Aku ingin membaktikan buku ini sebagai kenangan kepada ayahku, Ngor Kea, ibuku, Lim Ngor, istriku, Chang Huoy (Chang My Huoy), yang tewas secara teramat sengsara, biadab, dan tanpa perikemanusiaan di bawah rezim komunis Khmer. Buku ini kutulis agar dunia bisa lebih memahami komunisme serta rezim-rezim lainnya di Kamboja.

Jumat, 28 Desember 2012

Neraka Kamboja - Bab 10 : Obat-obatan untuk Angka


10
OBAT-OBATAN UNTUK ANGKA

INILAH yang diaiami oleh Huoy selama kami terpisah:

Sesudah aku meninggalkannya di sekolah tempat dia mengajar pada pagi hari tanggal 17 April yang sangat besar maknanya bagi perjalanan nasib kami selanjutnya itu, Huoy melihat bahwa sekolah ditutup. Guru-guru yang lain tidak ada yang muncul. Pintu terkunci semuanya. Bunyi tembakan terdengar datang dari berbagai arah. Karena nasibnya masih baik, ia berhasil menemukan pesawat telepon yang masih bekerja, lalu menelepon Sok, sopirku. Sok datang menjemput dengan mobil dan mengantarnya pulang. Sementara itu hari sudah pukul setengah sembilan, dan orang semuanya sudah tahu bahwa kota sebentar lagi pasti jatuh. Orang-orang mengibarkan kain putih Jari jendela-jendela. Para gerilyawan sudah memasuki kota dan nampak bergerak di jalan-jalan dengan pakaian hitam mereka yang kotor berlumpur. Huoy menyuruh Sok kembali ke rumahnya sendiri untuk menjemput keluarganya lalu membawa mereka ke apartemen tempat tinggal Huoy dan ibunya supaya bisa berkumpul beramai- ramai, demi keamanan. Sok setuju, lalu berangkat dengan mobil.

Sementara Huoy masih menunggu di apartemennya yang terletak di lantai atas bersama ibunya, para gerilyawan Khmer Merah yang ada di jalan-jalan mulai berseru-seru menyuruh semua orang meninggalkan kota. Huoy tentu saja tidak mau. Tapi kemudian satu jam sudah berlalu, lalu satu jam lagi, dan Sok masih juga belum kembali. Akhirnya, sekitar saat tengah hari, dua orang gerilyawan bersenjata lengkap masuk ke bangunan tempat apartemen Huoy; dari lantai dasar mereka langsung naik tangga dan menggedor-gedor pintu di setiap lantai mereka mengetuk pintu apartemen yang didiami Huoy bersama ibunya, di lantai tiga. Mereka berdua hanya punya waktu beberapa menit untuk mengumpulkan barang-barang yang sempat diambil, sementara kedua gerilyawan tadi berdiri menunggu sambil berteriak-teriak menyuruh mereka bergegas.

Huoy pergi ke dapur untuk mengumpulkan segala bahan pangan yang bisa ditemukan, ditambah sebuah periuk nasi dan dua botol berisi air minum yang sudah dimasak. Kemudian dikumpulkannya semua foto diriku yang dimilikinya, bahkan juga beberapa lembar kartu identitasku lengkap dengan foto yang kutinggal di sana, lalu dimasukkannya ke dalam tas. Akhirnya diambil olehnya bantal kecil dan empuk yang selalu dipakainya sebagai alas kepala pada waktu tidur. Ibunya mengemaskan beberapa lembar pakaian ke dalam sebuah keranjang. Kemudian mereka pergi setelah mengunci pintu apartemen, diikuti kedua gerilyawan tadi menuruni tangga. Huoy sebenarnya hendak pergi ke rumah orangtuaku. Tapi arus manusia di jalan hanya menuju ke satu arah, dan itu bukan arah yang hendak ditujunya. Mereka terpaksa ikut bergerak ke arah selatan.

Huoy bertekad mencari aku sampai ketemu. Karena suasana di jalan kacau-balau, nalurinya mendorong dirinya pergi ke tempat di mana aku kapan-kapan pasti akan muncul. Karena ke rumah orangtuaku tidak bisa, Huoy lantas memutuskan mencoba ke klinikku. Jika itu juga tidak bisa, ia akan ke pabrik penggergajian, dan dari situ mencari ke desaku. Foto-fotoku dibawanya dengan maksud memperlihatkannya nanti pada orang-orang yang akan ditanyai apakah: mereka berjumpa dengan aku. Begitulah jalan pikirannya saat itu. Baru kemudian disadarinya bahwa emas dan perhiasannya tertinggal di apartemennya. Ia lupa sama sekali tentang barang-barang berharga miliknya.

Ia dan ibunya sempat sampai di dekat klinikku. Tapi mereka tidak bisa mencapai tempat itu, karena terhalang rintangan-rintangan. Seperti yang kulakukan waktu itu, Huoy juga berjalan bolak-balik ikut dan melawan arus manusia yang bergerak dengan lamban membawa barang-barang milik mereka, dan ada pula yang sambi! mendorong sepeda motor atau mobil. Ketika Huoy mencoba memotong arus dan menyelinap masuk ke sebuah jalan samping, seorang kader Khmer Merah datang menghampiri dan mengacung- acungkan pistolnya di depan hidung Huoy, "Kau ingin tidur di sini? Akan kuberi kesempatan padamu untuk tidur di sini!" teriak remaja itu. Keberanian Huoy langsung lumer. "Tidur" berarti mati. Ia membiarkan dirinya serta ibunya ikut terseret arus banjir manusia. Mereka saat itu hanya dua sosok manusia belaka, yang ikut

hanyut ke luar kota. Mereka menjumpai belokan ke Jalan Nasional 2 sudih ditutup, dan mereka ikut hanyut melewati Jembatan Monivong, dan dari situ masuk ke Jalan Nasional 1. Mereka keluar dari Phnom Penh lewat jalan yang sama seperti aku, tapi lebih lambat beberapa hari.

Sambil mendengarkan cerita Huoy, dalam hati aku mengeluh. Kini kami sudah bersama-sama lagi - dan itu yang paling penting. Kuperhatikan dirinya, dengan celana panjang dan blus kumal yang terus dipakainya sejak hari pertama pengungsian. Sayang ia tidak ingat membawa lebih banyak barang miliknya, kataku dalam hati. Tapi memang begitulah Huoy, lekas sekali gugup jika ada orang berteriak-teriak. Tidak ada gunanya ia dimarahi. Lagi pula, bagaimana aku bisa marah padanya, jika foto-foto diriku termasuk di antara barang-barang yang tidak seberapa banyak jumlahnya yang rupanya dinilai penting olehnya sehingga tidak lupa dibawa?

Huoy dan ibunya pindah menggabungkan diri -bersama aku, Thoeun, orangku yang menjadi penjaga di klinikku, serta para perawat yang masih ada, di bawah kolong rumah yang berhasil kuusahakan bagi keluargaku. Keadaan kami serba bersama dan terbuka di situ. Aku tetap tidur seorang diri di atas gerobak sapi. Tapi ada juga satu perubahan. Tanpa pengumuman resmi, tanpa upacara, aku dan Huoy sudah dianggap seperti suami-istri. Para perawat memperlakukan Huoy dengan hormat dan penuh perhatian. Orangtuaku, saudara-saudaraku serta para istri mereka semuanya bersikap baik terhadap dia, setidak-tidaknya untuk sementara.

Tapi kini, setelah tidak ada lagi kecemasanku sehubungan dengan masalah-masalah pribadi -menemukan keluargaku, menemukan Huoy, dan akhirnya orangtuaku mau menerima Huoy-aku bisa melakukan penelaahan secara lebih luas tentang situasi yang kami hadapi, dan hasil telaahanku itu tidak mengenakkan hatiku. Betul, kami boleh mengucap syukur karena masih hidup dan bisa berkumpul bersama-sama. Di sekitar kami, di desa Wat Kien Svay Krao saja, ada ribuan orang Kamboja yang terpisah "dari orang-orang yang mereka cintai, berkeliaran dengan bingung dan sedih, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya atau di mana mereka akan bisa mendapat makanan lagi. Keluargaku sangat beruntung jika dibandingkan dengan keluargakeluarga lain di sekeliling kami. Di pihak lain, segala jerih-payah kami selima bertahun-tahun untuk membangun kedudukan kini ternyata tidak ada gunanya. Kerja kami membanting tulang di pabrik penggergajian, kesibukanku belajar dan menuntut ilmu selama itu. Kami tidak bersikap menyukai revolusi. Tapi kami juga tidak menentangnya. Kami malah bisa dibilang tidak mau tahu tentang urusan politik. Tapi kini setelah revolusi pecah, kami dilindas olehnya, digilas sehingga menjadi sederajat dengan para pengungsi lainnya yang ada di sekeliling kami. Sementara itu tidak nampak adanya suatu bentuk masyarakat yang baru. Yang ada hanya puing-puing reruntuhan masyarakat lama.

Beberapa bulan sebelum tampuk kekuasaan direbut komunis, aku akhirnya berhasil meraih gelar dari sekolah kedokteran negeri, sebagai puncak upayaku menuntut ilmu di situ selama tujuh tahun. Di samping pekerjaanku untuk pemerintah, aku juga dokter kepala dan salah seorang pemilik sebuah klinik bersalin yang berjalan baik. Apa gunanya pendidikan kedokteran itu bagiku sekarang, apabila Khmer Merah berniat membunuhi dokter-dokter?

Selama itu aku juga pengusaha, pemilik usaha jasa pengangkutan bensin. Aku memiliki tabungan sebanyak tujuh belas juta riel di bank, yang jika memakai patokan harga pada saat-saat prarevolusi cukup untuk membeli dua buah mobil tangki lagi untuk menambah jumlah armada angkutanku. Tapi berapa nilai simpananku itu sekarang, itu pun jika masih ada nilainya? Pihak Khmer Merah kelihatannya sama sekali tidak menggunakan mata uang. Akan diizinkankah aku nanti kembali ke bank untuk mengambil uang tabunganku itu? Hari demi hari, kemungkinannya semakin menyusut. Setiap hari mereka mengumumkan lewat pengeras suara bahwa kami harus pergi ke pedalaman.

Satu-satunya kekayaan kami yang bisa dipergunakan adalah yang kami bawa: dua mobil tangki, mobil Mercedes, Land-Rover, dan jip. Kecuali jika situasi berubah lagi, semuanya itu tidak ada gunanya lagi. Termasuk pula skuter Vespa-ku. Tidak ada lagi bensin yang bisa diperoleh dengan jalan membeli atau menukarkan barang. Tiba-tiba aku tersadar. Barter! Itu dia kuncinya! Menghadapi masa depan yang serba tidak jelas, kami perlu memiliki barang-barang yang nanti bisa dipertukarkan dengan barang-barang lain yang diperlukan. Tapi apa yang bisa kami jadikan modal?

Emas dan perhiasan bisa ada gunanya; terutama emas, karena siapa pun pasti tahu nilainya. Obat-obatan juga bisa ada nilainya. Kami sendiri memerlukan obat-obatan untuk melindungi diri dari risiko kena infeksi, malaria, dan penyakit lain-lainnya lagi yang lazim di daerah beriklim panas. Tapi obat-obatan yang tidak kami pedukan, bisa kami jadikan modal untuk melakukan barter nanti. Aku membawa obat-obatan dari klinik, tapi lebih banyak lagi yang kami perlukan.

Kami juga perlu punya pakaian. Bukan untuk dipertukarkan, tapi untuk dipakai sendiri. Aku masih saja memakai celana panjang hitam yang kukenakan sejak tanggal 17 April, beserta blus wanita yang kuambil di rumah sakit setelah kemejaku dicuri orang di situ. Huoy juga tidak punya pakaian selain yang membungkus tubuhnya. Penampilan kami sudah seperti para pengungsi yang lain. Aku membawa setumpuk sarung dari klinik, tapi itu takkan banyak gunanya. Apalah yang bisa kami lakukan? Mobil-mobil yang ditaruh di depan rumah makin lama makin mengesankan seperti barang-barang tak berguna, seperti monumen-monumen kenangan akan kejayaan masa silam, Tapi itu merupakan masa silam yang aku enggan melupakannya. Kami sudah berjerih-payah mengumpulkan harta, sehingga terasa terlalu berat bagiku untuk meninggalkan segala kekayaan itu dengan begitu.saja.

Sambil duduk di atas gerobak di kolong rumah, kusadari bahwa aku harus menemukan cara untuk bisa kembali ke Phnom Penh.

**********

Setiap pagi serdadu-serdadu Khmer Merah setempat berkumpul untuk beramai-ramai mengucapkan ikrar berdasarkan peraturan perilaku mereka, yang berbunyi sebagai berikut:

1. Cintai dan hormatilah kaum pekerja dan petani, serta berbaktiLah kepada mereka.
2. Berbaktilah kepada rakyat ke mana pun kita pergi, dengan sepenuh hati dan pikiran.
3. Hargailah rakyat tanpa merugikan kepen tingan mereka, tanpa menyentuh barang-barang atau tanaman mereka, dan jangan mencuri bahkan sebutir merica pun, dan jaga diri jangan sampai terlontar sepatah kata pun yang bernada kasar terhadap mereka.
4. Minta maaflah jika melakukan kekeliruan. Jika ada kepentingan rakyat yang dilanggar, maka kerugian yang terjadi harus diganti.
5. Ikuti adat kebiasaan rakyat pada saat bicara, tidur, berjalan, berdiri atau duduk, pada saat gembira atau tertawa.
6. Jangan berbuat yang tidak pantas terhadap wanita.
7. Dalam hal makan dan minum jangan ambil barang sesuatu yang bukan produk revolusioner.
8. Jangan berjudi dalam wujud apa pun juga.
9. Jangan sentuh uang milik rakyat. Jangan sekali-kali menjamah bahkan satu kaleng atau sebutir obat pun yang merupakan milik negara atau kementerian.
10. Bersikaplah dengan penuh kelembutan terhadap para pekerja dan petani, begitu pula terhadap segenap penduduk. Tetapi terhadap musuh, kaum imperialis Amerika beserta kacung-kacung mereka, tumbuhkan terus kebencian dengan penuh semangat dan kewaspadaan.
11. Senantiasalah menggabungkan diri dalam kegiatan produksi rakyat dan cintailah pekerjaanmu.
12. Berjuanglah melawan setiap musuh dan menghadapi segala rintangan. dengan penuh tekad dan ketabahan, siap untuk mengorbankan apa saja, termasuk nyawamu, untuk rakyat, kaum pekerja dan petani, untuk revolusi dan untuk Angka, tanpa ragu dan tanpa berhenti.

Setiap pagi, setelah acara pengucapan ikrar selesai, seorang serdadu muda Khmer Merah yang selalu itu-itu juga bergerak meninggalkan barisan lalu menuju ke dekat tempat kami di desa, untuk mengawasi kami. Setiap malam ia tidur di semacam buaian yang digantungkan pada pancang-pancang di sebuah gubuk tanpa dinding di belakang rumah yang kami tempati. Ia memakai pakaian seragam hijau buatan Cina dan topi pet seperti yang dipakai oleh Mao. Celananya sudah berlubang pada bagian pantat. Ujung bawah kemejanya sudah robek-robek, begitu pula bagian siku dan kerahnya. Di kantong kemejanya tidak terselip pena, yang menandakan bahwa ia prajurit dengan pangkat paling rendah.

Meski penampilannya kumuh, tapi semangat revolusionernya berapi-api. Berulang kali dalam sehari, jika ia sedang ingin melakukannya, ia menembakkan senapan AK-47-nya ke atas sambil meneriakkan slogan-slogan: "Hidup kemenangan kita! Ganyang imperialisme Amerika! Panjang umur Kamboja yang merdeka, damai, netral, tidak memihak, berdaulat, perdamaian, eh, damai, netral!" Ia sering tersandung-sandung jika mengucapkan kata-kata slogan yang tergolong panjang karena orangnya tidak begitu cerdas dan tidak tahu arti beberapa kata yang meluncur dari mulutnya. Perbuatannya menembak-nembakkan senapannya membuat kami gugup, tapi lambat-laun kami sadari bahwa ia tidak berniat jahat terhadap kami. Ia memiliki wajah Kamboja yang lebar dan bulat serta senantiasa siap tersenyum. Di balik seragamnya yang compang-camping dan indoktrinasi politik yang dicekokkan ke dalam benaknya, ia anak desa yang tidak berpendidikan.

Aku tidak tahu siapa namanya. Karena itu aku menyapanya dengan Mit saja, yang berarti kawan. Kemudian ia mulai suka berkeliaran di dekat-dekat rumah kami, karena tertarik melihat begitu banyak wanita muda yang ada di situ. Ia tidak pernah bersikap kasar atau kurang ajar terhadap mereka. Serdadu-serdadu Khmer Merah pada umumnya mematuhi peraturan mereka yang mengenai hal itu.

Meski begitu, sebagai tindakan berjaga-jaga kusuruh Huoy dan para perawat agar berhati-hati. Jangan berbuat sesuatu yang bisa menimbulkan dugaan bahwa aku sebenarnya dokter. Huoy dan para perawat tidak kuperbolehkan bicara dengan serdadu itu, kecuali jika ia yang menyapa lebih dulu. Apabila memasak makanan mereka: kemudian harus segera makan, untuk menghindari keharusan mengajak serdadu itu ikut makan bersama mereka. Tapi mereka harus menyisihkan sebagian untuk dia. Sekembaliku dari mana saja, kuantarkan makanan yang disisihkan itu ke tempatnya, lalu aku makan bersama-sama dengannya. Aku menampilkan diriku menjadi sasaran jika kapan-kapan rombongan besarku dilanda kesulitan.

Siasatku itu ternyata tepat. Jika ada sesuatu yang hendak dikatakan oleh mit itu kepada salah seorang dari isi rumah, ia selalu menyampaikannya kepadaku, selaku juru bicara mereka. Kami sedikit pun tidak mengalami kesulitan menghadapinya. Sekali-sekali dibawakannya sayur-sayuran dan daging untuk kami, dalam semangat "berbakti kepada rakyat". Bahan pangan itu kemudian dimasak oleh para perawat, dan kuurus agar mit mendapat bagian yang cukup banyak.

Aku berusaha mengakrabkan diri dengan dia, dengan pertimbangan bahwa jika kami kapan-kapan disuruh pergi dan hidup di pedesaan oleh Khmer Merah, ada kemungkinan mit itu yang akan menjadi pengawas kami. Kuatur gayaku berbicara pada dia: sopan tapi ramah, dengan logat yang kuusahakan agar mirip logat bahasanya. Meski tidak pernah kuajukan pertanyaan yang bersifat pribadi kepadanya, tapi kuduga ia berasal dari Propinsi Svay Rieng, dekat perbatasan dengan Vietnam. Di propinsi itu banyak desa yang jadi rata dengan tanah sebagai akibat pertempuran dan pemboman, serupa keadaannya dengan desaku dulu. Ia terseret ke dalam peperangan, sama seperti aku. Satu-satunya perbedaan adalah, ia terseret ke pihak sana.

"Bagaimana rencana Angka mengenai negeri kita ini?" tanyaku pada suatu malam, ketika kami sudah duduk dan hendak mulai makan. Ia mengeluarkan sendoknya lalu mengelapkannya ke celananya yang sudah robek-robek, dan kemudian baru mengambil nasi. Di samping senapan, sendoknya itu merupakan benda yang paling disayanginya. Alat makan itu bekas perlengkapan militer Amerika, terbuat dari bahan baja tahan karat yang sangat awet. Serdadu-serdadu Khmer sangat menggemari sendok buatan Amerika semacam itu; sebenarnya aneh, jika diingat betapa bencinya mereka kepada Amerika Serikat.

"Terlalu banyak orang di kota," kata mit itu dengan mulut penuh makanan. "Mungkin Angka nanti harus mendorong mereka bekerja sebagai petani. Angka punya doktrin baru, untuk membangun suatu masyarakat yang baru."

Itu cerita lama bagiku. Kuputuskan untuk dengan berhati-hati mengorek keterangan lebih· jauh.

"Angka itu siapa sih, Mit?" kataku.

"Aku tidak tahu," jawab serdadu muda itu. Pertanyaan itu ditanggapinya dengan biasa-biasa saja. Kelihatannya ia sendiri belum pernah bertanya- tanya tentang hal itu.

"Kau pernah melihat Angka selama sekian rahun berjuang melawan kapitalis?"

"Tidak, aku belum pernah melihat Angka. Tapi aku selalu mendengar tentang Angka. " Disendoknya lagi nasi dan daging babi banyak-banyak lalu disuapkannya ke mulut.

Paling banyak hanya itu saja yang bisa kuketahui dari dia tentang kepemimpinan Khmer Merah.

Beberapa hari kemudian ketika mit itu datang lagi menghampiri kami, dilihatnya kami sedang duduk-duduk di keteduhan kolong rumah. Sementara itu ada dua perawat lagi yang akan meninggalkan rombongan kami, karena sudah berhasil menemukan keluarga masing-masing. Dalam rangka persiapan pergi memisahkan diri dari kami, kedua perawat itu menghamparkan bekal obat-obatan kami di atas gerobak sapi dan saat itu sedang sibuk mengambil bagian mereka.

"Wah, banyak betul obatnya," kata serdadu muda itu. "Bisa dipakai untuk penyakit apa saja?"

Para perawat mengatakan bahwa obat-obatan itu bisa dipakai untuk mengobati berbagai macam penyakit. Aku duduk di dekat situ, berlagak tidak mengerti apa-apa tentang urusan itu. Mit kami memungut beberapa tabung gelas berukuran kecil berisi cairan jernih. Dengan melihat sekilas saja aku sudah tahu bahwa itu cairan vitamin untuk diinjeksikan. Serdadu itu bertanya padaku tentang kegunaannya. Aku menjawab dengan gerakan tangan yang menunjukkan sikap tidak begitu peduli bahwa obat-obatan yang ada di gerobak itu bisa dipakai untuk penyakit apa saja.

Mit kami duduk di sisiku. "Kalian punya serum untuk transfusi?" tanyanya. Serum merupakan istilah umum untuk cairan yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah pasien, baik itu glukose atau larutan garam, atau vitamin, dan termasuk pula produk-produk darah. Dalam ingatanku terbayang kembali cairan yang mengalir turun dari tabung-tabung infus ke lengan pasien-pasien yang berada dalam keadaan tidak sadar. Aku sudah sering sekali memasang tabung infus sewaktu di rumah sakit.

"Kami punya segala macam obat di sini," kataku dengan nada yang sengaja kubuat seperti hal itu bukan urusanku.

"Boleh aku minta sedikit?" kata mit itu. "Angka sama sekali tidak punya obat-obatan. Kalau hendak memberikan transfusi, terpaksa yang dipakai air kelapa. "

Aku bersikap tak acuh terhadap ucapannya mengenai air kelapa itu. Kukatakan padanya dengan nada biasa-biasa saja, "Tentu, bisa saja kami memberimu serum. Aku punya banyak. Tapi tidak kubawa kemari. Jika kau datang ke rumahku di Phnom Penh, nanti kuberikan sebanyak yang kauinginkan. Kalau kau punya jalan supaya kita bisa masuk lagi ke kota, nanti kau kuberi obat apa saja yang kauperlukan. ltu bukan masalah. "

Mit itu kelihatan berpikir sebentar, lalu bertanya padaku apakah aku tidak asal bicara saja.

"Tidak, aku bersungguh -sungguh," jawabku. "Aku diberi kawan-kawanku obat-obatan sampai banyak sekali. Kami menyimpannya di rumah, untuk keperluan keluarga sendiri. Jika aku bisa dengan salah satu cara kembali ke Phnom Penh nanti kau akan kubagi sebanyak yang kauinginkan. "

Mit itu mengatakan bahwa ia akan mencari kemungkinan, lalu pergi meninggalkan kami. Aku bertanya dalam hati, bisakah ia menemukan jalan untuk kembali ke Phnom Penh. Yah, tidak ada salahnya mencoba.

Kemudian pikiranku beralih pada air kelapa yang diceritakan mit itu tadi. Air kelapa dialirkan ke dalam pembuluh darah manusia? Air kelapa! Kalau monyet bermain dokter-dokteran, perbuatan itu masih bisa kumengerti!

Tapi ketika kupikirkan lebih jauh, kusadari bahwa air kelapa bisa saja dipakai sebagai cairan pengganti, dalam keadaan darurat tertentu. Air kelapa merupakan produk alam yang suci hama, dan baru mungkin tercemar ketika buahnya dibelah dengan parang. Airnya manis, jadi kenapa tidak bisa dijadikan pengganti larutan glukose di medan perang, untuk memberi bahan energi ke dalam tubuh pasien- yang tidak mampu makan karena kondisinya terlalu lemah. Tapi tidak bisa kubayangkan Khmer Merah mensterilkan dulu parang yang akan dipakai membelah buah kelapa. Aku sangat menyangsikannya. Air kelapa yang tercemar kotoran yang berasal dari parang tidak selalu menyebabkan orang yang meminumnya jatuh sakit, karena perut sanggup menanggulangi berbagai macam bakteri yang masuk ke dalamnya. Tapi urusannya lain jika air kelapa yang tercemar diinjeksikan ke dalam saluran darah. 1tu bisa mengakibatkan kematian pasien yang kondisinya memang sudah lemah.

Tapi bukan itu saja: kadar gula yang terkandung dalam air kelapa berbeda-beda antara buah yang satu dengan buah lainnya. Aku tahu dari pengalamanku semasa kecil bahwa buah kelapa yang umurnya dua bulan belum masak; buah berumur lima bulan, airnya pada umumnya terasa manis, sedangkan kalau sudah berumur tujuh bulan airnya mulai terasa masam dan mengental karena bercampur dengan daging buahnya. Apakah para petugas medis Khmer Merah memeriksa dulu air kelapa yang hendak dipakai sebelum menuangkannya ke dalam kantong-kantong infus? Kemungkinannya tidak. Dari apa yang kulihat sampai saat itu, dan dari kenyataan bahwa mereka mencari-cari para dokter di rumah sakit untuk dibunuhi, mereka nampaknya tidak begitu mempedulikan praktek-praktek kedokteran yang lazim. Apabila mereka kini menginginkan bahan serum untuk transfusi yang biasa dipakai di rumah sakit, maka itu karena mereka iri dan ingin mempunyainya juga, seperti halnya mereka ingin juga punya sendok makan buatan Amerika. Belum lagi karena prajurit-prajurit mereka yang mati setelah mendapat transfusi air kelapa.

Terbayang dalam benakku gambaran mengerikan, petugas-petugas medis dengan seragam piama hitam berlumuran darah sibuk membelah-belah buah kelapa dan menuangkan airnya yang kotor ke dalam tabung-tabung infus.

Keesokan harinya mit kami datang kembali. Ia bertanya lagi padaku apakah aku betul-betul punya serum dalam jumlah besar di Phnom Penh. Aku menjawab lagi bahwa aku punya banyak dan dia boleh mengambil seberapa saja ia mau. Tapi untuk itu kita harus bisa kembali dulu ke Phnom Penh, kataku.

Ia bertanya padaku, bagaimana caranya.

Kupandang serdadu muda itu, lalu kugerakkan bahuku dengan gaya tak peduli.

"Kalau kamu mau, kita bisa saja pergi bersama-sama naik skuterku, Mit," kataku dengan nada seakan-akan aku-dan juga dia-segan melakukannya. Vespa putihku kutaruh di kolong rumah di samping gerobak sapi. Stiker Palang Merah yang menempel pada bagian belakang sadel sudah cepat-cepat kusingkirkan. "Tapi aku tidak punya bensin. Kita perlu empat sampai lima liter, paling sedikit. "

Aku sebenarnya masih punya bensin, tapi sudah kualirkan keluar dari tangki skuterku dan kusembunyikan untuk nanti kalau ada keperluan mendesak, begitu pula businya. Malam sebelumnya aku sudah berembuk dengan Huoy tentang soal itu. Kami sependapat bahwa lebih penting bagi kami untuk bisa dengan segera lari naik skuter - katakanlah, jika orang-orang Khmer Merah yang ada di situ mulai membunuhi penduduk sipil-ketimbang kembali ke Phnom Penh untuk mengambil obat-obatan dan emas yang tertinggal. Selain itu, jangan sampai nampak bahwa aku sangat ingin kembali ke Phnom Penh.

"Besok kita ke kota," kata mit itu dengan tandas lalu pergi, kemungkinannya untuk melapor kepada atasannya.

Ketika ia sudah pergi, kuambil busi dari tempat aku menyembunyikannya selama itu. Aku membersihkannya, lalu memasangnya ke silinder mesin Vespa-ku. Kuperiksa kendaraanku itu dengan secermat-cermatnya untuk memastikan bahwa semuanya masih benar-benar beres.

Keesokan paginya mit itu muncul dengan membawa bensin sebanyak sepuluh liter, dua kali lipat dari yang diperlukan. Rasanya banyak sekali saat itu bagiku, yang pernah memiliki beberapa mobil tangki pengangkut bensin! Buru-buru kutuangkan cairan berharga itu ke dalam tangki skuterku, sebelum serdadu muda itu berubah pikiran. Ia disertai seorang kader yang mengenakan seragam buatan Cina yang robek tapi sudah ditambal rapi, bersenjata pistol lengkap dengan sarungnya yang tergantung di pinggang, serta krama berkotak-kotak putih dan biru yang diikatkan sekeliling lehernya seperti syal. Di kantong kemejanya terselip sebatang pena, yang menandakan bahwa ia berpangkat perwira. Si Satu Pena itu penampilannya seperti kebanyakan orang Kamboja, dengan wajah yang nampak biasa dan lebih nampak riang ketimbang kejam.

Tanpa banyak bicara lagi kudorong Vespa-ku keluar dari kolong rumah, lalu kuhidupkan mesinnya. Hatiku sudah terasa enak lagi: untuk pertama kalinya sejak perebutan kekuasaan oleh komunis, aku akan menunggang kendaraanku itu lagi, dan bukan berjalan kaki sambil mendorongnya. Para perawat dan segenap keluargaku hanya memandang saja dari kejauhan. Huoy berdiri dekat tiang-tiang rumah. Ia juga hanya memandang saja. Tapi dari tatapan matanya yang terbuka lebar aku tahu bahwa dalam hati ia menyuruh aku supaya berhati-hati. Aku mengedipkan mata ke arahnya, mengisyaratkan bahwa ia tidak perlu khawatir. Aku mengikatkan krama-ku ke leher meniru gaya si Satu Pena; kuharapkan dengan begitu penampilanku akan agak seperti orang Khmer Merah. Aku meletakkan pantatku di atas sadel, disusul oleh si Satu Pena dan mit kami secara berurutan. Kami bertiga duduk saling merapat di atas skuter itu. Kami pun berangkat, mendaki tebing pinggir jalan raya yang letaknya lebih tinggi dari sekelilingnya. Krama yang melilit leherku melambai-lambai dipermainkan angin ketika skuter kupercepat larinya.

***********

Sepanjang jalan raya yang kami lewati masih ada orang-orang yang berjalan kaki dari arah kota, tapi jumlahnya tidak banyak lagi. Di kiri-kanan jalan masih berkeliaran ribuan orang di tempat-tempat perkemahan sementara. Di kejauhan muncul iring-iringan truk yang makin lama makin dekat dan kemudian berpapasan dengan kami, menuju ke arah Vietnam mengangkut barang-barang yang entah apa saja; aku.tidak tahu, karena ditutupi terpal.

Aku terus memacu skuterku di tengah hawa yang sudah mulai panas lagi. Dalam setengah jam kami sudah menempuh jarak yang memakan waktu beberapa hari ketika aku melewatinya dengan berjalan kaki. Dekat Jembatan Monivong masih saja ada kerumunan orang berdesak-desakan, meski tidak lagi sebanyak waktu itu. Di ujung jembatan ada tempat pemeriksaan yang baru berupa kubu mitraliur yang dikelilingi tumpukan karung pasir belakang kubu penjagaan itu nampak dua deretan barikade dari gulungan kawat berduri dengan tempat luang untuk melintas di sela-selanya, mula-mula ke satu sisi lalu berbalik ke sisi yang lain.

Aku menghentikan skuterku di tempat penjagaan itu dan mematikan mesinnya. Si Satu Pena turun lalu masuk ke tenda penjagaan. Dengan segera ia sudah keluar lagi dan duduk kembali di belakangku.

"Mereka mengizinkan kita terus, Kawan?" tanyaku padanya sambil menghidupkan skuterku lagi.

"Tidak ada masalah," katanya dengan nada puas. "Jika kau ikut dengan aku, soal itu selalu beres."

Kujalankan skuter berbelok-belok melewati barikade lalu menyeberangi jembatan yang melengkung. Tidak kelihatan penduduk sipil di atasnya. Pada bagian lengkungan yang paling tinggi posisinya ada lagi kubu mitraliur yang dibentengi karung-karung pasir, dengan keleluasaan menembak ke segala arah, termasuk ke arah sungai di sebelah bawahnya. Di ujung seberang ada lagi deretan barikade yang harus kami lewati, serta sebuah tempat pemeriksaan.

Kami sudah memasuki kota.

Kuarahkan skuterku memasuki Boulevard Norodom, yang semasa prarevolusi merupakan kawasan tempat tinggal keluarga-keluarga terkaya di Phnom Penh. Serdadu-serdadu Khmer Merah nampak sedang bersantai di balkon-balkon lantai atas beberapa rumah. Ada pula serdadu-serdadu yang berkeliaran di jalan-jalan, melangkah di sela-sela sampah dan reruntuhan. Di mana-mana berserakan botol-botol, buku-buku, pakaian yang dibuang, tumpukan sampah, pecahan kaca, dan macam-macam lagi. Sepeda motor nampak terguling di sana-sini: mungkin ditinggal karena kehabisan bensin, atau karena tidak ada yang tahu bagaimana cara menjalankannya. Hampir di setiap blok terlihat bangkai-bangkai mobil yang dibakar dan truk-truk dengan ban yang kempis dan kaca-kaca jendela yang berantakan karena dipecahkan.

Kuingatkan diriku agar memusatkan pikiran pada tujuan kedatanganku kembali ke kota. Tapi pemandangan jalan besar yang rusak berantakan itu menimbulkan rasa pedih dalam hatiku. Dengan segala kebobrokan dan tindak-tindak korupsi yang terjadi di dalamnya, Phnom Penh dulu merupakan kota yang indah. Dan kini dikosongkan, dibiarkan terbengkalai menjadi tempat lalat beterbangan-aku memperlambat skuterku umuk mengitari sebuah truk yang terbalik, dan kupaksa diriku agar jangan lebih lama menyiksa pikiran sendiri.

Suasana di kota sunyi-senyap.

Kami sampai di suatu barikade kawat berduri lagi yang menghalangi jalan, di depan bangunan bekas tempat kediaman Lon No!. Aku memperlambat skuterku, mengemudikannya melewati celah di barikade pertama lalu menuju ke celah pada barikade berikut. Sememara aku melakukannya, mit yang duduk paling belakang di atas skuterku berseru dengan riang, "Hai, Kawan!" kepada seorang serdadu yang ada di trotoar. Tahu-tahu serdadu itu sudah mencabut pistolnya dan menembakkannya ke atas sambil berseru menyuruh aku berhenti. Aku mengerem skuterku sehingga berhenti dekat barikade kedua.

Serdadu yang menembak tadi berjalan dengan marah menghampiri kami. Aku berdiri mengangkangi skuterku dengan mata menatap lurus ke depan dan tangan memegang setir. Aku kan cuma pengemudi kendaraan itu saja. .

"Kalian ini dari satuan mana?" tukas serdadu yang menyuruhku berhemi.

"Dua ratus tujuh," jawab si Satu Pena.

"Begitu ya? Nah, lain kali jangan panggil- panggil aku," kata serdadu tadi kepada mit kami. "Kawasan ini di bawah pengawasanku. Aku tidak mau ada yang berteriak-teriak, tidak peduli dari satuan 207 atau satuan mana pun juga. Mengerti?"

Mit kami mengatakan bahwa ia mengerti. Aku menarik napas dalam-dalam lalu menjalankan skuter lagi. Di belakangku terdengar suara si Satu Pena menyumpah-nyumpah tentang satuan-sawan yang menduduki Phnom Penh dan bahwa mereka itu bodoh dan kampungan sekali jika dibandingkan dengan satuannya sendiri.

Si Satu pena menyuruhku membelok masuk ke sebuah jalan lain. Kuturuti perintahnya, Di tengah- tengah jalan itu, dekat gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat yang sudah ditinggalkan para penghuninya yang lama, sekitar setengah lusin penduduk sedang mendorong sebuah mobil tua, Si Satu Pena menyuruhku mendatangi mereka, dan aku menu rut lagi. Setelah sampai di dekat mereka, si Saw Pena turun lalu membentakbentak orang-orang sipil yang berdiri dengan kepala tertunduk, menyuruh mereka meninggalkan kota, bahwa mereka terlalu lambat, bahwa mereka harus segera berangkat ke pedalaman, dan macam-macam lagi. Ketika ia sudah puas melampiaskan kemarahannya kepada orang-orang yang tak bersalah itu, ia duduk lagi di belakangku. "Tahu rasa mereka," katanya dengan nada puas. "Sekarang kembali ke jalan yang tadi. Kita berkeliling melihat-lihat kota."

Maka dimulailah acara pesiar kami berkeliling Phnom Penh, dengan aku sebagai pengemudi merangkap pemandu wisata. Suasana Phnom Penh seperti kota hantu, dengan bangunanbangunan masih di tempat semula tapi tanpa ada satu pun penghuninya. Bunyi mesin Vespa-ku menggema di jalan-jalan yang lengang, seperti bunyi dengungan lalat di dalam ruangan yang tertutup dan kosong. Di jalan-jalan tidak nampak kendaraan lain kecuali mobil-mobil yang rerbakar. dan digulingkan. Tidak nampak seorang pun di trotoar selain sekali-sekah seorang prajurit Khm.er Merah yang berjalan dengan kaki beralas sandal yang terbuat dari ban mobil.

Kuarahkan skuterku kembali ke Boulevard Norodom, lewat Istana Raja dan stadion yang lama. Kami sampai di lokasi gedung Kedutaan Besar Perancis. Di sana kami melihat pemandangan yang tak disangka-sangka semula: orang-orang Barat berkulit putih di pekarangan gedung. Jumlah mereka cukup banyak. Tapi di luar pekarangan ada beberapa prajurit yang menjaga, dan aku tidak berani berhenti untuk menanyakan apa yang sedang terjadi di situ.

Kukemudikan skuterku melewati sekolah kedokteran, menuju Pasar Pusat dan dari situ masuk ke Boulevard Charles De Gaulle. Akhirnya kuhentikan Vespa-ku di depan bangunan temp at apartemen Huoy dan kumatikan mesinnya.

Hanya kami bertiga saja yang ada di jalan yang lengang itu.

Di dalam cafe di lantai bawah, nampak meja-meja dan kursi-kursi masih teratur rapi. Di situ pun tidak ada siapa-siapa. Seluruh kota sunyi-senyap. Tidak suatu bunyi pun terdengar kecuali suara samar tembakantembakan di kejauhan.

Aku mengunci Vespa-ku dan memberi isyarat kepada kedua serdadu Khmer Merah itu agar ikut denganku. Aku sendiri heran bahwa aku menginginkan mereka ikut untuk pengamanan diriku. Kubuka pintu depan yang terkunci, lalu kami mulai menaiki tangga sambi! berbicara dengan suara pelan.

Aku berjalan paling depan. Ketika aku sampai di lantai tiga, pintu apartemen yang berseberangan letaknya dengan tempat tinggal Huoy terbuka sedikit, menampakkan wajah penuh kerut dari seorang wanita tua yang mengintip ke luar. Aku kenai siapa dia. Wanita tua itu ibu seorang pilot perusahaan penerbangan komersial yang tinggal di situ.

Wanita tua itu cepat-cepat menutup pintu apartemennya kembali ketika melihat kedua serdadu di belakangku. Rupanya ia bersembunyi di situ sejak saat terjadinya perebutan kekuasaan.

Kedua serdadu Khmer Merah itu mendengar bunyi pintu ditutup, tapi mereka tidak pergi memeriksa. Rupanya mereka sama takutnya seperti aku. Aku membuka pintu apartemen Huoy yang terkunci, mempersilakan kedua orang ini masuk dan kuajak menghampiri lemari pajangan yang berlapis kaca bagian depannya, pemberianku pada Huoy sekian waktu yang lalu. "Obat-obatan itu ada di dalam kotak ini," kataku. "Akan kuberikan sesuatu pada kalian untuk tempat mengangkutnya. "

Seperti orang yang sedang dalam keadaan trans yang ringan, yang bisa melakukan berbagai hal tapi sekaligus mengamati tindak-tanduknya sendiri dengan perasaan seperti sedang memperhatikan orang lain, aku menemukan tas jinjing dengan ritsleting untuk mereka dan sebuah ransel besar untukku sendiri. Sementara itu kedua serdadu tadi asyik mengamat-amati tulisan pada label botol-botol obat itu, yang berbahasa Perancis. Sementara itu aku merogoh-rogohkan tangan ke rak paling bawah. Kutemukan bungkusan kain hitam yang tergulung di antara kain-kain lap yang disimpan di situ. Bungkusan itu berat. Isinya emas.

"Apa isi botol-botol ini?" tanya si Satu Pena padaku.

Kugenggam emas yang ada dalarp bungkusan kain hitam tadi, lalu pergi membawa ranselku ke seberang kamar, menghampiri meja rias Huoy. "Aku tidak tahu pasti, Kawan. Kenapa tidak kita angkut saja semua yang bisa kita bawa sekarang dan nanti saja kita lihat obat apa saja itu?" Bungkusan kain hitam tadi kugulung dalam selembar blus milik Huoy lalu kujejalkan ke dasar ranselku. Kemudian kutemukan kotak perhiasannya, dan itu pun kumasukkan ke dalam ransel. Setelah itu ransel kuisi penuh-penuh dengan pakaian Huoy, lalu kututup dan kukancingkan pengikatnya. Aku hanya memedukan waktu semenit untuk melakukannya. Kedua serdadu Khmer Merah itu masih terus sibuk mengambil obat-obatan dari rak-rak dan memasukkan semuanya ke dalam tas jinjing. Mereka bergegas-gegas, karena ingin cepat-cepat pergi lagi dari apartemen itu, sama seperti aku.

Ketika sudah hendak ke luar kuambil sekaleng kue yang ada di atas meja dan kuberikan kepada kedua serdadu itu, sebagai hadiah. Mereka bertanya apa isinya. Kujelaskan bahwa kue-kue itu sejenis jajanan Barat. Ada racunnya? tanya mereka lagi. Kumakan sepotong untuk menunjukkan bahwa makanan itu tidak beracun. Setelah itu barulah mereka mau mencoba, masing-masing sebuah. Mereka langsung tersenyum lebar. Kelihatannya baru kali itulah mereka merasakan kue jenis itu.

Kemudian kami menuruni tangga menuju ke bawah, tanpa mengacuhkan wanita tua yang ada di apartemen yang satu lagi di lantai tiga itu. Sesampai di tempat aku menaruh Vespa-ku tadi aku lantas menghidupkan mesinnya. Kuletakkan ransel di antara kakiku, lalu kami bertiga naik skuterku menuju ke tempat tinggalku. Dalam perjalanan ke sana aku sibuk mereka-reka apa saja yang perlu kulakukan nanti.

Ketika kami sampai kukunci lagi skuterku. Perbuatanku itu tanpa penalaran: di situ tidak ada siapa-siapa, jadi skuterku takkan mungkin hilang. Kami memasuki apartemenku. Aku berjalan paling depan, langsung menuju ke lemari obatku. Kuulurkan tangan menjangkau ke sebelah atasnya, mengambil sebuah cincin emas yang kusimpan di situ. Cepat-cepat kukantongi cincin yang berat itu. Setelah itu kuraup obat-obatan yang ada di dalam lemari sehingga semuanya berjatuhan ke lantai. Kukatakan kepada kedua serdadu yang menemani, sebaiknya semuanya dibawa saja dulu ke desa dan di sana baru disortir.

Sementara mereka sudah sibuk lagi, kudatangi lemari pakaianku. Dalam laci paling atas ada beberapa kotak sirih hasil kerajinan tangan Kamboja. Masing-masing kotak dihiasi ukiran timbul berwujud binatang: misalnya harimau, gajah, atau buaya. Itu juga bisa dijadikan modal untuk dipertukarkan nanti. Kotak-kotak itu kubungkus dengan pakaianku lalu kumasukkan ke dalam ransel. Dalam laci lain ada amplop berisi uang dollar Amerika. Jumlahnya dua ribu enam ratus dollar. Itu juga kuambil. Kemudian kubuka laci-laci yang lain dan pakaianku yang ada di situ kujejal-jejalkan ke dalam ransel besar. Hanya laci paling bawah saja yang tidak kubuka, sebab di situlah kutaruh pakaian seragam tentaraku. Akhirnya kupegang kedua sisi ransel itu, kujejalkan isi di dalamnya ke bawah dengan kaki agar tidak ada yang masih tersembul ke luar. Lalu kukancingkan penutup ransel itu.

Si Satu Pena bertanya sambil mengacungkan sebuah kantong plastik berisi cairan, apakah itu 1 serum. Mungkin, jawabku, tapi nanti kita bisa memastikannya kalau sudah kembali ke Wat Kien Svay Krao.

Kedua serdadu Khmer Merah itu berjongkok menghadapi timbunan pil, salep, dan bermacam-macam jenis obat-obatan lain; senapan AK-47 yang dibawa mit tergeletak di sampingnya. Tidak banyak lagi tempat yang masih ada dalam tas jinjing mereka. Aku mengambil selembar handuk lalu memilih obat-obatan yang menurutku paling perlu kubawa: antibiotika untuk infeksi, pil-pil antimalaria, antidisentri, antidiare, vitamin-vitamin, merkurokrom untuk mengobati luka, xilokain untuk menghilangkan rasa nyeri beserta sejumlah alat penyuntiknya. Sementara itu si Satu Pena sibuk memunguti botol demi botol secara sembarangan, menekuni tulisan-tulisan yang berhuruf Latin tanpa mengetahui maknanya, berusaha menebak kegunaan pil-pil dengan melihat bentuk atau warnanya. Si Mit sudah terlebih dulu menyerah.

"Ada air di sini?" tanyanya padaku.

"Ada. Ambil saja sendiri," kataku tak begitu peduli.

Kubantu si Satu Pena berkemas, sementara si Mit pergi mencari air untuk minum. Kemudian terdengar bunyi air mengucur deras di kamar mandi, teriring sumpah-serapah si Mit. Aku langsung merasa bisa menebak apa yang terjadi, lalu pergi melihat. Benarlah, dada dan bahu si Mit basah kuyup. Ia tidak tahu bahwa jika keran di bawah pancuran diputar, air akan menyembur dari situ. Ia memandang bak tempat cuci tangan. Tapi ia tidak berani mengambil risiko, karena bak itu juga diperlengkapi dengan keran. Kemudian dilihatnya ada air yang sudah tersedia, lalu diraup dan diminumnya. Air dari jamban duduk itu diseruputnya dengan nikmat. "Rasanya persis seperti air dari sumur," katanya mengomentari. Ia membungkuk lagi dengan tangan diraupkan untuk minum lagi. Kemudian ia berdiri sambil menjilat-jilat bibir. Nampak bahwa ia puas. Ia sudah tahu bagaimana caranya memakai kamar mandi model Barat.

Rasanya aku ingin tertawa. Aku ingin tertawa keras-keras, untuk melenyapkan ketegangan. Tapi kukatupkan mulut rapat-rapat. Aku tidak mengatakan apa-apa. Tapi dalam hati timbul juga rasa kasihan dan sekaligus kejengkelan kepada anak desa itu, yang tidak tahu apa sebenarnya kegunaan jamban yang olehnya diminum airnya itu,

Kami pergi meninggalkan apartemenku. Bahan obat-obatan yang kubawa keluar dengan dibungkus handuk kupindahkan ke tempat barang di sisi kiri Vespa-ku. Ransel besar kuletakkan kembali di antara kedua kakiku. Kemudian kami berangkat, kembali ke arah luar kota. Bunyi mesin skuterku bergaung di jalan-jalan yang lengang.

Beberapa blok kemudian kami sampai di sebuah sekolah yang kosong. Itu gedung sekolah menengah yang namanya Lycee Tuol Svay Prey sebelum Khmer Merah masuk ke kota. Kini tidak ada siapa-siapa lagi di situ. Pekarangannya ditumbuhi rumput liar yang sudah setinggi lutut. Kami tidak berhenti di situ, dan aku waktu itu juga tidak begitu memperhatikannya. Tapi kemudian, masih dalam tahun yang sama, gedung itu diambil alih oleh polisi rahasia Khmer Merah dan dijadikan penjara yang oleh mereka dinamakan 5-21, lalu kemudian juga dikenal dengan nama Tuol Sleng. Penjara itu menjadi simbol kebuasan Khmer Merah, seperti halnya Auschwitz merupakan simbol kekejaman rezim Nazi Jerman.

Kami melewati Boulevard Monivong ke arah selatan. Bunyi mesin skuterku sangat nyaring kedengarannya di jalan raya yang lengang itu. Kami lewat di depan gedung fakultas hukum, yang sementara itu rupanya sudah dijadikan tangsi oleh Khmer Merah. Nampak serdadu-serdadu sedang makan, duduk menongkrong dengan sendok dan piring mereka di sekeliling tungku-tungku dapur darurat. Beberapa dari mereka yang ada di jalan menyuruh kami berhenti. Tapi si Satu Pena mengatakan, "Kami cuma membawa obat-obatan untuk Angka. " Aku mengangguk-angguk sambi! ikut-ikutan berkata, "Ya, obat untuk Angka. "

Saat itu datang beberapa truk, masuk ke pekarangan. Truk-truk itu buatan Amerika, hasil rampasan dari rezim Lon Nol. Muatannya serdadu- serdadu Khmer Merah yang berdiri di bak-bak belakang. Mereka berteriak-teriak sambil melambaikan tangan ke arah rekan-rekan mereka yang ada di dalam pekarangan. Nampak bahwa mereka bergembira karena masuk ke Phnom Penh, meninggalkan daerah pedalaman yang menjemukan. "Hore! Hore!" seru mereka. "Hidup kemenangan gemilang kita atas kaum imperialis! Hidup Revolusi Kampuchea! " Kulihat bahwa si Mit sekali ini sedikit pun tidak membuka mulutnya, meski sewaktu di Wat Kien Svay Krao ia juga meneriakkan slogan-slogan itu. la mengatupkan mulutnya rapat-rapat dengan wajah geram. Rupanya ada semacam perasaan bersaing antara satuannya dengan satuan-satuan yang lain.

Kukemudikan skuterku terus meluncuri boulevard itu, menyeberangi Jembatan Monivong, dan masuk ke Jalan Nasional 1. Hari sudah Sore. Banyak yang berhasil kulakukan selama berada di dalam kota. Aku sudah mengambil pakaian untuk Huoy dan untukku sendiri. Emas, perak, obat-obatan, untuk keperluan barter nanti. Secara tidak langsung aku bahkan melakukan pembalasan terhadap Khmer Merah atas perbuatan mereka terhadap keluargaku dan masyarakat kami. Ketegangan yang kurasakan sejak pagi lenyap, digantikan perasaan bergairah.

Sepanjang perjalanan, beberapa kali kami menjumpai tempat pemeriksaan. Tapi kami melewatinya tanpa sedikit pun mengalami kesulitan. Aku terus saja menjalankan skuterku sambil berseru, "Obat-obatan untuk Angka!" 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar