Aku ingin membaktikan buku ini sebagai kenangan kepada ayahku, Ngor Kea, ibuku, Lim Ngor, istriku, Chang Huoy (Chang My Huoy), yang tewas secara teramat sengsara, biadab, dan tanpa perikemanusiaan di bawah rezim komunis Khmer. Buku ini kutulis agar dunia bisa lebih memahami komunisme serta rezim-rezim lainnya di Kamboja.

Senin, 31 Desember 2012

Neraka Kamboja - Bab 13 : Arahan Baru


13
ARAHAN BARU

SEMINGGU sesudah peristiwa meninggalnya bayi kepala desa, pada suatu acara bonn, yang seperti biasanya diadakan pada malam hari, kami diberitahu bahwa ada "pengarahan baru" dari Angka. "Kita sudah hampir selesai dengan proyek kita di sini," demikian pernyataan salah seorang mit neary, meski kenyataannya pembuatan saluran irigasi masih belum juga beranjak dari tahap awal, "dan sebentar lagi kita harus mulai dengan proyek-proyek baru. Kalian masih harus terus berjuang melawan alam dalam rangka ikut aktif membangun negeri kita, tapi di tempat lain."

Berita ini- bahwa kami akan meninggalkan Tonie Bati-pada mulanya tidak ditanggapi dengan perasaan senang di kalangan orang-orang "baru". Kami sudah bercocok tanam, tapi belum sampai sempat memetik hasilnya. Tapi kemudian diumumkan, kami akan diizinkan kembali ke desa asal masing-masing. Kami akan berangkat dengan berjalan kaki ke suatu tempat penampungan, dan dari situ diangkut dengan truk ke tempat tujuan masing-masing.

Pengumuman itu membuat kami tidak lagi merasa enggan meninggalkan Tonie Bati. Itu kesempatan yang sangat baik! Pihak Khmer Merah tidak tahu dari mana saja kami semuanya berasal, kecuali beberapa keluarga seperti misalnya Bibi Kim dan anak-anaknya yang sudah sejak lama bertempat tinggal di Tonie Bati dan akan tetap tinggal di situ. Timbul lagi niatku yang dulu: pergi ke pesisir, dan dari sana lari naik perahu ke Thailand. Orangtuaku merencanakan hendak pergi ke Propinsi Battambang di bagian barat Kamboja, dan dari sana ke Thailand lewat darat. Kerabat terdekatku, anak-beranak, sudah siap semua untuk berangkat, kecuali keluarga saudara lelakiku yang nomor empat, Hong Srun. Istri saudaraku itu baru saja melahirkan-dengan bantuanku - dan karenanya mereka masih belum bisa mengadakan perjalanan.

Aku, begitu pula Emak dan Huoy, tidak bisa dibilang menyesal meninggalkan gubuk kecil kami. Kami berangkat dengan barang bawaan yang lebih sedikit daripada ketika datang. Barang-barang itu kami taruh dalam dua keranjang yang kemudian kupikul, dan sisanya dimasukkan dalam dua bungkusan yang dijunjung di at as kepala Emak dan Huoy. Ayahku tidak membawa jipnya, kendaraan terakhir yang masih dimilikinya sampai saat itu. Barang bawaan kami semua menjadi lebih enteng.

Perjalanan kami itu katanya akan memakan waktu setengah hari. Kami berangkat berjalan kaki, melintasi dataran pasir yang bersebelahan letaknya dengan Tonle Bati. Beban pikulanku menyebabkan langkahku menjadi berat, karena kakiku terbenam dalam pasir. Kucoba berjalan tanpa sepatu, tapi telapakku rasanya seperti terbakar kena pasir yang panas. Huoy berjalan dengan sandal kulitnya. Penampilannya bergaya, setidak-tidaknya sejauh yang dimungkinkan kondisi kami waktu itu. Ibunya yang gemuk dan tidak suka macam-macam, memakai sandal jepit dari karet. Dari kami bertiga, Emaklah yang paling bijak.

Tidak lama kemudian dataran pasir sudah ditinggalkan dan kami masuk ke dalam hutan, naik-turun dan berbelok-belok. Rombongan kami yang berjumlah ribuan berjalan beriringan satu-satu, mengarah ke barat laut. Rombongan itu tidak semuanva dari Tonie Bati, tapi juga dari sekian banyak desa di sekitarnya. Lewat tengah hari, lama setelah kami seharusnya sudah tiba di tempat berkumpul, kami membelok masuk ke sebuah jalan lain yang mengarah ke selatan. "Ini rupanya yang dimaksudkan orang-orang komunis itu dengan 'arah baru'," kataku dalam hati. "'Mengambil jalan memutar yang jauh tanpa alasan jelas."

Menjelang malam kami sampai di sebuah lembah kecil yang ada stasiun kereta apinya. Di situ sudah berkerumun orang-orang "baru" dengan barang-barang bawaan mereka. Berulangkali muncul iring-iringan kereta yang ditarik lokomotif uap dengan bahan bakar kayu. Tapi lokomotif-lokomotif yang bergerak dengan suara mendengus-dengus itu hanya lewat saja, tidak satu pun berhenti di stasiun. Lokomotif-Iokomotif itu menarik gerbong-gerbong kayu yang penuh sesak dengan penumpang; mereka berdiri di pintu, mengintip lewat celah-celah dinding, atau duduk di atas atap gerbong. Mereka tidak melambai ke arah kami. Mereka tidak kelihatan gembira.

Sementara itu kami semua sudah tahu bahwa kami takkan diizinkan kembali ke desa-desa asal kami. Itu dikatakan oleh Khmer Merah hanya agar kami mau meninggalkan tempat di mana kami semula berada.

Empat hari lamanya kami menunggu di dekat stasiun kereta api itu sementara iringan kereta demi iringan kereta lewat, masing-masing dengan muatan manusia berjumlah ribuan yang diangkut seperti ternak saja, keluar dari kawasan timur Kamboja. Kelihatannya Khmer Merah hendak mengosongkan seluruh kawasan itu.

Mengenai pengangkutan rombonaan kami sendiri, rupanya ada kesimpang-siuran di pihak penyelenggaranya. Kami tidak jadi dinaikkan ke kereta api di stasiun itu, melainkan disuruh berjalan kaki lagi, sekali ini ke sebuah desa yang ada di dekat situ. Keesokan harinya suatu irinairingan truk militer buatan Cina yang kosong datang di desa itu. Orang-orang "baru" yang sudah sekian lama menunggu kini berseru-seru dengan gugup, menyebutkan nama-nama tempat tujuan yang diinginkan. Para serdadu menyuruh diam dan naik ke truk. Kaml pun naik, dengan perasaan takut-takut. Kami juga. merasa. tolol. Mengherankan, bisa-bisanya kaml waktu itu semula percaya bahwa Khmer Merah akan benarbenar mengizinkan kami pulang ke desa awal masing-masing. Begitu polosnya kami, mengira bahwa mungkin saja mereka bersungguh-sungguh setelah mengalami kebohongan yang mereka katakan sewaktu menyuruh kami meninggalkan Phnom Penh.

Tubuh kami terlambung-lambung dalam keadaan bersesak-sesak di bak belakang truk-truk itu, yang bergerak beriringan menyusur jalan yang jelek sekali kondisinya, kemudian masuk ke jalan Nasional 3, menuju ke utara. Pemandangan yang kami lewati serupa dengan yang pernah kami lihat di mana-mana, rusak berantakan sebagal akibat perang. Pohon-pohon kelapa yang sudah tidak ada lagi pucuknya karena dlsambar peluru. Pohan-pohon mangga hangus terbakar. Pangkalan- pangkalan militer Lon Nol dengan truk-truk dan jip-jip yang terguling, dan tank-tank yang rantai rodanya sudah putus.

Truk yang kami tumpangi posisinya di tengah-tengah konvoi. Ketika kami menghapiri Phnom Penh lewat jalan pelabuhan udara timbul lagi harapan dalam hati kami, dan terdengar seruan-seruan gembira datang dan arah truk-truk yang lain. Kami memasuki Phnom Penh pada saat senja. Konvoi kami meluncur di jalan-jalan dalam kota dengan kecepatan tinggi. Kami sama sekali tidak berpapasan dengan manusia dan di mana-mana tidak nampak lampu penerangan: Phnom Penh masih tetap merupakan kota mati, seperti pada bulan April setelah semua penduduknya disuruh pergi. Harapan yang semula mulai timbul langsung lenyap lagi sementara iring-iringan truk meluncur terus menuju pinggir utara kota dan kemudian dipacu kernbali lewat Jalan Nasional 5 ke arah utara, kembali menuju daerah pedesaan. Jalan yang kami lewati itu arahnya sejajar dengan Sungai Tonie Sap, yang sebentar-sebentar nampak di sela-sela pepohonan. Kelihatannya seperti permukaan datar yang keperak-perakan.

Setelah menginap semalam di tengah jalan, keesokan paginya perjalanan diteruskan. Sekitar tengah hari kami sampai di Pursat. Di kota itu, yang merupakan ibukota propinsi, Jalan Nasional 5 dan lintasan rel kereta api saling bersilang lalu berjalan sejajar ke arah barat laut sampai akhirnya berpisah lagi di sebuah kota lain yang bernama Muong. Di Pursat penduduknya yang lama sudah tidak ada lagi: pasar kelihatan lengang, pintu-pintu pengaman tako-tako tertutup semuanya, tapi jalan-jalan yang berdekatan dengan stasiun kereta api penuh sesak dengan kerumunan orang yang termasuk rombongan-rombongan yang dipindahkan, seperti kami. Lewat pengeras suara terdengar pengumuman bahwa Angka membagikan makanan, dan kerumunan orang banyak itu bergerak maju karena ingin mendapat bagian. Aku ikut antri dan kemudian mendapat pembagianl beras dan garam serta sedikit ikan asin.

Sementara itu hari sudah sore. Beberapa blok dari stasiun kereta ada telaga yang ditumbuhi teratai dan tumbuh-tumbuhan air lainnya. Aku bersama keluargaku memilih sebuah tempat yang sunyi di seberang telaga itu, di tengah-tengah pohon pisang yang tumbuh menyemak. Hanya keluarga kami saja yang ada di situ. Di tempat itulah kami menyalakan api. Huoy memasak nasi. Ibunya capek, tapi ia tidak mengeluh. Kami semua capek setelah menempuh perjalanan yang begitu lama di bak belakang truk yang terbuka.

Ketika sudah kenyang Emak berdiri, membetulkan letak sarungnya, lalu pergi ke telaga untuk mengambil air. Aku dan Huoy masih terus makan, walau sebenarnya tidak begitu berselera. Ayah dan ibuku makan di dekat kami. Mereka duduk bersama Pheng Huor dan Hok, kedua saudara lelakiku yang masih ikut bersama keluarga mereka masing-masing.

"Mana Emak?" tanya Huoy beberapa menit kemudian.

"Mungkin sedang mengobrol. Sebentar, akan kucarikan jika kau menghendakinya." Aku berdiri, lalu berjalan lewat di bawah pepohonan menuju ke telaga. Tapi tidak ada siapa-siapa di situ, kecuali beberapa orang di seberang. Kupicingkan mata untuk melihat, barangkali saja ada wanita bertubuh gemuk dan bersarung di antara mereka.

Di manakah Emak?

Kualihkan pandanganku agak ke bawah. Kulihat sekelumit warna terang di tepi telaga. Aku menghampirinya. Jantungku berdebar-debar, bahkan sebelum memastikan bahwa yang kulihat Itu sandal jepit Emak.

Kuarahkan lagi pandanganku ke telaga. Tidak ada orang sedang berendam atau berenang di situ.

Aku berseru pada Huoy bahwa ibunya terjatuh ke telaga. Lalu aku menceburkan diri ke dalamnya dan mulai menggerapai, berusaha menemukan Emak. Telaga itu dingin airnya dan penuh denoan tumbuhan licin berlendir. Lintah-lintah menempel pada kedua lenganku, tapi aku tidak peduli. Ayahku rupanya mendengar teriakanku dan ikut mencari dalam air. Ia sudah tua dan lamban. Tapi la berusaha sebisa-bisanya. Aku menyelam agak lebih jauh dari tepi. Kemudian aku merasa ada sesuatu yang empuk di bawah rumpun tumbuhan teratai. Kutarik. Emak keluar dari air dan kuangkat ke tepi. Ia tldak bernapas lagi. Kupanggul dia dengan posisi menelungkup, dengan perut terletak dl atas bahuku, lalu aku melonjak-lonjak. Air mengucur dan mulutnya beserta nasi sedikit, tapi la tetap tIdak bernapas. Lengan dan tungkainya maslh lemas, tapl denyut nadinya tidak ada. Kucobakan teknik bantuan pernapasan dengan menghembuskan napasku ke dalam mulutnya yang kubuka; kupukul dadanya kuat-kuat dengan kedua tanganku yang terkepal untuk membantu jantungnya berdenyut lagi, lalu kucoba lagi memberikan bantuan pernapasan.

Aku terus berikhtiar.

Orang-orang berkerumun di sekelilingku. Tapi ikhtiarku sia-sia belaka. "Perhatian, Kawan-kawan!" terdengar suara menggema lewat corong-corong pengeras suara dari dekat stasiun. "Kalian harus naik ke kereta api sekarang. Angka meminta agar kalian mengumpulkan barang-barang bawaan dan naik ke kereta!"

Emak mati. Huoy kalut. Aku terpana. Jika ada sesuatu yang masih bisa dilakukan, yang jelas saat itu aku tidak tahu apa-apa lagi. Pheng Huor mengambil alih. Digendongnya tubuh yang terkulai tanpa nyawa itu ke sebuah pondok dan diletakkannva ke atas dua lembar papan, lalu dinyalakannya api di bawahnya. Di kalangan rakyat Kamboja ada kepercayaan kuno bahwa selama tubuh seseorang yang tidak bernapas lagi masih lemas, panas dari api bisa mengembalikan percikan nyawanya. Bagian dari diriku yang mengenyam pendidikan ilmu kedokteran Barat lidak cukup tangguh untuk menolak gagasan itu, dan aku menunggu di situ seperti yang lain-lainnya, mengharapkan terjadinya keajaiban.

Dua orang serdadu memanggul senapan berdiri sambil memperhatikan.

Pheng Huor menambahkan kayu ke dalam api. Kobarannya diperbesar, lalu diurut-urutnya lengan dan tungkai Emak. Tapi Emak tetap terbujur tanpa nyawa.

"Kalian harus pergi. Sudah waktunya berangkat sekarang," kata prajurit-prajurit yang berdiri di belakang kami. "Jangan menangis. Angka tidak mengizinkannya."

Emak bisa kami kuburkan menurut tradisi Cina, atau dikremasi menurut tradisi Budhis Kamboja. Salah satu daripadanya bisa kami lakukan, tapi rasanya tidak mungkin bahwa kami harus memilih dan bahkan Emak sudah meninggal dunia. Aku merangkul Huoy, tapi kepiluan hatinya saat ltu tidak mungkin bisa dilipur.

Dekat situ, di tengah belukar pohon pisang ada sebuah lubang besar yang digali untuk menanam pohon.

Kedua saudara lelakiku mengusung jenazah Emak di atas papan dan meletakkan di samping lubang Itu. Huoy merapikan letak rambut ibunya, lalu menciumi dan memeluknya seolah-olah Emak masih hidup. Ia tidak mau melepaskan ibunya sampai ayahku menepuk punggungnya dengan lembut sambil menyuruhnya melepaskan. Huoy menurut, lalu memukul-mukulkan kepalan tangan dan membentur-benturkan kaki, siku, dan lutut ke tanah.

Kami tidak punya lilin, dan karenanya lantas mencocokkan beberapa ranting menyala yang kami ambil dari api ke tanah. Aku dan Huoy mengucapkan doa untuk orang mati sambiI berlutut di hadapan jenazah ibunya. Keluargaku yang selebihnya ada di belakang kami.

"Kautinggalkan aku, Mak! Kautinggalkan aku seorang diri!" tangis Huoy. "Marahkah kau padaku, Mak? Katakanlah, bagaimana aku bisa berbakti padamu. Kau bisa minta padaku, apa saja yanlg kauingini. Mak tunggu saja aku di surga supaya aku bisa bersamamu lagi dalam kehidupan yang berikut. Mak, aduh Emak, aku ingin bersamamu. Bawalah aku ikut, Mak ... " Huoy merebahkan kepalanya ke dada ibunya, sambil menangis tersedu-sedu.

"Jika ia sudah mati, mau apa lagi," kata serdadu-serdadu itu dengan nada jengkel. "Kalian harus bergegas." Sambi! menangis tersedu-sedu kami berdoa dcngan kedua tangan ditangkupkan dalam sikap menyembah, laiu bersujud dengan kedua telapak tangan ditempelkan ke tanah di depan kaml.

"Dan jika Emak tidak bisa menungguku di surga," tangis Huoy, "kembalilah ke dalam keluarga kami. Aku ingin Emak dilahirkan kembali sebagai anak perempuanku, agar aku bisa lagi merawatmu dengan baik."

"Kalian harus pergi sekarang," kata serdadu-serdadu itu. "Kalian akan dihukum jika sampai ketinggalan kereta."

Emak kami masukkan ke dalam Iubang lalu kami timbuni dengan tanah. Kami meninggalkan tempat itu, berjalan menuju stasiun kereta api. Hati kami belum bisa menerima kenyataan yang sudah terjadi, bahwa kami meninggalkan Emak di situ. Tadi ia masih ada bersama kami di tempat masak. Dua menit kemudian ia sudah tidak ada lagi. Tidak ada yang melihatnya. Rupanya ia hendak masuk ke telaga untuk mengambil air; tapi ketlka menuruni tebing yang curam ia terpeleset lalu tenggelam. Tapi Emak bukan orang bodoh, Jadi tidak mungkin hal begitu terjadi karena kurang hati-hati. Mungkin ia punya alasan untuk melakukannya, kataku dalam hati.

Kereta api sudah ada di stasiun. Gerbong-gerbongnya yang berdinding kayu penuh sesak. Beberapa penumpang yang paling akhir naik ke atas atap, dan beberapa orang membantu kami mendesak naik dengan barang-barang bawaan kami, termasuk barang-barang Emak. Huoy duduk dl sampingku. Aku sampai nyaris kewalahan menahannya agar jangan sampai meloncat turun dari kereta dan lari kembali ke kuburan ibunya.

Terdengar bunyi lengkingan peluit lokomotif dan iring-iringan kereta mulai bergerak pelan meninggalkan stasiun. Roda-roda yang berputar di atas rel memperdengarkan bunyi detak berirama. Rombongan kami meninggalkan Pursat. Aku duduk sambi! merangkul Huov, melindunginya dari gangguan angin. Huoy masih selalu memerlukan kasih sayang ibunya, serta nasihatnya. la mengandalkan diri pada ibunya, bahkan melebihi ketergantungannya padaku. Kini ia tinggal punya aku saja.

Kereta berjalan mendengus-dengus menempuh lintasan yang lurus. Pemandangan alam di luar benar-benar datar. Sawah ke bukit-bukit berwarna kebiruan yang menjuIang dekat horizon. Tanah nampak kering dan gundul, pematang-pematang dirusak perang, petak-petak sawah tidak ditanami. Mungkin Itu sebabnya kenapa kami dikirim kemari, kataku dalam hati : untuk menanam padi di wilayah barat Kamboja.

Langit petang berubah warna menjadi kuning menyala, lalu oranye, dan kemudian matahari terbenam. Bulan purnama terbit di belakang kami. Dan Huoy tetap dirundung kepiluan, tanpa mungkin bisa dilipur.

Kereta api membawa kami melewati Muong dan akhirnya berhenti di Phnom Tippeday, sebuah stasiun di kaki gunung di tengah-tengah dataran rendah di propinsi Battambang. Aku dan Huoy berjalan menjauhi kerumunan orang. Kami ingin menyendiri. Di samping puing reruntuhan sebuah pabrik penggilingan beras yang hancur karena perang, kami menjumpai sebuah tumpukan sekam. Di situ kami bentangkan tikar plastik kami. Kami membuat sebuah tempat sembahyang darurat dengan mangkuk-mangkuk berisi beras dan air serta lilin-lilin yang kami peroleh dari orang-orang tak dikenal di kereta api, yang telah berbaik hati memberikannya kepada kami.

Setelah menyalakan lilin-lilin itu, kami berlutut. Kami bersembahyang, mendoakan arwah Emak. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar