12
BUAYA KEHILANGAN DANAUNYA
TONLE
BATl, kota kecil yang sudah sangat tua umurnya itu, letaknya di tepi sebuah
danau bernama sarna yang bentuknya panjang dan sempit. Di Kamboja sendiri kota
itu termasyhur karen a kuilnya yang bagus sekali. Tiga sisi dari wat itu diapit telaga yang dihiasi
tumbuhan teratai. Ikan emas berenang berkawan-kawan di dalamnya. Pada sisi
keempat ada tangga lebar yang menuju ke gerbang masuk ke kuil, dengan sandaran
berbentuk lengkungan tubuh naga suci berkepala tujuh yang mengangakan mulut
untuk mengusir makhluk-makhluk jahat dan melindungi orang-orang yang melakukan
upacara religius di dalam. Di samping kuil terdapat sala atau pendapa terbuka dengan tiang-tiang yang menopang atapnya yang
bertingkat-tingkat. Di sekitarnya masih ada lagi bangunan-bangunan tambahan, di
antaranya ada yang berasal dari zaman kerajaan Angkor tujuh abad yang silam dan
terbuat dari batu berwarna coklat kemerahan dan dihiasi dengan ukiran-ukiran
berwujud gambar timbul. Dalam salah satu bangunan yang berasal dari zaman Angkor
itu ada sebuah patung Budha duduk yang besar dan terbuat dari perunggu. Patung
itu buatan zaman modern, tapi sangat halus pengerjaannya. Itulah patung yang
diangkut ayahku dengan truknya dari Thailand semasa aku masih kecil.
Bagi kami, peranan kuil itu bisa dipersamakan dengan
katedral atau biara yang besar di Perancis pada Abad Pertengahan. Anak-anak
lelaki dititipkan oleh orangtua mereka ke kuil itu untuk belajar membaea dan
menulis, serta menjadi biksu selama beberapa waktu sebagai bagian dari proses ritual
menjadi dewasa. Setiap pagi para biksu dari kuil itu berkeliling mendatangi
rumah-rumah umat, mengumpulkan derma. Baik dalam hal-hal yang bersifat religius
maupun keduniaan, kuil itu sudah senantiasa merupakan pusat bagi kota TonIe
Bati. Tapi ketika aku dan juga keluargaku tiba di sana, saat itu pertengahan
bulan Mei 1975, para biksu sudah dipaksa Khmer Merah meninggalkan wat, disuruh melepaskan jubah kuning mereka
dan menggantinya dengan pakaian piama hitam. Khmer Merah mengatakan, para biksu
itu parasit yang hidup dari jerih payah orang lain karena kebiasaan mereka
menerima derma. Atau seperti yang dijelaskan seorang mit neary kepada kami, "Biksu-biksu itu bernapas dengan
menggunakan hidung orang lain. Peraturan Angka mengatakan: bernapaslah dengan
hidungmu sendiri”
Budhisme adalah agama lama yang harus kami lepaskan,
dan Angka merupakan "agama" baru yang harus kami terima. Ketika musim
hujan sudah tiba - biasanya bersamaan waktunya dengan saat para remaja dari
desa-desa sekeliling digunduli kepalanya untuk menjadi biksu selama beberapa
waktu-serdadu-serdadu memasuki kuil yang sudah kosong dan mulai menyingkirkan patung-patung
Budha yang ada di situ. Patung-patung yang besar digelindingkan ke tepi lalu dijatuhkan
dengan begitu saja sehingga terbanting ke tanah dengan kepala dan lengan
terputus dari tubuh, atau dicampakkan ke dalam telaga. Tapi mereka hanya bisa
menghancurkan lambang-lambang lahiriah saja dari agama kami, tapi keyakinan
yang tertanam dalam sanubari umatnya tidak bisa mereka lenyapkan. Tapi begitu
pun tidak semua patung bisa mereka musnahkan. Rasa puas timbul di tengah kegeramanku,
melihat bahwa masih ada satu patung yang utuh. Patung Budha dari perunggu itu
masih nampak di tempatnya semula, dalam bangunan kecil dari zaman Angkor.
Ketika membawanya ke situ, ayahku bersusah-payah mencari akal agar patung berat
itu bisa masuk lewat gerbang batu yang sempit. Orang-orang Khmer Merah itu
tidak bisa menemukan cara membawanya ke luar, apalagi menghancurkannya. Mereka
tidak memiliki kecerdasan dan juga perkakas yang diperlukan untuk itu.
Di TonIe Bati kami disuruh oleh Khmer Merah pergi
menghadiri acara-acara bonn, atau
proses cuci otak; jadi serupa dengan yang sudah kualami bersama Huoy di desa
dari mana kami baru saja minggat. Acara-acara itu selalu diadakan pada malam
hari dan biasanya di suatu tempat lapang yang banyak nyamuknya di tengah hutan.
Tapi pada suatu malam para pemimpin Khmer Merah mengadakan acara bonn yang tidak seperti biasanya, karena
bertempat di pendapa yang bersebelahan letaknya dengan kuil. Kami, para
hadirin, duduk di lantai papan yang halus dan sejuk. Serdadu-serdadu sudah
memasang perlengkapan pengeras suara yang bekerja dengan menggunakan baterai-baterai
truk. Di dekat mikrofon berdiri kader-kader Khmer Merah yang mengenakan seragam
celana panjang dan kemeja katun hitam yang biasa, dilengkapi dengan ikat kepala
berwarna merah dan krama berwarna merah pula, yang dililitkan di pinggang. Di
luar, hujan turun rintik-rintik. Salah satu dari orang-orang berpakaian seragam
itu maju menghampiri mikrofon lalu mulai berbicara.
"Di Kampuchea Demokratik, di bawah pimpinan
gemilang dari Angka," katanya, "kita perlu berpikir tentang masa
depan. Masa silam tidak usah dipikirkan lagi. Kalian, orang-orang
"baru", harus melupakan masa prarevolusi. Lupakan segala kebiasaan
menenggak minuman keras yang serba mahal, lupakan pakaian dan gaya penataan rambut
yang serba modern. Lupakan Mercedes. Semuanya itu tidak ada gunanya lagi
sekarang. Apa yang bisa kalian lakukan dengan mobil Mercedes sekarang? Kalian
tidak bisa menukarkannya dengan barang apa pun juga! Kalian tidak bisa menyimpan
beras dalam Mercedes, tapi beras bisa disimpan dalam kotak yang kalian buat sendiri
dari daun kelapa!
"Kita tidak memerlukan teknologi kaum
kapitalis," katanya menyambung. "Semuanya itu sarna sekali tidak kita
perlukan. Di bawah sistem kita yang baru, kita tidak perlu lagi menyuruh anak-anak
kita belajar di sekolah-sekolah. Sekolah kita adalah ladang pertanian. Tanah,
itulah kertas kita. Bajak adalah pena kita. Kita akan "menulis" dalam
wujud membajak tanah. Kita tidak perlu mengadakan ujian-ujian atau memberikan
ijazah-ijazah. Tahu bagaimana caranya bertani dan mengetahui cara menggali
saluran-saluran air itulah ijazah-ijazah kita," katanya.
"Dokter-dokter tidak kita perlukan lagi.
Mereka itu tidak diperlukan. Jika ada yang perlu dibedah perutnya, akulah yang
akan melakukannya." Tangannya digerakkan seperti membedah perut dengan
pisau. "Gampang saja! Tidak perlu dipelajari dulu di sekolah.
"Kita tidak memerlukan pekerjaan
kapitalis yang mana pun juga! Kita tidak memerlukan dokter atau insinyur. Kita
tidak memerlukan profesor untuk mengatakan apa yang harus kita lakukan. Mereka
itu semuanya korup! Kita hanya memerlukan orang-orang yang mau bekerja keras di
pertanian!
"Meski begitu, Kawan-kawan,"
katanya, sambil menatap wajah-wajah kami, "ada sementara kalangan
pembangkang dan pengacau yang tidak menunjukkan kemauan yang benar untuk
bekerja keras dan berkorban! Orang-orang semacam itu tidak memiliki jiwa
revolusioner yang sejati! Orang-orang semacam itu musuh kita! Dan Kawan-kawan,
di antara kita ini ada orang-orang semacam itu!"
Para hadirin gelisah. Masing-masing berharap dalam
hati, semoga bukan dia yang dimaksudkan oleh pembicara itu, tapi orang lain.
"Orang-orang itu masih tetap saja
berpegang pada cara berpikir kapitalis," kata pembicara itu. "Mereka
tetap berpegang teguh pada kebiasaan-kebiasaan kapitalis yang sudah usang! Di
antara kita ada orang-orang yang masih selalu memakai kacamata. Dan apa
sebabnya mereka menggunakan kacamata? Apakah mereka tidak bisa melihat aku?
Jika aku bergerak untuk menampar mukamu" -diayunkannya tangan seperti
hendak menampar-
"dan
matamu terkejap, maka itu artinya penglihatanmu masih cukup baik. Jadi tidak memerlukan
kacamata. Orang-orang memakai kacamata agar kelihatan tampan, bergaya
kapitalis. Mereka memakainya karena merasa diri hebat. Orang-orang semacam itu
tidak kita perlukan lagi! Orang yang menganggap dirinya keren, mereka itu
pemalas! Lintah darah, yang mengisap tenaga orang lain!"
Aku melepaskan kacamataku dan mengantonginya. Orang-orang
di sekelilingku yang berkacamata juga berbuat sarna. Penglihatanku tidak begitu
buruk, hanya agak cadok dan juga stigmatis. Aku masih bisa mengenali orang yang
berada agak jauh, tapi kelihatannya agak buram.
Orang yang berbicara selama itu melangkah mundur
dari mikrofon, kembali ke barisan kader yang berpakaian seperti dia, dengan krama merah terlilit di pinggang dan
dengan ikat kepala merah. Dari alat pengeras suara terdengar bunyi desisan, disusul
musik rekaman: musik mars aneh dengan bunyi canang dan gong
bergembreng-gembreng mengakhiri setiap frase sejenis dengan musik yang pernah
kudengar sewaktu ikut dihanyutkan banjir manusia yang bergerak meninggalkan
Phnom Penh waktu itu. Sudah pasti itu musik dari Peking, kataku dalam hati.
Para kader mulai melakukan tarian mengikuti irama musik itu, bergerak serempak
seperti sedang mencangkul. Ketika stanza berikut dimulai, mereka mengubah posisi
dan menampilkan gerakan menarik gagang kunci Inggris berukuran raksasa, seperti
sedang mengencangkan baut-baut mesin pabrik.
Aku memandang kesibukan mereka dengan perasaan
heran, karena belum pernah melihat tarian yang mengagungkan pekerjaan tani dan buruh
pabrik.
Kemudian ada lagi yang berpidato, sekali ini tentang
pembangunan perekonomian dan bagaimana kami semua harus bekerja keras untuk Angka,
serta bahwa kemalasan merupakan musuh kami. "Angka mengatakan, jika kalian
bekerja, kalian makan. Jika kalian tidak bisa bekerja, kalian tidak bisa makan.
Tidak ada orang lain yang bisa membantu. "Negeri Kamboja akan mampu
memenuhi segala kebutuhannya sendiri, sedikit pun tidak mengandalkan bantuan
luar negeri.
Setelah itu menyusul tarian kedua, diiringi musik
aneh yang seperti tadi juga. Kali ini para kawan yang wanita yang menari secara
serempak. Gerak-gerik mereka bersemangat dan kelaki-lakian, menirukan para
petani yang sedang menuai padi. Sarna sekali tidak nampak kegemulaian. Lalu
tiba giliran pidato propaganda lagi, disusul tarian berikut. Begitu terus,
silih berganti.
Ketika tarian terakhir sudah selesai semua
kader yang mengenakan seragam, lelaki dan perempuan, membentuk sederet barisan
panjang lalu berseru dengan lantang, "UTANG DARAH DIBAYAR DENGAN
DARAH!" Setiap kali menyerukan kata "darah", mereka memukul dada
dengan tangan terkepal, dan jika menyerukan "dibalas" mereka
mengacungkan lengan lurus-Iurus seperti gaya Nazi, tapi dengan tangan tetap
terkepal.
"UTANG DARAH DIBAYAR DENGAN DARAH! UTANG
DARAH DIBAYAR DENGAN DARAH! UTANG DARAH DIBAYAR DENGAN DARAH!" Para kader
itu menyerukannya berulang-ulang dengan wajah galak dan penuh tekad,
menggebukkan kepalan tangan ke arah jantung lalu mengacungkannya lurus-Iurus
dan menggebukkannya lagi ke dada. Slogan-slogan revolusioner yang lain-Iainnya
juga diserukan dengan disertai gerakan mengacung- acungkan tangan, dan akhirnya
segalanya ditutup dengan seruan, "Hidup Revolusioner Kampuchea! "
Pertunjukan itu benar-benar dramatis,
menyebabkan kami yang menontonnya ketakutan. Dalam bahasa kami,
"darah" memiliki arti ganda, yakni cairan berwarna merah yang
mengalir dalam tubuh, tapi juga hubungan kekeluargaan. Utang darah dlbalas
dengan darah. Jika kau membunuh kami, maka kami akan membunuhmu. Kami,orang-orang
"baru", semasa perang saudara masih berlangsung berada di pihak lawan
dan Khmer Merah. Serdadu-serdadu rezim Lon Nol, dengan bantuan persenjataan dan
pesawat-pesawat terbang Amerika, menyebabkan tewasnya puluhan ribu anggota
Khmer Merah dalam perang. Secara simbolis, dalam acara bonn malam itu kami mendengar Khmer Merah mengumumkan bahwa mereka
akan membalas dendam.
************
TonIe
Bati merupakan tempat kelahiran ayahku, dan tempat yang didatangi kelima
saudaranya setelah kota Phnom Penh jatuh. Semasa kekuasaan rezim Lon Nol,
ayahku sangat bermurah hati terhadap mereka, meminjami mereka uang dalam jumlah
besar dan yang olehnya tidak harus diharapkan harus dikembalikan. Orang yang
paling banyak menerima pemberian Ayah adalah adik tirinya Ngor Pheck Kim, bibiku
yang membuka usaha penjualan perlengkapan militer Amerika. Aku juga membantu
Bibi Kim waktu itu, memberikan pengobatan secara cuma-cuma kepada anak-anaknya dan
juga suaminya yang mengidap penyakit TBC, serta membiarkan dia mengambil beras subsidi
pemerintah yang merupakan jatahku, yang kemudian dijualnya dengan harga yang
jauh lebih tinggi di pasar gelap. Sejak itu aku menyesali keputusanku itu,
karena kemudian aku mendapat kesan bahwa wanita itu serakah dan tidak
menyenangkan wataknya.
Sewaktu di Phnom Penh, Bibi Kim mengakrabkan diri
dan menyanjung-nyanjung kami. Kini, di TonIe Bati, ia mengakrabkan diri pada
seseorang bernama Neang, orang "lama" yang berfungsi sebagai kepala
desa rezim Khmer Merah. Memang, keakraban Bibi Kim pada orang itu pada mulanya
ada gunanya juga bagi kami. Atas usahanya, kepala desa menunjuk sebuah rumah untuk
dijadikan tempat tinggal sementara keluarga kami, sampai kami sudah bisa
membangun rumah sendiri.
Tapi aku tetap saja berperasaan tak enak menghadapi
Bibi Kim. Pernah keluarga besar Ngor mengadakan rapat yang dihadiri semua paman,
bibi, dan sepupu. Banyak di antara mereka yang tidak begitu kukenal. Suami Bibi
Kim duduk memisahkan diri, kurus dan sakit-sakitan, terbatuk-batuk terus karena
dahaknya yang tidak mau lepas dari kerongkongan: Salah seorang sepupuku
mengajukan pertanyaan yang ada dalam pikiran kami semua, yaitu adakah kemungkinan
lari ke luar negeri untuk menghindarkan diri dari cengkeraman kekuasaan Khmer Merah.
Boleh dibilang kami semua ingin lari dari Kamboja.
"Tidak, itu tidak mungkin bisa,"
kata Bibi Kim, sambil menunjuk langsung ke arahku. "Ngor Haing ini pernah
mencoba lari, tapi ia tertangkap. Ia hendak lari naik perahu ke Thailand, tapi
sampai ke pesisir saja pun ia tidak bisa. Jika ia saja tertangkap, maka kita
takkan mungkin bisa melakukannya."
Orang-orang berpaling memandangku dengan wajah
ingin tahu. Air mukaku biasa-biasa saja, \ tapi dalam hati aku marah. Perempuan
dungu! Aku tidak mau ada orang lain kecuali orangtua dan saudara-saudara
kandungku tahu bahwa aku pernah mencoba lari keluar negeri. Kini seisi TonIe
Bati pasti akan tahu. Dan jika aku tidak bisa percaya bahwa Bibi Kim akan
menutup mulut tentang percobaanku melarikan diri itu, maka aku pasti tidak bisa
mempercayainya bahwa ia takkan bercerita kepada siapa pun juga tentang
kenyataan bahwa aku sebenarnya dokter. Jika itu sampai terdengar Khmer Merah,
habislah riwayatku.
Kalau kupikir-pikir sekarang, mungkin Bibi Kim
menyimpan dendam pada kami karena segala bantuan yang diberikan olehku dan juga
Ayah kepadanya, sebab kenyataan bahwa dengan menerima bantuan itu kedudukannya
lantas menjadi lebih rendah daripada kami. Dalam pikirannya ia menganggap bahwa
ia sudah membalas budi kami, atau bahkan telah memberikan lebih banyak lagi, dengan
perbuatannya mengusahakan tempat tinggal bagi kami di sebuah rumah panggung.
Rumah itu mirip dengan yang kami tinggali sewaktu di Wat Kien Svay Krao, lapang
dan berudara segar, dengan lantai papan yang melendut-Iendut jika orang
berjalan di atasnya. Keluargaku tinggal bersesak-sesak di dalam dan di kolong
rumah itu, persis seperti keadaan sewaktu di tempat pengungsian kami yang
pertama. Di samping rumah itu berjejer-jejer rapi petak tanah kosong yang sudah
dibagi-bagikan untuk dipakai sebagai tempat membangun rumah. Tiap pasangan
suami-istri mendapat bagian sepetak. Petak-petak tanah Bibi Kim dan anak-anak lelakinya
sederetan dengan petak-petak tanah kami, yaitu ayahku, saudara-saudara lelakiku,
dan aku sendiri. Beberapa hari dalam seminggu kami dibebaskan dari keharusan bekerja
untuk Khmer Merah, agar ada waktu untuk membangun rumah kediaman bagi kami sendiri.
Kami beramai-ramai masuk ke hutan, aku bersama saudara-saudara lelakiku serta
beberapa anak lelaki Bibi Kim, menebang pohon-pohon untuk dijadikan tiang-tiang
rumah. Tiang-tiang itu kemudian kami gotong ke Tonie Bati. Masing-masing menumpukkan
tiang-tiang itu di tempat sendiri -sendiri.
Pada suatu pagi tumpukan tiang kepunyaan Bibi
Kim lenyap. Anaknya, Haing Seng, yang pernah kubaiki semasa di Phnom Penh dulu,
datang ke rumah keluargaku dan langsung menuding- nuding diriku dengan sikap
kurang ajar. Ia sangat marah. Ditanyakannya padaku, di mana tiang-tiang itu.
Nada suaranya menyebabkan pertanyaan itu kurasakan seperti menuduh.
"Haing Seng," kataku dengan suara
pelan, "kau sudah lupa, siapa aku? Aku ini orang yang dulu kausapa dengan
sebutan 'Bang'."
"Sekarang tidak ada lagi 'Abang',"
tukas Haing Seng. "Aku ingin tahu siapa yang mencuri kayu Itu”.
"Baiklah," kataku, "jadi kau
tidak mau tahu lagi tentang ‘Abang'. Boleh saja, itu bukan masalah. Tapi jangan
kaumaki-maki aku, Haing Seng. Periksa saja sendiri tumpukan kayuku, jika kau
mau.'
Kami berjalan ke tumpukan kayuku yang terletak
sekitar lima puluh meter dari rumah.. Tumpukan itu lebih tinggi dari yang
lain-Iainnya, karena memang lebih banyak pohon yang kutebangi. Haing Seng
memandang tumpukanku itu lalu mendorongnya sehingga roboh berantakan.
"Kenapa itu kaulakukan?" tukasku.
"Tidak tahu berterima kasih. Mencuri,
padahal sudah kami tolong."
TonIe Bati memang tempat asal Haing Seng. Ia mengira
kami harus bersikap seperti berhutang budi kepadanya, karena ibunya sudah
mengusahakan rumah untuk tempat tinggal kami. Ia menganggap bahwa aku harus
bersikap hormat kepadanya. Tapi aku sudah tidak sabar lagi. Aku berteriak bahwa
ia tidak "berbangsa", yang berarti bahwa ia tidak tahu siapa ayah dan
ibunya, bahwa ia anak haram. Di Kamboja, itu merupakan tuduhan yang sangat
berat.
Haing Seng pergi dengan marah, untuk mengadu kepada
ibunya.
Aku menumpukkan kembali kayu-kayu tiangku. Ayahku
yang saat itu berada di dalam rumah mendengarkan pertengkaranku dengan Haing Seng.
Ia turun untuk menanyakan apa sebetulnya yang terjadi. Tapi ayahku itu sudah
tua dan karenanya lambat gerakannya. Bibiku sudah lebih dulu datang.
Aku ditempeleng dua kali, keras-keras.
"Kenapa kaukatakan pada anakku bahwa ia tidak berbangsa? Aku punya bangsa!
Dan aku masih berkerabat dengan kamu! Jadi kenapa kau mengatakan begitu?"
Aku berpaling untuk memanggil ayahku; yang datang
terengah-engah menghampiri kami. "Ayah, Ayah melihat sendiri bahwa aku
ditempeleng olehnya. Tempelengan yang pertama masih kumaafkan karena ia adik
Ayah. Yang kedua pun kumaafkan karena ia lebih tua. Jadi kuterima saja. Tapi
-"aku berpaling pada Bibi Kim "jangan kauulangi lagi."
Bibi Kim menudingkan telunjuknya ke mukaku. "Kau
datang ke desa ini sebagai orang asing!" jeritnya. “Jika bukan karena aku,
kau takkan bisa tinggal di sini. Kau sarna sekali sudah melupakan segala
kebaikanku padamu." Ia meludah ke arah kakiku lalu mengucapkan suatu
peribahasa kuno, "Buaya sudah kehilangan danaunya!' "
Itu berarti aku sudah lupa akan tempat yang membesarkan
aku, dan kini aku dalam kesulitan, seperti buaya yang jauh dari air.
"Sudah selesai?" kataku. "Sudah
selesai memaki-maki aku?"
"Apa pedulimu, aku sudah selesai atau
belum?"
Kulontarkan kata makian kasar. "Apa
maksudmu, buaya yang kehilangan danaunya? Ketika kau datang di Phnom Penh,
keluargaku memberi makan padamu. Kau kami beri uang. Kuobati anak-anakmu. Kuberikan
obat pada suamimu yang payah itu. Aku tahu, buaya mana yang kehilangan
danaunya!"
Akhirnya ayahku sampai juga di tempat kami. Napasnya
memburu. "Kim, Kim, keluargaku ada di tanganmu," katanya memelas.
"Kami berada di duniamu. Jika kau merasa harus berbuat sesuatu terhadap
anakku ini atau terhadap keluargaku, kami tidak bisa mencegahmu. Kami tidak
berdaya. Tapi jangan kaulupakan segala kebaikan kami yang dulu padamu."
Sementara itu Haing Seng sudah muncul lagi, bersama
tiga atau empat saudara lelakinya. Semuanya membawa senjata, tongkat dan pisau.
"Ayo, kita berkelahi, Bangsat," katanya sambil menggerak-gerakkan
tangan menyuruh aku maju. Kusuruh dia pergi. Ia berdiri beberapa meter dari tempatku,
menggigit-gigit bibir, mengayun-ayunkan tongkat dengan sinar mata
menyala-nyala.
Mana saudara-saudaraku? Mereka tidak
kelihatan. Padahal aku memerlukan bantuan mereka saat Itu.
Aku merasa lenganku ditarik orang. Ternyata itu
Huoy.
"Sudahlah, Sayang, sudahlah,"
katanya, berusaha menarik aku pergi dari situ.
Ibunya memegang lenganku yang satu lagi. "Jangan
lawan mereka," katanya. "Jika. Sepupu-sepupumu ingin mengambil
kayu-kayu itu, blarkan saja. Janganlah berkelahi."
Bibi Kim menatap Huoy dengan pandangan menghina
dan menyebut kata yang berarti "perempuan murahan". Aku langsung
hendak menerjang maju, tapi ayahku cepat-cepat menghadang, sementara Huoy dan
ibunya mempererat pegangan mereka. Aku membiarkan mereka menahanku. Lama juga
kami saling memaki di dekat tumpukan kayu itu. Tapi akhirnya Bibi Kim pergi juga,
diiringi anak-anaknya.
Sementara itu kemarahanku sudah reda. Matahari
sudah tinggi. Udara sudah panas lagi, dan aku harus buru-buru mulai bekerja
karena sudah terlambat.
"Begitulah saudara Ayah," kataku
padanya. "Diberi makan, diberi uang, tapi apa yang diperbuatnya sekarang?
Beginilah balas budinya atas segala kebaikan Ayah."
Sambil mengeluh ayahku berkata,
"Sudahlah, Nak, lupakan saja itu." Tapi di wajahnya yang gemuk dan
cerdas terbayang jelas kekhawatiran. Ia kesal pada saudara tirinya, karena wanita
itu bermuka dua. Ia jengkel padaku, karena membahayakan keselamatan keluarga.
Khmer Merah sudah menyuarakan ancaman akan membalas darah dengan darah. Dan
kini kami, sesama anggota keluarga, nyaris saja berkelahi, menumpahkan darah.
Ayahku berbalik lalu melangkah dengan gontai, kembali
ke rumah.
******************
Penguasa Khmer Merah setempat membagi-bagi TonIe
Bati menjadi bagian-bagian yang masing-masing dihuni oleh orang-orang
"lama" dan orang-orang "baru". Kami mereka tempatkan di
bagian orang "baru" dan di situ dimasukkan dalam kelompok dua ratus
orang "baru" dari golongan etnis Cina, meski keluargaku sebenarnya campuran
Cina dan Khmer.
Kami bertetangga dengan orang-orang yang dulunya
pemilik toko ketika masih di Phnom Penh. Mereka berkulit kuning dan berambut lurus,
dan seperti kebanyakan orang Cina mereka dalam hati memandang rendah terhadap
orang-orang yang warna kulitnya lebih gelap dari mereka, dan itu termasuk pula
Khmer Merah. Dua kali sehari, saat makan siang dan makan malam, kami antre
beramai-ramai di dapur umum yang dibangun dekat kuil. Masing-masing diberi semangkuk
nasi bubur yang hanya diberi garam, dan kadang-kadang ditambah dengan sayuran sedikit.
Sesudah makan dengan sendok menurut kebiasaan Khmer Merah, para tetangga kami pulang
ke rumah masing-masing, di mana mereka dengan sembunyi-sembunyi memasak makanan
mereka sendiri dengan menggunakan bekal yang mereka bawa dari Phnom Penh.
Mereka makan nasi yang dimasak seperti seharusnya, kadang-kadang dengan daging
babi atau ikan asin.
Kelompok kami yang berjumlah dua ratus orang
itu merupakan satu regu kerja yang besar. Kadang-kadang kami bekerja di sawah,
menanam padi; tapi kami lebih sering bekerja menggali saluran yang menurut
rencana akan mengalirkan air ke sawah-sawah. Kami mulai di dekat danau, dengan
malas-malasan mencangkul tanah lempung yang coklat kemerahan, memasukkannya ke dalam
keranjang-keranjang yang kemudian dengan santai diangkut dengan sistem tangan
beranting dari dasar saluran yang sedang digali ke atas. Kami bekerja dengan
santai-santai saja. Jika tidak ada serdadu di dekat kami, kami bahkan sama sekali
tidak bekerja. Kami duduk sambil bercakap- cakap, sedapat mungkin di tempat
teduh. Pengawas kami yang orang sipil, orang "lama" yang cara
berpikirnya tidak ikut berubah dengan adanya revolusi, ikut duduk dan mengobrol
dengan kami. Ia tidak melihat alasan kenapa kami harus bekerja keras di bawah
sinar matahari yang terik, serupa halnya dengan kami. Dulu pun, semasa
prarevolusi, tidak ada orang di Kamboja yang suka bekerja keras. Pada saat
istirahat yang kadang-kadang berlangsung selama separuh dari waktu pagi,
orang-orang Cina yang dulu pemilik toko itu mengeluh, "Untuk apa kita
capek-capek? Toh tidak ada gunanya. Apakah kita bekerja keras atau
bersantai-santai saja, jatah makanan yang diberikan tetap saja sarna setiap
hari." Pengawas kami cuma mengangkat bahu saja. Ia mengatakan, ia pun sama
saja tidak mengerti apa sebetulnya yang sedang terjadi.
Pada waktu itu pengawasan Khmer Merah terhadap
kami masih sangat longgar. Ketika itu mereka masih sibuk memantapkan kedudukan dan
menyusun rancangan mereka untuk menciptakan bentuk masyarakat yang baru. Di
Tonie Bati, dari setiap keluarga hanya satu orang saja yang diharuskan datang
melapor untuk bekerja setiap harinya. Huoy bisa menggantikan aku jika aku perlu
melakukan pekerjaan lain, seperti misalnya memotong kayu untuk dijadikan tiang-tiang
rumah kami nanti. Selain itu, mudah saja berpura-pura sakit. Kadang-kadang tak
seorang pun dari keluarga kami pergi bekerja.
Waktu luangku sebagian kumanfaatkan untuk melakukan
kegiatan barter di desa-desa sekitar yang dihuni orang-orang "lama".
Aku sudah biasa melakukannya semasa masih kecil. Aku menempuh jalan-jalan
setapak yang sama menembus hutan, dan banyak di antara penduduk desa-desa yang
kudatangi itu ternyata masih ingat padaku. Padahal sudah hampir dua puluh tahun
aku tidak pernah lagi berjumpa dengan mereka. Bermacam-macam barang yang kubawa
untuk dipertukarkan dengan mereka, seperti kain sarung setumpuk dari klinikku
di Phnom Penh, begitu pula kotak-kotak sirih dari perak yang kemudian kuambil
dari apartemenku. Sebagai penukar, orang-orang desa itu memberi beras, sayuran,
dan macam-macam lagi. Di desa tempat aku pernah mabuk karena minum tuak ketika
masih anak-anak dulu, aku menukarkan bawaanku dengan selembar plastik yang
kokoh berwarna putih. Aku tahu bahwa lembaran plastik itu akan besar gunanya
nanti kalau sudah musim hujan.
Apabila tidak melakukan kegiatan barter atau mencari
tanam-tanaman liar yang bisa dimakan, aku bekerja membangun rumahku.
Tiang-tiang kupakukan membentuk kerangka yang ringkih. Ayahku, yang dulu raja
kayu, membuat kajang dari daun kelapa untuk dijadikan bahan atap dan dinding.
Ayahku jauh lebih terampil ketimbang aku, sampai aku malu sendiri. Meski aku
mengenyam pendidikan di kota, begitu pula menuntut ilmu bertahun-tahun untuk
menjadi dokter, tapi banyak keterampilan praktis yang tidak pernah kupelajari.
Akhirnya selesailah rumahku. Sebenarnya hanya gubuk
saja, dengan satu ruangan. Aku membuat panggung rendah yang permukaan sebelah
atasnya terbuat dari bambu yang dibelah-belah, lalu kuhamparkan lembaran plastikku
di atasnya untuk tempat kami tidur bertiga, aku, Huoy, dan ibunya. Kami hidup
bertiga dengan rukun. Aku dan Huoy memperlakukan ibunya dengan hormat karena ia
sudah tua, dan Emak menyibukkan diri di rumah dengan melakukan berbagai
pekerjaan enteng. Kurang-Iebih sekali seminggu Emak menggantikan aku menghadiri
bonn, supaya aku bisa berdua saja
dengan Huoy selama beberapa waktu. Itu satu-satunya manfaat acara bonn bagi kami. Sementara Emak pergi menghadirinya,
aku dan Huoy sekali-sekali bisa melakukan hubungan suami-istri.
Suatu malam, ketika kami bertiga sudah
berbaring di balik kelambu dengan Huoy di tengah-tengah, tiba-tiba terdengar
bunyi berderik samar di luar. Datangnya dari arah jalan. Seketika itu juga aku
sudah terjaga. Itu bunyi sepeda, kataku dalam hati. Bunyi berderik lenyap, dan
terdengar bunyi pintu rumah diketuk. Aku bangun dan mengintip lewat
celah-celah. Ternyata yang datang itu Neang, kepala desa.
"Ya, ada apa?" kataku.
"Ngor Haing, aku tahu kau sebenarnya
dokter," katanya. "Tolong selamatkan anakku."
Aku diam saja. Ketakutan.
"Aku bukan dokter," kataku kemudian.
"Bibimu yang bilang bahwa kau dokter.
Katanya, kau dulu dokter tentara, berpangkat kapten. Aku tidak peduli apa yang
kaulakukan dulu, tapi sekarang anakku sakit demam. Keadaannya parah sekali.
Tolonglah, selamatkan nyawa bayiku. Umurnya baru sebelas bulan."
Ternyata Kim yang bermulut lancang itu memberitahu
kepala desa, kataku dalam hati.
"Aku waktu itu baru mahasiswa,"
kataku dari balik pintu. "belum menjadi dokter."
Neang sudah tidak sabar lagi. "Semua
orang di sini tahu bahwa kau dokter. Ayolah, kau tidak perlu takut. Angka tidak
tahu apa-apa tentang masa silammu dan aku takkan mengatakannya kepada mereka.
Ayolah. Aku pemimpin di sini. Aku akan melindungimu"
"Tunggu sebentar."
Aku menimbang-nimbang. Neang datang seorang diri,
tanpa disertai serdadu. Kata orang ia peramah. Siang itu ia bertanya kepada
regu kerja kami di tempat penggalian terusan apakah ada di antara kami yang
punya obat demam, tapi tidak seorang pun menjawab. Waktu itu ia sudah tahu bahwa
aku sebenarnya dokter, tapi ia tidak langsung bertanya padaku. Ia menunggu dulu
sampai hari sudah malam.
Huoy terbangun lalu duduk. "Ada
apa?" bisiknya dari balik kelambu. "Kau akan dibawa pergi?"
"Kau tidak perlu cemas," bisikku
membalas sambil menukar sarung dengan celana panjang. "Tidak ada
apa-apa."
Kuikuti Neang ke rumahnya yang diterangi sinar
lentera. Nyalanya nampak di luar lewat celah-celah di dinding.
Selain aku, Neang rupanya sudah lebih dulu memanggil
orang-orang lain yang juga ada hubungannya dengan praktek penyembuhan penyakit.
Dua di antaranya orang desa, dukun tradisional. Kedua orang itu berkulit coklat
tua penuh rajahan. Mereka hanya memakai celana pendek. Mereka sudah menyiapkan
cairan jamu berwarna hijau yang dibuat dengan menggerus gula merah, lada hitam,
dan bermacam-macam dedaunan dengan dicampur air mentah. Adonan itu mereka
tuangkan dengan sendok ke dalam mulut bayi yang demam. Mereka juga memercikkan air
yang mereka katakan air keramat ke kening bayi itu. Ketika aku masuk, kedua
dukun itu sedang mengucapkan mantera-mantera untuk mengusir hantu-hantu jahat
yang mengganggu.
Selain itu ada pula dua wanita muda, dokter-dokter
Khmer Merah, berpakaian seragam hitam-hitam dan dengan rambut dipotong pendek seperti
lazimnya di kalangan mereka. Salah satu di antaranya memegang alat suntik.
Dengan alat itu ia menyedot cairan berwarna putih dari sebuah ampul yang ada tulisannya,
"Thiamine".
Aduh, jangan, pintaku dalam hati. Jangan!
Bayi yang sakit dibaringkan di atas sebuah
meja, terbungkus rapat dalam selimut. Kubuka selimut itu untuk melihat
keadaannya. Perut kembung. Badannya terasa sangat panas ketika kusentuh. Tubuh
sekali-sekali gemetar. Aku tidak bisa tahu dengan pasti tanpa ada pemeriksaan
laboratorium, tapi aku menduga bahwa itu meningitis sebagai kondisi sekunder
yang ditimbulkan oleh demam.
"Bagaimana caranya agar bayiku bisa
selamat?" tanya Neang kepadaku.
"Singkirkan selimut-selimutnya,"
kataku. "Badan bayimu terlalu panas, perlu didinginkan. Basahi kain dengan
air dingin dan kompres tubuhnya dengan itu."
"Jangan," kata mit neary yang memegang alat suntik. "Bayi ini demam karena
tubuhnya kedinginan. Jangan buka selimut-selimut itu."
Pendapatnya itu salah. Tapi aku diam saja. Wanita
muda itulah yang paling berkuasa di situ, bersama kawannya. la mengusap ujung
jarum suntik dengan jari-jari tangannya lalu menghampiri bayi yang sakit itu.
Aku tidak tahan melihatnya. Soalnya bukan jarum yang tidak steril itu saja.
Thiamine, atau vitamin B1, dalam praktek kedokteran Barat kadang-kadang
dipergunakan dalam rangka perawatan multivitamin, tapi selalu dalam kuantitas
yang sangat kecil. Tidak pernah disuntikkan secara murni. Mit neary yang memegang alat suntik tadi menyedot lima cc ke dalam alatnya.
Kusangsikan kemungkinan bahwa ia memahami apa yang tertulis pada ampul itu, karena
berbahasa Perancis. Kurasa ia juga tidak tahu bahwa kuantitas yang akan
disuntikkannya itu terlalu tinggi.
Ditusukkannya jarum suntik ke dalam tubuh bayi
yang dalam keadaan pingsan itu lalu disuntikkannya isi tabung alat suntik
sampai habis.
Kedua dukun masih terus menggumamkan mantera-mantera
mereka. Kedua wanita Khmer Merah itu menunggu dengan wajah masam dan sikap
jemu. Neang memandang ke arahku dengan cemas. Tapi aku diam saja. Aku berdiri
agak ke belakang. Cahaya lampu-Iampu minyak melemparkan bayangan kami di
dinding.
Kudengar suara jangkrik di luar. Katak betung bersahut-sahutan
dengan suara parau dan berat di danau.
Tubuh bayi itu nampak mulai bergetar. Tidak hanya
gemetar sedikit, tapi benar-benar bergetar! la sarna sekali tidak sadarkan diri
lagi. Matanya terbelalak. Selama lima sampai sepuluh menit ia masih terkejat-kejat.
Setelah itu napasnya putus.
Aku minta permisi lalu pergi ke luar.
Aku menarik napas dalam-dalam. Di situ suara ramai
jangkrik dan katak terdengar lebih nyaring. Datangnya dari segala arah,
memekakkan telinga.
lngin sekali rasanya aku menjerit sekuat-kuatnya.
Rasa benci menyelubungi seluruh kesadaranku saat
itu. Jika aku tadi mengatakan pada Neang bahwa bayinya jangan disuntik, kedua
tenaga medis Khmer Merah itu kemungkinannya takkan mempedulikan aku. Jika aku
tetap berkeras, mereka akan melaporkan diriku karena ikut campur, lalu aku akan
dibawa menghadap Angka Leu. Bagi kedua wanita muda itu, semua yang ada dalam
ampul pasti obat. Jika pasien mati sesudah disuntik, maka itu salah pasiennya
sendiri. Apakah sebenarnya tujuan revolusi semacam itu, tanyaku dalam hati. Apa
untungnya, apa kemajuannya, jika masyarakat beralih dari dukun-dukun yang tidak
berpengetahuan ke monyet-monyet seperti Khmer Merah? Bagaimana dengan
pengetahuan yang diajarkan di sekolah kedokteran? Apakah itu tidak ada gunanya
sarna sekali? Apakah kami harus melupakan bahwa pengetahuan itu ada?
Jika aku tadi bersikap lebih tegas, mungkin - tapi
hanya mungkin, kataku dalam hati - bayi itu sekarang masih hidup. Jika aku tadi
menyuruh kedua wanita Khmer Merah itu mundur, jika aku bersikap tegas dan
berwibawa, ada kemungkinan mereka mau menurut. Lalu akan kusingkirkan selimut-selimut
itu, kudinginkan tubuh bayi itu, dan kularang mereka menyuntik. Dengannya aku membahayakan
keselamatanku sendiri, tapi ada kemungkinan nyawa bayi itu bisa kuselamatkan.
Tapi semuanya itu tidak kulakukan. Aku hanya ingin
menyelamatkan nyawaku sendiri.
Aku muak. Benar-benar muak! Negeri dikuasai orang-orang
yang bebal, tidak tahu apa-apa. Sudah berapa orang saja yang mati dengan
sia-sia. Dan orang-orang semacam aku melakukan hal-hal yang kami sadari bahwa
itu salah, hanya agar jangan sampai kami sendiri mati. Dan sementara kami ribut
berusaha menyelamatkan diri, atau mengakrabkan diri dengan penguasa yang baru, segala
hubungan yang selama itu ada menjadi putus berantakan. Dokter-dokter melanggar
sumpah jabatannya. Sesama keluarga ribut bertengkar. Orang-orang seperti bibiku
menjadi kolaborator, dan memanfaatkan hubungan mereka dengan pihak pimpinan
untuk melampiaskan dendam lama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar