10
OBAT-OBATAN
UNTUK ANGKA
INILAH
yang diaiami oleh Huoy selama kami terpisah:
Sesudah
aku meninggalkannya di sekolah tempat dia mengajar pada pagi hari tanggal 17
April yang sangat besar maknanya bagi perjalanan nasib kami selanjutnya itu,
Huoy melihat bahwa sekolah ditutup. Guru-guru yang lain tidak ada yang muncul.
Pintu terkunci semuanya. Bunyi tembakan terdengar datang dari berbagai arah.
Karena nasibnya masih baik, ia berhasil menemukan pesawat telepon yang masih
bekerja, lalu menelepon Sok, sopirku. Sok datang menjemput dengan mobil dan
mengantarnya pulang. Sementara itu hari sudah pukul setengah sembilan, dan
orang semuanya sudah tahu bahwa kota sebentar lagi pasti jatuh. Orang-orang
mengibarkan kain putih Jari jendela-jendela. Para gerilyawan sudah memasuki kota
dan nampak bergerak di jalan-jalan dengan pakaian hitam mereka yang kotor
berlumpur. Huoy menyuruh Sok kembali ke rumahnya sendiri untuk menjemput
keluarganya lalu membawa mereka ke apartemen tempat tinggal Huoy dan ibunya
supaya bisa berkumpul beramai- ramai, demi keamanan. Sok setuju, lalu berangkat
dengan mobil.
Sementara
Huoy masih menunggu di apartemennya yang terletak di lantai atas bersama ibunya,
para gerilyawan Khmer Merah yang ada di jalan-jalan mulai berseru-seru menyuruh
semua orang meninggalkan kota. Huoy tentu saja tidak mau. Tapi kemudian satu
jam sudah berlalu, lalu satu jam lagi, dan Sok masih juga belum kembali. Akhirnya,
sekitar saat tengah hari, dua orang gerilyawan bersenjata lengkap masuk ke
bangunan tempat apartemen Huoy; dari lantai dasar mereka langsung naik tangga
dan menggedor-gedor pintu di setiap lantai mereka mengetuk pintu apartemen yang
didiami Huoy bersama ibunya, di lantai tiga. Mereka berdua hanya punya waktu
beberapa menit untuk mengumpulkan barang-barang yang sempat diambil, sementara
kedua gerilyawan tadi berdiri menunggu sambil berteriak-teriak menyuruh mereka
bergegas.
Huoy
pergi ke dapur untuk mengumpulkan segala bahan pangan yang bisa ditemukan, ditambah
sebuah periuk nasi dan dua botol berisi air minum yang sudah dimasak. Kemudian
dikumpulkannya semua foto diriku yang dimilikinya, bahkan juga beberapa lembar
kartu identitasku lengkap dengan foto yang kutinggal di sana, lalu dimasukkannya
ke dalam tas. Akhirnya diambil olehnya bantal kecil dan empuk yang selalu dipakainya
sebagai alas kepala pada waktu tidur. Ibunya mengemaskan beberapa lembar
pakaian ke dalam sebuah keranjang. Kemudian mereka pergi setelah mengunci pintu
apartemen, diikuti kedua gerilyawan tadi menuruni tangga. Huoy sebenarnya hendak
pergi ke rumah orangtuaku. Tapi arus manusia di jalan hanya menuju ke satu
arah, dan itu bukan arah yang hendak ditujunya. Mereka terpaksa ikut bergerak
ke arah selatan.
Huoy
bertekad mencari aku sampai ketemu. Karena suasana di jalan kacau-balau,
nalurinya mendorong dirinya pergi ke tempat di mana aku kapan-kapan pasti akan
muncul. Karena ke rumah orangtuaku tidak bisa, Huoy lantas memutuskan mencoba
ke klinikku. Jika itu juga tidak bisa, ia akan ke pabrik penggergajian, dan
dari situ mencari ke desaku. Foto-fotoku dibawanya dengan maksud
memperlihatkannya nanti pada orang-orang yang akan ditanyai apakah: mereka berjumpa
dengan aku. Begitulah jalan pikirannya saat itu. Baru kemudian disadarinya
bahwa emas dan perhiasannya tertinggal di apartemennya. Ia lupa sama sekali
tentang barang-barang berharga miliknya.
Ia
dan ibunya sempat sampai di dekat klinikku. Tapi mereka tidak bisa mencapai
tempat itu, karena terhalang rintangan-rintangan. Seperti yang kulakukan waktu
itu, Huoy juga berjalan bolak-balik ikut dan melawan arus manusia yang bergerak
dengan lamban membawa barang-barang milik mereka, dan ada pula yang sambi! mendorong
sepeda motor atau mobil. Ketika Huoy mencoba memotong arus dan menyelinap masuk
ke sebuah jalan samping, seorang kader Khmer Merah datang menghampiri dan
mengacung- acungkan pistolnya di depan hidung Huoy, "Kau ingin tidur di
sini? Akan kuberi kesempatan padamu untuk tidur di sini!" teriak remaja
itu. Keberanian Huoy langsung lumer. "Tidur" berarti mati. Ia
membiarkan dirinya serta ibunya ikut terseret arus banjir manusia. Mereka saat
itu hanya dua sosok manusia belaka, yang ikut
hanyut
ke luar kota. Mereka menjumpai belokan ke Jalan Nasional 2 sudih ditutup, dan
mereka ikut hanyut melewati Jembatan Monivong, dan dari situ masuk ke Jalan
Nasional 1. Mereka keluar dari Phnom Penh lewat jalan yang sama seperti aku,
tapi lebih lambat beberapa hari.
Sambil
mendengarkan cerita Huoy, dalam hati aku mengeluh. Kini kami sudah bersama-sama
lagi - dan itu yang paling penting. Kuperhatikan dirinya, dengan celana panjang
dan blus kumal yang terus dipakainya sejak hari pertama pengungsian. Sayang ia
tidak ingat membawa lebih banyak barang miliknya, kataku dalam hati. Tapi memang
begitulah Huoy, lekas sekali gugup jika ada orang berteriak-teriak. Tidak ada
gunanya ia dimarahi. Lagi pula, bagaimana aku bisa marah padanya, jika
foto-foto diriku termasuk di antara barang-barang yang tidak seberapa banyak
jumlahnya yang rupanya dinilai penting olehnya sehingga tidak lupa dibawa?
Huoy
dan ibunya pindah menggabungkan diri -bersama aku, Thoeun, orangku yang menjadi
penjaga di klinikku, serta para perawat yang masih ada, di bawah kolong rumah
yang berhasil kuusahakan bagi keluargaku. Keadaan kami serba bersama dan
terbuka di situ. Aku tetap tidur seorang diri di atas gerobak sapi. Tapi ada
juga satu perubahan. Tanpa pengumuman resmi, tanpa upacara, aku dan Huoy sudah
dianggap seperti suami-istri. Para perawat memperlakukan Huoy dengan hormat dan
penuh perhatian. Orangtuaku, saudara-saudaraku serta para istri mereka semuanya
bersikap baik terhadap dia, setidak-tidaknya untuk sementara.
Tapi
kini, setelah tidak ada lagi kecemasanku sehubungan dengan masalah-masalah
pribadi -menemukan keluargaku, menemukan Huoy, dan akhirnya orangtuaku mau
menerima Huoy-aku bisa melakukan penelaahan secara lebih luas tentang situasi
yang kami hadapi, dan hasil telaahanku itu tidak mengenakkan hatiku. Betul,
kami boleh mengucap syukur karena masih hidup dan bisa berkumpul bersama-sama.
Di sekitar kami, di desa Wat Kien Svay Krao saja, ada ribuan orang Kamboja yang
terpisah "dari orang-orang yang mereka cintai, berkeliaran dengan bingung
dan sedih, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya atau di mana
mereka akan bisa mendapat makanan lagi. Keluargaku sangat beruntung jika
dibandingkan dengan keluargakeluarga lain di sekeliling kami. Di pihak lain, segala
jerih-payah kami selima bertahun-tahun untuk membangun kedudukan kini ternyata
tidak ada gunanya. Kerja kami membanting tulang di pabrik penggergajian,
kesibukanku belajar dan menuntut ilmu selama itu. Kami tidak bersikap menyukai
revolusi. Tapi kami juga tidak menentangnya. Kami malah bisa dibilang tidak mau
tahu tentang urusan politik. Tapi kini setelah revolusi pecah, kami dilindas
olehnya, digilas sehingga menjadi sederajat dengan para pengungsi lainnya yang
ada di sekeliling kami. Sementara itu tidak nampak adanya suatu bentuk
masyarakat yang baru. Yang ada hanya puing-puing reruntuhan masyarakat lama.
Beberapa
bulan sebelum tampuk kekuasaan direbut komunis, aku akhirnya berhasil meraih gelar
dari sekolah kedokteran negeri, sebagai puncak upayaku menuntut ilmu di situ
selama tujuh tahun. Di samping pekerjaanku untuk pemerintah, aku juga dokter
kepala dan salah seorang pemilik sebuah klinik bersalin yang berjalan baik. Apa
gunanya pendidikan kedokteran itu bagiku sekarang, apabila Khmer Merah berniat
membunuhi dokter-dokter?
Selama
itu aku juga pengusaha, pemilik usaha jasa pengangkutan bensin. Aku memiliki
tabungan sebanyak tujuh belas juta riel di bank, yang jika memakai patokan
harga pada saat-saat prarevolusi cukup untuk membeli dua buah mobil tangki lagi
untuk menambah jumlah armada angkutanku. Tapi berapa nilai simpananku itu
sekarang, itu pun jika masih ada nilainya? Pihak Khmer Merah kelihatannya sama
sekali tidak menggunakan mata uang. Akan diizinkankah aku nanti kembali ke bank
untuk mengambil uang tabunganku itu? Hari demi hari, kemungkinannya semakin
menyusut. Setiap hari mereka mengumumkan lewat pengeras suara bahwa kami harus
pergi ke pedalaman.
Satu-satunya
kekayaan kami yang bisa dipergunakan adalah yang kami bawa: dua mobil tangki, mobil
Mercedes, Land-Rover, dan jip. Kecuali jika situasi berubah lagi, semuanya itu
tidak ada gunanya lagi. Termasuk pula skuter Vespa-ku. Tidak ada lagi bensin
yang bisa diperoleh dengan jalan membeli atau menukarkan barang. Tiba-tiba aku
tersadar. Barter! Itu dia kuncinya! Menghadapi masa depan yang serba tidak
jelas, kami perlu memiliki barang-barang yang nanti bisa dipertukarkan dengan
barang-barang lain yang diperlukan. Tapi apa yang bisa kami jadikan modal?
Emas
dan perhiasan bisa ada gunanya; terutama emas, karena siapa pun pasti tahu
nilainya. Obat-obatan juga bisa ada nilainya. Kami sendiri memerlukan
obat-obatan untuk melindungi diri dari risiko kena infeksi, malaria, dan
penyakit lain-lainnya lagi yang lazim di daerah beriklim panas. Tapi
obat-obatan yang tidak kami pedukan, bisa kami jadikan modal untuk melakukan barter
nanti. Aku membawa obat-obatan dari klinik, tapi lebih banyak lagi yang kami
perlukan.
Kami
juga perlu punya pakaian. Bukan untuk dipertukarkan, tapi untuk dipakai
sendiri. Aku masih saja memakai celana panjang hitam yang kukenakan sejak
tanggal 17 April, beserta blus wanita yang kuambil di rumah sakit setelah kemejaku
dicuri orang di situ. Huoy juga tidak punya pakaian selain yang membungkus
tubuhnya. Penampilan kami sudah seperti para pengungsi yang lain. Aku membawa
setumpuk sarung dari klinik, tapi itu takkan banyak gunanya. Apalah yang bisa
kami lakukan? Mobil-mobil yang ditaruh di depan rumah makin lama makin mengesankan
seperti barang-barang tak berguna, seperti monumen-monumen kenangan akan
kejayaan masa silam, Tapi itu merupakan masa silam yang aku enggan
melupakannya. Kami sudah berjerih-payah mengumpulkan harta, sehingga terasa
terlalu berat bagiku untuk meninggalkan segala kekayaan itu dengan begitu.saja.
Sambil
duduk di atas gerobak di kolong rumah, kusadari bahwa aku harus menemukan cara
untuk bisa kembali ke Phnom Penh.
**********
Setiap
pagi serdadu-serdadu Khmer Merah setempat berkumpul untuk beramai-ramai
mengucapkan ikrar berdasarkan peraturan perilaku mereka, yang berbunyi sebagai
berikut:
1. Cintai dan hormatilah kaum pekerja
dan petani, serta berbaktiLah kepada mereka.
2. Berbaktilah kepada rakyat ke mana pun
kita pergi, dengan sepenuh hati dan pikiran.
3. Hargailah rakyat tanpa merugikan
kepen tingan mereka, tanpa menyentuh barang-barang atau tanaman mereka, dan
jangan mencuri bahkan sebutir merica pun, dan jaga diri jangan sampai terlontar
sepatah kata pun yang bernada kasar terhadap mereka.
4. Minta maaflah jika melakukan
kekeliruan. Jika ada kepentingan rakyat yang dilanggar, maka kerugian yang
terjadi harus diganti.
5. Ikuti adat kebiasaan rakyat pada saat
bicara, tidur, berjalan, berdiri atau duduk, pada saat gembira atau tertawa.
6. Jangan berbuat yang tidak pantas
terhadap wanita.
7. Dalam hal makan dan minum jangan
ambil barang sesuatu yang bukan produk revolusioner.
8. Jangan berjudi dalam wujud apa pun
juga.
9. Jangan sentuh uang milik rakyat.
Jangan sekali-kali menjamah bahkan satu kaleng atau sebutir obat pun yang
merupakan milik negara atau kementerian.
10. Bersikaplah dengan penuh kelembutan
terhadap para pekerja dan petani, begitu pula terhadap segenap penduduk. Tetapi
terhadap musuh, kaum imperialis Amerika beserta kacung-kacung mereka, tumbuhkan
terus kebencian dengan penuh semangat dan kewaspadaan.
11. Senantiasalah menggabungkan diri
dalam kegiatan produksi rakyat dan cintailah pekerjaanmu.
12. Berjuanglah melawan setiap musuh dan
menghadapi segala rintangan. dengan penuh tekad dan ketabahan, siap untuk
mengorbankan apa saja, termasuk nyawamu, untuk rakyat, kaum pekerja dan petani,
untuk revolusi dan untuk Angka, tanpa ragu dan tanpa berhenti.
Setiap
pagi, setelah acara pengucapan ikrar selesai, seorang serdadu muda Khmer Merah
yang selalu itu-itu juga bergerak meninggalkan barisan lalu menuju ke dekat
tempat kami di desa, untuk mengawasi kami. Setiap malam ia tidur di semacam buaian
yang digantungkan pada pancang-pancang di sebuah gubuk tanpa dinding di belakang
rumah yang kami tempati. Ia memakai pakaian seragam hijau buatan Cina dan topi
pet seperti yang dipakai oleh Mao. Celananya sudah berlubang pada bagian
pantat. Ujung bawah kemejanya sudah robek-robek, begitu pula bagian siku dan
kerahnya. Di kantong kemejanya tidak terselip pena, yang menandakan bahwa ia
prajurit dengan pangkat paling rendah.
Meski
penampilannya kumuh, tapi semangat revolusionernya berapi-api. Berulang kali
dalam sehari, jika ia sedang ingin melakukannya, ia menembakkan senapan
AK-47-nya ke atas sambil meneriakkan slogan-slogan: "Hidup kemenangan kita!
Ganyang imperialisme Amerika! Panjang umur Kamboja yang merdeka, damai, netral,
tidak memihak, berdaulat, perdamaian, eh, damai, netral!" Ia sering
tersandung-sandung jika mengucapkan kata-kata slogan yang tergolong panjang karena
orangnya tidak begitu cerdas dan tidak tahu arti beberapa kata yang meluncur
dari mulutnya. Perbuatannya menembak-nembakkan senapannya membuat kami gugup,
tapi lambat-laun kami sadari bahwa ia tidak berniat jahat terhadap kami. Ia
memiliki wajah Kamboja yang lebar dan bulat serta senantiasa siap tersenyum. Di
balik seragamnya yang compang-camping dan indoktrinasi politik yang dicekokkan
ke dalam benaknya, ia anak desa yang tidak berpendidikan.
Aku
tidak tahu siapa namanya. Karena itu aku menyapanya dengan Mit saja, yang berarti kawan. Kemudian ia mulai suka berkeliaran di
dekat-dekat rumah kami, karena tertarik melihat begitu banyak wanita muda yang
ada di situ. Ia tidak pernah bersikap kasar atau kurang ajar terhadap mereka.
Serdadu-serdadu Khmer Merah pada umumnya mematuhi peraturan mereka yang
mengenai hal itu.
Meski
begitu, sebagai tindakan berjaga-jaga kusuruh Huoy dan para perawat agar
berhati-hati. Jangan berbuat sesuatu yang bisa menimbulkan dugaan bahwa aku
sebenarnya dokter. Huoy dan para perawat tidak kuperbolehkan bicara dengan
serdadu itu, kecuali jika ia yang menyapa lebih dulu. Apabila memasak makanan
mereka: kemudian harus segera makan, untuk menghindari keharusan mengajak serdadu
itu ikut makan bersama mereka. Tapi mereka harus menyisihkan sebagian untuk
dia. Sekembaliku dari mana saja, kuantarkan makanan yang disisihkan itu ke tempatnya,
lalu aku makan bersama-sama dengannya. Aku menampilkan diriku menjadi sasaran jika
kapan-kapan rombongan besarku dilanda kesulitan.
Siasatku
itu ternyata tepat. Jika ada sesuatu yang hendak dikatakan oleh mit itu kepada salah seorang dari isi
rumah, ia selalu menyampaikannya kepadaku, selaku juru bicara mereka. Kami
sedikit pun tidak mengalami kesulitan menghadapinya. Sekali-sekali dibawakannya
sayur-sayuran dan daging untuk kami, dalam semangat "berbakti kepada
rakyat". Bahan pangan itu kemudian dimasak oleh para perawat, dan kuurus
agar mit mendapat bagian yang cukup banyak.
Aku
berusaha mengakrabkan diri dengan dia, dengan pertimbangan bahwa jika kami
kapan-kapan disuruh pergi dan hidup di pedesaan oleh Khmer Merah, ada
kemungkinan mit itu yang akan menjadi
pengawas kami. Kuatur gayaku berbicara pada dia: sopan tapi ramah, dengan logat
yang kuusahakan agar mirip logat bahasanya. Meski tidak pernah kuajukan
pertanyaan yang bersifat pribadi kepadanya, tapi kuduga ia berasal dari
Propinsi Svay Rieng, dekat perbatasan dengan Vietnam. Di propinsi itu banyak
desa yang jadi rata dengan tanah sebagai akibat pertempuran dan pemboman,
serupa keadaannya dengan desaku dulu. Ia terseret ke dalam peperangan, sama
seperti aku. Satu-satunya perbedaan adalah, ia terseret ke pihak sana.
"Bagaimana
rencana Angka mengenai negeri kita ini?" tanyaku pada suatu malam, ketika
kami sudah duduk dan hendak mulai makan. Ia mengeluarkan sendoknya lalu
mengelapkannya ke celananya yang sudah robek-robek, dan kemudian baru mengambil
nasi. Di samping senapan, sendoknya itu merupakan benda yang paling disayanginya.
Alat makan itu bekas perlengkapan militer Amerika, terbuat dari bahan baja
tahan karat yang sangat awet. Serdadu-serdadu Khmer sangat menggemari sendok
buatan Amerika semacam itu; sebenarnya aneh, jika diingat betapa bencinya
mereka kepada Amerika Serikat.
"Terlalu
banyak orang di kota," kata mit
itu dengan mulut penuh makanan. "Mungkin Angka nanti harus mendorong
mereka bekerja sebagai petani. Angka punya doktrin baru, untuk membangun suatu
masyarakat yang baru."
Itu
cerita lama bagiku. Kuputuskan untuk dengan berhati-hati mengorek keterangan
lebih· jauh.
"Angka
itu siapa sih, Mit?" kataku.
"Aku
tidak tahu," jawab serdadu muda itu. Pertanyaan itu ditanggapinya dengan
biasa-biasa saja. Kelihatannya ia sendiri belum pernah bertanya- tanya tentang
hal itu.
"Kau
pernah melihat Angka selama sekian rahun berjuang melawan kapitalis?"
"Tidak,
aku belum pernah melihat Angka. Tapi aku selalu mendengar tentang Angka. "
Disendoknya lagi nasi dan daging babi banyak-banyak lalu disuapkannya ke mulut.
Paling
banyak hanya itu saja yang bisa kuketahui dari dia tentang kepemimpinan Khmer
Merah.
Beberapa
hari kemudian ketika mit itu datang lagi
menghampiri kami, dilihatnya kami sedang duduk-duduk di keteduhan kolong rumah.
Sementara itu ada dua perawat lagi yang akan meninggalkan rombongan kami,
karena sudah berhasil menemukan keluarga masing-masing. Dalam rangka persiapan
pergi memisahkan diri dari kami, kedua perawat itu menghamparkan bekal
obat-obatan kami di atas gerobak sapi dan saat itu sedang sibuk mengambil
bagian mereka.
"Wah,
banyak betul obatnya," kata serdadu muda itu. "Bisa dipakai untuk
penyakit apa saja?"
Para
perawat mengatakan bahwa obat-obatan itu bisa dipakai untuk mengobati berbagai
macam penyakit. Aku duduk di dekat situ, berlagak tidak mengerti apa-apa
tentang urusan itu. Mit kami memungut
beberapa tabung gelas berukuran kecil berisi cairan jernih. Dengan melihat
sekilas saja aku sudah tahu bahwa itu cairan vitamin untuk diinjeksikan.
Serdadu itu bertanya padaku tentang kegunaannya. Aku menjawab dengan gerakan tangan
yang menunjukkan sikap tidak begitu peduli bahwa obat-obatan yang ada di
gerobak itu bisa dipakai untuk penyakit apa saja.
Mit kami duduk di
sisiku. "Kalian punya serum untuk transfusi?" tanyanya. Serum
merupakan istilah umum untuk cairan yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah
pasien, baik itu glukose atau larutan garam, atau vitamin, dan termasuk pula
produk-produk darah. Dalam ingatanku terbayang kembali cairan yang mengalir
turun dari tabung-tabung infus ke lengan pasien-pasien yang berada dalam
keadaan tidak sadar. Aku sudah sering sekali memasang tabung infus sewaktu di
rumah sakit.
"Kami
punya segala macam obat di sini," kataku dengan nada yang sengaja kubuat
seperti hal itu bukan urusanku.
"Boleh
aku minta sedikit?" kata mit
itu. "Angka sama sekali tidak punya obat-obatan. Kalau hendak memberikan
transfusi, terpaksa yang dipakai air kelapa. "
Aku
bersikap tak acuh terhadap ucapannya mengenai air kelapa itu. Kukatakan padanya
dengan nada biasa-biasa saja, "Tentu, bisa saja kami memberimu serum. Aku
punya banyak. Tapi tidak kubawa kemari. Jika kau datang ke rumahku di Phnom
Penh, nanti kuberikan sebanyak yang kauinginkan. Kalau kau punya jalan supaya
kita bisa masuk lagi ke kota, nanti kau kuberi obat apa saja yang kauperlukan.
ltu bukan masalah. "
Mit itu kelihatan
berpikir sebentar, lalu bertanya padaku apakah aku tidak asal bicara saja.
"Tidak,
aku bersungguh -sungguh," jawabku. "Aku diberi kawan-kawanku
obat-obatan sampai banyak sekali. Kami menyimpannya di rumah, untuk keperluan
keluarga sendiri. Jika aku bisa dengan salah satu cara kembali ke Phnom Penh nanti
kau akan kubagi sebanyak yang kauinginkan. "
Mit itu mengatakan bahwa
ia akan mencari kemungkinan, lalu pergi meninggalkan kami. Aku bertanya dalam
hati, bisakah ia menemukan jalan untuk kembali ke Phnom Penh. Yah, tidak ada salahnya
mencoba.
Kemudian
pikiranku beralih pada air kelapa yang diceritakan mit itu tadi. Air kelapa dialirkan ke dalam pembuluh darah manusia?
Air kelapa! Kalau monyet bermain dokter-dokteran, perbuatan itu masih bisa
kumengerti!
Tapi
ketika kupikirkan lebih jauh, kusadari bahwa air kelapa bisa saja dipakai
sebagai cairan pengganti, dalam keadaan darurat tertentu. Air kelapa merupakan
produk alam yang suci hama, dan baru mungkin tercemar ketika buahnya dibelah
dengan parang. Airnya manis, jadi kenapa tidak bisa dijadikan pengganti larutan
glukose di medan perang, untuk memberi bahan energi ke dalam tubuh pasien- yang
tidak mampu makan karena kondisinya terlalu lemah. Tapi tidak bisa kubayangkan
Khmer Merah mensterilkan dulu parang yang akan dipakai membelah buah kelapa. Aku
sangat menyangsikannya. Air kelapa yang tercemar kotoran yang berasal dari
parang tidak selalu menyebabkan orang yang meminumnya jatuh sakit, karena perut
sanggup menanggulangi berbagai macam bakteri yang masuk ke dalamnya. Tapi
urusannya lain jika air kelapa yang tercemar diinjeksikan ke dalam saluran
darah. 1tu bisa mengakibatkan kematian pasien yang kondisinya memang sudah
lemah.
Tapi
bukan itu saja: kadar gula yang terkandung dalam air kelapa berbeda-beda antara
buah yang satu dengan buah lainnya. Aku tahu dari pengalamanku semasa kecil
bahwa buah kelapa yang umurnya dua bulan belum masak; buah berumur lima bulan,
airnya pada umumnya terasa manis, sedangkan kalau sudah berumur tujuh bulan
airnya mulai terasa masam dan mengental karena bercampur dengan daging buahnya.
Apakah para petugas medis Khmer Merah memeriksa dulu air kelapa yang hendak
dipakai sebelum menuangkannya ke dalam kantong-kantong infus? Kemungkinannya
tidak. Dari apa yang kulihat sampai saat itu, dan dari kenyataan bahwa mereka
mencari-cari para dokter di rumah sakit untuk dibunuhi, mereka nampaknya tidak
begitu mempedulikan praktek-praktek kedokteran yang lazim. Apabila mereka kini
menginginkan bahan serum untuk transfusi yang biasa dipakai di rumah sakit,
maka itu karena mereka iri dan ingin mempunyainya juga, seperti halnya mereka
ingin juga punya sendok makan buatan Amerika. Belum lagi karena
prajurit-prajurit mereka yang mati setelah mendapat transfusi air kelapa.
Terbayang
dalam benakku gambaran mengerikan, petugas-petugas medis dengan seragam piama hitam
berlumuran darah sibuk membelah-belah buah kelapa dan menuangkan airnya yang kotor
ke dalam tabung-tabung infus.
Keesokan
harinya mit kami datang kembali. Ia bertanya
lagi padaku apakah aku betul-betul punya serum dalam jumlah besar di Phnom
Penh. Aku menjawab lagi bahwa aku punya banyak dan dia boleh mengambil seberapa
saja ia mau. Tapi untuk itu kita harus bisa kembali dulu ke Phnom Penh, kataku.
Ia
bertanya padaku, bagaimana caranya.
Kupandang
serdadu muda itu, lalu kugerakkan bahuku dengan gaya tak peduli.
"Kalau
kamu mau, kita bisa saja pergi bersama-sama naik skuterku, Mit," kataku dengan nada seakan-akan aku-dan juga dia-segan
melakukannya. Vespa putihku kutaruh di kolong rumah di samping gerobak sapi.
Stiker Palang Merah yang menempel pada bagian belakang sadel sudah cepat-cepat
kusingkirkan. "Tapi aku tidak punya bensin. Kita perlu empat sampai lima
liter, paling sedikit. "
Aku
sebenarnya masih punya bensin, tapi sudah kualirkan keluar dari tangki skuterku
dan kusembunyikan untuk nanti kalau ada keperluan mendesak, begitu pula
businya. Malam sebelumnya aku sudah berembuk dengan Huoy tentang soal itu. Kami
sependapat bahwa lebih penting bagi kami untuk bisa dengan segera lari naik skuter
- katakanlah, jika orang-orang Khmer Merah yang ada di situ mulai membunuhi
penduduk sipil-ketimbang kembali ke Phnom Penh untuk mengambil obat-obatan dan
emas yang tertinggal. Selain itu, jangan sampai nampak bahwa aku sangat ingin
kembali ke Phnom Penh.
"Besok
kita ke kota," kata mit itu
dengan tandas lalu pergi, kemungkinannya untuk melapor kepada atasannya.
Ketika
ia sudah pergi, kuambil busi dari tempat aku menyembunyikannya selama itu. Aku
membersihkannya, lalu memasangnya ke silinder mesin Vespa-ku. Kuperiksa
kendaraanku itu dengan secermat-cermatnya untuk memastikan bahwa semuanya masih
benar-benar beres.
Keesokan
paginya mit itu muncul dengan membawa
bensin sebanyak sepuluh liter, dua kali lipat dari yang diperlukan. Rasanya banyak
sekali saat itu bagiku, yang pernah memiliki beberapa mobil tangki pengangkut
bensin! Buru-buru kutuangkan cairan berharga itu ke dalam tangki skuterku,
sebelum serdadu muda itu berubah pikiran. Ia disertai seorang kader yang
mengenakan seragam buatan Cina yang robek tapi sudah ditambal rapi, bersenjata
pistol lengkap dengan sarungnya yang tergantung di pinggang, serta krama
berkotak-kotak putih dan biru yang diikatkan sekeliling lehernya seperti syal.
Di kantong kemejanya terselip sebatang pena, yang menandakan bahwa ia
berpangkat perwira. Si Satu Pena itu penampilannya seperti kebanyakan orang Kamboja,
dengan wajah yang nampak biasa dan lebih nampak riang ketimbang kejam.
Tanpa
banyak bicara lagi kudorong Vespa-ku keluar dari kolong rumah, lalu kuhidupkan mesinnya.
Hatiku sudah terasa enak lagi: untuk pertama kalinya sejak perebutan kekuasaan
oleh komunis, aku akan menunggang kendaraanku itu lagi, dan bukan berjalan kaki
sambil mendorongnya. Para perawat dan segenap keluargaku hanya memandang saja
dari kejauhan. Huoy berdiri dekat tiang-tiang rumah. Ia juga hanya memandang saja.
Tapi dari tatapan matanya yang terbuka lebar aku tahu bahwa dalam hati ia
menyuruh aku supaya berhati-hati. Aku mengedipkan mata ke arahnya, mengisyaratkan
bahwa ia tidak perlu khawatir. Aku mengikatkan krama-ku ke leher meniru gaya si Satu Pena; kuharapkan dengan begitu
penampilanku akan agak seperti orang Khmer Merah. Aku meletakkan pantatku di
atas sadel, disusul oleh si Satu Pena dan mit
kami secara berurutan. Kami bertiga duduk saling merapat di atas skuter itu.
Kami pun berangkat, mendaki tebing pinggir jalan raya yang letaknya lebih
tinggi dari sekelilingnya. Krama yang
melilit leherku melambai-lambai dipermainkan angin ketika skuter kupercepat
larinya.
***********
Sepanjang
jalan raya yang kami lewati masih ada orang-orang yang berjalan kaki dari arah
kota, tapi jumlahnya tidak banyak lagi. Di kiri-kanan jalan masih berkeliaran
ribuan orang di tempat-tempat perkemahan sementara. Di kejauhan muncul iring-iringan
truk yang makin lama makin dekat dan kemudian berpapasan dengan kami, menuju ke
arah Vietnam mengangkut barang-barang yang entah apa saja; aku.tidak tahu,
karena ditutupi terpal.
Aku
terus memacu skuterku di tengah hawa yang sudah mulai panas lagi. Dalam
setengah jam kami sudah menempuh jarak yang memakan waktu beberapa hari ketika
aku melewatinya dengan berjalan kaki. Dekat Jembatan Monivong masih saja ada
kerumunan orang berdesak-desakan, meski tidak lagi sebanyak waktu itu. Di ujung
jembatan ada tempat pemeriksaan yang baru berupa kubu mitraliur yang
dikelilingi tumpukan karung pasir belakang kubu penjagaan itu nampak dua
deretan barikade dari gulungan kawat berduri dengan tempat luang untuk melintas
di sela-selanya, mula-mula ke satu sisi lalu berbalik ke sisi yang lain.
Aku
menghentikan skuterku di tempat penjagaan itu dan mematikan mesinnya. Si Satu
Pena turun lalu masuk ke tenda penjagaan. Dengan segera ia sudah keluar lagi
dan duduk kembali di belakangku.
"Mereka
mengizinkan kita terus, Kawan?" tanyaku padanya sambil menghidupkan
skuterku lagi.
"Tidak
ada masalah," katanya dengan nada puas. "Jika kau ikut dengan aku,
soal itu selalu beres."
Kujalankan
skuter berbelok-belok melewati barikade lalu menyeberangi jembatan yang melengkung.
Tidak kelihatan penduduk sipil di atasnya. Pada bagian lengkungan yang paling tinggi
posisinya ada lagi kubu mitraliur yang dibentengi karung-karung pasir, dengan
keleluasaan menembak ke segala arah, termasuk ke arah sungai di sebelah
bawahnya. Di ujung seberang ada lagi deretan barikade yang harus kami lewati, serta
sebuah tempat pemeriksaan.
Kami
sudah memasuki kota.
Kuarahkan
skuterku memasuki Boulevard Norodom, yang semasa prarevolusi merupakan kawasan tempat
tinggal keluarga-keluarga terkaya di Phnom Penh. Serdadu-serdadu Khmer Merah nampak
sedang bersantai di balkon-balkon lantai atas beberapa rumah. Ada pula
serdadu-serdadu yang berkeliaran di jalan-jalan, melangkah di sela-sela sampah
dan reruntuhan. Di mana-mana berserakan botol-botol, buku-buku, pakaian yang dibuang,
tumpukan sampah, pecahan kaca, dan macam-macam lagi. Sepeda motor nampak
terguling di sana-sini: mungkin ditinggal karena kehabisan bensin, atau karena
tidak ada yang tahu bagaimana cara menjalankannya. Hampir di setiap blok
terlihat bangkai-bangkai mobil yang dibakar dan truk-truk dengan ban yang
kempis dan kaca-kaca jendela yang berantakan karena dipecahkan.
Kuingatkan
diriku agar memusatkan pikiran pada tujuan kedatanganku kembali ke kota. Tapi pemandangan
jalan besar yang rusak berantakan itu menimbulkan rasa pedih dalam hatiku. Dengan
segala kebobrokan dan tindak-tindak korupsi yang terjadi di dalamnya, Phnom
Penh dulu merupakan kota yang indah. Dan kini dikosongkan, dibiarkan
terbengkalai menjadi tempat lalat beterbangan-aku memperlambat skuterku umuk mengitari
sebuah truk yang terbalik, dan kupaksa diriku agar jangan lebih lama menyiksa
pikiran sendiri.
Suasana
di kota sunyi-senyap.
Kami
sampai di suatu barikade kawat berduri lagi yang menghalangi jalan, di depan bangunan
bekas tempat kediaman Lon No!. Aku memperlambat skuterku, mengemudikannya
melewati celah di barikade pertama lalu menuju ke celah pada barikade berikut.
Sememara aku melakukannya, mit yang
duduk paling belakang di atas skuterku berseru dengan riang, "Hai,
Kawan!" kepada seorang serdadu yang ada di trotoar. Tahu-tahu serdadu itu
sudah mencabut pistolnya dan menembakkannya ke atas sambil berseru menyuruh aku
berhenti. Aku mengerem skuterku sehingga berhenti dekat barikade kedua.
Serdadu
yang menembak tadi berjalan dengan marah menghampiri kami. Aku berdiri
mengangkangi skuterku dengan mata menatap lurus ke depan dan tangan memegang
setir. Aku kan cuma pengemudi kendaraan itu saja. .
"Kalian
ini dari satuan mana?" tukas serdadu yang menyuruhku berhemi.
"Dua
ratus tujuh," jawab si Satu Pena.
"Begitu
ya? Nah, lain kali jangan panggil- panggil aku," kata serdadu tadi kepada mit kami. "Kawasan ini di bawah
pengawasanku. Aku tidak mau ada yang berteriak-teriak, tidak peduli dari satuan
207 atau satuan mana pun juga. Mengerti?"
Mit kami mengatakan
bahwa ia mengerti. Aku menarik napas dalam-dalam lalu menjalankan skuter lagi.
Di belakangku terdengar suara si Satu Pena menyumpah-nyumpah tentang
satuan-sawan yang menduduki Phnom Penh dan bahwa mereka itu bodoh dan kampungan
sekali jika dibandingkan dengan satuannya sendiri.
Si
Satu pena menyuruhku membelok masuk ke sebuah jalan lain. Kuturuti perintahnya,
Di tengah- tengah jalan itu, dekat gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat yang
sudah ditinggalkan para penghuninya yang lama, sekitar setengah lusin penduduk
sedang mendorong sebuah mobil tua, Si Satu Pena menyuruhku mendatangi mereka, dan
aku menu rut lagi. Setelah sampai di dekat mereka, si Saw Pena turun lalu membentakbentak
orang-orang sipil yang berdiri dengan kepala tertunduk, menyuruh mereka meninggalkan
kota, bahwa mereka terlalu lambat, bahwa mereka harus segera berangkat ke
pedalaman, dan macam-macam lagi. Ketika ia sudah puas melampiaskan kemarahannya
kepada orang-orang yang tak bersalah itu, ia duduk lagi di belakangku. "Tahu
rasa mereka," katanya dengan nada puas. "Sekarang kembali ke jalan
yang tadi. Kita berkeliling melihat-lihat kota."
Maka
dimulailah acara pesiar kami berkeliling Phnom Penh, dengan aku sebagai
pengemudi merangkap pemandu wisata. Suasana Phnom Penh seperti kota hantu,
dengan bangunanbangunan masih di tempat semula tapi tanpa ada satu pun
penghuninya. Bunyi mesin Vespa-ku menggema di jalan-jalan yang lengang, seperti
bunyi dengungan lalat di dalam ruangan yang tertutup dan kosong. Di jalan-jalan
tidak nampak kendaraan lain kecuali mobil-mobil yang rerbakar. dan digulingkan.
Tidak nampak seorang pun di trotoar selain sekali-sekah seorang prajurit Khm.er
Merah yang berjalan dengan kaki beralas sandal yang terbuat dari ban mobil.
Kuarahkan
skuterku kembali ke Boulevard Norodom, lewat Istana Raja dan stadion yang lama.
Kami sampai di lokasi gedung Kedutaan Besar Perancis. Di sana kami melihat
pemandangan yang tak disangka-sangka semula: orang-orang Barat berkulit putih
di pekarangan gedung. Jumlah mereka cukup banyak. Tapi di luar pekarangan ada
beberapa prajurit yang menjaga, dan aku tidak berani berhenti untuk menanyakan
apa yang sedang terjadi di situ.
Kukemudikan
skuterku melewati sekolah kedokteran, menuju Pasar Pusat dan dari situ masuk ke
Boulevard Charles De Gaulle. Akhirnya kuhentikan Vespa-ku di depan bangunan
temp at apartemen Huoy dan kumatikan mesinnya.
Hanya
kami bertiga saja yang ada di jalan yang lengang itu.
Di
dalam cafe di lantai bawah, nampak meja-meja dan kursi-kursi masih teratur
rapi. Di situ pun tidak ada siapa-siapa. Seluruh kota sunyi-senyap. Tidak suatu
bunyi pun terdengar kecuali suara samar tembakantembakan di kejauhan.
Aku
mengunci Vespa-ku dan memberi isyarat kepada kedua serdadu Khmer Merah itu agar
ikut denganku. Aku sendiri heran bahwa aku menginginkan mereka ikut untuk
pengamanan diriku. Kubuka pintu depan yang terkunci, lalu kami mulai menaiki
tangga sambi! berbicara dengan suara pelan.
Aku
berjalan paling depan. Ketika aku sampai di lantai tiga, pintu apartemen yang
berseberangan letaknya dengan tempat tinggal Huoy terbuka sedikit, menampakkan
wajah penuh kerut dari seorang wanita tua yang mengintip ke luar. Aku kenai
siapa dia. Wanita tua itu ibu seorang pilot perusahaan penerbangan komersial
yang tinggal di situ.
Wanita
tua itu cepat-cepat menutup pintu apartemennya kembali ketika melihat kedua
serdadu di belakangku. Rupanya ia bersembunyi di situ sejak saat terjadinya
perebutan kekuasaan.
Kedua
serdadu Khmer Merah itu mendengar bunyi pintu ditutup, tapi mereka tidak pergi memeriksa.
Rupanya mereka sama takutnya seperti aku. Aku membuka pintu apartemen Huoy yang
terkunci, mempersilakan kedua orang ini masuk dan kuajak menghampiri lemari
pajangan yang berlapis kaca bagian depannya, pemberianku pada Huoy sekian waktu
yang lalu. "Obat-obatan itu ada di dalam kotak ini," kataku.
"Akan kuberikan sesuatu pada kalian untuk tempat mengangkutnya. "
Seperti
orang yang sedang dalam keadaan trans yang ringan, yang bisa melakukan berbagai
hal tapi sekaligus mengamati tindak-tanduknya sendiri dengan perasaan seperti
sedang memperhatikan orang lain, aku menemukan tas jinjing dengan ritsleting
untuk mereka dan sebuah ransel besar untukku sendiri. Sementara itu kedua
serdadu tadi asyik mengamat-amati tulisan pada label botol-botol obat itu, yang
berbahasa Perancis. Sementara itu aku merogoh-rogohkan tangan ke rak paling
bawah. Kutemukan bungkusan kain hitam yang tergulung di antara kain-kain lap
yang disimpan di situ. Bungkusan itu berat. Isinya emas.
"Apa
isi botol-botol ini?" tanya si Satu Pena padaku.
Kugenggam
emas yang ada dalarp bungkusan kain hitam tadi, lalu pergi membawa ranselku ke seberang
kamar, menghampiri meja rias Huoy. "Aku tidak tahu pasti, Kawan. Kenapa
tidak kita angkut saja semua yang bisa kita bawa sekarang dan nanti saja kita
lihat obat apa saja itu?" Bungkusan kain hitam tadi kugulung dalam selembar
blus milik Huoy lalu kujejalkan ke dasar ranselku. Kemudian kutemukan kotak
perhiasannya, dan itu pun kumasukkan ke dalam ransel. Setelah itu ransel kuisi
penuh-penuh dengan pakaian Huoy, lalu kututup dan kukancingkan pengikatnya. Aku
hanya memedukan waktu semenit untuk melakukannya. Kedua serdadu Khmer Merah itu
masih terus sibuk mengambil obat-obatan dari rak-rak dan memasukkan semuanya ke
dalam tas jinjing. Mereka bergegas-gegas, karena ingin cepat-cepat pergi lagi
dari apartemen itu, sama seperti aku.
Ketika
sudah hendak ke luar kuambil sekaleng kue yang ada di atas meja dan kuberikan
kepada kedua serdadu itu, sebagai hadiah. Mereka bertanya apa isinya. Kujelaskan
bahwa kue-kue itu sejenis jajanan Barat. Ada racunnya? tanya mereka lagi.
Kumakan sepotong untuk menunjukkan bahwa makanan itu tidak beracun. Setelah itu
barulah mereka mau mencoba, masing-masing sebuah. Mereka langsung tersenyum
lebar. Kelihatannya baru kali itulah mereka merasakan kue jenis itu.
Kemudian
kami menuruni tangga menuju ke bawah, tanpa mengacuhkan wanita tua yang ada di
apartemen yang satu lagi di lantai tiga itu. Sesampai di tempat aku menaruh
Vespa-ku tadi aku lantas menghidupkan mesinnya. Kuletakkan ransel di antara
kakiku, lalu kami bertiga naik skuterku menuju ke tempat tinggalku. Dalam perjalanan
ke sana aku sibuk mereka-reka apa saja yang perlu kulakukan nanti.
Ketika
kami sampai kukunci lagi skuterku. Perbuatanku itu tanpa penalaran: di situ
tidak ada siapa-siapa, jadi skuterku takkan mungkin hilang. Kami memasuki
apartemenku. Aku berjalan paling depan, langsung menuju ke lemari obatku. Kuulurkan
tangan menjangkau ke sebelah atasnya, mengambil sebuah cincin emas yang kusimpan
di situ. Cepat-cepat kukantongi cincin yang berat itu. Setelah itu kuraup
obat-obatan yang ada di dalam lemari sehingga semuanya berjatuhan ke lantai.
Kukatakan kepada kedua serdadu yang menemani, sebaiknya semuanya dibawa saja
dulu ke desa dan di sana baru disortir.
Sementara
mereka sudah sibuk lagi, kudatangi lemari pakaianku. Dalam laci paling atas ada
beberapa kotak sirih hasil kerajinan tangan Kamboja. Masing-masing kotak
dihiasi ukiran timbul berwujud binatang: misalnya harimau, gajah, atau buaya. Itu
juga bisa dijadikan modal untuk dipertukarkan nanti. Kotak-kotak itu kubungkus dengan
pakaianku lalu kumasukkan ke dalam ransel. Dalam laci lain ada amplop berisi
uang dollar Amerika. Jumlahnya dua ribu enam ratus dollar. Itu juga kuambil.
Kemudian kubuka laci-laci yang lain dan pakaianku yang ada di situ kujejal-jejalkan
ke dalam ransel besar. Hanya laci paling bawah saja yang tidak kubuka, sebab di
situlah kutaruh pakaian seragam tentaraku. Akhirnya kupegang kedua sisi ransel
itu, kujejalkan isi di dalamnya ke bawah dengan kaki agar tidak ada yang masih
tersembul ke luar. Lalu kukancingkan penutup ransel itu.
Si
Satu Pena bertanya sambil mengacungkan sebuah kantong plastik berisi cairan,
apakah itu 1 serum. Mungkin, jawabku, tapi nanti kita bisa memastikannya kalau
sudah kembali ke Wat Kien Svay Krao.
Kedua
serdadu Khmer Merah itu berjongkok menghadapi timbunan pil, salep, dan bermacam-macam
jenis obat-obatan lain; senapan AK-47 yang dibawa mit tergeletak di sampingnya. Tidak banyak lagi tempat yang masih
ada dalam tas jinjing mereka. Aku mengambil selembar handuk lalu memilih
obat-obatan yang menurutku paling perlu kubawa: antibiotika untuk infeksi,
pil-pil antimalaria, antidisentri, antidiare, vitamin-vitamin, merkurokrom
untuk mengobati luka, xilokain untuk menghilangkan rasa nyeri beserta sejumlah
alat penyuntiknya. Sementara itu si Satu Pena sibuk memunguti botol demi botol
secara sembarangan, menekuni tulisan-tulisan yang berhuruf Latin tanpa
mengetahui maknanya, berusaha menebak kegunaan pil-pil dengan melihat bentuk
atau warnanya. Si Mit sudah terlebih
dulu menyerah.
"Ada
air di sini?" tanyanya padaku.
"Ada.
Ambil saja sendiri," kataku tak begitu peduli.
Kubantu
si Satu Pena berkemas, sementara si Mit
pergi mencari air untuk minum. Kemudian terdengar bunyi air mengucur deras di
kamar mandi, teriring sumpah-serapah si Mit.
Aku langsung merasa bisa menebak apa yang terjadi, lalu pergi melihat.
Benarlah, dada dan bahu si Mit basah
kuyup. Ia tidak tahu bahwa jika keran di bawah pancuran diputar, air akan
menyembur dari situ. Ia memandang bak tempat cuci tangan. Tapi ia tidak berani
mengambil risiko, karena bak itu juga diperlengkapi dengan keran. Kemudian dilihatnya
ada air yang sudah tersedia, lalu diraup dan diminumnya. Air dari jamban duduk
itu diseruputnya dengan nikmat. "Rasanya persis seperti air dari
sumur," katanya mengomentari. Ia membungkuk lagi dengan tangan diraupkan
untuk minum lagi. Kemudian ia berdiri sambil menjilat-jilat bibir. Nampak bahwa
ia puas. Ia sudah tahu bagaimana caranya memakai kamar mandi model Barat.
Rasanya
aku ingin tertawa. Aku ingin tertawa keras-keras, untuk melenyapkan ketegangan.
Tapi kukatupkan mulut rapat-rapat. Aku tidak mengatakan apa-apa. Tapi dalam
hati timbul juga rasa kasihan dan sekaligus kejengkelan kepada anak desa itu,
yang tidak tahu apa sebenarnya kegunaan jamban yang olehnya diminum airnya itu,
Kami
pergi meninggalkan apartemenku. Bahan obat-obatan yang kubawa keluar dengan
dibungkus handuk kupindahkan ke tempat barang di sisi kiri Vespa-ku. Ransel besar
kuletakkan kembali di antara kedua kakiku. Kemudian kami berangkat, kembali ke
arah luar kota. Bunyi mesin skuterku bergaung di jalan-jalan yang lengang.
Beberapa
blok kemudian kami sampai di sebuah sekolah yang kosong. Itu gedung sekolah menengah
yang namanya Lycee Tuol Svay Prey sebelum Khmer Merah masuk ke kota. Kini tidak
ada siapa-siapa lagi di situ. Pekarangannya ditumbuhi rumput liar yang sudah
setinggi lutut. Kami tidak berhenti di situ, dan aku waktu itu juga tidak
begitu memperhatikannya. Tapi kemudian, masih dalam tahun yang sama, gedung itu
diambil alih oleh polisi rahasia Khmer Merah dan dijadikan penjara yang oleh
mereka dinamakan 5-21, lalu kemudian juga dikenal dengan nama Tuol Sleng.
Penjara itu menjadi simbol kebuasan Khmer Merah, seperti halnya Auschwitz
merupakan simbol kekejaman rezim Nazi Jerman.
Kami
melewati Boulevard Monivong ke arah selatan. Bunyi mesin skuterku sangat
nyaring kedengarannya di jalan raya yang lengang itu. Kami lewat di depan
gedung fakultas hukum, yang sementara itu rupanya sudah dijadikan tangsi oleh
Khmer Merah. Nampak serdadu-serdadu sedang makan, duduk menongkrong dengan
sendok dan piring mereka di sekeliling tungku-tungku dapur darurat. Beberapa
dari mereka yang ada di jalan menyuruh kami berhenti. Tapi si Satu Pena
mengatakan, "Kami cuma membawa obat-obatan untuk Angka. " Aku mengangguk-angguk
sambi! ikut-ikutan berkata, "Ya, obat untuk Angka. "
Saat
itu datang beberapa truk, masuk ke pekarangan. Truk-truk itu buatan Amerika,
hasil rampasan dari rezim Lon Nol. Muatannya serdadu- serdadu Khmer Merah yang
berdiri di bak-bak belakang. Mereka berteriak-teriak sambil melambaikan tangan
ke arah rekan-rekan mereka yang ada di dalam pekarangan. Nampak bahwa mereka bergembira
karena masuk ke Phnom Penh, meninggalkan daerah pedalaman yang menjemukan. "Hore!
Hore!" seru mereka. "Hidup kemenangan gemilang kita atas kaum
imperialis! Hidup Revolusi Kampuchea! " Kulihat bahwa si Mit sekali ini sedikit pun tidak membuka
mulutnya, meski sewaktu di Wat Kien Svay Krao ia juga meneriakkan slogan-slogan
itu. la mengatupkan mulutnya rapat-rapat dengan wajah geram. Rupanya ada
semacam perasaan bersaing antara satuannya dengan satuan-satuan yang lain.
Kukemudikan
skuterku terus meluncuri boulevard itu, menyeberangi Jembatan Monivong, dan masuk
ke Jalan Nasional 1. Hari sudah Sore. Banyak yang berhasil kulakukan selama
berada di dalam kota. Aku sudah mengambil pakaian untuk Huoy dan untukku
sendiri. Emas, perak, obat-obatan, untuk keperluan barter nanti. Secara tidak langsung
aku bahkan melakukan pembalasan terhadap Khmer Merah atas perbuatan mereka terhadap
keluargaku dan masyarakat kami. Ketegangan yang kurasakan sejak pagi lenyap,
digantikan perasaan bergairah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar