11
KEMBALI KE DESA
SESUDAH
aku kembali dari Phnom Penh, Thoeun dan keempat perawat yang masih ikut dalam rombonganku
bertanya apakah mereka boleh pulang ke desa masing-masing. Bagi mereka aku masih
tetap majikan, Luk Dokter, dan itulah
sebabnya kenapa mereka minta izin. Revolusi belum lagi "membebaskan"
jalan pikiran mereka.
Kukatakan
kepada mereka, pergilah. Dan kenapa tidak? Perang sudah berakhir. Keadaan
negeri sudah damai. Sudah waktunya mereka kembali ke desa asal masing-masing,
berkumpul lagi dengan keluarga. Thoeun yang paling dulu pergi. Aku mengantarkannya
sampai ke tepi sungai. Sambil tertawa lebar, dengan kepala masih tersentak-sentak
menyamping, ia mendorong sepeda motornya naik ke sebuah tongkang dengan
melewati papan titian, lalu lenyap di tengah kerumunan penumpang. Tongkang itu,
dengan bendera merah berkibar di buritan, mulai bergerak ke tengah sungai lalu
berlayar dengan lambat menuju ke hulu.
Setelah
itu para perawat berangkat. Mereka pergi berjalan kaki, sambil menjunjung
bungkusan barang-barang bawaan mereka di atas kepala. Aku tidak merasa cemas
tentang keselamatan mereka. Khmer Merah tidak memperkosa atau merampok, dan
orang lain semuanya begitu takut kepada Khmer Merah, sehingga pada waktu itu jarang
sekali terjadi tindak kejahatan. Tapi aku merasa sedih. Keberangkatan mereka
menyebabkan ada lagi sebagian dari masa silam yang lenyap. Padahal aku lebih
menyukai masa silam ketimbang masa yang sedang kualami.
Para
perawat itu pulang ke Propinsi Takeo dengan mengambil jalan memutar : mula-mula
ke utara lewat Jalan Nasional 1 menuju Phnom Penh, lalu ke barat menyusur jalan
yang tidak diaspal sampai di Sungai Bassac, menyeberanginya dengan perahu, dan
akhirnya menuju selatan lewat Jalan Nasional 2. Masih banyak lagi orang-orang dari
Takeo yang mengambil jalan pulang seperti mereka, dan sedikit demi sedikit
semakin berkurang jumlah pengungsi yang masih ada di Wat Kien Svay Krao.
Kami
yang masih tersisa harus· mengambil keputusan, apa yang harus dilakukan
selanjutnya. Bekal berupa emas dan obat-obatan sudah ada. Sementara itu tidak
ada lagi alasan untuk tetap tinggal di tempat pengungsian. Sudah waktunya kami
meninggalkan tempat itu, memilih sendiri tempat yang akan dituju sebelum itu
ditentukan oleh Khmer Merah.
Kami,
yaitu Huoy, ibunya, dan juga aku, memutuskan untuk pergi ke Propinsi Kampot, tempat
asal kedua wanita dari keluarga Chang itu, di sebelah barat daya Takeo dan di
tepi Teluk Siam. Seorang sepupu Huoy semasa prarevolusi biasa berlayar naik
perahu ke Thailand. Menurut Huoy, barangkali saja kami bisa ikut, jika ia ke sana
lagi. Itulah tujuan kami : lari ke Thailand, di sebelah barat Kamboja. Penduduk
negeri itu beragama Budha, dengan kebudayaan yang banyak kemiripannya dengan
kebudayaan kami. Selain itu Thailand juga sekutu Amerika, dan tidak ada
kemungkinannya menjadi komunis. Jika kami bisa sampai di sana, kami akan bebas.
Kami tidak ingin hidup di bawah kekuasaan Khmer Merah, atau di bawah rezim
komunis yang mana pun juga: Kami mendengar kabar bahwa Saigon, ibukota Vietnam
Selatan, sudah jatuh ke tangan komunis. Vietnam Selatan, Kamboja, bahkan Laos
satu demi satu, semuanya jatuh ke tangan komunis, kecuali Thailand.
Ayahku
punya rencana lain. Ia menginginkan seluruh keluarga ikut pulang dengan dia ke
tempat pabrik penggergajiannya. Ia mengatakan bahwa Khmer Merah tentunya
memerlukan orang seperti dia, pemilik lama pabrik itu, untuk mengelolanya. Jika
itu ternyata tidak bisa, kami harus ikut dengan dia ke Tonle Bati, kota
kelahirannya yang letaknya dekat Samrong Yong tapi lahannya lebih baik dan
airnya lebih banyak untuk keperluan bertani.
Aku
tidak setuju dengan rencananya itu. Apakah kami ikut dengan dia ke pabrik atau
ke Tonle Bati, kami akan tetap saja berada di bawah kekuasaan Khmer Merah.
Kukatakan padanya bahwa kami akan ikut dengan dia ke pabrik, dan di situ nanti
memutuskan apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Bagaimanapun, jika kami bisa
sampai ke pabrik penggergajian itu, kami setidak-tidaknya sudah menuju ke arah
Kampot.
Usul
kompromi itu tidak mengenakkan hatinya. Perasaanku sendiri juga begitu. Aku
sebetulnya bimbang, sehubungan dengan tetap bergabung bersama keluarga. Suasana
rukun sewaktu Huoy baru saja berkumpul kembali dengan aku sementara itu sudah
berubah, menjadi suasana cekcok seperti yang dulu-dulu. Istri abangku, Nay
Chhun, boleh dibilang tidak pernah bicara dengan aku, dan ia selalu bersikap sengit
terhadap Huoy, karena aku dan Huoy tidak menikah secara resmi. Segenap anggota
keluarga berada dalam keadaan tegang, dan penyebabnya adalah ketidakpastian.
Kami tidak tahu bagaimana kehidupan nanti, di bawah Khmer Merah. Karena itu ada
baiknya bahwa kami pergi.
Kami
berangkat pagi-pagi: segenap keluarga Ngor-termasuk aku-Huoy dan ibunya,
ditambah rombongan pelayan dan para sopir beserta anak-istri mereka.
Keseluruhannya ada sekitar tiga puluhan yang berangkat, naik kedua mobil tangki
bensin, sebuah Land-Rover, sebuah jip, sebuah mobil sedan, dan sebuah skuter.
Gerobak yang kubawa bersama Thoeun dari klinik kugandengkan di belakang
skuterku.
Kendaraan-kendaraan
itu, yang masing-masing masih ada bensinnya sebanyak separuh tangki, kami
dorong menyusuri Jalan Nasional 1, untuk menghemat bahan bakar. Kemudian kami
membelok ke jalan yang tidak diaspal. Ketika roda-roda terjebak pada bagian
yang berpasir sehingga tidak bisa maju, barulah mesin kami hidupkan. Para
anggota rombongan yang pria mendorong sekuat tenaga, mesin mengaum keras,
roda-roda berputar, menyebabkan pasir berhamburan ke arah belakang. Begitu
kendaraan-kendaraan kami sudah melewati rintangan itu, mesin langsung dimatikan
dan kami mendorong lagi. Aku mendorong Vespa-ku dengan memegang setangnya, dibantu
Huoy yang mendorong dari belakang gerobak yang berisi barang-barang kami.
Rasanya seperti bermimpi, bahwa aku sempat bolak-balik ke Phnom Penh
mengendarai skuterku itu.
Berat
rasanya berjalan kaki sambil terus mendorong kendaraan. Udara pengap sekali,
nyaris tak tertahankan. Kelembapan sangat ringgi pada bulan-bulan menjelang
musim hujan saat itu, pada waktu mana langit nampak memutih dan sinar matahari
begitu terik panasnya. Rombongan kami bergerak dengan lamban, melewati
rumah-rumah yang hancur kena ledakan dan pohon-pohon kelapa yang gundul seperti
terpancung. Tidak nampak manusia di tengah alam pedesaan itu selain para
pengungsi seperti kami, yang berjalan kaki atau mendorong kendaraan bermotor di
jalan berdebu itu.
Pada
hari ketiga kami sampai di tepi Sungai Bassae yang sudah sangat surut. Airnya
berlumpur, mengalir lambat di tengah palung sungai. Kami berkemah di tepi
sungai itu, di samping scbuah rumah bibiku dari pihak Ayah. Atap dan tingkat
atas rumah itu rusak karena perang, dan bibiku tinggal di lantai dasar dalam
sebuah tenda yang ditopang tiang-tiang beton. Bibiku itu gembira melihat kami
muncul di situ. Ia menyiapkan hidangan makanan sebaik mungkin dalam kondisi
waktu itu, dengan sajian ikan yang berasal dari sungai dan buah-buahan yang
dipetik dari pohon-pohonnya.
Kemudian
kami harus mencari kemungkinan menyeberangi sungai. Pheng Huor berangkat menyelidiki
dengan sepeda. Ia menjumpai empat buah sampan yang para pemiliknya bersedia menyeberangkan
kami. Tapi mereka tidak mau menerima pembayaran dengan mata uang rezim Lon Nol,
tidak peduli berapa banyak yang kami sodorkan. Mereka meminta lima belas kaleng
beras untuk sekali jalan, dengan menggunakan kaleng susu bubuk Nestle sebagai
takaran. Baru sekali itu aku mendengar beras dipergunakan sebagai alat bayaran.
Tapi itu masuk akal. Setiap orang memerlukan beras. Jadi sebagai bahan pertukaran,
beras memang sangat cocok.
Karena
keempat sampan itu kecil-kecil, hanya kendaraan teringan saja yang bisa
diseberangkan. Ayah memutuskan, semua kendaraan ditinggal saja di tempat
saudara perempuannya, kecuali jip. Apa boleh buat! Selain itu, berjalan kaki
sambil mendorong-dorong segala kendaraan itu memang sangat melelahkan. Ayah
juga memutuskan, sudah waktunya para sopir meneruskan perjalanan sendiri
bersama anak-istri mereka. Mereka pergi setelah pamitan pada kami, dengan
dibekali uang dan makanan oleh ayahku. Rombongan kami yang kemudian menyeberang
sangat menyusut ukurannya: jip dengan tiap roda di atas sebuah sampan yang
didorong ke seberang oleh masing-masing penambang yang memegang tongkat; keluarga
besar Ngor, Huoy dan ibunya, dengan seluruh persediaan bensin dan perbekalan;
dan akhirnya Vespa-ku dengan gerobak gandengannya.
Kami
capek sekali ketika akhirnya semua barang bawaan kami selesai diturunkan di
seberang. Karenanya semua cepat tersinggung. Kami berkemah dan menyalakan api.
Ketika Ngim, anak perempuan Pheng Huor, menyebabkan sebuah panci masak
terguling, aku menampar kepalanya. Ibunya, Nay Chhun, langsung naik darah.
Diacung-acungkannya jari di depan mukaku -perbuatan yang sangat kasar dalam
peradaban kami -sambi! mengatakan, awas kalau aku berani memukul anak-anaknya
lagi. Kukatakan, jika anak-anaknya perlu diajar tentang tingkah-laku, maka aku
berhak mengajar mereka. Aku tidak bisa lagi mengendalikan perasaan, begitu pula
Nay Chhun. Kami saling mencerca, berteriak- teriak sekuat mungkin. Kemudian
datang seorang serdadu Khmer Merah, menyuruh kami berhenti.
"Jangan
berteriak-teriak!" katanya. "Angka' tidak mengizinkan pertengkaran!
Jika kalian tidak mau berhenti juga, kubawa kalian nanti ke Angka Leu."
Baru
sekali itu aku mendengar tentang Angka Leu: Artinya "organisasi yang lebih
tinggi" dalam bahasa kami. Hanya itu saja, lain tidak. Tapi dari cara
serdadu itu menyebutkannya, timbul kesan bahwa Angka Leu itu sesuatu yang
menakutkan. Nay Chhun mundur sambil terus mengomel dan melirik ke arahku dengan
sengit. Ketika aku sudah tenang kembali, Huoy mengatakan agar aku jangan lagi
menghukum anak-anak Nay Chhun, meski ada alasan untuk melakukannya. Apapun
Angka Leu itu, kata Huoy, sebaiknya dihindari saja.
************
Kami
tidak pernah sampai di lokasi pabrik penggergajian ayahku. Antara tempat itu
dan Jalan Nasional 2 ada sebuah jembatan, dan serdadu-serdadu yang menjaga di
situ tidak mengizinkan kami menyeberanginya. Ayah berusaha menjelaskan bahwa ia
bermaksud menjalankan pabrik itu lagi untuk membantu rezim yang baru, tapi
serdadu-serdadu itu tidak mau peduli.
Tapi
sebelum kami sampai di jembatan itu pun aku sudah memutuskan untuk memisahkan diri.
Bagiku tidak merupakan masalah untuk menghormati hierarki keluarga. Itu secara
teoritis. Hidup berarti menjadi bagian dari keluarga. Para anggota keluarga
yang senior memegang tampuk pimpinan, dan setiap anggota bekerja sama dengan harmonis
demi kebajikan semuanya. Tapi dalam prakteknya, selalu ada saja masalah yang
muncul bagiku. Jika tidak bertengkar dengan Ayah, dengan abangku; kalau tidak
dengan dia, dengan istrinya. Sering kali pertengkaran disebabkan karena
kesalahanku,. tapi itu tidak membuat persoalan menjadi lebih mudah. Meski aku
sudah dewasa secara lahiriah, tapi batinku masih tetap yang dulu juga: anak
yang lasak, pemarah, dan lekas naik darah. Naluriku mengatakan bahwa aku harus
berpisah dari keluargaku, seperti halnya naluriku juga menyuruh agar lari
menjauhi Khmer Merah. Aku perlu hidup berdasarkan patokan-patokanku sendiri.
Aku
mendatangi Ayah yang sedang duduk termenung dekat lintangan jalan, lalu
kukatakan padanya bahwa kami hendak terus. Ia memberi izin dengan enggan.
Selesai berpamitan, aku meneruskan langkah di Jalan Nasional 2, kini hanya
bertiga dengan Huoy dan ibunya.
Ketika
sudah sekitar satu jam berjalan, kami disuruh berhenti oleh tiga orang Khmer
Merah yang membawa senapan. Mereka masih anak-anak, berumur sekitar sepuluh tahun.
Mereka tidak menggeledah tubuh kami, karena itu melanggar peraturan Khmer
Merah. Tapi barang-barang kami yang ada dalam gerobak di belakang Vespa-ku
diperiksa. Mereka tidak menemukan obat-obatan yang kusembunyikan dalam beras bekal
kami. Tapi mereka menemukan kameraku, beberapa alat kedokteran, dan buku-buku
pelajaran kedokteran yang kubawa.
Salah
seorang serdadu yang masih anak-anak itu membuka salah satu buku itu.
Dilihatnya bahwa isinya dicetak dengan huruf Latin. Semua buku kedokteranku
berbahasa Perancis.
"Kau
CIA, " kata anak yang menyandang senapan itu dengan suaranya yang tinggi,
suara anak-anak.
Aku
tidak langsung bisa mengikuti jalan pikirannya : karena aku punya buku
berbahasa asing, itu berarti aku bekerja untuk orang-orang asing. Dan itu
berarti aku agen CIA.
"Hah?
CIA?" kataku. "Apa itu, Kawan? Baru sekali ini aku mendengarnya.
"
"Dari
mana kau mendapat buku-buku ini?" tanyanya curiga. Diambilnya beberapa
alat kedokteran. "Dan ini? Untuk apa barang-barang ini? "
Aku
menjawab, "Aku tidak tahu. Aku menemukannya terserak di jalanan, lalu
kuambil. Buku-buku itu juga begitu. Jika ada yang ingin kauambil, ambil saja.
Aku toh tidak bisa membaca. Buku-buku itu hendak kupakai kertasnya untuk
pembungkus. "
Salah
seorang dari kedua serdadu yang lainnya berkata pada serdadu yang pertama, "0
ya, itu ide yang bagus. Kertas buku-buku ini bisa kita pakai sebagai kertas
rokok."
Serdadu
yang pertama melemparkan buku pelajaran farmakologi dan dua bukuku yang lain tentang
patologi kepada temannya yang mengajukan usul itu. Dan dia ini merobek selembar
dari salah satu buku itu. Kertas itu dirobek lagi menjadi empat bagian, lalu di
atas sepotong di antaranya ditaburkannya tembakau. Ia membuat rokok yang
kemudian dinyalakan dengan korek api yang berlapis emas.
"Angka
juga memerlukan ini, " kata serdadu yang pertama, sambil meraup sejumlah
instrumen kedokteran.
Akhirnya
kami diperbolehkan lewat, sementara mereka menghampiri dan memeriksa
orang-orang yang tiba di situ sesudah kami.
Kami
berjalan terus. Kami sampai di tempat-tempat pemeriksaan yang berikutnya.
Serdadu-serdadu yang menjaga selalu menyuruh kami meninggalkan jalan besar dan
mulai bertani di dekat situ. Untungnya aku mengenal nama semua desa di daerah
situ, dan aku berhasil meyakinkan serdadu-serdadu yang ada di setiap tempat
pemeriksaan yang kami lewati bahwa kami hendak menuju ke desa yang berikut.
Keesokan
siangnya kami sampai di Samrong Yong. Di ujung utara desa itu ada beberapa
rumah yang sebagian atapnya masih utuh dan ada lagi yang masih memiliki dinding
atau tiang-tiang beton; tapi tidak satu pun yang benar-benar masih utuh. Pasar
di tengah-tengah desa tidak ada lagi. Yang tersisa daripadanya hanya beberapa
bangku kayu yang sudah rusak, di antara rumput yang sudah tinggi. Rumah tua
yang dulu dibangun orang Perancis dari batang-batang pohon juga sudah tidak ada
lagi, serupa halnya dengan pepohonan yang dulunya ada. Semuanya sudah rata
dengan tanah. Tidak ada lagi sesuatu yang bisa dijadikan tanda pengenal. bahwa
itu desaku. Aku bahkan tidak bisa menemukan lokasi rumah keluargaku.
Tapi
kemudian aku melihatnya: dinding-dinding beton yang sudah roboh dan kini
tergeletak bertumpang-tindih di tanah. Rumput bersembulan tumbuh di celah-celah
retakan dinding, dan pekarangan tengge1am di bawah kerimbunan tetumbuhan liar.
Malam
itu kami tidur di atas reruntuhan dinding rumah keluargaku. Sama sekali tidak
ada orang lain di sekitar situ. Tidak terdengar anjing menggonggong, tidak ada
ayam yang bisa didengar suara kokoknya. Desa itu sunyi-senyap, seperti ketika
ditinggal penghuninya seabad yang lalu. Seorang prajurit Khmer Merah duduk
sambil memegang senapannya di persimpangan jalan. Ia masih anak-anak.
************
Semasa
prarevolusi, orang Kamboja pada umumnya memiliki ikatan batin yang kuat dengan desa
tempat asalnya. Bahkan orang-orang yang berpindah tempat tinggal ke kota besar
seperti Phnom Penh pun masih terus merasa adanya hubungan batin dengan kampung
halamannya, yang masing-masing memiliki corak tersendiri, yang berbeda dengan
corak desa yang bertetangga letaknya. Samrong Yong merupakan temp at asalku. Lingkup
makna keluarga yang lebih luas bagiku. Kini, melihatnya musnah, rasanya seperti
melihat keluargaku sendiri mati. Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku ,dari
Huoy dan ibunya supaya mereka tidak ikut sedih, tapi mereka mestinya mengetahui
apa yang kurasakan saat itu.
Dari
Samrong Yong kami meneruskan perjalanan ke Chambak, kota yang berikut. Tidak
ada yang tersisa di sana selain tangga-tangga bangunan yang mencuat ke atas
tanpa menuju ke mana pun lagi.
Satu
jam setelah meninggalkan Chambak kami sampai di sebuah temp at pemeriksaan lagi
yang dijaga oleh serdadu-serdadu masih muda-muda dan tidak memakai alas kaki. Baru
di tempat itu aku ditanyai tentang pekerjaanku. Aku mengatakan bahwa aku sopir
taksi di Phnom Penh. Kemudian mereka bertanya kepada Huoy, apakah ia sebelum
itu bekerja pada pemerintah Lon Nol. Huoy langsung bingung. Karenanya aku
cepat-cepat mengatakan, Huoy ketika masih di Phnom Penh berjualan sayur di pasar,
sementara ibunya tinggal di rumah menjaga bayi kami. Huoy menambahkan dengan
ragu-ragu dan bersuara lirih, "Ya, aku selama ini berjualan sayur. Suamiku
sopir taksi. Apa katanya itu benar."
Gerobak
gandengan kembali digeledah serdadu- serdadu itu. Instrumen-instrumen
kedokteran yang masih ada tidak mereka temukan, karena kusembunyikan di bawah
gerobak, dekat porosnya. Tapi mereka menemukan buku-bukuku yang lain. Mereka
mengambil semuanya dan membantingnya ke jalan. "Tidak boleh ada lagi buku-buku
kapitalis sekarang!" teriak mereka. "Buku-buku kapitalis itu gaya Lon
Nol, dan Lon Nol mengkhianati bangsa. Kenapa kalian membawa buku-buku asing?
Kalian CIA? Di bawah Angka, tidak boleh masih ada buku-buku asing!"
Kuulangi
lagi dongenganku bahwa aku menemukan buku-buku itu di jalan, tapi mereka tidak mendengarkan
kata-kataku.
"Angka
mengatakan, tidak boleh lagi berkeliaran!" kata serdadu-serdadu itu dengan
marah. "Kemana pun kalian ingin pergi, desa mana pun yang hendak kalian
datangi, semua sama saja dengan desa-desa di sekitar sini. Semuanya hancur.
Jadi kalian harus berhenti sampai di sini dan mulai bekerja."
"Aduh,
jangan, tolonglah, " kataku dengan nada memohon. "Kami punya bayi
yang baru saja lahir. Kami terpisah dari dia di Phnom Penh, lalu ia dibawa
saudara perempuanku ke Kampot. Tolonglah, Kawan, bayi itu memerlukan ibunya! Kalau
ibunya tidak ada, bagaimana ia bisa menyusu?"
"Angka
cuma mengatakan sekali saja!" bentak salah seorang serdadu itu.
"Tidak ada lagi yang diperbolehkan mengadakan perjalanan. Sekali tidak, tetap
tidak! Jika aku mengizinkanmu pergi, kau akan kuizinkan pergi, tapi aku
mengatakan tidak boleh, jadi tetap tidak!"
Kami
duduk dengan perasaan sedih di pinggir jalan, sementara serdadu-serdadu itu
memeriksa tombongan-rombongan selanjutnya yang tiba di tempat itu sesudah kami.
Mereka diperlakukan serupa dengan yang kami alami: interogasi, penyitaan barang-barang
bawaan, bentakan, dan tatapan mata marah dan curiga. Kecut hati rasanya. Sudah
sering sebelumnya kulihat sikap seperti itu, dan bukan hanya di kalangan Khmer Merah
saja. Itu sikap khas orang Asia yang tidak berpendidikan, yang biasa mematuhi
perintah yang datang dari atas dan memberi perintah kepada orang-orang yang ada
di bawah mereka. Dalam alam pikiran mereka tidak ada tempat untuk berkomunikasi
secara nalar dengan orang-orang yang sederajat. Bagi mereka, mendengarkan kami
saja sudah berarti mengakui bahwa kami lebih tinggi dari mereka, dan itu tidak
bisa mereka lakukan jika tidak ingin kehilangan muka.
Kami
disuruh masuk ke suatu jalan samping bersama rombongan yang lain dikawal oleh
dua serdadu. Jalan yang tidak beraspal itu dengan segera sudah berubah menjadi
jalan pasir yang tidak rata dan berkelok-kelok. Semula dengan bersusah-payah
aku mendorong skuter dengan gerobak gandengannya di at as pasir jalanan itu. Tapi
kemudian rasanya menjadi agak enteng. Aku menoleh ke belakang. Ternyata Huoy
ikut mendorong dari belakang. Ia kelihatan capek. Keringatnya bercucuran. Dari
sinar matanya yang liar kuketahui bahwa batinnya tersiksa dan saat itu sudah
nyaris ambruk. Kukatakan padanya biar aku sendiri yang mendorong; tapi ia
mengatakan tidak dan ingin membantu. Sekali lagi kukatakan dengan suara tegas
bahwa ia tidak usah khawatir, biar aku sendiri saja yang mendorong. Akhirnya ia
menurut juga, lalu berjalan seiring dengan ibunya, yang kecuali ketakutan juga
sudah capek sekali.
Kami
dibawa serdadu-serdadu yang mengawal ke sebuah desa kecil di pinggir rimba.
Rumah-rumah di situ semua dibangun di atas tiang-tiang seperti biasanya di
daerah pedesaan, dan tidak banyak mengalami kerusakan karena perang. Penghuni
di situ adalah moultan chah – orang-orang
"lama" atau "basis" - yang berarti mereka sudah menerima
kekuasaan Khmer Merah ketika perang saudara masih berkecamuk. Keputusan yang
segera mereka ambil untuk tidak menentang Khmer Merah menempatkan mereka dalam
kategori tengah masyarakat revolusioner, di bawah Khmer Merah tapi di atas
orang-orang seperti aku dan Huoy yang termasuk kategori moultan thmai, atau orang "baru", yang paling rendah posisinya.
Kedudukan mereka sebagai orang "lama" memungkinkan penghuni desa itu
tetap tinggal di rumah mereka, jadi tidak disuruh pergi. Orang-orang
"lama" di desa, itu menampilkan keramahan tradisional manusia Kamboja
terhadap kami. Kami diperlakukan dengan sangat baik. Mereka menyuguhkan
hidangan berupa bongkah-bongkah gula merah, dan dengan penuh keprihatinan mendengarkan
ceritaku bahwa kami sebenarnya ingin ke Kampot, menyusul bayi kami. Tapi
pengaruh mereka terhadap Khmer Merah tidak cukup besar untuk bisa memungkinkan kami
meneruskan perjalanan.
Besok
paginya aku dan Huoy disuruh bekerja bersama orang-orang "baru" yang
lain. Emak kami tinggalkan di tempat yang kami jadikan perkemahan kami di desa
itu, di kolong sebuah rumah. Bersama orang-orang "baru" yang lain,
aku dan Huoy berjalan' kurang-lebih sejam menuju ke sebuah gunung bernama Phnom
Chiso. Tempat yang kami datangi itu penuh dengan batu-batu besar, cadas
bertonjolan, semak belukar, dan pohon-pohon yang daunnya sudah rontok karena hawa
panas musim kemarau. Pada satu bagian dari gunung itu ada tempat penggalian
batu. Aku mengenal baik tempat itu, karena ketika masih kecil aku pernah
beberapa kali ikut Ayah ke situ untuk mengangkut batu kerikil dengan truknya.
Kami
diberi godam berukuran biasa oleh pengawas yang ada di situ. Kami dibawanya ke suatu
tempat di mana ada tumpukan-tumpukan batu berukuran sebesar kepalan tinju, dan
kami disuruhnya memecahkan batu-batu itu menjadi kerikil. Kerikil itu nantinya
akan dipergunakan sebagai alas bantalan rel kereta api, katanya.
Kami
mulai bekerja. Serpih-serpih berpelantingan dari batu yang dipukul, dan kusuruh
Huoy membungkus muka dengan krama-nya
sehingga hanya matanya saja yang masih kelihatan. Aku juga melakukannya, untuk
lebih melindungi kacamataku dari risiko pecah kena serpihan batu. Ternyata ada
teknik tersendiri dalam memukul batu agar pecah, yaitu dengan memperhatikan arah
alur-alurnya. Sepanjang hari kami mengayunkan godam menghantam batu-batu,
menjaga jangan sampai tangan sendiri yang terpukul dan muka terkena serpihan
batu yang terpental. Hawa sangat panas, dan sama sekali tidak ada tempat yang
teduh di gunung itu.
Siangnya
kami diberi makan, yang pertama dalam sehari itu: semangkuk bubur yang diberi garam,
atau bisa dibilang nasi yang dimasak terlalu lembek sehingga menjadi seperti
bubur. Hanya itu saja, tanpa tambahan apa-apa lagi seperti daging atau sayuran.
"Angka miskin, jadi kalian perlu berkorban demi negara kalian," kata pengawas
kami seakan-akan hendak membela diri. "Kita baru mulai membangun kembali negara
kita, membuatnya makmur. Kita baru saja bebas dari penindasan kapitalis. "
Kuamat-amati
tanganku. Tanganku yang kapitalis. Telapak dan jari-jari tanganku melepuh. Keadaan
tangan Huoy lebih parah lagi. Sebagai guru sekolah, ia tidak pernah memegang
perkakas yang berat-berat. Hanya kapur tulis. Ia tidak biasa melakukan
pekerjaan yang memeras tenaga. Sepanjang pagi, sambi! memecah batu ia menangis tanpa
suara; bukan saja karena pekerjaan yang berat, tapi ia juga menangisi keadaan
kami yang menjadi jungkir balik begitu. Ia berwatak lembut, pemalu, keibuan,
dan idam-idamannya yang paling utama adalah mendapat anak dan tinggal di rumah,
mengurus rumah-tangga yang rapi dan bersih. Dan itulah yang kuinginkan
untuknya.
Kami
bekerja kembali, berjongkok di lereng gunung di tengah panasnya udara siang,
memecah batu-batu dengan godam di tarigan. Ketika sudah ada setumpuk kerikil
hasll kerja kami, kuangkut kerikil itu dengan keranjang ke sebuah truk yang ada
di dekat situ. Semasa anak-anak aku biasa menunggu dalam truk yang mirip
seperti itu, sementara orang-orang bekerja memecah batu dan kemudian
mengangkutnya ke truk. Waktu itu aku tidak punya perasaan apa-apa melihat orang-orang
yang bekerja itu, tapi kini setelah aku berada di tempat mereka, aku teringat
pada mereka dengan perasaan hormat yang baru timbul saat itu. Kini aku tahu
betapa beratnya mencari nafkah dengan bekerja memecah batu. Ketika hari sudah
sore, kami berjalan kaki kembali ke desa orang-orang "lama". Makanan kami
malam itu semangkuk nasi dengan kuah sayur ditambah ikan sedikit; tidak cukup
untuk memulihkan energi yang sudah dikerahkan selama bekerja keras sehari
penuh, tapi masih lumayan kalau dibandingkan dengan apa yang kami makan siangnya.
Selesai makan kami beristirahat sambil mengelus-elus tangan yang melepuh. Kami
sangka kami sudah bisa tidur. Tapi kemudian seorang serdadu datang menghampiri
kami dan mengatakan, "Kalian diundang Angka untuk menghadiri bonn."
Bonn itu suatu istilah
religius kuno yang berarti perayaan atau upacara di kuil. Kuminta izin pada serdadu
itu agar kami diperbolehkan mandi dan berganti pakaian dulu, serta menyiapkan
hidangan makanan untuk disuguhkan kepada para biksu. Tapi ia mengatakan bahwa
kami harus ikut dengan segera. Aku dan Huoy menurut dengan perasaan agak
enggan, karena tubuh kami saat itu kotor dan berdebu. Serdadu itu membawa kami ke
tempat yang lapang di dalam hutan, dan di sana kami diserahkan kepada seorang mit neary,
seorang kawan wanita. Kawan itu umurnya sekitar delapan belas tahun. Kami
dibawanya lebih jauh lagi masuk ke dalam hutan, ke suatu tempat lapang lain.
Disitu sudah duduk sekitar dua puluh orang "baru". Kami ikut duduk bersama
mereka, di depan serumpun bambu yang rimbun.
Seperti
wanita-wanita lain anggota Khmer Merah, mit
neary itu sedikit pun tidak berusaha agar kelihatan feminin atau menarik.
Sementara ia menghadap ke arah kami dalam keremangan senja, aku melihat bahwa
ia adalah seorang wanita muda yang sedikit pun tidak kepingin berbeda dari yang
lain-lainnya. Jika ia mempunyai ambisi, maka itu adalah untuk patuh pada Angka
dengan penuh semangat. Penampilannya persis seperti yang lain-lainnya: baju
seragam terkancing sampai leher, rambut dipotong pendek dengan belahan di
rengah-tengah dan bagian samping disingkapkan ke belakang telinga. Terhadap
kami, orang-orang "baru", ia bersikap merendahkan, serupa dengan
kebanyakan kawan-kawannya.
Ia
berbicara kepada kami dengan suara kasar, tanpa didahului kara-kara pembuka
atau basa basi.
"Angka
memenangkan peperangan," katanya memulai, "bukan melalui perembukan.
Bukan dengan sompeah" - ia
merapatkan kedua telapak tangannya dengan gerakan mengejek -" pada
pemerintah Lon Nol, arau pemerintah Amerika Serikat, atau pada
kapitalis-kapitalis lainnya. Kami menang lewat perjuangan bersenjata! Pada mulanya
kami hanya punya tangan saja," sambungnya. "Tidak punya senapan,
amunisi juga tidak ada. Kemudian kami memakai alat pelanting. Panah. Jebakan
dari kayu. Pisau dan kapak. Kami mempergunakan cangkul dan tongkat. Dan kami
berjuang terus, sampai akhirnya kami menang! Kami tidak takut pada pemerintah
Amerika atau negara besar lain-lainnya!"
Dongeng
macam apa ini, kataku dalam hati. Mereka punya senjata AK-47. Mereka membeli persenjataan
berat dari para jenderal yang korup dari rezim Lon Nol.
Mit neary itu mengacungkan
kepalan tinjunya lalu berseru, "Kami seperti semut yang menggigit seekor
gajah! Pemerintah Amerika Serikat tertawa memandang semut kecil yang
menantangnya! Tapi kemudian gajah besar itu mati karena gigitan kami yang
beracun! Kami tidak takut pada gajah! Atau pada siapa pun juga!"
Seekor
nyamuk mendenging di telinga lalu hinggap di pipiku. Kutampar nyamuk itu.
Belum
pernah kudengar ucapan yang begitu Konyol : ada gajah mati karena digigit
semut.
"Revolusi
sudah kita menangkan tapi perang masih terus!" kata mit neary itu. "Sekarang kita berada dalam tahap perjuangan
yang baru. Kami peringatkan kalian, perjuangan itu takkan enteng. Kita harus
mempertahankan mentalitas berjuang menghadapi segala rintangan. Jika Angka
menyuruh memecah batu, pecahkan batu. Apabila Angka menyuruh menggali saluran,
galilah saluran. Jika Angka mengatakan bertani, kalian harus bertani. Berjuanglah
melawan kekuatan alam! Jika ada rintangan, dobrak rintangan itu. Hanya dengan
cara begitu kita bisa membebaskan negeri dan membebaskan rakyat!"
Dalam
kesunyian yang menyusul sebentar sesudah itu kusikut Huoy. Ia mencondongkan tubuhnya
ke dekatku. Aku berbisik padanya. "Kapan perginya kita ke bonn?"
Huoy
balik berbisik, "Diam sajalah."
Saat
itu mit neary menyambung lagi,
"Jangan
pikirkan masa silam. Jangan dipikir lagi tentang rumah, atau mobil besar, atau
makan bakmi, atau menonton televisi, atau menyuruh- nyuruh pelayan. Zaman itu
sudah lewat. Negeri kita dirusak kaum kapitalis. Sekarang ini perekonomian kita
terbelakang dan kita harus membangunnya. Kalian harus terus bersikap
revolusioner, dan harus kalian camkan baik-baik asas-asas pedoman. 'Tiga
Gunung'. Asas-asas itu adalah:
"
'Raihlah kemerdekaan yang berdaulat.' Itu asas pertama.
"
'Andalkan kemampuan sendiri.' Itu yang kedua.
"Dan
'Tentukan nasib sendiri.' ltulah yang dinamakan 'Tiga Gunung.’ "
Sementara
itu hari sudah benar-benar gelap dan nyamuk mendengung di mana-mana. Kugosok-gosok
tengkuk, lengan, dan pergelangan kakiku untuk melindungi diri dari gigitannya.
Mit neary itu masih saja terus
berbicara, tentang pembangunan ekonomi dan bagaimana kami semua harus
berkorban. Ia mengucapkan jargon yang itu-itu juga, tentang memulai dengan
tangan kosong dan berjuang melawan kekuatan alam, dan tentang semut yang
membunuh gajah. Rupanya untuk memastikan bahwa kami benar-benar mengerti.
Acara
itu terasa lama sekali, serasa takkan pernah selesai.
Ketika
kami akhirnya kembali ke desa sekitar tengah malam, tidak ada air di situ untuk
mencuci badan. Tubuhku terasa kotor.
"Manis,"
kataku setengah bercanda kepada Huoy, " kita baru saja menapakkan langkah pertama
di jalan yang menuju ke neraka. Kita baru saja menghadiri bonn di mana hanya perang dan ekonomi melulu yang dibicarakan."
**************
Selama beberapa hari setelah itu aku dan Huoy setiap
pagi pergi bekerja memecah batu, dan malamnya menghadiri acara yang disebut bonn. Tapi sementara itu aku sudah
mengatur rencana minggat. Di atas kami ada pikulan dari bambu yang digantungkan
di balok rumah. Aku menemukan seutas tali anyaman di pekarangan seorang
tetangga, lalu kuambil dengan-diam-diam. Aku mengakrabkan diri dengan
satu-satunya anjing yang ada di desa itu; kutepuk-tepuk kepalanya dan
kuelus-elus badannya. Pada hari kelima, ketika pengawas memberitahu kami bahwa ibu
Houy harus ikut bekerja, kuambil keputusan bahwa kami harus minggat. Emak
takkan mampu bekerja bersama kami di tempat pemecah batu, karena tubuhnya
terlalu lemah. Dan jika ia ikut bekerja dengan kami, pasti nanti barang-barang kami
digeledah sehingga ketahuan masa silam kami yang sebenarnya.
Malam
itu, ketika seisi desa sudah tidur pulas, kami mengemasi barang-barang kami
yang paling penting dalam dua bukusan besar yang nanti akan kupikul, dan
bungkusan-bungkusan berukuran lebih kecil yang akan dibawa oleh Huoy dan ibunya.
Dengan menyesal kuputuskan untuk tidak membawa skuterku serta gerobak gandengannya.
Kami
menyelinap ke luar di tengah kegelapan yang pekat. Aku pergi menenangkan anjing
yang menggeram-geram tapi tidak menggonggong, sementara Huoy berjalan lebih
dulu bersama ibunya. Ketika langkah mereka sudah tidak terdengar lagi, aku
lantas menyusul sambi! memikul bawaanku. Aku sampai di sebuah percabangan
jalan, tapi Huoy dan ibunya masih juga belum nampak. Aku memanggil dengan
berbisik-bisik, "Manis! Manis! Di mana kamu?" Kedua wanita itu ternyata
mengambil cabang jalan yang keliru. Mereka kembali, lalu kami berjalan dengan
mengambil arah yang seharusnya ditempuh. Ketika sudah meninggalkan desa yang
banyak pohonnya dan sampai di persawahan yang lapang, kami diterangi sinar
bulan yang terang. Bulan yang sudah hampir purnama ada di belakang kami, dengan
jelas menerangi petak-petak pematang sawah.
Kami
berjalan melintasi sawah-sawah. Di kejauhan nampak sinar lampu-lampu besar dari
iring-iringan truk yang lewat di Jalan Nasional 2. Lurus di depan kami ada
rumpun pepohonan yang kelihatan berupa bayangan gelap: sebuah desa lain. Kami
mengitarinya jauh-jauh. Anjing-anjing di desa itu mendengar kami. Gonggongan mereka
memecah kesunyian malam. Anjing-anjing itu terus menggonggong sampai kami sudah
berada jauh di balik desa. Kami beristirahat sebentar ketika sudah sampai di
dekat Jalan Nasional 2. Kami merebahkan diri di tengah rerumputan tinggi.
Otot-otot bahuku sebelah atas terasa nyeri karena memikul beban berat. Walau
begitu aku tetap bersemangat. Aku tahu di mana kami saat itu berada dan di mana
kemungkinannya lokasi tempat-tempat pemeriksaan. Huoy dan ibunya sudah capek,
tapi mereka tidak mengeluh. Mereka menaruh kepercayaan pada diriku untuk
memimpin mereka. Dan mereka sayang padaku. Emak membungkus tongkat pikulanku
dengan kain supaya tidak terasa terlalu keras. Setelah itu kami melanjutkan
perjalanan.
Kami
melalui Chambak lewat jalan besar, dan kemudan melewati desa Samrong Yong yang
sudah rata dengan tanah. Serdadu Khmer Merah yang masih muda, yang ketika
pertama kalinya kami sampai di situ berdiri menjaga di persimpangan utama, kini
tidak nampak lagi. Ketika fajar menyingsing kami bersembunyi di tengah
puing-puing reruntuhan sebuah kuil di luar desa. Huoy menggosok-gosok bahu kiri
dan kananku yang merah dan bengkak.
Hanya
sejam saja kami beristirahat. Setelah itu kami berjalan lagi menyusuri jalan
besar yang lengang, kemudian melintasi persawahan dan menerobos hutan. Bahuku
terasa sakit sekali, sampai setiap beberapa ratus meter aku harus berhenti
untuk beristirahat sebentar dan memindahkan tongkat pikulan ke atas bahu yang
lain. Huoy mengompres bahuku dengan krama-nya
yang dibasahi dengan air untuk mengurangi rasa nyeri. Ia merasa gelisah dan aku
cemas melihat ia gelisah, tapi ia bisa mengendalikan diri. Kami berjalan terus
sambil sebentar-sebentar beristirahat. Keesokan paginya kami sampai di TonIe
Bati. Dan siapakah yang kami lihat dekat gerbang desa? Ayahku bersama seluruh
keluarga, serta jip yang masih terus mereka bawa. Banyak yang terjadi sejak
terakhir kali aku melihat mereka. Kami sempat menginap di tengah puing-puing reruntuhan
rumah keluargaku yang lama. Kami sudah mencoba dan kemudian melepaskan lagi
rencana kami untuk meninggalkan Kamboja dengan perahu, karena begitu banyak
tempat pemeriksaan di tengah jalan. Kami sudah sempat melakukan kerja paksa,
menghadiri acara-acara bonn dan
kemudian minggat dari desa orang-orang "lama". Rasanya sudah sangat
lama waktu berlalu. Padahal baru seminggu lebih sedikit kami meninggalkan
keluargaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar