewat corong-corong pengeras suara
dari dekat stasiun. "Kalian harus naik ke kereta api sekarang. Angka
meminta agar kalian mengumpulkan barang-barang bawaan dan naik ke kereta!"
Emak
mati. Huoy kalut. Aku terpana. Jika ada sesuatu yang masih bisa dilakukan, yang
jelas saat itu aku tidak tahu apa-apa lagi. Pheng Huor mengambil alih.
Digendongnya tubuh yang terkulai tanpa nyawa itu ke sebuah pondok dan diletakkannva
ke atas dua lembar papan, lalu dinyalakannya api di bawahnya. Di kalangan rakyat
Kamboja ada kepercayaan kuno bahwa selama tubuh seseorang yang tidak bernapas
lagi masih lemas, panas dari api bisa mengembalikan percikan nyawanya. Bagian
dari diriku yang mengenyam pendidikan ilmu kedokteran Barat lidak cukup tangguh
untuk menolak gagasan itu, dan aku menunggu di situ seperti yang lain-lainnya, mengharapkan
terjadinya keajaiban.
Dua
orang serdadu memanggul senapan berdiri sambil memperhatikan.
Pheng
Huor menambahkan kayu ke dalam api. Kobarannya diperbesar, lalu diurut-urutnya
lengan dan tungkai Emak. Tapi Emak tetap terbujur tanpa nyawa.
"Kalian
harus pergi. Sudah waktunya berangkat sekarang," kata prajurit-prajurit
yang berdiri di belakang kami. "Jangan menangis. Angka tidak mengizinkannya."
Emak
bisa kami kuburkan menurut tradisi Cina, atau dikremasi menurut tradisi Budhis Kamboja.
Salah satu daripadanya bisa kami lakukan, tapi rasanya tidak mungkin bahwa kami
harus memilih dan bahkan Emak sudah meninggal dunia. Aku merangkul Huoy, tapi
kepiluan hatinya saat ltu tidak mungkin bisa dilipur.
Dekat
situ, di tengah belukar pohon pisang ada sebuah lubang besar yang digali untuk
menanam pohon.
Kedua
saudara lelakiku mengusung jenazah Emak di atas papan dan meletakkan di samping
lubang Itu. Huoy merapikan letak rambut ibunya, lalu menciumi dan memeluknya
seolah-olah Emak masih hidup. Ia tidak mau melepaskan ibunya sampai ayahku
menepuk punggungnya dengan lembut sambil menyuruhnya melepaskan. Huoy menurut,
lalu memukul-mukulkan kepalan tangan dan membentur-benturkan kaki, siku, dan lutut
ke tanah.
Kami
tidak punya lilin, dan karenanya lantas mencocokkan beberapa ranting menyala
yang kami ambil dari api ke tanah. Aku dan Huoy mengucapkan doa untuk orang
mati sambiI berlutut di hadapan jenazah ibunya. Keluargaku yang selebihnya ada
di belakang kami.
"Kautinggalkan
aku, Mak! Kautinggalkan aku seorang diri!" tangis Huoy. "Marahkah kau
padaku, Mak? Katakanlah, bagaimana aku bisa berbakti padamu. Kau bisa minta
padaku, apa saja yanlg kauingini. Mak tunggu saja aku di surga supaya aku bisa
bersamamu lagi dalam kehidupan yang berikut. Mak, aduh Emak, aku ingin bersamamu.
Bawalah aku ikut, Mak ... " Huoy merebahkan kepalanya ke dada ibunya,
sambil menangis tersedu-sedu.
"Jika
ia sudah mati, mau apa lagi," kata serdadu-serdadu itu dengan nada
jengkel. "Kalian harus bergegas." Sambi! menangis tersedu-sedu kami
berdoa dcngan kedua tangan ditangkupkan dalam sikap menyembah, laiu bersujud
dengan kedua telapak tangan ditempelkan ke tanah di depan kaml.
"Dan
jika Emak tidak bisa menungguku di surga," tangis Huoy, "kembalilah
ke dalam keluarga kami. Aku ingin Emak dilahirkan kembali sebagai anak
perempuanku, agar aku bisa lagi merawatmu dengan baik."
"Kalian
harus pergi sekarang," kata serdadu-serdadu itu. "Kalian akan dihukum
jika sampai ketinggalan kereta."
Emak
kami masukkan ke dalam Iubang lalu kami timbuni dengan tanah. Kami meninggalkan
tempat itu, berjalan menuju stasiun kereta api. Hati kami belum bisa menerima
kenyataan yang sudah terjadi, bahwa kami meninggalkan Emak di situ. Tadi ia
masih ada bersama kami di tempat masak. Dua menit kemudian ia sudah tidak ada lagi.
Tidak ada yang melihatnya. Rupanya ia hendak masuk ke telaga untuk mengambil
air; tapi ketlka menuruni tebing yang curam ia terpeleset lalu tenggelam. Tapi
Emak bukan orang bodoh, Jadi tidak mungkin hal begitu terjadi karena kurang
hati-hati. Mungkin ia punya alasan untuk melakukannya, kataku dalam hati.
Kereta
api sudah ada di stasiun. Gerbong-gerbongnya yang berdinding kayu penuh sesak. Beberapa
penumpang yang paling akhir naik ke atas atap, dan beberapa orang membantu kami
mendesak naik dengan barang-barang bawaan kami, termasuk barang-barang Emak.
Huoy duduk dl sampingku. Aku sampai nyaris kewalahan menahannya agar jangan
sampai meloncat turun dari kereta dan lari kembali ke kuburan ibunya.
Terdengar
bunyi lengkingan peluit lokomotif dan iring-iringan kereta mulai bergerak pelan
meninggalkan stasiun. Roda-roda yang berputar di atas rel memperdengarkan bunyi
detak berirama. Rombongan kami meninggalkan Pursat. Aku duduk sambi! merangkul
Huov, melindunginya dari gangguan angin. Huoy masih selalu memerlukan kasih
sayang ibunya, serta nasihatnya. la mengandalkan diri pada ibunya, bahkan melebihi
ketergantungannya padaku. Kini ia tinggal punya aku saja.
Kereta
berjalan mendengus-dengus menempuh lintasan yang lurus. Pemandangan alam di
luar benar-benar datar. Sawah ke bukit-bukit berwarna kebiruan yang menjuIang
dekat horizon. Tanah nampak kering dan gundul, pematang-pematang dirusak perang,
petak-petak sawah tidak ditanami. Mungkin Itu sebabnya kenapa kami dikirim
kemari, kataku dalam hati : untuk menanam padi di wilayah barat Kamboja.
Langit
petang berubah warna menjadi kuning menyala, lalu oranye, dan kemudian matahari
terbenam. Bulan purnama terbit di belakang kami. Dan Huoy tetap dirundung
kepiluan, tanpa mungkin bisa dilipur.
Kereta
api membawa kami melewati Muong dan akhirnya berhenti di Phnom Tippeday, sebuah
stasiun di kaki gunung di tengah-tengah dataran rendah di propinsi Battambang.
Aku dan Huoy berjalan menjauhi kerumunan orang. Kami ingin menyendiri. Di
samping puing reruntuhan sebuah pabrik penggilingan beras yang hancur karena
perang, kami menjumpai sebuah tumpukan sekam. Di situ kami bentangkan tikar
plastik kami. Kami membuat sebuah tempat sembahyang darurat dengan
mangkuk-mangkuk berisi beras dan air serta lilin-lilin yang kami peroleh dari orang-orang
tak dikenal di kereta api, yang telah berbaik hati memberikannya kepada kami.
Setelah
menyalakan lilin-lilin itu, kami berlutut. Kami bersembahyang, mendoakan arwah
Emak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar