Aku ingin membaktikan buku ini sebagai kenangan kepada ayahku, Ngor Kea, ibuku, Lim Ngor, istriku, Chang Huoy (Chang My Huoy), yang tewas secara teramat sengsara, biadab, dan tanpa perikemanusiaan di bawah rezim komunis Khmer. Buku ini kutulis agar dunia bisa lebih memahami komunisme serta rezim-rezim lainnya di Kamboja.

Jumat, 28 Desember 2012

Neraka Kamboja - Bab 11 : Kembali Ke Desa


11
KEMBALI KE DESA

SESUDAH aku kembali dari Phnom Penh, Thoeun dan keempat perawat yang masih ikut dalam rombonganku bertanya apakah mereka boleh pulang ke desa masing-masing. Bagi mereka aku masih tetap majikan, Luk Dokter, dan itulah sebabnya kenapa mereka minta izin. Revolusi belum lagi "membebaskan" jalan pikiran mereka.

Kukatakan kepada mereka, pergilah. Dan kenapa tidak? Perang sudah berakhir. Keadaan negeri sudah damai. Sudah waktunya mereka kembali ke desa asal masing-masing, berkumpul lagi dengan keluarga. Thoeun yang paling dulu pergi. Aku mengantarkannya sampai ke tepi sungai. Sambil tertawa lebar, dengan kepala masih tersentak-sentak menyamping, ia mendorong sepeda motornya naik ke sebuah tongkang dengan melewati papan titian, lalu lenyap di tengah kerumunan penumpang. Tongkang itu, dengan bendera merah berkibar di buritan, mulai bergerak ke tengah sungai lalu berlayar dengan lambat menuju ke hulu.

Setelah itu para perawat berangkat. Mereka pergi berjalan kaki, sambil menjunjung bungkusan barang-barang bawaan mereka di atas kepala. Aku tidak merasa cemas tentang keselamatan mereka. Khmer Merah tidak memperkosa atau merampok, dan orang lain semuanya begitu takut kepada Khmer Merah, sehingga pada waktu itu jarang sekali terjadi tindak kejahatan. Tapi aku merasa sedih. Keberangkatan mereka menyebabkan ada lagi sebagian dari masa silam yang lenyap. Padahal aku lebih menyukai masa silam ketimbang masa yang sedang kualami.

Para perawat itu pulang ke Propinsi Takeo dengan mengambil jalan memutar : mula-mula ke utara lewat Jalan Nasional 1 menuju Phnom Penh, lalu ke barat menyusur jalan yang tidak diaspal sampai di Sungai Bassac, menyeberanginya dengan perahu, dan akhirnya menuju selatan lewat Jalan Nasional 2. Masih banyak lagi orang-orang dari Takeo yang mengambil jalan pulang seperti mereka, dan sedikit demi sedikit semakin berkurang jumlah pengungsi yang masih ada di Wat Kien Svay Krao.

Kami yang masih tersisa harus· mengambil keputusan, apa yang harus dilakukan selanjutnya. Bekal berupa emas dan obat-obatan sudah ada. Sementara itu tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal di tempat pengungsian. Sudah waktunya kami meninggalkan tempat itu, memilih sendiri tempat yang akan dituju sebelum itu ditentukan oleh Khmer Merah.

Kami, yaitu Huoy, ibunya, dan juga aku, memutuskan untuk pergi ke Propinsi Kampot, tempat asal kedua wanita dari keluarga Chang itu, di sebelah barat daya Takeo dan di tepi Teluk Siam. Seorang sepupu Huoy semasa prarevolusi biasa berlayar naik perahu ke Thailand. Menurut Huoy, barangkali saja kami bisa ikut, jika ia ke sana lagi. Itulah tujuan kami : lari ke Thailand, di sebelah barat Kamboja. Penduduk negeri itu beragama Budha, dengan kebudayaan yang banyak kemiripannya dengan kebudayaan kami. Selain itu Thailand juga sekutu Amerika, dan tidak ada kemungkinannya menjadi komunis. Jika kami bisa sampai di sana, kami akan bebas. Kami tidak ingin hidup di bawah kekuasaan Khmer Merah, atau di bawah rezim komunis yang mana pun juga: Kami mendengar kabar bahwa Saigon, ibukota Vietnam Selatan, sudah jatuh ke tangan komunis. Vietnam Selatan, Kamboja, bahkan Laos satu demi satu, semuanya jatuh ke tangan komunis, kecuali Thailand.

Ayahku punya rencana lain. Ia menginginkan seluruh keluarga ikut pulang dengan dia ke tempat pabrik penggergajiannya. Ia mengatakan bahwa Khmer Merah tentunya memerlukan orang seperti dia, pemilik lama pabrik itu, untuk mengelolanya. Jika itu ternyata tidak bisa, kami harus ikut dengan dia ke Tonle Bati, kota kelahirannya yang letaknya dekat Samrong Yong tapi lahannya lebih baik dan airnya lebih banyak untuk keperluan bertani.

Aku tidak setuju dengan rencananya itu. Apakah kami ikut dengan dia ke pabrik atau ke Tonle Bati, kami akan tetap saja berada di bawah kekuasaan Khmer Merah. Kukatakan padanya bahwa kami akan ikut dengan dia ke pabrik, dan di situ nanti memutuskan apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Bagaimanapun, jika kami bisa sampai ke pabrik penggergajian itu, kami setidak-tidaknya sudah menuju ke arah Kampot.

Usul kompromi itu tidak mengenakkan hatinya. Perasaanku sendiri juga begitu. Aku sebetulnya bimbang, sehubungan dengan tetap bergabung bersama keluarga. Suasana rukun sewaktu Huoy baru saja berkumpul kembali dengan aku sementara itu sudah berubah, menjadi suasana cekcok seperti yang dulu-dulu. Istri abangku, Nay Chhun, boleh dibilang tidak pernah bicara dengan aku, dan ia selalu bersikap sengit terhadap Huoy, karena aku dan Huoy tidak menikah secara resmi. Segenap anggota keluarga berada dalam keadaan tegang, dan penyebabnya adalah ketidakpastian. Kami tidak tahu bagaimana kehidupan nanti, di bawah Khmer Merah. Karena itu ada baiknya bahwa kami pergi.

Kami berangkat pagi-pagi: segenap keluarga Ngor-termasuk aku-Huoy dan ibunya, ditambah rombongan pelayan dan para sopir beserta anak-istri mereka. Keseluruhannya ada sekitar tiga puluhan yang berangkat, naik kedua mobil tangki bensin, sebuah Land-Rover, sebuah jip, sebuah mobil sedan, dan sebuah skuter. Gerobak yang kubawa bersama Thoeun dari klinik kugandengkan di belakang skuterku.

Kendaraan-kendaraan itu, yang masing-masing masih ada bensinnya sebanyak separuh tangki, kami dorong menyusuri Jalan Nasional 1, untuk menghemat bahan bakar. Kemudian kami membelok ke jalan yang tidak diaspal. Ketika roda-roda terjebak pada bagian yang berpasir sehingga tidak bisa maju, barulah mesin kami hidupkan. Para anggota rombongan yang pria mendorong sekuat tenaga, mesin mengaum keras, roda-roda berputar, menyebabkan pasir berhamburan ke arah belakang. Begitu kendaraan-kendaraan kami sudah melewati rintangan itu, mesin langsung dimatikan dan kami mendorong lagi. Aku mendorong Vespa-ku dengan memegang setangnya, dibantu Huoy yang mendorong dari belakang gerobak yang berisi barang-barang kami. Rasanya seperti bermimpi, bahwa aku sempat bolak-balik ke Phnom Penh mengendarai skuterku itu.

Berat rasanya berjalan kaki sambil terus mendorong kendaraan. Udara pengap sekali, nyaris tak tertahankan. Kelembapan sangat ringgi pada bulan-bulan menjelang musim hujan saat itu, pada waktu mana langit nampak memutih dan sinar matahari begitu terik panasnya. Rombongan kami bergerak dengan lamban, melewati rumah-rumah yang hancur kena ledakan dan pohon-pohon kelapa yang gundul seperti terpancung. Tidak nampak manusia di tengah alam pedesaan itu selain para pengungsi seperti kami, yang berjalan kaki atau mendorong kendaraan bermotor di jalan berdebu itu.

Pada hari ketiga kami sampai di tepi Sungai Bassae yang sudah sangat surut. Airnya berlumpur, mengalir lambat di tengah palung sungai. Kami berkemah di tepi sungai itu, di samping scbuah rumah bibiku dari pihak Ayah. Atap dan tingkat atas rumah itu rusak karena perang, dan bibiku tinggal di lantai dasar dalam sebuah tenda yang ditopang tiang-tiang beton. Bibiku itu gembira melihat kami muncul di situ. Ia menyiapkan hidangan makanan sebaik mungkin dalam kondisi waktu itu, dengan sajian ikan yang berasal dari sungai dan buah-buahan yang dipetik dari pohon-pohonnya.

Kemudian kami harus mencari kemungkinan menyeberangi sungai. Pheng Huor berangkat menyelidiki dengan sepeda. Ia menjumpai empat buah sampan yang para pemiliknya bersedia menyeberangkan kami. Tapi mereka tidak mau menerima pembayaran dengan mata uang rezim Lon Nol, tidak peduli berapa banyak yang kami sodorkan. Mereka meminta lima belas kaleng beras untuk sekali jalan, dengan menggunakan kaleng susu bubuk Nestle sebagai takaran. Baru sekali itu aku mendengar beras dipergunakan sebagai alat bayaran. Tapi itu masuk akal. Setiap orang memerlukan beras. Jadi sebagai bahan pertukaran, beras memang sangat cocok.

Karena keempat sampan itu kecil-kecil, hanya kendaraan teringan saja yang bisa diseberangkan. Ayah memutuskan, semua kendaraan ditinggal saja di tempat saudara perempuannya, kecuali jip. Apa boleh buat! Selain itu, berjalan kaki sambil mendorong-dorong segala kendaraan itu memang sangat melelahkan. Ayah juga memutuskan, sudah waktunya para sopir meneruskan perjalanan sendiri bersama anak-istri mereka. Mereka pergi setelah pamitan pada kami, dengan dibekali uang dan makanan oleh ayahku. Rombongan kami yang kemudian menyeberang sangat menyusut ukurannya: jip dengan tiap roda di atas sebuah sampan yang didorong ke seberang oleh masing-masing penambang yang memegang tongkat; keluarga besar Ngor, Huoy dan ibunya, dengan seluruh persediaan bensin dan perbekalan; dan akhirnya Vespa-ku dengan gerobak gandengannya.

Kami capek sekali ketika akhirnya semua barang bawaan kami selesai diturunkan di seberang. Karenanya semua cepat tersinggung. Kami berkemah dan menyalakan api. Ketika Ngim, anak perempuan Pheng Huor, menyebabkan sebuah panci masak terguling, aku menampar kepalanya. Ibunya, Nay Chhun, langsung naik darah. Diacung-acungkannya jari di depan mukaku -perbuatan yang sangat kasar dalam peradaban kami -sambi! mengatakan, awas kalau aku berani memukul anak-anaknya lagi. Kukatakan, jika anak-anaknya perlu diajar tentang tingkah-laku, maka aku berhak mengajar mereka. Aku tidak bisa lagi mengendalikan perasaan, begitu pula Nay Chhun. Kami saling mencerca, berteriak- teriak sekuat mungkin. Kemudian datang seorang serdadu Khmer Merah, menyuruh kami berhenti.

"Jangan berteriak-teriak!" katanya. "Angka' tidak mengizinkan pertengkaran! Jika kalian tidak mau berhenti juga, kubawa kalian nanti ke Angka Leu."

Baru sekali itu aku mendengar tentang Angka Leu: Artinya "organisasi yang lebih tinggi" dalam bahasa kami. Hanya itu saja, lain tidak. Tapi dari cara serdadu itu menyebutkannya, timbul kesan bahwa Angka Leu itu sesuatu yang menakutkan. Nay Chhun mundur sambil terus mengomel dan melirik ke arahku dengan sengit. Ketika aku sudah tenang kembali, Huoy mengatakan agar aku jangan lagi menghukum anak-anak Nay Chhun, meski ada alasan untuk melakukannya. Apapun Angka Leu itu, kata Huoy, sebaiknya dihindari saja. 

************

Kami tidak pernah sampai di lokasi pabrik penggergajian ayahku. Antara tempat itu dan Jalan Nasional 2 ada sebuah jembatan, dan serdadu-serdadu yang menjaga di situ tidak mengizinkan kami menyeberanginya. Ayah berusaha menjelaskan bahwa ia bermaksud menjalankan pabrik itu lagi untuk membantu rezim yang baru, tapi serdadu-serdadu itu tidak mau peduli.

Tapi sebelum kami sampai di jembatan itu pun aku sudah memutuskan untuk memisahkan diri. Bagiku tidak merupakan masalah untuk menghormati hierarki keluarga. Itu secara teoritis. Hidup berarti menjadi bagian dari keluarga. Para anggota keluarga yang senior memegang tampuk pimpinan, dan setiap anggota bekerja sama dengan harmonis demi kebajikan semuanya. Tapi dalam prakteknya, selalu ada saja masalah yang muncul bagiku. Jika tidak bertengkar dengan Ayah, dengan abangku; kalau tidak dengan dia, dengan istrinya. Sering kali pertengkaran disebabkan karena kesalahanku,. tapi itu tidak membuat persoalan menjadi lebih mudah. Meski aku sudah dewasa secara lahiriah, tapi batinku masih tetap yang dulu juga: anak yang lasak, pemarah, dan lekas naik darah. Naluriku mengatakan bahwa aku harus berpisah dari keluargaku, seperti halnya naluriku juga menyuruh agar lari menjauhi Khmer Merah. Aku perlu hidup berdasarkan patokan-patokanku sendiri.

Aku mendatangi Ayah yang sedang duduk termenung dekat lintangan jalan, lalu kukatakan padanya bahwa kami hendak terus. Ia memberi izin dengan enggan. Selesai berpamitan, aku meneruskan langkah di Jalan Nasional 2, kini hanya bertiga dengan Huoy dan ibunya.

Ketika sudah sekitar satu jam berjalan, kami disuruh berhenti oleh tiga orang Khmer Merah yang membawa senapan. Mereka masih anak-anak, berumur sekitar sepuluh tahun. Mereka tidak menggeledah tubuh kami, karena itu melanggar peraturan Khmer Merah. Tapi barang-barang kami yang ada dalam gerobak di belakang Vespa-ku diperiksa. Mereka tidak menemukan obat-obatan yang kusembunyikan dalam beras bekal kami. Tapi mereka menemukan kameraku, beberapa alat kedokteran, dan buku-buku pelajaran kedokteran yang kubawa.

Salah seorang serdadu yang masih anak-anak itu membuka salah satu buku itu. Dilihatnya bahwa isinya dicetak dengan huruf Latin. Semua buku kedokteranku berbahasa Perancis.

"Kau CIA, " kata anak yang menyandang senapan itu dengan suaranya yang tinggi, suara anak-anak.

Aku tidak langsung bisa mengikuti jalan pikirannya : karena aku punya buku berbahasa asing, itu berarti aku bekerja untuk orang-orang asing. Dan itu berarti aku agen CIA.

"Hah? CIA?" kataku. "Apa itu, Kawan? Baru sekali ini aku mendengarnya. "

"Dari mana kau mendapat buku-buku ini?" tanyanya curiga. Diambilnya beberapa alat kedokteran. "Dan ini? Untuk apa barang-barang ini? "

Aku menjawab, "Aku tidak tahu. Aku menemukannya terserak di jalanan, lalu kuambil. Buku-buku itu juga begitu. Jika ada yang ingin kauambil, ambil saja. Aku toh tidak bisa membaca. Buku-buku itu hendak kupakai kertasnya untuk pembungkus. "

Salah seorang dari kedua serdadu yang lainnya berkata pada serdadu yang pertama, "0 ya, itu ide yang bagus. Kertas buku-buku ini bisa kita pakai sebagai kertas rokok."

Serdadu yang pertama melemparkan buku pelajaran farmakologi dan dua bukuku yang lain tentang patologi kepada temannya yang mengajukan usul itu. Dan dia ini merobek selembar dari salah satu buku itu. Kertas itu dirobek lagi menjadi empat bagian, lalu di atas sepotong di antaranya ditaburkannya tembakau. Ia membuat rokok yang kemudian dinyalakan dengan korek api yang berlapis emas.

"Angka juga memerlukan ini, " kata serdadu yang pertama, sambil meraup sejumlah instrumen kedokteran.

Akhirnya kami diperbolehkan lewat, sementara mereka menghampiri dan memeriksa orang-orang yang tiba di situ sesudah kami.

Kami berjalan terus. Kami sampai di tempat-tempat pemeriksaan yang berikutnya. Serdadu-serdadu yang menjaga selalu menyuruh kami meninggalkan jalan besar dan mulai bertani di dekat situ. Untungnya aku mengenal nama semua desa di daerah situ, dan aku berhasil meyakinkan serdadu-serdadu yang ada di setiap tempat pemeriksaan yang kami lewati bahwa kami hendak menuju ke desa yang berikut.

Keesokan siangnya kami sampai di Samrong Yong. Di ujung utara desa itu ada beberapa rumah yang sebagian atapnya masih utuh dan ada lagi yang masih memiliki dinding atau tiang-tiang beton; tapi tidak satu pun yang benar-benar masih utuh. Pasar di tengah-tengah desa tidak ada lagi. Yang tersisa daripadanya hanya beberapa bangku kayu yang sudah rusak, di antara rumput yang sudah tinggi. Rumah tua yang dulu dibangun orang Perancis dari batang-batang pohon juga sudah tidak ada lagi, serupa halnya dengan pepohonan yang dulunya ada. Semuanya sudah rata dengan tanah. Tidak ada lagi sesuatu yang bisa dijadikan tanda pengenal. bahwa itu desaku. Aku bahkan tidak bisa menemukan lokasi rumah keluargaku.

Tapi kemudian aku melihatnya: dinding-dinding beton yang sudah roboh dan kini tergeletak bertumpang-tindih di tanah. Rumput bersembulan tumbuh di celah-celah retakan dinding, dan pekarangan tengge1am di bawah kerimbunan tetumbuhan liar.

Malam itu kami tidur di atas reruntuhan dinding rumah keluargaku. Sama sekali tidak ada orang lain di sekitar situ. Tidak terdengar anjing menggonggong, tidak ada ayam yang bisa didengar suara kokoknya. Desa itu sunyi-senyap, seperti ketika ditinggal penghuninya seabad yang lalu. Seorang prajurit Khmer Merah duduk sambil memegang senapannya di persimpangan jalan. Ia masih anak-anak. 

************

Semasa prarevolusi, orang Kamboja pada umumnya memiliki ikatan batin yang kuat dengan desa tempat asalnya. Bahkan orang-orang yang berpindah tempat tinggal ke kota besar seperti Phnom Penh pun masih terus merasa adanya hubungan batin dengan kampung halamannya, yang masing-masing memiliki corak tersendiri, yang berbeda dengan corak desa yang bertetangga letaknya. Samrong Yong merupakan temp at asalku. Lingkup makna keluarga yang lebih luas bagiku. Kini, melihatnya musnah, rasanya seperti melihat keluargaku sendiri mati. Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku ,dari Huoy dan ibunya supaya mereka tidak ikut sedih, tapi mereka mestinya mengetahui apa yang kurasakan saat itu.

Dari Samrong Yong kami meneruskan perjalanan ke Chambak, kota yang berikut. Tidak ada yang tersisa di sana selain tangga-tangga bangunan yang mencuat ke atas tanpa menuju ke mana pun lagi.

Satu jam setelah meninggalkan Chambak kami sampai di sebuah temp at pemeriksaan lagi yang dijaga oleh serdadu-serdadu masih muda-muda dan tidak memakai alas kaki. Baru di tempat itu aku ditanyai tentang pekerjaanku. Aku mengatakan bahwa aku sopir taksi di Phnom Penh. Kemudian mereka bertanya kepada Huoy, apakah ia sebelum itu bekerja pada pemerintah Lon Nol. Huoy langsung bingung. Karenanya aku cepat-cepat mengatakan, Huoy ketika masih di Phnom Penh berjualan sayur di pasar, sementara ibunya tinggal di rumah menjaga bayi kami. Huoy menambahkan dengan ragu-ragu dan bersuara lirih, "Ya, aku selama ini berjualan sayur. Suamiku sopir taksi. Apa katanya itu benar."

Gerobak gandengan kembali digeledah serdadu- serdadu itu. Instrumen-instrumen kedokteran yang masih ada tidak mereka temukan, karena kusembunyikan di bawah gerobak, dekat porosnya. Tapi mereka menemukan buku-bukuku yang lain. Mereka mengambil semuanya dan membantingnya ke jalan. "Tidak boleh ada lagi buku-buku kapitalis sekarang!" teriak mereka. "Buku-buku kapitalis itu gaya Lon Nol, dan Lon Nol mengkhianati bangsa. Kenapa kalian membawa buku-buku asing? Kalian CIA? Di bawah Angka, tidak boleh masih ada buku-buku asing!"

Kuulangi lagi dongenganku bahwa aku menemukan buku-buku itu di jalan, tapi mereka tidak mendengarkan kata-kataku.

"Angka mengatakan, tidak boleh lagi berkeliaran!" kata serdadu-serdadu itu dengan marah. "Kemana pun kalian ingin pergi, desa mana pun yang hendak kalian datangi, semua sama saja dengan desa-desa di sekitar sini. Semuanya hancur. Jadi kalian harus berhenti sampai di sini dan mulai bekerja."

"Aduh, jangan, tolonglah, " kataku dengan nada memohon. "Kami punya bayi yang baru saja lahir. Kami terpisah dari dia di Phnom Penh, lalu ia dibawa saudara perempuanku ke Kampot. Tolonglah, Kawan, bayi itu memerlukan ibunya! Kalau ibunya tidak ada, bagaimana ia bisa menyusu?"

"Angka cuma mengatakan sekali saja!" bentak salah seorang serdadu itu. "Tidak ada lagi yang diperbolehkan mengadakan perjalanan. Sekali tidak, tetap tidak! Jika aku mengizinkanmu pergi, kau akan kuizinkan pergi, tapi aku mengatakan tidak boleh, jadi tetap tidak!"

Kami duduk dengan perasaan sedih di pinggir jalan, sementara serdadu-serdadu itu memeriksa tombongan-rombongan selanjutnya yang tiba di tempat itu sesudah kami. Mereka diperlakukan serupa dengan yang kami alami: interogasi, penyitaan barang-barang bawaan, bentakan, dan tatapan mata marah dan curiga. Kecut hati rasanya. Sudah sering sebelumnya kulihat sikap seperti itu, dan bukan hanya di kalangan Khmer Merah saja. Itu sikap khas orang Asia yang tidak berpendidikan, yang biasa mematuhi perintah yang datang dari atas dan memberi perintah kepada orang-orang yang ada di bawah mereka. Dalam alam pikiran mereka tidak ada tempat untuk berkomunikasi secara nalar dengan orang-orang yang sederajat. Bagi mereka, mendengarkan kami saja sudah berarti mengakui bahwa kami lebih tinggi dari mereka, dan itu tidak bisa mereka lakukan jika tidak ingin kehilangan muka.

Kami disuruh masuk ke suatu jalan samping bersama rombongan yang lain dikawal oleh dua serdadu. Jalan yang tidak beraspal itu dengan segera sudah berubah menjadi jalan pasir yang tidak rata dan berkelok-kelok. Semula dengan bersusah-payah aku mendorong skuter dengan gerobak gandengannya di at as pasir jalanan itu. Tapi kemudian rasanya menjadi agak enteng. Aku menoleh ke belakang. Ternyata Huoy ikut mendorong dari belakang. Ia kelihatan capek. Keringatnya bercucuran. Dari sinar matanya yang liar kuketahui bahwa batinnya tersiksa dan saat itu sudah nyaris ambruk. Kukatakan padanya biar aku sendiri yang mendorong; tapi ia mengatakan tidak dan ingin membantu. Sekali lagi kukatakan dengan suara tegas bahwa ia tidak usah khawatir, biar aku sendiri saja yang mendorong. Akhirnya ia menurut juga, lalu berjalan seiring dengan ibunya, yang kecuali ketakutan juga sudah capek sekali.

Kami dibawa serdadu-serdadu yang mengawal ke sebuah desa kecil di pinggir rimba. Rumah-rumah di situ semua dibangun di atas tiang-tiang seperti biasanya di daerah pedesaan, dan tidak banyak mengalami kerusakan karena perang. Penghuni di situ adalah moultan chah – orang-orang "lama" atau "basis" - yang berarti mereka sudah menerima kekuasaan Khmer Merah ketika perang saudara masih berkecamuk. Keputusan yang segera mereka ambil untuk tidak menentang Khmer Merah menempatkan mereka dalam kategori tengah masyarakat revolusioner, di bawah Khmer Merah tapi di atas orang-orang seperti aku dan Huoy yang termasuk kategori moultan thmai, atau orang "baru", yang paling rendah posisinya. Kedudukan mereka sebagai orang "lama" memungkinkan penghuni desa itu tetap tinggal di rumah mereka, jadi tidak disuruh pergi. Orang-orang "lama" di desa, itu menampilkan keramahan tradisional manusia Kamboja terhadap kami. Kami diperlakukan dengan sangat baik. Mereka menyuguhkan hidangan berupa bongkah-bongkah gula merah, dan dengan penuh keprihatinan mendengarkan ceritaku bahwa kami sebenarnya ingin ke Kampot, menyusul bayi kami. Tapi pengaruh mereka terhadap Khmer Merah tidak cukup besar untuk bisa memungkinkan kami meneruskan perjalanan.

Besok paginya aku dan Huoy disuruh bekerja bersama orang-orang "baru" yang lain. Emak kami tinggalkan di tempat yang kami jadikan perkemahan kami di desa itu, di kolong sebuah rumah. Bersama orang-orang "baru" yang lain, aku dan Huoy berjalan' kurang-lebih sejam menuju ke sebuah gunung bernama Phnom Chiso. Tempat yang kami datangi itu penuh dengan batu-batu besar, cadas bertonjolan, semak belukar, dan pohon-pohon yang daunnya sudah rontok karena hawa panas musim kemarau. Pada satu bagian dari gunung itu ada tempat penggalian batu. Aku mengenal baik tempat itu, karena ketika masih kecil aku pernah beberapa kali ikut Ayah ke situ untuk mengangkut batu kerikil dengan truknya.

Kami diberi godam berukuran biasa oleh pengawas yang ada di situ. Kami dibawanya ke suatu tempat di mana ada tumpukan-tumpukan batu berukuran sebesar kepalan tinju, dan kami disuruhnya memecahkan batu-batu itu menjadi kerikil. Kerikil itu nantinya akan dipergunakan sebagai alas bantalan rel kereta api, katanya.

Kami mulai bekerja. Serpih-serpih berpelantingan dari batu yang dipukul, dan kusuruh Huoy membungkus muka dengan krama-nya sehingga hanya matanya saja yang masih kelihatan. Aku juga melakukannya, untuk lebih melindungi kacamataku dari risiko pecah kena serpihan batu. Ternyata ada teknik tersendiri dalam memukul batu agar pecah, yaitu dengan memperhatikan arah alur-alurnya. Sepanjang hari kami mengayunkan godam menghantam batu-batu, menjaga jangan sampai tangan sendiri yang terpukul dan muka terkena serpihan batu yang terpental. Hawa sangat panas, dan sama sekali tidak ada tempat yang teduh di gunung itu.

Siangnya kami diberi makan, yang pertama dalam sehari itu: semangkuk bubur yang diberi garam, atau bisa dibilang nasi yang dimasak terlalu lembek sehingga menjadi seperti bubur. Hanya itu saja, tanpa tambahan apa-apa lagi seperti daging atau sayuran. "Angka miskin, jadi kalian perlu berkorban demi negara kalian," kata pengawas kami seakan-akan hendak membela diri. "Kita baru mulai membangun kembali negara kita, membuatnya makmur. Kita baru saja bebas dari penindasan kapitalis. "

Kuamat-amati tanganku. Tanganku yang kapitalis. Telapak dan jari-jari tanganku melepuh. Keadaan tangan Huoy lebih parah lagi. Sebagai guru sekolah, ia tidak pernah memegang perkakas yang berat-berat. Hanya kapur tulis. Ia tidak biasa melakukan pekerjaan yang memeras tenaga. Sepanjang pagi, sambi! memecah batu ia menangis tanpa suara; bukan saja karena pekerjaan yang berat, tapi ia juga menangisi keadaan kami yang menjadi jungkir balik begitu. Ia berwatak lembut, pemalu, keibuan, dan idam-idamannya yang paling utama adalah mendapat anak dan tinggal di rumah, mengurus rumah-tangga yang rapi dan bersih. Dan itulah yang kuinginkan untuknya.

Kami bekerja kembali, berjongkok di lereng gunung di tengah panasnya udara siang, memecah batu-batu dengan godam di tarigan. Ketika sudah ada setumpuk kerikil hasll kerja kami, kuangkut kerikil itu dengan keranjang ke sebuah truk yang ada di dekat situ. Semasa anak-anak aku biasa menunggu dalam truk yang mirip seperti itu, sementara orang-orang bekerja memecah batu dan kemudian mengangkutnya ke truk. Waktu itu aku tidak punya perasaan apa-apa melihat orang-orang yang bekerja itu, tapi kini setelah aku berada di tempat mereka, aku teringat pada mereka dengan perasaan hormat yang baru timbul saat itu. Kini aku tahu betapa beratnya mencari nafkah dengan bekerja memecah batu. Ketika hari sudah sore, kami berjalan kaki kembali ke desa orang-orang "lama". Makanan kami malam itu semangkuk nasi dengan kuah sayur ditambah ikan sedikit; tidak cukup untuk memulihkan energi yang sudah dikerahkan selama bekerja keras sehari penuh, tapi masih lumayan kalau dibandingkan dengan apa yang kami makan siangnya. Selesai makan kami beristirahat sambil mengelus-elus tangan yang melepuh. Kami sangka kami sudah bisa tidur. Tapi kemudian seorang serdadu datang menghampiri kami dan mengatakan, "Kalian diundang Angka untuk menghadiri bonn."

Bonn itu suatu istilah religius kuno yang berarti perayaan atau upacara di kuil. Kuminta izin pada serdadu itu agar kami diperbolehkan mandi dan berganti pakaian dulu, serta menyiapkan hidangan makanan untuk disuguhkan kepada para biksu. Tapi ia mengatakan bahwa kami harus ikut dengan segera. Aku dan Huoy menurut dengan perasaan agak enggan, karena tubuh kami saat itu kotor dan berdebu. Serdadu itu membawa kami ke tempat yang lapang di dalam hutan, dan di sana kami diserahkan kepada seorang mit neary, seorang kawan wanita. Kawan itu umurnya sekitar delapan belas tahun. Kami dibawanya lebih jauh lagi masuk ke dalam hutan, ke suatu tempat lapang lain. Disitu sudah duduk sekitar dua puluh orang "baru". Kami ikut duduk bersama mereka, di depan serumpun bambu yang rimbun.

Seperti wanita-wanita lain anggota Khmer Merah, mit neary itu sedikit pun tidak berusaha agar kelihatan feminin atau menarik. Sementara ia menghadap ke arah kami dalam keremangan senja, aku melihat bahwa ia adalah seorang wanita muda yang sedikit pun tidak kepingin berbeda dari yang lain-lainnya. Jika ia mempunyai ambisi, maka itu adalah untuk patuh pada Angka dengan penuh semangat. Penampilannya persis seperti yang lain-lainnya: baju seragam terkancing sampai leher, rambut dipotong pendek dengan belahan di rengah-tengah dan bagian samping disingkapkan ke belakang telinga. Terhadap kami, orang-orang "baru", ia bersikap merendahkan, serupa dengan kebanyakan kawan-kawannya.

Ia berbicara kepada kami dengan suara kasar, tanpa didahului kara-kara pembuka atau basa basi.

"Angka memenangkan peperangan," katanya memulai, "bukan melalui perembukan. Bukan dengan sompeah" - ia merapatkan kedua telapak tangannya dengan gerakan mengejek -" pada pemerintah Lon Nol, arau pemerintah Amerika Serikat, atau pada kapitalis-kapitalis lainnya. Kami menang lewat perjuangan bersenjata! Pada mulanya kami hanya punya tangan saja," sambungnya. "Tidak punya senapan, amunisi juga tidak ada. Kemudian kami memakai alat pelanting. Panah. Jebakan dari kayu. Pisau dan kapak. Kami mempergunakan cangkul dan tongkat. Dan kami berjuang terus, sampai akhirnya kami menang! Kami tidak takut pada pemerintah Amerika atau negara besar lain-lainnya!"

Dongeng macam apa ini, kataku dalam hati. Mereka punya senjata AK-47. Mereka membeli persenjataan berat dari para jenderal yang korup dari rezim Lon Nol.

Mit neary itu mengacungkan kepalan tinjunya lalu berseru, "Kami seperti semut yang menggigit seekor gajah! Pemerintah Amerika Serikat tertawa memandang semut kecil yang menantangnya! Tapi kemudian gajah besar itu mati karena gigitan kami yang beracun! Kami tidak takut pada gajah! Atau pada siapa pun juga!"

Seekor nyamuk mendenging di telinga lalu hinggap di pipiku. Kutampar nyamuk itu.

Belum pernah kudengar ucapan yang begitu Konyol : ada gajah mati karena digigit semut.

"Revolusi sudah kita menangkan tapi perang masih terus!" kata mit neary itu. "Sekarang kita berada dalam tahap perjuangan yang baru. Kami peringatkan kalian, perjuangan itu takkan enteng. Kita harus mempertahankan mentalitas berjuang menghadapi segala rintangan. Jika Angka menyuruh memecah batu, pecahkan batu. Apabila Angka menyuruh menggali saluran, galilah saluran. Jika Angka mengatakan bertani, kalian harus bertani. Berjuanglah melawan kekuatan alam! Jika ada rintangan, dobrak rintangan itu. Hanya dengan cara begitu kita bisa membebaskan negeri dan membebaskan rakyat!"

Dalam kesunyian yang menyusul sebentar sesudah itu kusikut Huoy. Ia mencondongkan tubuhnya ke dekatku. Aku berbisik padanya. "Kapan perginya kita ke bonn?"

Huoy balik berbisik, "Diam sajalah."

Saat itu mit neary menyambung lagi,

"Jangan pikirkan masa silam. Jangan dipikir lagi tentang rumah, atau mobil besar, atau makan bakmi, atau menonton televisi, atau menyuruh- nyuruh pelayan. Zaman itu sudah lewat. Negeri kita dirusak kaum kapitalis. Sekarang ini perekonomian kita terbelakang dan kita harus membangunnya. Kalian harus terus bersikap revolusioner, dan harus kalian camkan baik-baik asas-asas pedoman. 'Tiga Gunung'. Asas-asas itu adalah:

" 'Raihlah kemerdekaan yang berdaulat.' Itu asas pertama.

" 'Andalkan kemampuan sendiri.' Itu yang kedua.

"Dan 'Tentukan nasib sendiri.' ltulah yang dinamakan 'Tiga Gunung.’ "

Sementara itu hari sudah benar-benar gelap dan nyamuk mendengung di mana-mana. Kugosok-gosok tengkuk, lengan, dan pergelangan kakiku untuk melindungi diri dari gigitannya.

Mit neary itu masih saja terus berbicara, tentang pembangunan ekonomi dan bagaimana kami semua harus berkorban. Ia mengucapkan jargon yang itu-itu juga, tentang memulai dengan tangan kosong dan berjuang melawan kekuatan alam, dan tentang semut yang membunuh gajah. Rupanya untuk memastikan bahwa kami benar-benar mengerti.

Acara itu terasa lama sekali, serasa takkan pernah selesai.

Ketika kami akhirnya kembali ke desa sekitar tengah malam, tidak ada air di situ untuk mencuci badan. Tubuhku terasa kotor.

"Manis," kataku setengah bercanda kepada Huoy, " kita baru saja menapakkan langkah pertama di jalan yang menuju ke neraka. Kita baru saja menghadiri bonn di mana hanya perang dan ekonomi melulu yang dibicarakan."  

**************

 Selama beberapa hari setelah itu aku dan Huoy setiap pagi pergi bekerja memecah batu, dan malamnya menghadiri acara yang disebut bonn. Tapi sementara itu aku sudah mengatur rencana minggat. Di atas kami ada pikulan dari bambu yang digantungkan di balok rumah. Aku menemukan seutas tali anyaman di pekarangan seorang tetangga, lalu kuambil dengan-diam-diam. Aku mengakrabkan diri dengan satu-satunya anjing yang ada di desa itu; kutepuk-tepuk kepalanya dan kuelus-elus badannya. Pada hari kelima, ketika pengawas memberitahu kami bahwa ibu Houy harus ikut bekerja, kuambil keputusan bahwa kami harus minggat. Emak takkan mampu bekerja bersama kami di tempat pemecah batu, karena tubuhnya terlalu lemah. Dan jika ia ikut bekerja dengan kami, pasti nanti barang-barang kami digeledah sehingga ketahuan masa silam kami yang sebenarnya.

Malam itu, ketika seisi desa sudah tidur pulas, kami mengemasi barang-barang kami yang paling penting dalam dua bukusan besar yang nanti akan kupikul, dan bungkusan-bungkusan berukuran lebih kecil yang akan dibawa oleh Huoy dan ibunya. Dengan menyesal kuputuskan untuk tidak membawa skuterku serta gerobak gandengannya.

Kami menyelinap ke luar di tengah kegelapan yang pekat. Aku pergi menenangkan anjing yang menggeram-geram tapi tidak menggonggong, sementara Huoy berjalan lebih dulu bersama ibunya. Ketika langkah mereka sudah tidak terdengar lagi, aku lantas menyusul sambi! memikul bawaanku. Aku sampai di sebuah percabangan jalan, tapi Huoy dan ibunya masih juga belum nampak. Aku memanggil dengan berbisik-bisik, "Manis! Manis! Di mana kamu?" Kedua wanita itu ternyata mengambil cabang jalan yang keliru. Mereka kembali, lalu kami berjalan dengan mengambil arah yang seharusnya ditempuh. Ketika sudah meninggalkan desa yang banyak pohonnya dan sampai di persawahan yang lapang, kami diterangi sinar bulan yang terang. Bulan yang sudah hampir purnama ada di belakang kami, dengan jelas menerangi petak-petak pematang sawah.

Kami berjalan melintasi sawah-sawah. Di kejauhan nampak sinar lampu-lampu besar dari iring-iringan truk yang lewat di Jalan Nasional 2. Lurus di depan kami ada rumpun pepohonan yang kelihatan berupa bayangan gelap: sebuah desa lain. Kami mengitarinya jauh-jauh. Anjing-anjing di desa itu mendengar kami. Gonggongan mereka memecah kesunyian malam. Anjing-anjing itu terus menggonggong sampai kami sudah berada jauh di balik desa. Kami beristirahat sebentar ketika sudah sampai di dekat Jalan Nasional 2. Kami merebahkan diri di tengah rerumputan tinggi. Otot-otot bahuku sebelah atas terasa nyeri karena memikul beban berat. Walau begitu aku tetap bersemangat. Aku tahu di mana kami saat itu berada dan di mana kemungkinannya lokasi tempat-tempat pemeriksaan. Huoy dan ibunya sudah capek, tapi mereka tidak mengeluh. Mereka menaruh kepercayaan pada diriku untuk memimpin mereka. Dan mereka sayang padaku. Emak membungkus tongkat pikulanku dengan kain supaya tidak terasa terlalu keras. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan.

Kami melalui Chambak lewat jalan besar, dan kemudan melewati desa Samrong Yong yang sudah rata dengan tanah. Serdadu Khmer Merah yang masih muda, yang ketika pertama kalinya kami sampai di situ berdiri menjaga di persimpangan utama, kini tidak nampak lagi. Ketika fajar menyingsing kami bersembunyi di tengah puing-puing reruntuhan sebuah kuil di luar desa. Huoy menggosok-gosok bahu kiri dan kananku yang merah dan bengkak.

Hanya sejam saja kami beristirahat. Setelah itu kami berjalan lagi menyusuri jalan besar yang lengang, kemudian melintasi persawahan dan menerobos hutan. Bahuku terasa sakit sekali, sampai setiap beberapa ratus meter aku harus berhenti untuk beristirahat sebentar dan memindahkan tongkat pikulan ke atas bahu yang lain. Huoy mengompres bahuku dengan krama-nya yang dibasahi dengan air untuk mengurangi rasa nyeri. Ia merasa gelisah dan aku cemas melihat ia gelisah, tapi ia bisa mengendalikan diri. Kami berjalan terus sambil sebentar-sebentar beristirahat. Keesokan paginya kami sampai di TonIe Bati. Dan siapakah yang kami lihat dekat gerbang desa? Ayahku bersama seluruh keluarga, serta jip yang masih terus mereka bawa. Banyak yang terjadi sejak terakhir kali aku melihat mereka. Kami sempat menginap di tengah puing-puing reruntuhan rumah keluargaku yang lama. Kami sudah mencoba dan kemudian melepaskan lagi rencana kami untuk meninggalkan Kamboja dengan perahu, karena begitu banyak tempat pemeriksaan di tengah jalan. Kami sudah sempat melakukan kerja paksa, menghadiri acara-acara bonn dan kemudian minggat dari desa orang-orang "lama". Rasanya sudah sangat lama waktu berlalu. Padahal baru seminggu lebih sedikit kami meninggalkan keluargaku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar